Surga Itu Nyata! – Choo Thomas

HEAVEN IS SO REAL!

(Surga Itu Nyata!)

Choo Thomas

 

BAGIAN PERTAMA:

KUNJUNGAN-KUNJUNGAN DAN PENGLIHATAN-PENGLIHATAN

 

BAB 1. Dalam Perjalanan ke Surga

BAB 2. Segala Kuasa di Surga dan di Bumi

BAB 3. Segala Sesuatu Mungkin

BAB 4. Lebih Cepat dari yang Saudara Kira

BAB 5. Kerajaanku Telah Siap

BAB 6. Suatu Tempat yang Dinamakan Neraka

BAB 7. Maranatha

BAB 8. Persiapan untuk Ibadah

BAB 9. Kekuatiran adalah Dosa

BAB 10. Yerusalem Telah Tersedia

BAB 11. Makanan Surgawi, Kenikmatan Surgawi

BAB 12. Nikmatilah Kerajaan Surga

BAB 13. Malaikat-malaikat di Surga dan di Bumi

BAB 14. Hidup dalam Firman

BAB 15. Berkat-berkat yang Melimpah

BAB 16. Kasih Tuhan yang Besar

 

PRAKATA

 

Surga! Hanya dengan menyebutkan kata ini menggerakkan sesuatu di dalam lubuk hati dan pikiran orang. Kita menyanyikan lagu-lagu mengenainya, mendengarkan khotbah tentangnya, dan orang-orang yang kita kasihi ada di sana. Satu hari nanti kita mengharapkan untuk pergi ke sana sendiri. Tetapi bagaimana nyatanya surga?

 

Surga itu sungguh ada bagi penulisnya karena pertemuan-pertemuannya dengan Yesus Kristus. Buku ini mengungkapkan cerita pribadi Saudari Choo Thomas yang menempuh perjalanan ke surga dengan Yesus beberapa kali, dan Yesus membawanya bertamasya di surga. Anda akan membaca tentang imannya yang kuat tentang surga, kerajaan Tuhan, yang akan membuat orang-orang percaya menyadari betapa pentingnya bertemu secara pribadi dengan Tuhan dan menerima jawaban-jawaban dari Dia melalui doa. Dengan pengalaman-pengalaman iman seperti itu, orang akan menyadari pentingnya kehidupan beriman.

 

Saya telah membaca buku ini dalam bahasa Inggris tiga kali, dan saya telah menerima banyak pengetahuan tentang surga dan diberkati. Sesungguhnya, saya begitu kagum sekali dan bersemangat olehnya sehingga saya minta agar buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Korea untuk dibaca dan menjadi berkat bagi orang-orang Korea. Diantara buku-buku keagamaan, ia telah menjadi buku yang paling laku di Korea.

 

Harap jangan menganggap ini suatu tesis theologi atau sebuah doktrin. Hanya baca

dan nikmatinya sebagai pengalaman pribadi penulisnya dan kesaksian tentang apa yang telah dilihat dan didengarnya di surga.

 

Apakah Anda seorang Kristen atau bukan, ‘Heaven Is So Real!’ adalah sebuah cerita yang sangat menyentuh dan mengagumkan yang harus Anda baca dengan hati terbuka. Ini akan membantu Anda mengerti lebih dalam akan berkat-berkat luar biasa yang telah disediakan Tuhan untuk anak-anakNya di surga yang kekal.

 

Rev. Dr. Yonggi Cho

Senior Pastor

Yoido Full Gospel Church

Seoul, Korea

 

 

BAB 1 DALAM PERJALANAN KE SURGA

 

Aku berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah Yesus Kristus

FILIPI 3:14

 

Nama saya Choo Nam Thomas. Saya adalah seorang Amerika kelahiran Korea. Saya puteri satu-satunya dari tiga bersaudara. Saya mempunyai seorang kakak dan seorang adik laki-laki. Saya telah berumah tangga dan mempunyai dua orang anak, seorang putera dan seorang puteri, keduanya telah menikah. Saya juga telah mempunyai dua cucu laki-laki dan dua cucu perempuan.

 

Di Korea, keluarga saya tidak beragama sama sekali. Saya tidak pernah mendengar tentang Yesus sehinga saya tidak pergi ke Gereja. Saya hanya mendengar tentang Gereja dan Tuhan.

 

Saya menjadi orang percaya pada bulan Pebruari 1992. saya sangat jatuh cinta pada Yesus setelah saya ikut ke gereja beberapa kali. Ketika saya menyadari apa yang telah dilakukan-Nya untuk saya, saya telah memutuskan bawa saya ingin memberikan seluruh jiwa raga saya kepada-Nya seumur hidup saya.

 

Tuhan menjawab dengan mengabulkan doa-doa saya, dan ini menjadikan iman saya bertambah kuat setiap hari. Saya mulai kehilangan keinginan-keinginan lama saya setiap hari, dengan sangat cepat. Saya hanya dapat memikirkan tentang Yesus setiap saat saya sedang tidak tidur. Saya begitu menghormati Tuhan sehingga dengan sadar saya tidak akan berbuat sesuatu yang salah melawan kehendak-Nya. Saya hanya ingin menyenangkan-Nya, dan saya ingin tahu segala sesuatu mengenai-Nya supaya saya dapat menceritakannya kepada orang lain.

 

SUATU PENGLIHATAN DAN API TUHAN

 

Saya menerima api Roh Kudus ketika saya sedang berdoa di rumah dalam bulan

Januari 1994. Sebulan sesudahnya, saya melihat hadirat Tuhan ketika saya sedang menyembah di Neighborhood Assembly of God di Tacoma, Washington. Ia sedang duduk dekat mimbar. Kaki-Nya bersilang, dan saay dapat melihat-Nya dengan terang dalam sosok Anak Manusia, hanya saya tidak dapat melihat wajah-Nya.

 

Menurut pandangan saya, Ia mempunyai rambut putih sutera dan memakai jubah putih murni. Pribadi-Nya jelas kelihatan kepada saya hampir lima menit lamanya. Setelah melihat-Nya badan saya seperti berkobar dengan kegirangan yang tak terkatakan, dan saya menyerahkan sepenuh hati saya kepada Yesus. Segera setelah pengalaman yang mengubah hidup ini, keluarga saya dan saya mulai ikut Puget Sound Christian Center di Tacoma, Washington.

 

Saya mengalami lagi pengalaman rohani yang luar biasa pada waktu Minggu Paskah tahun 1995. Ketika menghadiri kebaktian dengan keluarga saya di Puget Sound Christian Center, tubuh saya mulai bergoncang dengan kuat sekali, dan saya harus tinggal sampai kebaktian di kedua. Saya mengalami gejala yang sama seperti dialami oleh kaum Quakers, Shaker, dan Pentakosta di jaman mula-mula.

 

Sejak itu, tubuh saya tak pernah berhenti bergoncang di gereja atau waktu berdoa di rumah. Dua minggu setelah pengalaman di Minggu Paskah itu, saya menerima roh ketika di rumah dan mulai memuji dalam Roh. Ketika sedang menonton suatu program Benny Hinn di televisi, saya bangun berdiri dan mengangkat tangan saya berdoa/ kemudian saya jatuh ke lantai selama hampir tiga jam. Urapan Roh Kudus Tuhan begitu kuat sehingga saya tidak dapat bangun dan yang dapat saya lakukan hanya menyanyi dan berbahasa roh dan tertawa.

 

Setiap kali kebaktian pujian setelah itu, saya dapat melihat kehadiran Tuhan Yesus di gereja. Penglihatan-penglihatan yang terus menerus saya terima mengenai Dia memang tidak sejelas yang pertama kalinya, tetapi sama nyatanya.

 

BEJANA YANG SIAP DIPAKAI

 

Saya percaya pengalama-pengalaman yang menggairahkan dan luar biasa ini adalah persiapan untuk pekerjaan yang Tuhan sediakan bagi saya. Saya mempunyai keinginan kuat untuk menerima karunia kesembuhan dan memenangkan jiwa-jiwa, tetapi saya tidak tahu bagaimana melayani Dia, kecuali dengan menceritakan tentang Yesus kepada setiap orang.

 

Mula-mula beberapa anggota keluarga serta kawan-kawan menolak berita saya dan membenci saya karena terus menceritakan tentang Yesus. Sekarang bagaimana pun juga, keadaan berubah. Tidak perduli dengan siapa saja, saya hanya ingin bercerita tentang Tuhan, dan Ia telah memberi saya anugerah untuk membimbing banyak orang kepada-Nya, termasuk keluarga dan teman-teman saya. Semua orang yang saya kasihi telah selamat sekarang.

 

Yesus senantiasa dalam pikiran serta lidah saya. Ketika waktu-waktu yang sukar datang, saya berpikir tentang apa yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kita. Ketika saya ingat semua yang dilakukan-Nya, saya sadar bahwa tak ada sesuatupun yang sukar bagi saya. Ketika seseorang menyakiti hati saya, saya hanya membayangkan semua yang telah dilakukan oleh Yesus bagi saya di Kalvari, dan rasa damai langsung datang kepadaku.

 

Sebelum kunjungan Tuhan untuk pertama kalinya, saya mendapat mimpi yang sangat istimewa tentang awan. Mimpi-mimpi ini mengingatkan saya suatu hal yang pernah diberitahukan oleh mendiang ayah kepada saya.

 

Ayah saya bercerita, bahwa ibu saya telah mendapat mimpi yang aneh tentang saya sebelum ia mengandung saya. Ia berkata bahwa ibu saya tidak pernah lupa akan mimpi tersebut tentang suatu hari yang terang tiba-tiba menjadi mendung. Awan-awan datang menuju depan rumah. Salah satu awan itu datang ke dalam kamar di mana ia sedang tidur dan memenuhi kamar dengan suatu cahaya putih.

 

Ibu saya menderita sakit hampir selama hidupnya, dan ia meninggal ketika ia masih berusia empat puluh. Ia tidak pernah membagikan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan ini dengan saya, tetapi ayah saya banyak kali menceritakannya, terutama tentang awan-awan. Saya tidak pernah berpikir lebih panjang tentang itu sampai saya mengalami sendiri pengalaman saya dengan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan.

 

Tafsiran ayah saya tentang mimpi tersebut adalah bawah saya dapat menjadi seorang yang sangat sukses sekiranya saya dilahirkan sebagai anak laki-laki, sebab pada waktu itu seorang Timur percaya bahwa hanya anak laki-laki saja yang dapat mencapai kejayaan dalam hidup. Saya percaya, bagaimanapun juga, bahwa mimpi itu adalah suatu tanda dari Tuhan. Sementara Saudara membaca buku ini, Saudara akan melihat, bahwa awan memainkan bagian yang penting dalam persiapan yang telah dan masih dilakukan oleh Tuhan dalam kehidupan saya.

 

Sejak bertemu dengan Yesus, saya telah memiliki keinginan yang kuat untuk berdoa bagi orang lain. Saya telah menjadi pejuang doa yang tekun. Doa syaafat telah menjadi gaya hidup saya. Saya ikut belajar Alkitab secara teratur pada sebuah gereja Korea-Amerika selama setahun sebelum suami saya, Roger, diselamatkan.

 

Saya, tidak melayani sepenuh waktu di gereja ataupun mengenal banyak firman

Tuhan, tetapi Ia memilih saya untuk tugas istimewa-Nya. Menurut Tuhan saya Yesus, Ia ingin saya mengenal-Nya terlebih dahulu dan belajar untuk memenuhi-Nya dan memusatkan perhatian kepada-Nya saja. Dengan memperlihatkan surga kepada saya dan semua penglihatan-penglihatan yang lain, saya telah mendapatkan keistimewaan untuk mengalami, bagaimana Ia mulai mempersiapkan saya untuk bidang pelayanan di mana Ia telah memanggil saya. Sekarang saya belajar tentang Dia melalui doa dan belajar Firman-Nya.

 

PENGLIHATAN TENTANG SURGA

 

Sisa bab-bab dalam buku ini, seperti yang akan Saudara temukan, mencatat beberapa perjalanan yang luar biasa di mana Tuhan telah membawa saya sejak saya menyerahkan hidup saya kepada-Nya. Ia minta saya mencatat pengalaman-pengalaman luar biasa ini di dalam buku ini, sehingga orang lain akan melihat dan mengerti. Mengapa Ia memilih saya untuk pekerjaan yang penting ini masih merupakan suatu teka-teki untuk saya, tetapi saya mengerti, bahwa Ia ingin saya mengingatkan

orang di dunia dan di gereja bahwa kita sudah tidak mempunyai banyak waktu di mana kita telah dipanggil oleh-Nya untuk menyelesaikannya.

 

Bapa di Surga menghendaki setiap orang tahu betapa Ia mencintai mereka dan ingin memberkati mereka, jika mereka percaya pada-Nya dan mematuhi Firman-Nya. Dia menunjukkan saya bahwa banyak orang percaya, pada kenyataannya, adalah fungsionil atheis – mereka tidak begitu percaya akan adanya sebuah surga. Saya dapat mengatakan dengan sangat pasti bahwa mungkin bagi kita – pada sudut kekekalan ini – untuk mengetahui bahwa surga itu nyata. Lagi pula, saya sekarang tahu bahwa Tuhan kita sanggup seperti Firman-Nya berkata, yang dapat melakukan “jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20).

 

Tujuan buku ini adalah untuk memuliakan-Nya, “bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Efesus 3:20).

 

Bacalah halaman-halaman buku ini dengan pikiran dan hati yang terbuka dan biarlah Tuhan berbicara kepada Saudara. Ia mempunyai suatu rencana dan tujuan yang luar biasa untuk kehidupan Saudara. Ia telah menyediakan sebuah rumah untuk Saudara di surga. Seperti saya, hidup Saudara dapat mengalami gairah mengetahui bahwa Saudara ditetapkan untuk Tanah yang Dia janjikan.

 

HEAVEN IS SO REAL! (2)

(Surga Itu Nyata!)

Choo Thomas

 

BAB 2 SEGALA KUASA DI SURGA DAN DI BUMI

 

Yesus mendekati mereka dan berkata : “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” (Matius 28:18)

 

Tahun 1996, sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Pendeta Larry Radolph, menjadi tahun yang paling luar biasa, menggairahkan, bermakna dan penuh kuasa atas hidup saya. Dimulai pada malam Tahun Baru 1995. Urapan Tuhan begitu nyata sepanjang malam atas diri saya. Sesungguhnya, hadiratNya begitu panas sehingga saya hampir tidak dapat bernafas.

 

Saya telah mengalami hadirat dan kuasa Roh Kudus sebelumnya, tetapi malam ini sangat berbeda. Saya melewati waktu di mana ada kasih yang sangat dalam dan penuh menggairahkan, dan saya merasa bahwa sesuatu yang luar biasa uniknya tetapi penuh misteri akan terjadi pada diri saya.

 

Apa yang saya alami bertentangan dengan akal budi dan logika, tetapi hadirat

Tuhan begitu nyata sehingga saya merasa seperti saya telah dapat menjangkau dan memegang tanganNya dengan nyata. Itu adalah suatu kenyataan rohani, tetapi jauh melampaui yang telah pernah saya alami dalam dunia yang alami.

 

Ada suatu kerinduan dalam hati saya. Bagaimanapun saya sadar bahwa yang perlu saya kerjakan hanya terus diam di hadirat Tuhan, dan Ia akan berbicara kepada saya dan menunjukkan hal-hal yang luar biasa. Selama malam yang panjang tetapi menyenangkan, saya berpegang pada suatu ayat dari Yeremia yang mengandung suatu janji dari Bapa kita : “Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkan dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.” (Yeremia 33:3).

 

Ketika saya menanti dengan harapan yang penuh ingin tahu, saya dapat mendengar petasan dan bunyi-bunyi keras lain dari orang-orang yang bersuka ria membahana di tahun yang baru. Dengan beralihnya tahun 1995 ke 1996, saya terus menanti, dan selama waktu subuh sehingga fajar saya menanti. Tak ada kejadian apa-apa, tetapi saya tetapi ingin mendengar dari Tuhan.

 

Tanggal 1 Januari 1996, hari yang dingin, lembab di Norhwest, tetapi ada suatu perasaan perasaan hangat yang indah di dalam hati saya yang tak dapat dihapuskan oleh angin musin dingin. Firman Tuhan berkata ke dalam hati saya, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14).

 

Menanti – salah satu hal yang paling sukar untuk dilakukan di dunia akan tetapi adalah kunci dari pada pemberian kuasa yang begitu besar dalam kehidupan rohani. Tuhan ingin kita menanti di hadirat Nya, karena dengan demikian kita mengembangkan kesabaran yang kita perlukan untuk bertumbuh dan melayani.

 

Meskipun malam sebelumnya saya tidak tidur sama sekali, pada hari Tahun Baru saya merasa tentram, gembira dan aktif sewaktu keluarga saya dan saya merayakan hari besar. Dari pukul 9 sampai 11 malam hari tahun baru panasnya hadirat Tuhan mengingatkan saya untuk berjaga semalaman lagi. Saya tidur sebentar, lalu bangun dan segar kembali, mendambakan suara Tuhan berbicara kepada saya.

 

Keadaan menghabiskan waktu hampir tanpa tidur ini berlangsung selama separuh pertama bulan Januari. Selama itu saya masih tetap belum mendengar Tuhan. Dengan iman, bagaimanapun saya merasakan bahwa sedang mempersiapkan saya untuk suatu pertemuan pribadi denganNya.

 

GEMETAR DI MALAM HARI

 

Pada tanggal 9 Januari saya terbangun pukul tiga pagi. Badan saya bergetar. Ini tidak pernah terjadi pada waktu saya tidur. Sejak Minggu Paskah 1995, badan saya menggetar hanya selama ibadah penyembahan di gereja dan pada saat-saat berdoa sendiri – tapi kali ini terjadi pada waktu saya tidur.

 

Ada sesuatu yang spesial tentang malam itu – waktunya sunyi dan sedikit sekali gangguan. Keadaan yang memberikan suatu kesempatan khusus bagi Tuhan untuk mendekati orang-orangNya. Ini hal yang pasti untuk saya.

 

Kadang-kadang urapan Tuhan demikian besarnya atas saya sehingga saya merasa seolah-olah saya akan pingsan. Pada kesempatan lain, urapan membuat saya pusing dan lemah. Sering sata terbaring di tempat tidur sama sekali; tidak dapat bergerak oleh kuasa hadirat Tuhan yang melimpah-ruah. Semuanya begitu luar biasa untuk dapat digambarkan dengan lengkap, tetapi saya akan berusaha untuk menunjukkan kepada Saudara bagaimana rasanya.

 

Alkitab penuh dengan contoh orang bergetar dan bergoncang di hadirat Tuhan. Kadang-kadang manifestasi ini disertai rasa takut, tetapu kebanyakan ini merupakan masa persiapan. Tuhan akan melakukan suatu pekerjaan yang besar melalui orang yang berserah. Tentu ini seperti yang dikatakan oleh nabi Yeremia, yang mendengar suara Tuhan yang bertanya kepadanya : “Masakan kamu tidak takut kepada Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap aku?” (Yeremia 5:22).

 

Yeremia yang kemudian dikenal sebagai “nabi yang meratap” menjawab pertanyaan Tuhan : “Keadaanku nabi-nabi. Hatiku hancur dalam dadaku, segala tulangku goyah. Keadaanku seperti orang mabuk, seperti laki-laki yang terlalu banyak minum anggur, oleh karena TUHAN dan oleh karena firman Nya yang kudus” (Yeremia 23:9).

 

Firman Tuhan yang menunjukkan kita bahwa gemetar dan bergoyang adalah tanggapan jasmani yang lazim di dalam hadirat Tuhan – selama tidak dibuat-buat. Contoh lainnya terdapat dalam Daniel 10:7; Mazmur 99:1, Mazmur 114:7; Habakuk 3:16; dan Matius 28:4, maupun dalam Kisah Para Rosul 4:31, salah satu nats kesukaan saya : “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus.”

 

AKU HENDAK BERBICARA DENGANMU

 

Pada malam 19 Januari 1996, hadirat Tuhan begitu kuat di kamar tidur saya sehingga tubuh saya bergetar, berkeringat dan merasa sangat lemah selama lebih dari sejam. Lalu saya mendengar sesuatu. Apakah itu suara Tuhan dan Tuhan saya?

 

Saya memalingkan kepala saya di atas bantal untuk melihat ke arah suara itu, dan di sana, penuh cahaya, suatu bentuk badan berpakaian putih. Sinar yang keluar dari tamu yang tak dikenal ini begitu cemerlang sehingga saya tidak dapat melihat wajah Nya, tetapi dari dalam lubuk hati saya, saya tahu bahwa saya telah dianugerahi dengan suatu kunjungan istimewa dari Tuhan.

 

Bagaimana ini dapat terjadi kepada saya? Saya heran, ketika saya mulai gemetar lebih kuat dan mencucurkan air mata cinta dan gembira. Ia adalah Tuhan, Tuhan atas surga dan bumi, dan Ia telah berkehendak memilih untuk mengunjungi saya dengan cara yang istimewa ini. Saya merasa sangat rendah di hadirat Nya. Saya tak dapat berhenti menangis.

 

“Anak Ku, Choo Nam, Aku adalah Tuhanmu, dan Aku hendak berbicara kepadamu. Telah lama engkau menjadi puteriKu yang istimewa.”

 

Kesan suaraNya, kata-kataNya, firmanNya mengenai saya dengan tenang yang ajaib sehingga saya terhuyung-huyung. Badan saya bergoyang lebih kuat, dan saya merasa roh saya terangkat di dalam. Karunia roh mulai mengalir, diikuti oleh tafsiran yang jelas.

 

Saya menggeser sampai dekat sekali pinggir tempat tidur saya supaya saya membangunkan suami saya, Roger, yang lelap di sebelah saya. Seketika saya heran bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan cahaya cemerlang di kamar dan goncangan yang tak henti-hentinya yang seakan-akan cukup kuat untuk meruntuhkan tempat tidur – Tetapi ini adalah saat yang istimewa dari Tuhan untuk saya terima, jadi Roger terus tidur.

 

Tuhan berkata sekali dengan ketenanganNya yang meyakinkan tetapi dengan suara tegas : “Puteri, engkau adalah seorang anak yang penurut, dan Aku akan memberimu karunia istimewa. Karunia-karunia ini akan melayaniKu dengan luar biasa. Aku ingin engkau menjadi bersuka ria dengan karunia-karunia ini.”

 

Saya tahu pada saat itu Tuhan memilih saya untuk melakukan suatu tugas yang penting bagiNya dan ini harus menjadi tujuan sepenuh hati saya. Saya tahu saya tidak memiliki apa-apa yang dapat diberikan kepadaNya kecuali hati saya dan hidup saya, dan saya berkeinginan untuk melakukan apapun yang dikehendakiNya, pergi ke manapun yang diinginiNya. Suatu malam penuh pertanggung jawab, tantangan dan tujuan. Tuhan saya yang luar biasa mulai mengungkapkan kehendakNya kepada saya.

 

Sejak saat sejak itu saya tahu bahwa apabila badan saya mulai bergoyang dari dalam keluar, Tuhan akan segera berbicara dengan saya. Saya juga tahu bahwa firmanNya adalah hidup dan kemenangan.

 

Badan saya berhenti gemetar, dan seingat saya dalam beberapa tahun inilah salah satu tidur saya yang paling tenteram dan nyenyak. Sepanjang keesokan harinya saya merasa begitu terurapi dan bahagia sebab saya telah berjumpa Tuhan muka dengan muka. Pagi itu saya tanya ke Roger sekiranya ia merasa atau mendengar sesuatu semalam.

 

Ia menggelengkan kepalanya. “Mungkin aku adalah tipe orang yang tidak mudah terbangun,” komentarnya.

 

Tuhan memilih saya untuk satu panggilan khusus. Terlalu menakjubkan untuk dibayangkan dan begitu menggairahkan untuk dapat diucapkan denga kata-kata. Saya membuka Alkitab saya di Kitab Yohanes dan membaca firman yang mendebarkan hati yang cocok dengan nubuatan Pendeta Randolph: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu” (Yohanes 15:16).

 

Tuhan telah memilih saya untuk pergi dan menghasilkan buah kekal. Inilah yang saya ingini lebih dari pada segala sesuatu di dunia. Firman Nya, hadirat Nya, ucapan Nya menguatkan panggilan Nya dalam hidup saya. Saya menyerahkan hati saya untuk patuh kepada Tuhan sejak saat itu, apapun juga akibatnya.

 

Kemudian pandangan saya tertumpu pada ayat-ayat sebelumnya : “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuanNya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku.” (Yohanes 15:14-15).

 

Tuhan meneguhkan arti kata-kataNya kepada saya – dari Pendeta Randolph – melalui kata-kata firman Nya, Alkitab. Kata-kata pendeta kembali terngiang di pikiran saya : “Tuhan akan membuka rahasia orang yang kamu tidak akan pernah menceritakannya. Kamu akan berdoa dan bersyafaat, dan mengangkat mereka dalam doa sebab kamu akan menjadi sahabat Tuhan – dan itu adalah nabi yang benar; hanya seorang sahabat Tuhan. Seorang sahabat Tuhan. Ia akan membuka rahasia tentang kehidupan orang lain dan tentang hal-hal yang akan dilakukanNya di bumi. Jadi, bersiaplah pada tahun 1996 untuk urapan nubuatan baru datang ke dalam hidupmu.”

 

Sekarang penggenapan nubuat sedang terjadi, dan saya hampir tidak sabar menunggu untuk mengetahui apa yang akan diceritakan oleh Tuhan selanjutnya kepada saya.

 

SUATU NUBUATAN TERPENUHI

 

Pada tanggal 20 Januari saya bangun dari pukul 3 sampai 4 pagi. Urapan hadirat Tuhan membuat saya terjaga dan disertai lagi oleh panas yang kuat. Saya setengah tidur, tetapi tiba-tiba suaru Tuhan telah membuat saya betul-betul terjaga. KataNya : “Puteri, Aku akan banyak kali mengunjungimu sebelum pekerjaan ini selesai. Sebab itu, Aku ingin engkau beristirahat pada siang hari. Aku mempunyai banyak rencana khusus untukmu. Aku akan memakai engkau dengan cara yang luar biasa, tetapi ini akan memakan waktu agak lama untuk mempersiapkan engkau bagi pekerjaan yang mana engkau Aku panggil untuk mengerjakannya. Engkau harus mencatat apa yang engkau dengar pada setiap kunjunganKu.”

 

Seluruh kejadian ini mengejutkan saya, dan saya sangat takjub memikirkan, bahwa Ia akan sering mengunjungi saya. Tentunya satu kunjungan saja dari Tuhan sudah mencukupi. Selain itu Ia mengatakan Ia akan kembali secara pribadi kepada saya sehingga Ia dapat mempersiapkan tugas yang telah Ia sediakan untuk saya kerjakan.

 

Ia pergi seperti mendadaknya kedatanganNya ke dalam kamar tidur saya. Saya tidak dapat mendengar maupun melihatNya. Goncangan di tubuh saya menghilang. Kata-kataNya yang menyakinkan, dan kunjunganNya yang luar biasa, meninggalkan saya dengan perasaan sangat bahagia, tenteram, dan tentu saja ingin tahu.

 

Saya merasa seakan-akan saya telah mendaki gunung yang tinggi di tanah moyang Korea darimana saya dapat melihat dengan jelas bermil-mil jauhnya dan seakan-akan saya sedang menghirup udara gunung tinggi yang sehat dan bersih.

Pikiran saya jernih, hati saya riang-ria, dan saya merasa sehat dan gembira.

Saya memutuskan untuk mematuhi suara Tuhan dengan mengambil satu langkah setiap saat, sebab saya tahu Ia akan membimbing saya selangkah demi selangkah di dalam perjalanan.

 

SAAT PEMBERIAN KUASA

 

Kejadian berulang keesokan paginya. Kali ini antara pukul 2 dan 3 pagi. Saya tiba-tiba terbangun. Badan saya bergoncang tak terkendalikan, dan keringat saya bercucuran. Urapan hadirat Tuhan jatuh ke atas saya.

 

Tuhan berkata, “Engkau adalah puteri yang Kukasihi, Aku akan selalu bersamamu, di manapun engkau berada. Aku mengasihi sebagaimana adanya engkau.”

 

Ketika saya terbaring disana, tenggelam dalam setiap kataNya, saya terpesona dan diliputi oleh kasih yang mendalam. Ia melanjutkan, “Aku memberimu kuasa yang akan engkau perlukan bagi tugas di mana engkau Aku panggil untuk mengerjakannya. Aku menyiapkan engkau untuk melayaniKu. Badanmu bergoncang ketika kuasa itu mengalir ke dalammu. Aku memberimu segala karunia rohani. Aku melepaskan rohmu agar engkau bebas sama sekali untuk melayaniKu.”

 

Beberapa hari sebelum kejadian ini saya telah bermimpi di mana saya telah mendaki sebuah gunung. Ketika saya sampai ke puncaknya saya dapat menyentuh awan-awan. Tuhan mengingatkan saya akan mimpi tersebut dan menerangkan arti rohaninya kepada saya.

 

“Engkau akan sampai ke puncaknya sewaktu engkau melayani dalam namaKu,” kataNya.

 

Untuk pertama kalinya, selama salah satunya kunjungan pribadiNya saya mengajukan satu pertanyaan.

 

“Tuhan,” saya berkata, “Apa yang Engkau kehendaki untuk aku lakukan? Aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang pelayanan.”

 

“Aku akan memimpinmu dan menunjukkan apa yang Aku kehendaki untuk engkau lakukan.”

 

“Bagaimana dengan suamiku ?” saya bertanya.

 

“Jangan kuatir tentang dia. Aku juga akan memberkatinya dan melayaninya.”

 

Sekali lagi kata-kataNya sungguh meyakinkan, membebaskan, dan berkuasa. Sungguh saya merasa kuasa kata-kata Nya melepaskan kuasa ke dalam roh saya. Ketika Ia berhenti berbicara kepada saya pagi itu, goncanganpun terhenti.

 

SEMANGAT MEMBARA UNTUK TUHAN

 

Pengalaman-pengalaman baru yang luar biasa ini meluapkan badan saya dengan kegembiraan tak terhingga. Hati saya melambung, dan pikiran saya dipenuhi perasaan ingin tahunya anak kecil. Di mana saya pernah merasa tidak aman, saat itu saya merasa sepenuhnya bebas. Saya sadar masa depan baru saya akan berlainan seluruhnya sebab segala harapan dan mimpi saya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Saya betul-betul merasa hidup, dan inilah kehidupan yang penuh semangat mengatasi semua pengharapan saya.

 

Pada tanggal 25 Januari 1996 Tuhan berbicara dengan saya dari pukul 3 sampai 4 pagi. Kali ini, saya telah terjaga sebelum Ia tiba di tempat kejadian, dan sementara saya diam terbaring di tempat tidur, saya menantikan satu pertemuan lagi dengan Tuhan dan Juruselamat saya. Goncangan yang saya kenal mulai terjadi tepat pada pukul tiga pagi. Sekarang ini saya sudah tahu, bahwa ini berarti Juruselamat saya akan segera bersama saya. Saya telah belajar merasakan hadiratNya, dan saya berpaling ke arah di mana Ia biasa berdiri, saya melihat Dia.

 

Pancaran cahayaNya, suaraNya yang kuat, hadiratNya yang penuh kasih selalu membawa saya ke alam dunia lain. Saya yakin inilah tanda keabadian di mana waktu dan ruang sangat sedikit artinya, serta hal-hal jasmaniah dan segala barang fana tidak ada artinya. Suatu dunia roh – terang benderang dan tenteram – suatu tempat di mana hidup mengambil arti dan maksud yang baru. Suasana kehadiranNya seperti memperlihatkan sedikit keadaan surga berada di bumi.

 

Goncangan berlangsung selama dua puluh menit. Saya mulai melihatnya seperti suatu pemindahan rohani. Kuasa Roh Kudus sedang menjelajah melalui setiap syaraf, urat, otot, dan organ badan saya. Ia memberikan saya semangat membara oleh Kuasa Tuhan.

 

Ini semestinya apa yang telah dialami oleh murid-murid pada Hari Pantekosta ketika Tuhan membaptis mereka dengan Roh Kudus dan api. “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angina keras yang memenuhi seluruh rumah, dimana mereka duduk” (Kisah Para Rosul 2:2). Ketika kuasa Tuhan turun, herannya hal-hal yang luar biasa mulai terjadi dalam kehidupan kita.

 

Malam itu Yesus berkata kepada saya dengan cara yang akrab, “Aku adalah Tuhanmu, anakKu. Aku ingin engkau mendengar dan mengingat segala yang Aku katakan padamu. Jika engkau menulisnya, pergunakan kata-kataKu dengan tepat. Engkau mengantuk, tetapi jangan ketinggalan satu patah katapun yang Aku beritahukan padamu. Aku akan sering mengunjungimu dalam waktu yang dekat karena Aku mempunyai tugas penting untuk kau kerjakan. Engkau adalah anak yang akan Aku pakai untuk melakukan tugas ini bagiKu, jadi bersiaplah.”

 

DOA-DOA YANG DIKABULKAN

 

Beberapa hari sesudahnya, pada tanggal 28 januari 1996, saya bangun, gemetar lagi. Waktunya antara pukul dua dan tiga pagi. Saya merasa begitu dikuasai oleh hadirat Tuhan sehingga saya menjadi lemah. Badan saya sangat panas sehingga saya berkeringat. Seakan-akan saya sedang bermimpi, tetapi segera saya sadar bahwa ini bukan mimpi.

 

“Aku Tuhanmu, puteriKu,” Yesus berkata. Lalu saya melihat sekilas ke jendela, dari arah suaraNya yang agung, dan saya melihat bayanganNya yang bercahaya berdiri di sana.

 

“Aku tahu engkau sangat lapar untuk melayani Aku, tetapi engkau masih belum tahu bagaimana cara melayaniKu. Aku tahu engkau tidak ingin dipermalukan apabila engkau datang ke hadapanKu. Aku tahu semua pikiranmu, dan Aku menyukai pikiranmu.”

 

Berita dari Juruselamat saya ini begitu sangat berarti dalam hati saya. Sekarang saya tahu pasti hal sebelumnya hanya bisa percayai – bahwa Yesus mendengar dan mengabulkan doa. Saya telah berdoa agar Tuhan membantu saya melayani Dia supaya saya tidak akan dipermalukan jika saya berdiri di hadapan Nya. Saya telah banyak kali memberitahuNya, betapa ingin saya melayani Dia, dan saya selalu memberitahu Dia bahwa saya tidak tahu bagaimana.

 

Untuk maksud inilah saya selalu membaca Alkitab baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Korea – untuk memperoleh pengertian sedalam-dalamnya akan Firman Tuhan sehingga saya dapat membagikannya kepada orang lain. Melayani Tuhan adalah hasrat saya yang terbesar setelah saya mengetahui apa yang telah dilakukan Tuhan untuk saya.

 

“Puteri, doa-doamu telah dikabulkan, dan engkau akan melayani Aku dengan luar biasa. Akan ada banyak tugas yang harus kau lakukan untukKu. Apa yang akan engkau lakukan untukKu akan menyenangkanmu. Engkau adalah puteriKu yang setia, dan sebab itulah Aku memberikan tugas penting ini untuk engkau kerjakan.”

 

Goncangan mereda, dan Tuhan meninggalkan kamar tidur saya. Pikiran saya tertarik oleh FirmanNya : “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya.” (1Yohanes 5:14-15).

 

Saya tahu sekarang kebenaran janji doa yang luar biasa ini. Janji yang mutlak dari Firman Tuhan bahwa Ia betul-betul nyata, mendengar kita ketika kita berdoa sesuai dengan kehendakNya, dan kehendakNya dinyatakan di dalam Alkitab.

 

KehendakNya agar kita menghasilkan buah yang kekal di dalam namaNya. KehendakNya supaya kita melayani orang lain. KehendakNya agar kita percaya apabila kita berdoa. KehendakNya supaya kita meluangkan waktu di hadiratNya, menanti Dia.

 

Sebab itu, jikalau saya berdoa sesuai dengan segi-segi kehendakNya ini, seperti yang dinyatakan di dalam FirmanNya, saya tahu bahwa Ia mendengar saya. Ini adalah suatu kenyataan yang sangat benar bagi saya sekarang.

 

Kunjungan-kunjungan Tuhan telah menambah keyakinan saya yang timbul dari menghabiskan waktu bersamaNya. Ia di sana; Ia selalu di sana. Saya tahu Ia tidak pernah akan meninggalkan atau mengabaikan saya. Ia sahabat saya, sahabat selamanya, Tuhan dan Tuanku. Ia adalah Juruselamat yang kukasihi.

 

Saya tahu sekarang, mengatasi segala keraguan, bahwa Tuhan mencintai saya, mendengar dan mengabulkan doa. Ia tahu pikiran dan perasaan saya, dan ia peduli.

 

BANYAK GEREJA UNTUK DIKUNJUNGI

 

Keesokan harinya, tanggal 29 januari, memberi saya suatu firasat tentang rencana dan tujuan Tuhan untuk pelayanan yang disediakanNya bagi saya. Ia datang pagi-pagi kepada saya, sebelum fajar menyingsing, dan berkata, “Puteri, Aku ingin engkau memandang kepada sesuatu.”

 

Di dalam roh Ia membawa saya ke suatu gereja yang tak dikenal – sebuah gereja yang besar sekali penuh dengan orang hitam. Tidak ada wanita yang hadir dalam perhimpunan khusus ini. Yesus menerangkan, “Engkau akan mengunjungi banyak gereja selama engkau mengerjakan tugas Ku.”

 

Belum pernah saya mengalami yang seperti ini. Seakan-akan saya dapat terbang bersama Tuhan ke waktu dan tempat yang lain. Suatu perasaan yang luar biasa. Ia menambahkan.

 

“PuteriKu, saya mempunyai banyak hal-hal yang tak terduga untukmu,” Ia berkata, “jadi tunggulah untuk menerima semuanya. Aku akan bersamamu di mana pun. Engkau tidak akan pernah kuatir tentang apapun selagi engkau ada di bumi ini. Aku ingin engkau gembira setiap hari dalam hidupmu.”

 

Kemudian Ia menghilang. Setelah kunjungan ini, saya tahu bahwa setiap kunjungan sesudahnya Ia akan memberi saya petunjuk baru tentang masa depan saya. Ketika Tuhan memberitahu bahwa saya tidak akan perlu kuatir lagi, saya gembira sebab saya cenderung kuatir dan merasa tidak tenteram sejak waktu saya kecil. Ia menyembuhkan saya sementara Ia mempersiapkan saya untuk pelayanan.

 

hadiratNya yang begitu manis hanya dapat digambarkan sebagai ketenteraman mutlak. Membuat saya bisa hidup dan berjalan di dalam kebenaran Firman Nya : “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gemetar hatimu.” (Yohanes 14:27).

 

HEAVEN IS SO REAL!

(Surga Itu Nyata!)

Choo Thomas

 

 

 

 

 

BAB 3 Segala Sesuatu Mungkin

 

Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan segala sesuatu mungkin.”

Matius 19:26 (Tekanan Ditambahkan)

 

Pada tanggal 1 Februari 1996 Tuhan mengunjungi saya segera setelah saya tidur sekitar jam 11 malam. Disebabkan getaran badan saya yang selalu menyertai kunjungan Tuhan, Roger sekarang tidur di kamar tidur tamu. Kebetulan sekali ia membuat keputusan ini, sebab terutama pada malam ini goncangannya lebih kuat dari sebelumnya, lagipula diikuti oleh berbagai manifestasi perwujudan hadirat Tuhan.

 

Tuhan langsung berkata kepada saya,”Puteri-Ku yang Kukasihi, Aku harus memperlihatkan hadirat-Ku padamu dan berbicara denganmu sebelum pekerjaan ini dimulai.”

 

Gemilang hadirat Tuhan selalu bersinar menakjubkan, tetapi kali ini Ia berpakaian putih bercahaya seperti matahari. Bentuk-Nya sangat indah untuk dipandang, dan memberi dorongan yang kuat sekali.

 

Kali ini saya membalas dengan berbahasa roh dan memuji dalam roh. Ketika saya menyanyi, tangan saya terangkat ke depan dan mulai bergerak menurut irama nyanyian. Seakan-akan saya menari, tetapi saya tetap tinggal di tempat tidur.

 

Saya tidak dapat menahan gerakan tangan saya dan melihat mereka bergoyang ke belakang dan depan sepertinya mereka digerakkan oleh angin yang tenang. Ini adalah angin Roh Tuhan yang membuatnya bergerak, dan setelah menyadarinya, saya diliputi oleh kegirangan dan mulai tertawa. Meskipun saya tidak dapat melihat wajah Tuhan, saya mendengar tertawa-Nya juga.

 

Gejala ini dikenal sebagai “tertawa kudus” (Holy Laughter) di beberapa kalangan. Saya mengatakan terus terang bahwa saya mengerti inilah perwujudan hadirat Tuhan.

 

Alkitab mengatakan :

 

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah kehadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah : ialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembala-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:1-5)

 

Kita tidak perlu heran jika terjadi kegembiraan dan tertawa ketika waktu penyembahan dan memuji di hadirat Tuhan. Ini sesuai dengan Alkitab, dan kita akan terus berada di hadirat-Nya, dengan menyanyi, menyembah, tertawa, merayakan dan mengalami kesenangan-Nya. Sebetulnya, inilah yang dikehendaki-Nya untuk kita karena kita adalah anak-anakNya. Nama Ishak – anak mujizat Abraham – terjemahannya berarti “ia tertawa,” dan Tuhan menghendaki kita menikmati hadirat-Nya melalui karunia tertawa.

 

Meskipun banyak bagian dari Mazmur adalah nyanyian kesedihan, ada beberapa yang menggambarkan keriangan dan tertawa yang adalah benar warisan umat Tuhan.

Contohnya, kita membaca di Mazmur 126:1-3 “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, ‘TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!’ TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.”

 

Waktu orang menanyakan tentang goncangan, nyanyian dalam Roh dan tertawa kudus, saya tunjukkan Firman Tuhan kepada mereka. Salomo, penulis kitab Pengkhotbah, berkata kepada kita bahwa “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa” (Pengkhotbah 3:4). Sungguh memalukan, kalau ada orang percaya mengira kekristenan harus kaku dan formal, padahal Tuhan menghendaki kita mengalami kegirangan yang amat sangat. Nabi Nehemia menyatakan, “sukacita karena TUHAN itulah perlindungan-Mu” (Nehemia 8:11), dan kitab Amsal mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22). Sekarang saya tahu arti sebenarnya kata-kata yang mengobati ini.

 

Sungguh saya diberi semangat oleh tertawa Tuhanku ketika kunjungan-Nya bersama saya malam itu. Ia kelihatan begitu puas hati dengan saya. Waktu saya menyanyi dalam Roh, suara saya sendiripun berubah menjadi lain. Betul suara saya – saya tahu – tetapi kedengarannya begitu berbeda, begitu indah, jernih dan berkumandang.

 

Sekitar tengah malam Tuhan berkata, “Aku mengasihimu, puteri-Ku, dan Aku akan terus mengunjungi.” Ketika Ia pergi saya merasa ringan dan bebas lebih daripada yang pernah saya rasakan sebelumnya, dan hati saya bergairah dengan mengetahui bahwa Ia akan segera mengunjungi saya lagi.

 

MENGHARAPKAN BANYAK HAL DI LUAR DUGAAN

 

Keesokan harinya, tanggal 2 Februari, dimulai dengan satu kunjungan istimewa dari Tuhan. Ia mulai membagikan banyak hal dengan saya, seperti yang telah dijanjikan-Nya, “Aku sedang melepaskan semua kuasa yang akan engkau perlukan untuk melakukan pekerjaan yang mana kau telah Kupilih untuk mengerjakannya.” Seperti yang telah saya lakukan malam sebelumnya, saya gemetar dan menyanyi dalam roh.

 

Tuhan meneruskan pesan pribadi-Nya kepada saya, “Puteri, cara-Ku memakai engkau akan berbeda sekali. Banyak anak-anak-Ku akan tercengang. Aku mempunyai karunia-karunia untuk semua anak-anak-Ku, tetapi Aku akan memberi setiap anak sebuah karunia yang berbeda. Puteri, Aku ingin engkau bersukaria dengan apa yang akan kau terima.”

 

Suatu janji yang menggembirakan. Tuhan meyakinkan saya, bahwa Ia sedang mempersiapkan saya untuk suatu pelayanan yang istimewa. Saya hanya ingin menyenangkan-Nya.

 

Dari pukul 2.20 sampai 4.18 pagi keesokan harinya Ia kembali ke kamar tidur saya untuk memberitahu saua lebih banyak tentang kuasa doa. Ia berdiri di depan saya dalam pakaian yang putih bercahaya.

 

“Puteri-Ku, jangan takut untuk berdoa bagi orang lain, sebab engkau sedang menerima karunia kesembuhan dan semua karunia roh lainnya,” Ia berkata. “Aku tahu bahwa engkau selalu ingin berdoa untuk orang lain dan membuat mereka berbahagia. Sebab itu, Aku memberikan engkau karunia-karunia roh ini.”

 

Mula-mula, kata-kata-Nya sukar untuk didengar. Saya merasa sangat tak berharga untuk menerima begitu banyak dari Tuhan dan Tuan saya.

 

Ia melanjutkan, “Engkau mempunyai hati yang istimewa, dan sebab itulah Aku menjawab doa-doamu. Aku melihat hatimu murni, dan engkau seorang puteri yang patuh. Aku mempercayaimu dengan banyak hal. Inilah sebabnya Aku memilihmu untuk melakukan pekerjaan yang penting ini. Imanmu telah membuat-Ku sangat bersuka, demikian juga keinginanmu yang kuat. Hatimu kuat dan merdeka, dan Aku sangat menyukainya.”

 

Taat kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting bagi saya sebagai seorang percaya. Tujuan utama saya adalah untuk selalu menyenangkan-Nya. Begitu menakjubkan mendengar Dia memberitahu saya, bahwa saya menyenangkan Dia dan bahwa Ia telah menyucikan hati saya dan telah melihat ketaatan saya. Pesan-Nya kepada saya malam itu membuat saya lebih yakin untuk mengikuti Dia di dalam segala-galanya.

 

“Inilah sebabnya imanmu tumbuh begitu kuat dan engkau membuang hal-hal duniawi untuk Aku.” Yesus melanjutkan, “Jikalau engkau bukan engkau yang sekarang ini, Aku tidak dapat memakaimu untuk pekerjaan yang telah Kusediakan. Apa yang akan kulakukan denganmu akan mengherankanmu. Puteriku, Aku Tuhanmu. Ingat, segala sesuatu mungkin bagi-Ku di bumi atau di surga. Aku akan melepaskan kuasa-Ku ke atasmu sehingga Aku dapat memakaimu.”

 

Cara Tuhan memanggil saya sebagai ‘Puteriku’ berulang-ulang selalu memuat saya menghapus air mata kasih. Ia sangat berbeda dengan ayah saya yang di dunia ini. Tuhan lemah-lembut, hormat, memberi semangat, dan peka dalam segala perlakuan-Nya terhadap saya. Saya tahu, bahwa Ia tahu keperluan saya sebelum saya mengucapkan kepada Dia. Saya tahu, bahwa Dia adalah Tempat Keselamatanku – Batu perlindunganku – dan apapun jika dibandingkan dengan-Nya, maka ‘perlindungan’ yang lain itu adalah pasir yang tenggelam.

 

Kemudian Ia menerangkan tentang goncangan badan saya. “Badanmu bergoncang lama sebab engkau memerlukan kuasa bagi kerja ini. Aku mau supaya engkau mengharapkan banyak hal yang di luar dugaan.”

 

Lebih banyak yang mengherankan. Saya terpekur, dengan gembira. Saya merasa seperti telah mengalami banyak dan sudah cukup untuk seumur hidup. Kunjungan-kunjungan-Nya, waktu doa saya, dan Firman, saat-saat berharga dalam penyembahan di gereja saya – semuanya ini memberi pengaruh dalam yang drastik dalam hidup saya.

 

Iman saya di dalam Tuhan bertumbuh pesat sekali. Saya tahu, tanpa ragu, bahwa Ia sanggup “melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20). Goncangan badan saya adalah kuasa-Nya yang sedang bekerja di dalam saya. Ia sedang mempersiapkan saya supaya pada waktunya Ia dapat membuktikan kesanggupan-Nya melakukan jauh lebih banyak melalui saya.

 

TIDAK TAKUT

 

Pada tanggal 12 Februari malam, badan saya bergerak lebih kuat dari pada sebelumnya. Karena kuatnya goncangan, saya hampir terpelanting keluar dari tempat tidur. Saya mencoba menarik seprei untuk menahan badan saya, tetapi tidak dapat sebab saya tidak dapat mengendalikan diri saya sendiri.

Goncangan-nya begitu kuat tak terkendalikan sehingga saya menjadi takut.

Pikiran saya mulai menguasai saya. Apakah semua ini hanya tipuan setan belaka? Apa yang terjadi pada diri saya? Apakah saya sudah gila? Saya bertanya-tanya dalam hati.

 

Kemudian saya ingat akan hal yang telah diberitahukan seseorang kepada saya suatu waktu dulu, “Ketika engkau sebentar lagi menerima anugerah, Setan berusaha menghancurkannya.” Apakah goncangan hebat ini pekerjaan setan atau pekerjaan Tuhan? Saya pikir mungkin dari setan yang mencoba menyakiti saya.

Saya menjadi marah sambil menengking setan, ketika Tuhan memanggil saya,

“Puteri, jangan takut; Aku Tuhanmu.”

 

Ini sudah cukup bagi saya. Suara-Nya yang lembut mengubah ketakutan saya menjadi tertawa. Terdengar pantulan tawa-Nya yang lemah lembut dekat jendela. Dengan suara yang sangat merdu dan tenang, Ia berkata, “Tidak ada seorangpun akan menyakitimu sebab Aku akan selalu bersamamu akan melindungimu dari yang jahat di dunia ini. Engkau adalah puteri-Ku yang terkasih.”

 

Satu bagian Alkitab muncul dalam pikiran saya dan melengkapi kata-kata Nya. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut : ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena TUHAN lebih dahulu mengasihi kita.” (1Yohanes 4:18-19).

 

Kasih Tuhan di dalam hidup saya bertambah nyata dari pada sebelumnya. Saya tahu Ia mengasihi saya. Dalam sinar kasih yang begitu mengagumkan, bagaimana saya takut? Pengalaman malam itu mengajar saya untuk tidak perlu takut akan setan, hal-hal yang jahat, atau saya sendiri lagi, sebab Tuhan telah menjanjikan bahwa Ia akan bersama saya untuk selamanya.

 

Firman-Nya menyokong janji ini: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).

 

Saya tahu bahwa Ia memanggil saya untuk membantu memenuhi amanat agung-Nya : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu, senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20).

 

Ayat sebelum ini menyatakan kepada kita bahwa hal ini mungkin : “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Kuasa, otoritas, kekuatan, dan kehebatan-Nya akan berlaku dalam setiap keadaan jikalau kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

 

Tuhan memberi jaminan tambahan atas kehendak-Nya dan kasih-Nya ketika Ia berkata : “Aku memberimu segala karunia yang akan engkau perlukan untuk memampukanmu memulai pelayanan yang Kuberikan padamu. Catatlah waktu dan hari saat Aku bertemu denganmu … ”

 

“Suamimu, Roger, akan mendapat karunia pelayanan juga. Engkau tidak perlu kuatir akan apapun juga sebab Aku berjanji padamu bahwa Aku akan menjagamu selama engkau di bumi.”

 

Di dalam hati saya, saya tahu saya tidak perlu kuatir tentang apapun juga. Ia akan menjaga segala sesuatu bukan hanya dalam kehidupan ini saja tetapi juga di dalam kehidupan yang akan datang. Janji-Nya yang memerdekakan mengingat-kan saya kepada Mazmur 23, dan saya menekankan terutama dalam ayat terakhir dari Mazmur yang membangkitkan semangat : “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6).

 

Dengan pikiran yang begitu tenteran saya mengantuk dan Tuhan berkata : “Aku tahu engkau lelah. Tidurlah.” Betul juga, Tuhan memberi kekasih-Nya tidur.

 

SATU TUMBUH BARU

 

Dari pukul 11 malam sampai 1.08 pagi pada tanggal 19 dan 20 Februari, Tuhan membawa saya berjalan-jalan dengan-Nya. Sekali lagi, goncangan kuat badan saya seperti biasanya dan hawa panas urapan-Nya memberi saya tanda akan kedatang-Nya sesaat lagi. Hadirat-Nya lebih kuat daripada sebelumnya, kemudian terdengar suara-Nya : “Aku adalah Tuhanmu, puteri yang Kukasihi, dan Aku akan segera menyerahkan segala pekerjaan yang telah Kusediakan untukmu.” Saya dapat melihat-Nya berdiri dekat jendela, dan bentuk tubuh-Nya yang mulai lebih jelas daripada yang telah saya alami sebelumnya.

 

“Puteri, Aku harus memperlihatkan beberapa hal kepadamu,” Ia berkata sambil mengulurkan tangan-Nya ke arah saya. Seterusnya, saya mengalami perasaan yang aneh seakan-akan badan saya terangkat dari tempat tidur. Tak mengetahui apa yang sedang terjadi, saya mulai berteriak dan mengebaskan tangan saya dengan tak tentu arah. Seolah-olah apa yang di dalam badan saya semuanya melepaskan diri dari diri saya. Suatu pengalaman yang tak dapat digambarkan, bahkan saya meraba-raba badan saya untuk melihat apakah keadaannya masih sama. Saya bertanya-tanya kalau-kalau saya sudah mati.

 

Pikiran saya jernih, dan saya sedang merintih dalam roh saya. Tiba-tiba saya sadar bahwa saya sedang bersama Tuhan, memakai jubah putih seperti Dia. Tubuh saya baru. Baru seperti seorang gadis muda lagi. Bahkan rambut saya panjang dan lurus.

 

Saya menyadari saya sedang berjalan sepanjang pantai yang sepi dengan Tuhan. Mungkin Saudara dapat membayangkan betapa herannya saya. Ia mengangkat saya dari tempat tidur, rumah, dan badan saya terbang dan berjalan dengan Dia. Tuhan surga dan bumi telah menghentikan hukum daya-tarik bumi, hidup, dan ruang untuk menunjukkan kepada saya beberapa hal yang tidak akan dapat saya lupakan.

 

Alkitab berkata : “Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan TUHAN dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (1 Korintus 15:50). Saya hampir menemukan arti harafiah dari kata-kata Rasul Paulus ini.

 

Saat saya mulai sadar akan tubuh baru saya, saya merasa menyerupai saya, tetapi juga bukan saya. Saya pernah mendengar tentang pengalaman di luar jasmaniah saya dan ditempatkan ke satu tubuh yang bukan saya – tetapi itu adalah saya.

 

Inilah saya seperti ketika saya seorang gadis muda remaja. Saya mempunyai rambut sama seperti yang saya miliki waktu saya remaja. Saya tak dapat melihat wajah saya dengan jelas, tetapi saya merasa pasti wajah itu paras muka remaja yang bingung yang tanpa Tuhan dan tanpa pengharapan. Walau bagaimana pun, saat ini, gadis muda ini telah mengenal Tuhan, dan ia penuh dengan pengharapan. Begitu mempesonakan. Apa arti semua itu?

 

SEBUAH TEROWONGAN YANG BERCAHAYA DAN TEMBOK BATU

 

Kemana Tuhan telah membawa saya ? Mengapa Ia membawa saya bersama-Nya? Saya tak sabar mendengar jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, karena saya tahu semuanya baik untuk saya, yang akan dipakai-Nya untuk memimpin saya.

 

Mula-mula kami langsung pergi ke samping suatu bukit yang hidup, penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Saya dapat melihat sebuah jalan sempit berliku menelusuri sampai ke puncaknya. Lalu kami berjalan sepanjang sebuah sungai kecil yang mengalir dengan airnya yang terjernih sekali yang pernah saya lihat. Kami mengikuti sungai ke jalan masuk sebuah terowongan yang tinggi dan lebar, dan bila dibandingkan, Tuhan dan saya sangat kecil. Kami berjalan

melewati terowongan yang penuh teka-teki, dan ketika kami muncul di bagian lainnya, kami berjalan di tepi pantai lagi.

 

“Kita akan pergi ke satu tempat yang sangat tinggi,” Tuhan berkata.

 

Saat Ia berkata demikian, Ia memegang tangan saya, dan badan saya mulai terangkat ke atas permukaan pantai. Waktu itu, badan jasmaniah saya di tempat tidur bergoyang dengan kuat sekali. Tangan dan lengan saya mulai bergerak ke segala arah seakan-akan saya sedang berenang mati-matian berusaha agar tidak tenggelam. Keluhan yang keluar dari roh saya bertambah keras dan lebih kuat.

 

Kami benar-benar sedang terbang di udara. Kami mendarat pada satu tempat yang dipenuhi oleh pohon-pohon dan rumput, dan kaki kami menginjak di atas jalan berliku yang sempit.

 

Tuhan dan saya berjalan sepanjang jalan yang turun dari puncak bukit. Akhirnya kami sampai pada sebuah pintu gerbang putih yang berdiri di depan sebuah bangunan putih yang besar. Kami melalui pintu gerbang itu dan terus ke bangunan yang putih.

 

Kami masuk dan berjalan sepanjang gang yang panjang menuju kepada sebuah ruangan yang sangat luas, di mana kami masuk. Ketika saya melihat ke bawah, saya baru sadar bahwa saya sedang memakai jubah yang lain dari pada yang saya pakai di pantai, dan saya dapat merasakan sesuatu yang berat sedang terletak di atas kepala saya. Saya meraihnya dan menemukan sebuah mahkota yang indah telah di letakkan di sana tanpa saya sadari.

 

Kemudian saya langsung memandang Tuhan. Ia sedang duduk diatas takhta, dan Ia memakai pakaian yang bercahaya dan mahkota emas. Yang lainnya bersama dengan saya, bersujud di atas lantai dan meniarap di hadapan-Nya.

 

Dinding rungan itu terbuat dari batu-batu besar yang bersinar dan gemilang. Batu-batu yang beraneka warna mengakibatkan ruangan itu hangat dan gembira, meskipun penuh misteri.

 

KE TEMPAT DI MANA HANYA YANG BERHATI MURNI BOLEH PERGI

 

Lalu, secepat saya diangkat ke gunung dan ke dalam bangunan putih, saya menemukan diri saya di pantai lagi. Seperti yang telah saya lakukan selama ini, saya menemukan diri saya sebentar tertawa, berteriak, menangis, gemetar, mengebaskan lengan saya tak tentu arah, dan berkeringat. Rasa gembira begitu padat, saya merasa seolah-olah saya dapat menyentuhnya. Saya tahu saya telah diangkut ke suatu dunia yang lain, tetapi dimana itu? Mengapa ini terjadi? Apa maksud semua ini?

 

Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan jelas dan tegas. “Puteri-Ku, tadi kita pergi ke kerajaan surga.”

 

Ia segera tahu pertanyaan yang sedang terkumpul di hati saya : Bagaimana kami sampai ke sana?

 

“Mereka yang akan pergi ke sana adalah anak-anak yang taat dan berhati murni.”

 

Tuan saya berhenti sebentar lalu melanjutkan, “Beritahukan anak-anak-Ku untuk memberitakan injil. Aku datang segera untuk mereka yang menanti dan siap untuk

Aku.”

 

Sekarang saya tahu tugas saya yang terutama. Saya telah melihat kerajaan surga, dan ini begitu nyata sekali. Saya tak akan pernah lupa segala keajaiban yang saya lihat.

 

Tuhan menambahkan, “Mereka yang tidak memberikan perpuluhan adalah anak-anak yang tidak patuh.”

 

“Apakah saya harus menceritakannya kepada siapapun, Tuhan?”

 

“Aku mau engkau memberitahukannya kepada setiap orang.”

 

Kemudian Ia mengulangi sesuatu yang pernah diperintahkan-Nya kepada saya untuk mengerjakannya beberapa kali sebelum ini, “Tuliskan segala sesuatu yang

Kuperlihatkan dan Kuceritakan padamu.”

 

“Beritahu saya lebih, Tuhan.”

 

“Lain kali, puteri-Ku. Aku tahu engkau lelah. Tidurlah.”

 

Ketika Ia pergi, demikian jugalah dengan badan transformasi saya. Saya menyalakan lampu, mengambil buku catatan dan pena saya, serta mulai menulis segala sesuatu yang telah saya alami selama perjalanan yang menggairahkan ke kerajaan Tuhan. Saya merasa terpesona dan rendah hati. Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan saya. Saya merasa seakan-akan saya bukan milik dunia ini lagi.

 

Sejak itu, yang dapat saya pikirkan hanya tentang Tuhan dan Surga. Saya ingin sekali kembali ke kerajaan. Kerinduan itu rupanya terdengar Tuhan sebagai suatu doa, sebab seperti yang akan Saudara lihat nanti, Tuhan membawa saya beserta-Nya berulang kali setelah itu.

 

 

 

 

 

BAB 4 Lebih Cepat Dari Yang Saudara Kira

 

Ia yang memberi kesaksian tentang semua ini, berfirman “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!

WAHYU 22:20

 

“Puteri Ku, Choo Nam, Aku Tuhanmu.” Suara yang biasa terdengar dari Tuhan saya diucapkan dengan penuh kasih dan keyakinan di dalam kamar tidur saya pagi-pagi sekali pada 24 Pebruari 1996.

 

Goncangan badan saya telah membangunkan saya sekitar tengah malam. Saat ini saya melihat jam untuk mengethaui berapa lama goncangannya. Sesudah kira-kira dua puluh menit, keluhan dari dalam roh saya mulai. Saya terus bergetar, dan hawa panas urapan Tuhan menyebabkan saya berkeringat. Segera setelah waktu persiapan, saya mendengar Tuhan berkata kepada saya.

 

Saya menjadi seperti sudah biasa dengan hadirat-Nya. Kebanyakan saya sangat menikmati kunjungan-kunjungan-Nya. Pada kesempatan ini, gambaran hadirat-Nya sangat terang. Bentuk badan-Nya bermandikan cahaya putih murni yang lembut dan hangat. Ia mengulurkan tangan-Nya kepada saya sementara saya terus bergoncang dengan lebih kuat, dan lengan-lengan saya mengebas ke semua arah.

 

Seperti yang saya alami minggu sebelumnya, roh saya terangkat dari badan saya, dan saya dapat melihat diri saya sendiri sebagai seorang gadis muda dengan rambut panjang dan lurus. Sekali lagi saya sedang berjalan di pantai dengan Tuhan. Kami berjalan dan terus berjalan. Waktu yang sunyi Yesus sepertinya sedang berpikir, dan waktu yang paling lama tanpa Ia berkata sepatah katapun.

 

Satu hal yang akhirnya dikatakan-Nya, berulang-ulang, yaitu, “Kita punya sangat banyak pekerjaan.”

 

KITA AKAN KE SURGA

 

Tuan saya membawa saya lagi ke dalam sebuah terowongan yang besar sekali. Tidak seperti kebanyakan terowongan, terowongan yang satu ini terang dan bersinar. Saya segera sadar bahwa ini adalah terowongan yang sama Ia membawa saya untuk pertama kalinya. Saya berpikir ini mestinya terowongan yang orang-orang hampir mati sering mengalami keadaan seperti lorong dari kehidupan ini kepada kehidupan selanjutnya.

 

Dalam kebanyakan keadaan mengalami keluar dari badan, orang melaporkan bahwa mereka terlempar ke dalam terowongan yang panjang, gelap dengan cepat sekali. Jauh di ujung terowongan itu mereka dapat melihat kemilau sinar cahaya surga. Ini, saya pikir, mesti jalannya kepada kerajaan Surga yang menakjubkan, yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Sekarang Tuhan dan Juruselamat saya sedang membawaku ke sana lagi.

 

Kami berjalan di samping sungai yang sangat bening dan indah sekali lagi, dan kemudian kami kembali ke pantai. Yesus lalu berkata, “Kita akan ke surga.”

 

Hati saya seakan melonjak sampai ke leher jiwa saya dibanjiri oleh keinginan yang begitu menggembirakan karena saya menyadari, bahwa saya akan ke surga. Saya akan pulang, dan Yesus sendiri mengantar saya berkeliling ke alam baka supaya saya dapat menulis mengenainya dan supaya orang lain tahu. Begitu menggetarkan hati bisa terpilih untuk mendapat penghargaan seperti itu, dan saya hampir tidak dapat menahan kegirangan yang menyelubungi saya.

 

Segera setelah Yesus mengumumkan tujuan kami, saya mulai terbang. Saya pernah naik pesawat udara, penerbangan-penerbangannya selalu menggetarkan dan menggembirakan; tetapi kali ini badan saya sedang terbang seperti seekor burung. Saya teringat ayat dari Yesaya : “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu; mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31).

 

Saya selalu menafsirkan itu dari sudut rohani, tetapi sekarang sudah menjadi suatu kenyataan yang hidup. Saya terbang dan membumbung seperti seekor rajawali, dan saya tidak takut, sebab saya tahu Yesus bersama saya.

 

Bagaimanapun, pengalaman terbang ini hanya sebentar. Seperti satu detik saja. Segera kami sampai pada suatu jalan yang sempit, berliku yang dibatasi dengan indahnya oleh pohon-pohon tinggi dan lebatnya rumput hijau. Di depan, saya melihat sebuah gerbang yang besar sekali yang dipasang dengan sebuah pagar putih. Sewaktu kami mendekati gerbang saya melihat bahwa jalan pada bagian lain

dari pagar itu semuanya putih, dan pada kedua belah sisi jalan kecil itu, segala jenis bunga-bunga yang indah permai dan beraneka warna memamerkan bermacam-macam warnanya dan mekar.

 

Saya belum pernah melihat keindahan seperti itu, dan ayat lain dari Firman Tuhan datang ke pikiran saya :

 

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mandandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata : Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:28-33)

 

Kemudian saya mulai mengerti dengan lebih jelas mengapa Tuhan mengijinkan saya mengunjungi kerajaan-Nya. Saya sadar pada saat itu, bahwa jika yang dapat mati di bumi dapat melihat apa yang saya lihat, mereka tidak perlu kuatir lagi. Saya

tahu harus menceritakannya kepada semua orang yang saya temui mengenai pengalaman saya sehingga mereka juga tidak akan pernah kuatir lagi.

 

Tuhan sungguh-sungguh menjaga semua keperluan hidup kita. Tuhan sedang melaksanakan kehendak-Nya. Kasih-Nya kepada anak-anak-Nya tak pernah padam. Firman-Nya benar. Sekarang keinginan hati saya yang membara adalah untuk menolong orang supaya mengerti, melihat, percaya kebenaran.

Pengalaman-pengalaman saya mengajar saya, bahwa “Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan” (Roma 8:28).

 

SURGA LEBIH BAIK

 

Susunan bunga-bunganya lebih hebat dari kebun manapun yang pernah saya lihat.

Saya terpekur, Saya gembira karena mengetahui bahwa ada bunga di surga. Bunga-bunga merekah paling indah yang pernah saya lihat, dan mereka seakan-akan tumbuh lebih bercahaya dan lebih berwarna-warni sewaktu kami mendekati pintu masuk ke istana putih yang luas yang telah kami lalui.

 

Yesus menuntun saya ke atas anak tangga kepada pintu berganda di depan, saya melihat bahwa pintu masuknya berbingkai emas, dan berpanel kaca ornamen warna yang indah pada kedua sisinya. Kami berjalan melalui pintu sampai pada lantai pualam yang putih. Dinding-dinding batu lorong ruang tahta Tuhan, dan dengan setiap langkah yang kami ambil, hati saya berdebar-debar lebih kuat.

 

Kami masuk ke suatu ruangan, dan kejadian ini lebih mempesona dari sebelumnya. Tahta Tuhan terbuat dari emas yang mengkilat berdiri megah sedikit lebih tinggi dari podium yang berbentuk bujur telur. Sorot cahaya kemuliaan mengalir dari tengah-tengah ruangan di mana podium itu terletak.

 

Saya dibimbing oleh seorang malaikat ke suatu kamar kecil di samping, dan saya heran menjumpai kamar rias di situ. Sebuah kaca berukuran badan meliputi seluruh dinding sebelah kiri ruangan ini, dan banyak kursi beludru yang indah teratur dengan rapi di depan kaca.

 

Suatu makhluk yang cantik berdiri di depan saya, dan saya langsung menyimpulkan bahwa saya sedang bersama seorang malaikat. Makhluk itu membuka sebuah lemari pakaian yang sangat besar berisi banyak jubah, pakaian, dan mahkota. Malaikat itu memilih satu dari pakaian-pakaian itu dan meletakkan sebuah mahkota di atas saya. Setiap jubah bersulamkan warna-warna yang kaya. Saya berpendapat bahwa pakaian-pakaian ini adalah yang paling mempesona dan paling mahal yang pernah saya lihat.

 

Setelah saya berpakaian, malaikat itu menemani saya kembali ke ruangan utama. Tuhan sedang menunggu saya. Saya melihat bahwa Ia memakai pakaian dan mahkota yang sama dengan saya.

 

Ia membawa saya ke suatu bangunan yang lain yang menyerupai gambar-gambar istana di zaman pertengahan Eropa yang sering saya lihat. Ada dinding batu pada kedua

sisi istana itu, dan bunga-bungaan yang indah ditanam di sekelilingnya. Pada waktu saya menikmati pemandangan di depan saya, saya merasa seperti saya berada di suatu negeri yang indah menakjubkan, tenteram dan bahagia. Saya tidak ingin kembali ke bumi.

 

Alkitab mengatakan kita semua akan menyembah Tuhan di hadapan tahta-Nya :

“Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah” (Mazmur 86:9-10).

 

Di bagian lain si pemazmur menyatakan, “TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya” (Mazmur 103:19-20).

 

Nabi Yesaya mencatat perkataan Tuhan : “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku” (Yesaya 66:1).

 

Surga adalah tempat yang begitu mulia, dan adalah suatu kegembiraan untuk sujud menyembah Tuhan di sana selama-lamanya.

 

Saya pernah mendengar sekali paduan suara tentang surga yang berbunyi : “Surga lebih baik dari ini / Puji Tuhan / Sungguh gembira dan bahagia / Menyusuri jalan-jalan dari emas murni / Engkau akan masuk ke suatu negeri di mana engkau tidak akan pernah menjadi tua” (sumber tak dikenal). Sekarang saya mengerti kebenaran lagu ini. Surga jauh lebih baik dari bumi. Sungguh, tidak ada bandingannya di antara bumi dan surga.

 

Kami memasuki istana, dan saya langsung melihat betapa serambinya berpermadani warnai-warni. Perabotnya yang elok dipilih sesuai dengan warna dan gaya permadaninya. Dindingnya berkilauan dan mengkilap – sangat gemerlap, nyatanya, hampir membutakan saya. Pada akhir ruang masuk, terus sedikit, saya melihat pintu dorong. Saya ingin tahu apa yang akan kami temukan di bagian yang lain.

 

KOLAM ISTIMEWA

 

Saya segera tahu, pintu dorong kaca tidak menuju ke ruangan yang lain :

melainkan adalah pintu keluar masuk ke kebun istana. Di tengah-tengah tempat yang mengagumkan ini ada sebuah kolam. Seluruh “halaman belakang” dikelilingi oleh dinding batu. Bunga-bunga dari segala jenis dan rupa membentuk suatu lautan cantik ke manapun saya memandang.

 

Saya melihat bermacam pohon buah-buahan tumbuh dekat dinding batu itu. Pohon-pohon ini dipenuhi oleh buah-buahan yang paling besar dan paling lezat yang belum pernah saya lihat. Mereka dilingkari oleh bunga-bunga yang cantik dan indah lebat. Tersebar di seluruh kebun yang mempesona ini adalah batu-batu sungai yang besar yang kelabu kelihatannya dipasang secara teratur untuk duduk dan istirahat.

 

Kolam itu membangkitkan rasa ingin tahu saya, dan secepat saya memandangnya, saya mulai menyanyi dalam Roh dan menari dengan riang. Saya sungguh-sungguh tak dapat menerangkan mengapa saya memberikan reaksi kepada pemandangan itu dengan begitu gairah, tetapi sesuatu yang ajaib mendorong saya untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya, kegembiraan, dan kedamaian dengan cara begitu. Tuhan duduk atas batu dan menonton saya menari.

 

Saya teringat akans atu ayat dari Kitab Perjanjian Lama : “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga” (2 Samuel 6:14). Kolam itu mengingatkan saya satu ayat dalam buku Wahyu : “Roh dan pengantin perem-puan itu berkata : ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata : ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang-siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17). Ya, ada sekelompok air di surga, dan air dari kolam mini jernih dan tenang. Airnya bersinar seperti kristal.

 

Ia, Tuhan, berkata kepada saya, “Ini adalah kolam yang istimewa.”

 

Saya tahu, tetapi saya tidak tahu mengapa. Tuhan tidak menerangkan perkataan-Nya kepada saya saat ini, tetapi saya menduga, bahwa kolam itu menyimpan banyak rahasia rohani yang akhirnya saya akan pelajari, satau persatu. Saya berpikir :

Inikah dimana dosa saya dan dosa-dosa orang-orang percaya yang lain dikubur? Apakah kolam ini lambang air dalam Firman Tuhan?

 

Tentu saja, air melambangkan penyucian dosa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Firman-Nya berkata bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (lihat 1 Yohanes 1:9). Firman Yesus seperti yang tercatat oleh Rosul Yohanes, masuk ke dalam pikiran saya : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan TUHAN” (Yohanes 3:5).

 

YESUS SUDAH SIAP … DAN MENUNGGU

 

Sesudah beberapa saat yang sungguh-sungguh menggembirakan, ketika saya menari dan menyanyi dekat kolam, Tuhan membawa saya kembali ke istana putih di mana saya mengganti pakaian yang saya pakai ketika ia membawa saya ke syurga. Kemudian kami berjalan kembali ke tempat kami mendarat di gunung yang tertutup oleh pohon-pohon dan semak-semak hijau.

 

“Kita sedang kembali ke bumi,” Tuhan berkata.

 

Ia memegang tangan saya lagi dan kami mulai terbang dari cakrawala surgawi ke bumi. Kami kembali ke tempat dimana kami mulai perjalanan khusus ini – sepanjang pantai yang cantik dan tenteram tempat kami berjalan-jalan sebelumnya.

 

Yesus berkata : “Puteri-Ku, sekarang kamu tahu betapa istimewanya engkau bagi-Ku. Aku mau engkau mengingat bahwa mengambil waktu yang lama bagi-Ku untuk mempersiapkanmu bagi membawamu ke dalam kerajaan-Ku, untuk menunjukkan hal-hal ini sebagai engkau dapat memberitahu dunia.”

 

Saya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan-Nya kepadaku.

 

Tuhan meneruskan : “Aku mau engkau mengingat semua yang Aku beritahukan dan tunjukkan kepadamu. Pastikan engkau menulis segala sesuatunya. Aku akan memastikan setip orang mengerti segala hal yang Aku tunjukkan dan beritahu kepadamu.”

 

Bagian kata-kata-Nya ini mengangkat beban tanggung jawab yang berat, yang saya rasakan sejak Ia pertama kalinya memberitahu saya, bahwa saya telah terpilih untuk melakukan pekerjaan-Nya. Sekarang saya tahu, bahwa Ia hanya berkata melalui saya untuk disampaikan kepada orang lain. Saya hanya harus bersedia untuk dipakai oleh-Nya. Rupanya mudah sekali, setelah segala yang saya lihat dan alami.

 

Yesus melanjutkan, “Banyak orang berpikir Aku tidak pernah datang untuk mereka, tetapi Aku berkata, Aku datang lebih cepat dari yang mereka duga.”

 

Ketika Ia mengatakan ini, nada suara-Nya berubah. Ia seolah-olah hamper marah, atau setidak-tidaknya saya merasakan urgensi yang sangat di dalam kata-kataNya. Ini adalah suatu peringatan. Satu pesan yang harus saya sampaikan – dan saya sampaikan sekarang. Akhir zaman itu betul-betul ada pada saat ini. Yesus datang segera.

 

Saya percaya Tuhan telah siap untuk orang-orangNya, tetapi orang-orangNya-lah yang belum siap bagi-Nya. Tapi pesan ini kedengarannya sangat mendesak. Inilah sebabnya saya harus menyampaikan pesan ini. Saya tidak punya pilihan lain – saya harus patuh kepada Tuhan. Manusia perlu diingatkan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Manusia perlu bersiap untuk Kedatangan-Nya yang kedua dengan menyesal atas dosa-dosa mereka dan menerima Dia ke dalam hidup mereka.

 

Alkitab jelas sekali tentang ini :

 

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah daging atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

 

Yohanes 1:12-14

 

Yesus – Firman Tuhan yang hidup – memberitahu saya untuk cepat pergi dan menyampaikan kepada orang lain, bahwa Ia segera kembali. Itulah yang dimaksudkan-Nya ketika Ia berkata, “Kita ada banyak pekerjaan untuk dilakukan.”

 

KUASA DALAM DARAH

 

Akhir Februari 1996 lebih menggetarkan dari permulaannya. Dari pukul 4 pagi sampai 5.30 pagi pada tanggal 28 Pebruari, Tuhan bersama saya. Ia datang kepadaku dan memberikan salam, “Choo Nam, Aku Tuhanmu.”

 

Ia mengulurkan tangan dan memegang tangan saya, dan kami secara ajaib diangkat ke pantai yang indah. Ia memegang tangan saya ketika kami berjalan sepanjang tepi laut, dan kali ini Tuhan seakan-akan ingin berbicara dengan saya.

Seolah-olah dengan hasrat yang membara Ia ingin menyampaikan banyak hal kepada saya.

 

Kami duduk di atas pasir dekat tepi lautan. Sementara air surut dan mengalir di depan kami, satu kejadian yang mengherankan terjadi. Tepi air berubah menjadi darah. Ombak berbuih merah tua memecah di depan kami. Seakan-akan darah itu kotor, dan saya bertanya, “Mengapa darahnya begitu kotor?”

 

“Darah-Ku, Choo Nam,” Ia berkata. “Darah-Ku menyucikan semua dosa-dosa anak-anakKu.”

 

Saya mulai menangis mendengar pernyataan ini. Ia telah menumpahkan darah-Nya untuk saya, menyucikan saya dari semua dosa-dosa saya. Ia yang tak mengenal dosa telah menjadi dosa untuk saya supaya saya dapat berpakaian kebenaran Tuhan. Dosa Domba Tuhan yang sempurna telah membasuh bersih dan membebaskan saya. Air mata tangisan saya timbul dari lubuk yang dalam di hati saya ketika saya sadar dengan segala syukur atas segala yang dilakukan oleh Yesus untuk saya.

 

“Jangan menangis, Puteri-Ku,” Ia berkata.

 

Badan transformasi saya tidak mempunyai perasaan jasmani sama sekali ketika kami terangkat dari tepi laut. Sensasi terbang dalam badan saya merasa pusing atau pening kepala. Sebab badan transformasi saya tidak memberi reaksi seperti badan duniawi saya jika dalam keadaan yang sama.

 

BENANG MERAH TUA

 

Ketika kami sampai di kerajaan Surga, kami berjalan melalui jalan yang telah kami kenal, melewati gerbang yang sekarang sudah biasa kami lalui dan masuk istna putih. Kami mengganti pakaian dengan pakaian-pakaian kerajaan yang indah. Lalu kami pergi ke kolam lagi.

 

Kolam ini sangat istimewa, tempat yang luar biasa. Sekali lagi saya menyanyikan lagu-lagu dalam roh dan menari di hadapan Tuhan. Ia hanya duduk di atas batu laut dan menonton saya; menikmati kegembiraan saya. Kelihatannya Ia senang melihat saya menari dan meyanyi dan memuji Tuhan.

 

“Apakah engkau suka tempat ini, puteri-Ku?”

 

“Ya, Tuhanku,” saya menjawab, sambil tersenyum.

 

“Aku akan membawmu kemari setiap kali engkau ke surga.”

 

Pernyataan ini menggetarkan perasaan saya untuk dua sebab – saya ingin terus kembali, dan saya suka sekali keadaan yang istimewa dan luar biasa dekat kola ini. Tempat ini seperti suatu sumber yang tenang jauh kesibukan dunia – tempat yang menyegarkan, penuh sukacita. Saya mencintai keadaan di sini.

 

Tidak lama, kami meninggalkan kolam dan berjalan menuju bangunan putih dimana pantai kami berganti jubah seperti sebelumnya dan terbang ke bawah menuju pantai bumi. Saya heran mengapa Ia tidak menunjukkan sesuatu yang baru ketika Ia membawa saya ke durga kali ini. Kami berjalan sepanjang sungai dimana terowongan yang pernah saya lihat itu berada, dan saya melihat sungainya berubah menjadi darah. Yesus menunjuk,”Itu darah-Ku – darah yang Kutumpahkan bagi anak-anakKu.”

 

Kata-kataNya menyebabkan saya menangis. Saya menundukkan kepala saya dan mulai tersedu-sedu.

 

Tuhan memegang kepala saya dan berkata, “Jangan menangis, puteri-Ku.”

 

Suara-Nya bernadakan permohonan yang memilukan, menyebabkan saya terus menangis. Ia ingin sekali anak-anakNya mengetahui bahwa dengan sukarela Ia mencucurkan darah-Nya untuk mereka, tetapi banyak yang gagal untuk mengetahui pemberian yang luar biasa ini dalam hidup mereka. Lagi, kebenaran Alkitab bergema di dalam pikiran saya : “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-prang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:11). Saya tahu, bahwa kenyataan ini menyebabkan sakit dan pedih dalam hati Tuhan saya, dan saya merasa begitu berharga dan bersyukur bahwa Ia telah memilih untuk berbagi perasaan-perasaan ini dengan saya.

 

“Aku melakukan segelanya untuk anak-anakKu,” Ia berkata. “Walaupun demikian, ada dari mereka yang tidak percaya, dan bahkan beberapa yang percaya tidak hidup menurut firman-Ku.”

 

Kesedihan yang terpantul dari suara Tuhan saya sangat nyata. Saya teringat bagaimana Ia menangisi kota Yerusalem karena orang-orang di sana tidak peduli akan Dia. Saya teringat bagaimana Ia sedih berduka oleh kenyataan bahwa beberapa dari antaranya tertidur daripada berdoa pada malam Ia dikhianati.

 

Bagaimana sakit hati-Nya ketika Petrus menyangkal bahwa ia mengenal-Nya, dan bagaimana dalamnya penderitaan yang dialami-Nya ketika Yudas Iskariot mengkhianati-Nya. Bahkan setiap hari, seperti yang dikatakan pada saya, anak-anakNya menolak Dia, mengkhianati-Nya, melupakan Dia dan kehilangan kuasa darah-Nya yang telah ditumpahkan-Nya bagai mereka. Saya dapat merasakan kedukaan yang dalam dialami oleh Tuan saya.

 

Sekarang saya tahu lebih dari sebelumnya mengapa panggilan saya harus dipenuhi. Orang-orang – baik yang diselamatkan maupun yang sesat – perlu mengetahui kuasa darah Yesus. Mereka perlu mengerti segala yang telah dilakukan-Nya untuk mereka di bukit Kalvari.

 

Umat Tuhan, demikian juga dengan orang-orang dunia, perlu mengetahui bahwa Yesus telah membuka jalan bagi mereka yang mengalahkan dunia, kegelapan, yang jahat dan semua pekerjaan musuh. Darah Yesus – benang merah tua yang menyusun seluruh Alkitab – telah membuka jendela bagi mereka.

 

Mereka perlu mengerti bahwa kebenaran yang dikatakan Yesus di dalam Wahyu sekarang ini pada zaman kita juga :

 

Karena engkau menurut firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencoba mereka yang diam di bumi. Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dam ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerussalem baru, yang turun dari sorga dari AllahKu, dan nama-Ku yang baru. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. (Wahyu 3:10-13)

 

Maranatha!

 

HEAVEN IS SO REAL!

(Surga Itu Nyata!)

Choo Thomas

 

BAB 5

Kerajaan Ku Telah Siap

Oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil.

KOLOSE 1:5 (Tekanan Ditambahkan)

 

“Yang dapat datang ke sini adalah mereka yang hatinya semurni air,” Yesus meyakinkan saya setelah kami tiba di surga pada dini hari 29 Pebruari.

“PuteriKu, Choo Nam, pekerjaan yang mana engkau Kupanggil untuk melakukan adalah sangat penting bagi-Ku, dan itu perlu diselesaikan dengan segera.”

 

Saya berdiri di hadirat-Nya yang gilang gemilang terpesona. Ia tiba di kamar tidur saya pada pukul 4.15 pagi. Kami pergi ke terowongan yang telah saya lihat sebelumnya. Kali ini lebih terang benderang dan lebih bersinar, dan dinding terowongan berkilau-kilauan dengan berhiaskan warna warni yang hebat. Terowongan ini seperti sebuah tambang permata yang berisi berlian, zamrud, batu nilam, dan batu delima. Terowongan yang sangat mempesona.

 

Perhatian selanjutnya adalah di tepi pantai, dimana saya melihat sekali lagi air yang kotor merah darah. Tepi pasir, dimana ombak-ombak berhenti juga kotor dan berwarna darah.

 

“Itulah darah-Ku,” Tuhan memberitahuku lagi.

 

Tuan saya adalah seorang guru yang sangat sabar. Ia seringkali mengulangi bagian yang paling penting dari kata-kataNya supaya saya betul-betul mengerti apa yang Ia sedang sediakan untukku. Setiap kali Ia memperhatikan darah yang ditumpahkan-Nya untuk anak-anakNya, termasuk saya, saya mulai menangis.

 

Melihat air mata saya, Yesus menghibur saya dengan berkata, “Kerajaan-Ku telah siap bagi anak-anakKu. Barangsiapa telah siap dan ingin datang akan diijinkan untuk kemari.”

 

“SAYA TIDAK PATUT MENERIMANYA!”

 

Kami berjalan melewati sebuah gerbang putih yang indah seakan-akan bertahtakan gading murni dan mutiara-mutiara halus. Kemudian kami memasuki istana yang putih megah dimana seorang malaikat mengawal saya ke ruang hias dan saya mengenakan pakaian indah yang telah disediakan untuk saya.

 

Lalu, Yesus membawa ke sebuah sungai. Sebuah dinding batu warna kelabu tersusun sepanjang aliran sungai, dan tumbuh-tumbuhan hijau dengan megahnya melatarbelakangi. Saya melihat bagaimana jernih dan tenang airnya. Berkilauan seperti batu kristal terindah yang pernah saya lihat.

 

Tuhan mengulangi undangan yang disampaikan kepada semua orang yang ingin mengikuti Dia dan mendapat rumah yang abadi bersama Dia di surga, “Mereka yang dapat datang kemari adalah mereka yang hatinya telah dimurnikan semurni air.”

 

Saya kemudian melihat bangunan-bangunan menarik putih lainnya di dalam kawasan sungai yang indah itu, langsung di belakang pohon-pohon yang tinggi. Yesus membawa saya ke salah satu rumah kediaman itu. Sebuah rumah tinggal besar putih dengan susunan tanam-tanaman yang serba mewah dengan bunga-bungaan berwarna-warni dan pepohonan yang lebat. Bunga-bunga yang paling mempesona yang pernah saya lihat itu menyemarakkan pintu keluar masuk. Pintu-pintunya juga cantik, dihiasi dengan panel-panel kaca yang berwarna-warni.

 

Di dalam istana, semuanya warna-warni dan bercahaya. Ruangan besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang memakai pakaian-pakaian yang indah dan setiap orang sedang memakai sebuah mahkota yang bertahtakan bermacam-macam permata. Saya merasa seperti puteri Cinderella dalam suatu pesta dansa.

 

Banyak kaum pria hadir di rungan itu, tetapi sangat sedikit wanita. Tuhan tidak menerangkan siapa orang-orang tersebut atau mengapa mereka disitu, tetapi Ia memberitahu saya, “Engkau akan seperti mereka.”

 

Saya menanggapi kata nubuatan ini dengan air mata. Setiap kali Tuhan memberi saya pengertian baru yang mendalam, saya akan menangis sebab saya merasa kecil sekali oleh kebaikan-Nya dan kasih karunia-Nya. Saya merasa begitu kecil, sehingga, saya mengatakan, “Saya tidak patut menerimanya!”

 

Suara Tuhan mengandung nada marah ketia Ia menegur saya, “Jangan mengatakan begitu lagi, puteri.”

 

SUMBER KEBAHAGIAAN

 

Setelah mengganti jubah dan mahkota surgawi kami, Tuhan dan saya berjalan dan bercakap-cakap dekat kolam yang tenang yang saya lihat sebe-lumnya. Ini adalah kunjungan saya yang ketiga ke tempat istimewa berhubungan akrab dengan Dia.

 

Saya memegang lengan Tuan saya dan berkata, “Aku tak mau meninggalkan tempat ini. Aku ingin tinggal selamanya bersama-Mu di sini.”

 

“Belum, puteri-Ku. Engkau mempunyai banyak pekerjaan untuk-Ku dahulu. Aku harus menunjukkan kepadamu banyak tentang surga, dan Aku akan membawa kemari lebih banyak kali. Aku ingin engkau bahagia, puteri kesayangan-Ku.”

 

Kami kembali ke istana dan ganti pakaian biasa kami. Kemudian kami pulang ke pantai di bumi dan duduk di tepi laut. Tuhan memegang tangan saya dan berkata, “Aku memberikanmu kuasa penyembuhan dan karunia rohani yang lain. Dimanapun engkau berada, Aku akan berada di situ untuk membimbingmu. Engkau akan melayani-Ku ke seluruh dunia.”

 

Pesan seperti itu sepatutnya memenuhi saya dengan hasrat ingin tahu sekali, tetapi sebelumnya membuat saya tergagap, “Tuhan, saya tidak tahu apa-apa.”

 

“Engkau tidak perlu tahu apa-apa. Aku akan melakukan semuanya untukmu. Juga, suamimu akan besertamu. Ia akan melayani bersamamu.”

 

Bagian pernyataan-Nya tadi membawa suatu kelegaan pada saya. Melegakan sekali mengetahui Roger akan menjadi sebagian dari pelayanan yang Tuhan sediakan untuk saya. Saya sering bersandar kepada suami saya untuk kekuatan dan dorongan, dan sangat menghibur hati sekali mengetahui, bahwa ia akan menjadi pasangan saya di dalam pelayanan. Pada waktu yang bersama, bagaimanapun, saya merasa Tuhan memanggil saya untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia – bukan kepada Roger atau saya sendiri atau orang lain kecuali Dia.

 

Satu bagian Alkitab terlintas dalam pikiran saya, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6). Saya memutuskan, bahwa untuk selanjutnya saya akan memegang janji ini. Saya juga tahu, bahwa Tuhan akan menuntun setiap langkah yang saya jalani. Saya juga tahu kebenaran Firman-Nya : “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Saya menyerahkan diri saya untuk berjalan di dalam cahaya Firman Tuhan selalu.

 

Saya percaya, bahwa Yesus akan selalu bersamaku. Sebab itu, saya tidak perlu takut lagi akan siapapun atau apapun. Ia telah berkata pada saya. Ia telah memegang tangan saya. Ia telah menghibur saya. Ia telah berjanji sendiri kepada saya. Bagaimana mungkin saya dapat ragu-ragu akan hadirat-Nya, kenyataan-Nya, atau kebenaran-Nya?

 

Saya sudah bukan seperti dulu lagi. Yesus, Tuhan, dan Juruselamat saya, telah membawa saya ke surga untuk mempersiapkan saya bagi suatu pelayanan yang akan memberitakan kebenaran abadi kepada orang lain. Ia memanggil saya, dan menugaskan saya untuk pekerjaan yang penting ini.

 

Sewaktu saya membayangkan hal-hal yang menakjubkan ini, saya menyadari bahwa saya sungguh-sungguh bahagia untuk pertama kalinya selama hidup saya. Saya telah menemukan tujuan saya dan kesempurnaan saya di dalam Dia, dan segala yang ada pada-Nya indah bagi saya.

 

Walaupun kepercayaan dan iman saya bertumbuh, saya masih menanggapi kata-kata Tuhan dengan merendah.

 

“Tuhan, saya sangat pemalu, dan saya tidak begitu tahu bagaimana berdoa untuk orang lain di depan umum.”

 

“Aku akan melakukan segalanya,” Ia menjawab. “Aku akan selalu bersa-mamu. Aku mau engkau memberitahukan setiap orang apa yang Aku perlihatkan dan ceritakan padamu. Seluruh dunia akan tahu akan hal-hal ini dengan segera.”

 

“ENGKAU AKAN MENULIS SEBUAH BUKU”

 

Meskipun kadang saya ragu-ragu, Yesus selalu setia. Ia dengan sabar dan penuh sayang mengingatkan saya akan kuasa hadirat-Nya yang telah saya alami sendiri.

 

“Puteri-Ku, Choo Nam, Aku ingin engkau bersabar,” Ia melanjutkan, “sebab akan mengambil banyak waktu untuk menunjukkan dan mengatakan kepadamu semua yang akan Aku nyatakan. Banyak yang harus dikerjakan karena engkau akan menulis sebuah buku untuk-Ku.”

 

Pernyataan ini betul-betul berita yang mengejutkan. Saya tidak menjawab dengan keras, tetapi saya berpikir, Bagaimana aku dapat menulis sebuah buku, sedangkan aku tidak tahu apa-apa?

 

Sekarang saya tahu lebih baik dan tidak membantah-Nya. Saya belajar bahwa jika Ia menyuruh saya mengerjakan sesuatu, Ia akan memberi kecakapan kepada saya untuk melaksanakannya. Saya tidak pernah meminta karunia-karunia. Ia dengan murah hatinya melimpahi karunia-karunia itu ke atas saya, tetapi saya ingat saya memang berdoa untuk karunia penyembuhan dan pelayanan yang akan memampukan saya memimpin orang lain kepada-Nya. Sekarang Ia sedang menjawab doa-doa itu dengan cara yang lebih dari pada yang saya harapkan! Begitulah Tuhan yang kita layani.

 

Nabi Yeremia menulis, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui” (Yeremia 33:3). Inilah salah satu doa janji yang membuktikan sendiri kebenaran dan dapat dipercaya di dalam hidup saya. Berulang-ulang Tuhan menghargai saya dengan berkat rohani yang melimpah yang tidak patut saya terima.

 

“Aku tidak mau engkau tertinggal sesuatupun yang Aku tunjukkan atau beritahukan padamu,” Ia memerintahkan. “Tidak lebih; tidak kurang. Semuanya harus tepat seperti yang Aku nyatakan padamu.”

 

SEBUAH JEMBATAN EMAS

 

Menjelang semarak musim semi tiba, saya menyadari, bahwa tiada suatu apapun di bumi ini dapat dibandingkan dengan kemuliaan keindahan surga. Pagi-pagi tanggal

1 Maret 1996, Tuhan mengunjungi saya sekali lagi, seperti biasa, berkata, “Puteri yang Kusayangi, kita punya pekerjaan yang harus dilakukan.” Ia mengingatkan saya akan beberapa hal yang harus dikatakan-Nya, “Aku memilihmu, puteri-Ku, karena ketatanmu kepada-Ku. Aku suka akan kehendakmu yang kuat dan imanmu.”

 

Sejak menjadi orang percaya, saya belum pernah sekalipun meragukan Tuhan saya. Malahan, rasa takut karena menghormati Dia, bercampur dengan cinta saya yang dalam pada-Nya, telah memberi saya kesimpulan, bahwa jangan sampai saya mendukakan-Nya. Pendirian ini menjaga saya terus pada jalan ketaatan bersama Tuhan.

 

Tuhan berkata, “Aku harus menunjukkan lebih tentang kerajaan surga.” Ia memegang tangan saya dan kami kembali ke tepi laut. Kemudian badan saya mulai naik ke surga. Saya sadar kali ini perjalanan menuju ke atas lebih menyerupai terapung daripada terbang. Saya diangkat ke atas perlahan-lahan dari bumi.

 

Saya sering heran mengapa kami berangkat dari pantai, bukan dari tempat lain, dan saya menyimpulkan, bahwa tentunya disebabkan daerah itu biasanya sepi pada pagi-pagi sekali. Saya tertawa kecil waktu saya membayangkan apa yang akan terjadi sekiranya seseorang melihat kami ke surga. Kemungkinan besar mereka akan berpikir mereka sedang melihat suatu penculikan mahluk asing atau suatu mimpi.

Mereka mungkin tidak akan mengatakannya kepada siapapun; takut dikatakan gila.

 

Lalu saya berpikir bahwa beberapa orang bisa berpikir yang sama tentang saya waktu saya mulai menceritakan cerita saya. Namun demikian, pikiran itu begitu cepat hilang oleh perasaan tenteram yang dalam meliputi saya ketika saya sadar kecemasan begitu tak ada gunanya. Sebab saya tahu, bahwa Yesus telah menerima saya dengan sepenuhnya. Jadi, mengapa saya harus khawatir tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain?

 

SEBUAH TAKHTA EMAS

 

Yesus memegang tangan saya ketika kami sedang terangkat dari planet ini. Kami mendarat di tempat yang sama seperti biasa, dan Ia memimpin saya ke kebun buah-buahan yang sedang berbuah banyak. Kebun itu sangat luas, dan setiap baris pohon buah-buahan teratur rapi sekali. Setiap pohon dipenuhi dengan buah-buahan yang masak dan lezat. Semuanya menghasilkan macam-macam buah-buahan. Kebun itu begitu luasnya seolah-olah tak ada batasnya.

 

Tuhan mengambil sebuah buah yang berwarna ungu dan berbentuk bujur telur dan memberikannya kepada saya. Lalu Ia berbuat yang sama dengan sebuah buah yang bulat dan berwarna merah tua. Saya memakannya, tetapi saya tidak dapat merasakannya dengan baik.

 

Saya membalas dengan memetik sebuah buah yang kecil, bulat, dan berwarna merah muda untuk dimakan oleh Tuhan. Meskipun saya tidak dapat melihat dengan jelas wajah-Nya, saya merasa, bahwa Ia tersenyum dan saya tahu Ia sangat senang dengan perbuatan saya.

 

Seterusnya, kami pergi ke istana putih yang sekarang sudah biasa kami kunjungi di mana kami berganti pakaian surgawi. Tuhan mengambil tempat di atas takhta emas-Nya. Sekali lagi, ruangan itu dipenuhi dengan orang yang memakai pakaian cantik dan mahkota seperti kepunyaan saya.

 

Suasana di dalam ruangan adalam tenteram dan menyembah. Orang-orang merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan. Saya mencoba ikut serta, tetapi perasaan kagum dan takjub saya ketika telah menyebabkan saya tidak sadar untuk langsung ikut menyembah.

 

Sebelum saya sadari apa yang telah berlangsung, Tuhan telah kembali mmakai pakaian-Nya yang biasa. Ia mengulurkan tangan memegang saya dan memimpin saya keluar. Pengalaman-pengalaman saya di kerajaan Tuhan berlangsung begitu cepat sehingga kadang-kadang hidup saya seperti pita video yang dimajukan cepat ke depan.

 

Tuhan membawa saya melewati sebuah jembatan emas yang bertapak di atas sebuah sungai yang deras alirannya. Kedua tepi sungai itu sangat subur, dan pohon-pohonan serta bunga-bungaan yang indah tumbuh di kedua sisinya. Pohon-pohon dan bunga-bunga di surga banyak berbeda dari yang kita lihat di bumi. Lebih banyak jenisnya, ukurannya lebih besar, lebih sehat, lebih berwarna-warni, dan lebih indah dari tanaman yang pernah saya lihat.

 

Saya merasa seakan-akan saya ada di dalam dunia cerita dongen seperti yang dilukiskan dalam buku-buku gambar yang saya bacakan kepada anak-anak saya – kecuali yang ini bukanlah khayalan.

 

“AKU AKAN MEMELIHARA BAYI-BAYI MEREKA!”

 

Setelah berjalan melalui jembatan emas yang bagus, Tuhan membawa saya ke sebuah tempat di mana bayi-bayi dan kanak-kanak yang masih kecil – banyak di antaranya yang kelihatan seperti mereka baru saja dilahirkan – dipelihara. Suatu ruangan yang sangat besar sekali, seperti sebuah gudang dan tidak menarik atau bagus. Ruangan ini dipenuhi oleh bayi-bayi yang telanjang dan berbaring dekat satu sama lainnya.

 

“Mengapa ada banyak sekali bayi di sini?” saya bertanya.

 

“Ini adalah bayi-bayi dari ibu-ibu yang tidak menghendaki mereka. Aku akan memelihara bayi-bayi mereka!” Tuhan menjawab.

 

“Apa yang akan Kau perbuat dengan mereka, Tuhan?”

 

“Jikalau ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat memilikinya kembali.”

 

“Apa yang terjadi kalau ibu-ibu mereka tidak diselamatkan? Lalu apa yang akan

Kau perbuat?”

 

“Ibu-ibu yang lain akan memiliki mereka ketika semua anak-anakKu datang ke dalam kerajaan surga.”

 

Saya lalu mengerti bahwa bayi-bayi ini telah digugurkan dari kandungan ibu mereka, dan saya mulai menangis. Yesus berteriak, “Aku tidak suka abortus!” Suara-Nya dan sikap-Nya menjadi keras dan marah, dan saya mengerti, seketika itu juga, bahwa ini adalah sebuah berita yang akan segera saya bagikan dengan smua orang yang mau mendengarnya.

 

Tuhan tidak suka pengguguran kandungan. Itu adalah salah satu dosa yang terburuk bagi-Nya. Yesus sendiri berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Tuhan” (Markus 10:14). Yesus menyayangi anak-anak, dan saya dapat melihat kasih-Nya yang lemah lembut akan bayi-bayi yang digugurkan pada waktu saya memperhatikan Dia dan mendengarkan Dia.

 

Hampir satu daripada setiap empat kehamilan di Amerika Serikat hari ini berakhir dengan pengguguran. Bagaimana ini tidak menyedihkan Tuhan? Amerika Serikat memilih hukum abortus yang paling lemah dari semua demokrasi lain, dan jumlah pengguguran terus meningkat. Saya tak akan pernah melupakan apa yang saya lihat pagi itu di surga, dan saya tak akan pernah dapat tinggal diam tentang dosa pengguguran yang mengerikan lagi.

 

Sejak saat itu saya telah berdoa bagi kaum wanita bangsa kami, memohon kepada Tuhan untuk membuka mata-mata mereka akan kebenaran tentang pengguguran, menjaga

mereka dari membuat pilihan yang salah. Saya sekarang tahu, bahwa memilih pengguguran mempunyai akibat yang kekal, dan saya berdoa bahwa pengerasan hati nurani Amerika terhadap pembunuhan seperti ini supaya dihapuskan.

 

Saya masih terdengar suara Tuhan yang marah dan gemetar karena emosi ketika Ia berkata, “Aku tidak suka abortus!”

 

“Surga lebih baik dari ini / Puji Tuhan / Alangkah gembira dan bahagia / Menyusuri jalan-jalan dari emas murni / Engkau akan masuk ke sebuah negeri dimana engkau tak akan pernah menjadi tua.”

 

SEBUAH TEMPAT UNTUK YANG SETIA

 

Tuhan membawa saya ke suatu tempat yang tandus di luar gerbang kerajaan dan memperlihatkan kepadaku banyak orang yang memakai jubah berwana piran pasir di kawasan ini, berdiri berdekatan satu dengan yang lain, dan kelihatan mereka sedih dan kesepian walaupun mereka berada di antara banyak sekali yang lain.

 

Saya tidak mengetahui siapa orang-orang ini, tetapi saya tahu Tuhan akan menjawab pertanyaan saya tentang mereka jika Ia memutuskan bahwa saya telah siap. Ia membawa saya ke atas suatu bukit kecil yang ditandai dengan bangunan-bangunan putih pada kedua sisinya. Sebuah aliran air memisahkan sis yang satu dari yang lainnya, dan pohon-pohonan mengelilingi airnya.

 

Di depan bangunan-bangunan itu saya melihat banyak orang dewasa dan akan-anak memakai pakaian putih dan beberapa di antaranya gembira terpantul pada wajah-wajah mereka. Saya merasa Tuhan sedang menunjukkan kepada saya perbedaan yang begitu menyolok antara mereka yang gembira dan mereka yang sedih. Saya menyimpulkan yang gembira adalah orang-orang yang telah memberikan hati dan jiwa mereka kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Kata-kataNya begitu lembut dan memberi semangat, membuka sumber air mata jauh di dalam jiwaku. “Jangan menangis, puteri-Ku.” Ia melanjutkan. “Aku ingin engkau selalu ingat betapa berharganya engkau bagi-Ku. Aku akan bercakap-cakap denganmu lagi.”

 

Selanjutnya sejak hari itu saya merasa seperti saya lebih hidup di surga daripada di bumi. Kunjungan-kunjungan saya ke surga telah membuat perubahan-perubahan tetap di dalam kehidupan saya. Saya tidak memerlukan tidur sebanyak yang saya biasa, sebab saya merasakan diberi kekuatan ilahi oleh kuasa yang dari atas. Sungguh, saya tahu bahwa surga itu sangat nyata, dan inilah yang mempengaruhi segalanya di dunia ini.

 

BAB 6 Suatu Tempat Yang Dinamakan Neraka

 

Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya : “Bapak Abraham, kasihailah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam api ini.”

LUKAS 16:23-24 (Tekanan Ditambahkan)

 

Pada tanggal 2 Maret 1996, Tuhan membangunkan saya pada pukul 3 pagi. Kunjungan-Nya berlangsung selama tiga jam. Seperti biasa, kami mulai perjalanan kami dari tepi laut. Kali ini Tuhan dan saya berjalan sebentar. Saya ingin tahu kemana Ia akan membawa saya.

 

Saya menyaksikan, bahwa bukit dengan banyak sekali pohon-pohonan serta semak-semak aad di sebelah kanan kami. Di kaki bukit, dekat dengan pasir, ada banyak batu karang yang besar dan kecil. Kami duduk di atas sebuah batu karang yang besar, dan terlihat oleh saya air yang jernih tiba-tiba berubah menjadi darah. Ingatan akan pengorbanan Tuhan selalu menggelisahkan hati saya, saya jadi mulai melihat ke atas, memalingkan kepala saya dari laut.

 

Barulah saya melihat bahwa gunung-gunung di dekat laut ini sedang menyala dengan nyala terang. Saya sangat terkejut dengan pemandangan ini. Terangnya nyala diganti oleh kabut asap yang tebal yang menutupi seluruh pemandangan.

 

Manusia melarikan diri dari tempat yang tak diketahui dan menuju ke arah pantai. Saya memperhatikan, bahwa beberapa di antara mereka telanjang, seolah-olah mereka telah meninggalkan tempat tidur mereka begitu tergesa-gesanya sehingga tidak punya waktu berganti baju. Rasa ketakutan nampak pada wajah-wajah mereka, dan mereka sedang lari secepat mungkin. Beberapa di antara mereka tersandung, dan gerombolan orang-orang yang berlarian melanggar dan menginjak mereka. Mereka seakan-akan sedang melarikan diri dari makhluk yang sangat mengerikan.

 

Sebentar saja pantai sekeliling kami dipenuhi oleh orang-orag yang ketakutan ini. Api yang menyebabkan mereka melarikan diri sekarang telah memenuhi daerah sekitarnya. Yang paling mengejutkan adalah nyala api itu mulai menyala dari lautan darah. Seolah-olah dunia sedang kiamat di depan saya.

 

Semburan nyala api meletup dari lautan seakan-akan dari gunung berapi miniatur, dan nyala api mulai menjalar menuju ke batas pantai. Sangat menakutkan sekali, dan saya mulai menangis ketika saya mendengar jerit kesakitan gerombolan orang di sekeliling saya.

 

Sebelumnya, saya masih duduk dengan tenteram di atas pasir di pantai ini. Adegan yang sedang berlaku di depan saya sangat mengerikan dan menakutkan. Saya tahu Tuhan mempunyai maksud dengan menunjukkan kejadian-kejadian ini kepada saya. Tiba-tiba adegannya kembali menjadi normal.

 

“Mengapa Engkau memperlihatkan ini kepada saya, Tuhan?” saya bertanya.

 

“Segala yang engkau lihat akan segera terjadi. Begitu banyak orang tidak percaya firman-Ku, jadi Aku memilihmu untuk menolong mereka melihat kebenaran. Apa yang

Aku tunjukkan kepadamu, Aku ingin engkau menceritakannyak kepada dunia.”

 

Ada nada kesal pada suara Tuhan.

 

Kami meninggalkan batu karang tempat kami sedang duduk dan berjalan di atas pasir. Yesus berkata sekali lagi.

 

“Aku harus menunjukkan lebih banyak tentang kerajaan padamu,” Ia berkata.

 

Kami melalui proses yang biasa untuk ke sana. Saya mendapat kehormatan sekali lagi berdiri di hadapan takhta Tuhan dengan banyak sekali orang lain yang merendahkan diri mereka di hadirat-Nya. Saya ikut serta dalam penyembahan yang kami semua sedang alami, dan sungguh waktu-waktu yang tenteram, sujud menyembah, sukacita, dan penuh berkat.

 

Kunjungan-kunjungan saya ke ruangan takhta Tuhan telah membuka mata saya betapa pentingnya penyambahan di dalam hidup kita. Untuk inilah kita diciptakan – untuk menyembah Tuhan dan menikmati hubungan bersama-Nya selamanya. Inilah cara kita akan menghabiskan waktu di alam kekal.

 

Pemandangan di depan saya tepat sekali seperti yang digambarkan di dalam buku Wahyu, dimana Yohanes menulis : “Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta berdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang gemilang bagaikan zamrud rupanya” (Wahyu 4:2-3).

 

Betapa riangnya hati saya tahu bahwa saya sedang mengalami pengalaman yang sama dengan yang diberitakan oleh rasul Yohanes di dalam buku terakhir dari Kitab Injil. “Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” (Wahyu 4:1).

 

Saya tahu dari apa yang Tuhan telah beritahukan saya, bahwa manusia tidak mengindahkan kata-kata dari Wahyu, dan sekarang Ia mau saya mengulangi pesannya agar supaya sebanyak mungkin orang akan benar-benar percaya.

 

BUNGA-BUNGA, RUMAH-RUMAH BESAR, DAN ISTANA-ISTANA

 

Yesus memegang tangan saya dan membimbing saya keluar dari ruangan takhta ke dalam sebuah kebun bunga yang luas dan indah. Ada perbedaan yang begitu menyolok dengan kengerian yang telah saya lihat di tepi pantai, ketenteraman kebun yang sangat besar ini memenuhi saya dengan perasaan cinta. Saya mulai menyanyi dengan girang, dan sebuah senyuman ikut terukir pada wajah saya. Tuhan memetik sekuntum bunga, seperti sekuntum mawar, dan memberikannya kepada saya. Saya memegang terus bunga itu selama kunjungan ke kerajaan Surga ini berlangsung.

 

Kebun itu luas sehingga saya tidak dapat melihat di mana batasnya berakhir.

Betul-betul suatu taman Firdaus keindahan, kasih, kegembiraan, dan ketenteraman. Baunya lebih harum dari apapun yang saya ketahui. Jadi inilah surga, dan surga lebih indah daripada sebagaimana yang pernah saya bayangkan.

 

Kami berjalan keluar dari kebun melalui suatu jalan yang sempit dan berliku-liku sampai ke suatu pemandangan gunung di bawah mana ada sebuah lembah hijau yang subur. Saya dapat melihat segala jenis binatang berlari-lari dan bermain di antara pohon-pohon. Saya terutama sekali melihat seekor rusa yang menakjubkan kelihatannya begitu kuat dan sehat.

 

Saya lihat bahwa hewan-hewan ini, yang biasanya dianggap sebagai hewan liar, sedang bermain dengan yang lain. Keadannya seperti sebuah adegan dari film produksi Disney yang berjudul Bambi.

 

Pada saat saya menoleh ke arah lain. Saya melihat sebuah sungai yang bagus

sekali. Ada dinding batu sepanjang sungai itu dan ada rumah-rumah yang hebat terletak di sebelah kiri sungai. Kebanyakan rumah itu kelihatan seperti istana di mana hanya orang-orang yang sangat kaya sekali dapat tinggal.

 

Tuhan berkata, “Ini adalah rumah-rumah untuk anak-anakKu yang istimewa.”

 

Saya ingin tahu benar tentang tempat ini, tetapi Tuhan tidak membawa saya untuk lebih dekat kepadanya. Ia hanya memperlihatkan kepada saya dari atas puncak bukit dan dalam jarak yang sangat jauh.

 

Setelah menikmati pemandangan itu, saya menyadari kebenaran firman-Nya : “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yohanes 14:2-4).

 

Ada suatu waktu saya berpikir kalau-kalau ini hanya kiasan, simbolis dari hal-hal surgawi saja. Sekarang baru saya tahu rumah-rumah besar itu dan istana-istana adalah nyata, dan Tuhan telah menyediakannya untuk kita. Lebih penting lagi, Ia ingin kita bersama-Nya di sana untuk selamanya.

 

LUBANG NERAKA

 

Selanjutnya, Tuhan membawa saya ke daerah yang lain di luar gerbang kerajaan. Kami meneruskan dengan menaiki gunung, dan pada waktu kami naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi jalannya menjadi lebih kasar dan tidak rata. Kami naik melalui jalan yang sempit ini lama sekali, dan akhirnya membawa kami melalui sebuah terowongan yang gelap. Ketika kami muncul dari terowongan itu, saya menyadari, bahwa kami telah naik lebih tinggi dari tepi bukit. Agak aneh bagi saya bahwa surga mempunyai sebuah terowongan yang gelap dan sebuah jalan yang berbelok-belok dan tidak rata.

 

Ketika kami mencapai puncaknya dan saya memandang dari puncak gunung itu, saya melihat uap dan asap yang hitam keluar dari sebuah lubang yang dalam. Bentuknya seperti kawah sebuah gunung berapi, dan di dalamnya saya dapat melihat nyala api sedang membakar banyak orang yang menjerit-jerit dan menangis seperti dalam kesakitan yang amat sangat. Hanya yang merasakan terbakar hangus sendiri dapat mengeluarkan jeritan dan tangisan seperti itu.

 

Orang-orang itu telanjang, tanpa rambut, dan berdiri berdekatan satu sama lainnya, bergeliat-geliat seperti cacing, sementara nyala api sedang membakar tubuh mereka. Tidak ada jalan keluar bagi mereka yang terperangkap di dalam lubang itu – dinding-dindingnya terlalu tinggi untuk dipanjat, dan bara api yang panas mengelilingi tepinya.

 

Walaupun Tuhan tidak memberitahu saya, tapi saya tahu sedang berdiri di pinggir neraka. Keadaannya lebih mengerikan dari pada yang diberikan Kitab Injil: “Maka laut menyerahkan orang-orang mati di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Inilah kematian yang kedua : lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Wahyu 20:13-15). Sepanjang kitab Injil dan kitab Wahyu, Yesus tidak lupa memberitahu kita tentang kengerian neraka.

 

Nyala api akan memercik keluar dengan tak terduga dari semua jurusan. Orang-orang itu mencoba menghindar diri, dan pada saat mereka mengira bahwa mereka selamat, nyala api lain tiba-tiba muncul. Tidak ada istirahat sama sekali bagi korban dosa yang malang ini, mereka dihukum untuk menghabiskan waktu mereka dengan dibakar dan hangus ketika mencoba menyelamatkan diri dari api neraka untuk selama-lamanya.

 

“Siapakah orang-orang ini?” tanyaku.

 

“Puteri-Ku, orang-orang ini tidak mengenal-Ku.”

 

Ia membuat pernyataan ini dengan suara yang pedih. Saya yakin, bahwa Tuhan tidak suka melihat pemandangan di depan kami; hal itu sangat menyusahkan ia. Saya tahu, bahwa Ia tidak boleh memaksakan nasib orang-orang yang dengan sengaja memilih untuk menolak Dia. Mereka orang-orang yang merintih dan menggeliat kesakitan dan menderita di dalam lubang neraka.

 

Saya tahu dua hal yang sama pentingnya yang harus saya ceritakan kepada orang lain. Yang satu adalah surga itu nyata; yang lainnya adalah neraka tidak kurang nyatanya. Saya tahu banyak orang yang tidak percaya kedua-duanya, dan saya tahu ini mejadi tugas saya untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana nyatanya hidup yang aka datang.

 

Saya tahu orang tua saya tak pernah memberikan hati mereka kepada Yesus, jadi saya mulai bertanya-tanya tentang mereka.

 

“Tuhan, bagaimana tentang orang tua saya?” saya bertanya. “Saya tahu mereka tidak diselamatkan, tetapi mereka orang yang baik.”

 

“Maaf, puteri-Ku. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa untuk mereka yang tidak mengenal Aku.” Suara Tuhan Yesus begitu sedih saat Ia mengatakan ini.

 

Pernyataan-Nya menusuk hati saya ketika saya teringat ibu dan ayah saya tentunya di antara orang-orang hukuman yang saya lihat di lubang neraka. Saya menangis terus ketika Ia menunjukkan adegan-adegan ini.

 

Tuhan menyentuh kepala saya, dan memegang tangan saya, memimpin saya turun ke sebuah terowongan yang gelap, dan kami muncul pada jalan lain yang tidak rata yang sangat panjang dan sampai ke pinggir lubang. Jalan gunung ini melalui pohon-pohon yang tinggi dan batu-batu yang besar sekali. Ketika kami sampai kepuncaknya, saya memandang sebuah lembah berwarna coklat dan mati. Semuanya serba coklat. Seluruh kawasan seolah-olah dipenuhi oleh rumput mati.

 

Saya melihat banyak orang yang memakai jubah berwarna pasir berjalan-jalan tak tentu arah dekat dengan lubang neraka yang menganga. Kepala mereka tertunduk, dan mereka kelihatan sedih dan tiada pengharapan.

 

“Siapakah orang-orang ini, Tuhan?” saya bertanya

 

“Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak taat.”

 

“Beberapa lama lagi mereka harus tinggak di tempat yang tandus dan mati ini?”

 

“Selamanya, puteri Ku. Mereka yang akan masuk kerajaan-Ku adalah yang murni hati

– anak-anakKu yang taat”

 

Ia terus menerangkan, “Banyak yang menamakan diri mereka ‘Kristen’ tetapi tidak hidup menurut firman Ku, dan beberapa di antaranya mengira bahwa pergi ke gereja seminggu sekali sudah cukup. Mereka tidak pernah membaca Firman Ku, dan mereka mengejar hal-hal duniawi. Beberapa yang meskipun tahu Firman-Ku, hati mereka tidak pernah bersama-Ku.”

 

Seluruh rencana dan maksud Tuhan mulai menerangi pikiran saya. Saya ingat bagaimana Yesus memperingatkan bahwa adalah sukar untuk masuk kerajaan-Nya, dan sekarang saya baru sadar apa artinya.

 

“Puteri-Ku, Firman-Ku mengatakan bahwa adalah susah untuk masuk kerajaan surga, tetapi sedikit sekali yang mempercayainya dan mengerti betapa pentingnya ini. Aku memperlihatkan ini kepadamu supaya engkau dapat memperingatkan mereka,” Ia menerangkan.

 

Agaknya untuk mengulangi pentingnya pernyataan-Nya, Tuhan membawa saya ke istana-istana yang indah yang telah saya lihat sebelumnya. Ketika kami lebih dekat dengan rumah-rumah ini, saya dapat melihat jalan-jalan yang diratakan dengan emas yang berkilauan dan bahwa setiap istana dihiasi mewah dengan permata-permata yang terindah. Sungguh – jalanan surga dialasi dengan emas tulen!

 

Saya ingin masuk ke dalam salah satu istana itu, tetapi Tuhan melarang saya dengan berkata, “Aku akan membawamu nanti.” Saya kecewa, tetapi saya merasa mendapat keistimewaan telah dapat melihat kota ini di mana orang-orang kudus dari segala zaman akan tinggal bersama.

 

BARANGSIAPA MAU

 

Tuhan dan saya kembali ke ruangan ganti, mengenakan jubah dan mahkota yang terindah, lalu pergi ke kolam dan duduk di atas batu. Saya tidak dapat menikmati suasana ketenteraman di depan saya sepenuhnya sebab pikiran saya terganggu oleh ingatan tentang neraka.

 

Saya tidak dapat menghapuskan pikiran tentang orang tua saya – amat sangat memedihkan hati saya untuk mengetahui bahwa ibu dan ayah berada di neraka. Saya diliputi oleh kedukaan. Saya tahu dengan pasti bahwa orang tua saya tidak pernah tahu mengenai Yesus sebab tidak ada seorang pun yang pernah mengajar mereka.

 

Yesus melihat hati saya dan berkata, “Engkau tidak gembira.”

 

“Ya, Tuhan,” saya menjawab, sambil menyadari bahwa Ia tahu penyebab kemurungan saya.

 

Saat kediaman penuh suasana keprihatinan menyelimuti kami. Lalu saya berkata, “Tuhan, saya tidak akan pernah meninggalkan Engkau.” Hadirat-Nya merupakan satu-satunya jaminan yang pernah saya ketahui.

 

“Puteri-Ku, ada banyak pekerjaan yang harus engkau lakukan. Aku mau engkau menulis sebuah buku. Ini adalah sebuah buku yang penting untuk hari-hari terakhir dan buku ini akan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.”

 

“Aku memilihmu untuk pekerjaan ini sebelum engkau dilahirkan, dan karena inilah Roh Kudus-Ku selalu menggoncangkan tubuhmu – untuk mencurah-kan kuasa-Ku ke dalamnya. Jikalau engkau tidak mempunyai kuasa Roh Kudus, Aku tidak dapat mempergunakanmu.”

 

“Engkau harus ingat bahwa kuasa-Ku mulai bekerja pada saat engkau membuka hatimu untuk-Ku. Engkau adalah puteri yang Kupercaya untuk mela-kukan pekerjaan ini untuk-Ku.”

 

“Tuhan, saya tidak tahu apapun.”

 

“Engkau tak perlu tahu. Aku akan mengajar dan membimbingmu di dalam segala hal. Beritahu semua orang bahwa Aku siap untuk siapa pun yang telah siap dan menantikan Aku. Aku mencintaimu, puteri-Ku.”

 

Saya mulai menangis, dan Tuhan memegang tanganku dan berkata, “Aku akan membawamu pulang.”

 

Setelah kami menggantikan pakaian kami, kami kembali ke pantai dan duduk bersama sejenak. Tuhan berkata kepadaku, “Masih banyak yang akan Kuperlihatkan padamu, dan Aku ingin engkau menunggu-Ku.”

 

“Tetapi kami merencanakan untuk pergi ke tempat anak perempuanku minggu depan.”

 

“Jangan kemana-mana, puteri-Ku. Aku tidak ingin engkau pergi kemana- pun untuk sementara waktu. Apa yang akan Aku kerjakan bersamamu terlalu penting untuk-Ku dan semua anak-anakKu, jadi Aku mau engkau memusatkan perhatianmu kepada segala sesuatu yang Aku tunjukkan dan beritahukan padamu sehingga semuanya selesai. Sabarlah.”

 

“Saya akan melakukan apapun yang Engkau perintahkan padaku,” saya berkata.

“Tiada sesuatu pun yang lebih penting daripada pekerjaan-Mu.”

 

“Terima kasih, puteri-Ku. Aku masih ada banyak pekerjaan untuk engkau lakukan. Aku tahu engkau lelah, jadi beristirahatlah.”

 

Ia meninggalkan saya, dan badanku berhenti bergoncang. Kemudian, seperti biasa, saya menuliskan semuanya yang telah saya lihat dan dengar.

 

Sesungguhnya, kekristenan itu terlalu sederhana untuk dihindarkan oleh banyak orang. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mempersulit segalanya, termasuk perkara-perkara yang menyangkut iman. Yesus hanya ingin orang datang kepada-Nya dengan iman supaya Ia dapat membimbing dan menolong mereka.

 

Sekarang saya mengerti lebih dari yang pernah saya ketahui, bahwa barang siapa mau dapat datang kepada-Nya dan menerima hidup yang kekal. Firman-Nya dengan jelas menyatakan : “Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

 

SEBUAH LUBANG BERASAP

 

Keesokan harinya – tanggal 3 Maret 1996 – penuh dengan banyak pengalaman-pengalaman pemberian Tuhan yang baru. Dari pukul 2.30 sampai 4.50 pagi Tuhan beserta saya. Ia memulai kunjungan-Nya dengan berkata : “Puteri-Ku, inilah Tuhanmu. Aku tahu engkau lelah, tetapi Aku harus menunjukkan lebih banyak perkara padamu.” Selama lima belas menit sebelum kedatangan-Nya, badan saya bergoncang tak terkendalikan.

 

Ia meraih tangan saya dan kami berjalan sepanjang pantai bumi. Ini adalah suatu tempat yang baru dari kunjungan-kunjungan kami di tepi laut. Ada banyak pohon-pohon dan semak belukar. Kami naik melalui sebuah jalan yang sempit dan didereti oleh pohon-pohon dan semak-semak. Kami berjalan sepanjang jalur ini yang memutari sebuah gunung sehingga kami mendaki dengan cepat. Dekat puncaknya kami beristirahat di atas sebuah batu yang besar yang bentuknya menyerupai seekor beruang besar.

 

Saya memandang ke arah lautan. Kembali saya lihat pantai menjadi darah sekali lagi. Saya melihat manusia berlarian di pantai. Mereka bukan pejalan kaki biasa; mereka lari ketakutan dan panik. Pemandangan yang luas di depan kami membantu saya untuk mengerti mereka ini lari dari apa.

 

Di sebelah kiri saya gunung-gunung dan bangunan-bangunan yang terletak pada setiap sisi gunung sedang terbakar semuanya. Suatu lautan api jauh lebih buruk dari kebakaran hutan belukar yang terjadi setiap tahun yang mengganggu penduduk California Selatan.

 

Kemudian, saya melihat api-api besar muncul di mana-mana. Orang-orang sedang terbakar. Beberapa terjun ke dalam lautan untuk menyelamatkan diri, tetapi begitu mereka menginjak air, mereka akan jatuh karena api itu. Semua orang menjadi obor. Saya mulai menjerit kengerian dan kasihan kepada mereka yang saya lihat.

 

Lautan darah telah berubah menjadi sebuah lautan kawah api belerang yang menyala. Pasirnya terdiri atas alas batu bara yang panas menyala. Orang-orang itu berlari dari api yang mengejar mereka, mengelilingi mereka dan menjilat badan mereka dengan rakusnya. Beberapa di antaranya tidak berpakaian dan tidak berdaya sama sekali terhadap api itu.

 

Bagaimanapun, sia-sia saja sebab tidak ada jalan keluar dari musuh yang membakar itu yang mengancam untuk melahap mereka. Mereka tidak dapat lari ke gunung-gunung karena mereka di selubungi api. Tidak ada tempat yang selamat.

 

Saya menjerit terus, dan saya mulai tersedu-sedu : “Tuhan, apa yang terjadi?”

 

“Engkau harus ingat, PuteriKu, bahwa Aku memperlihatkan hal-hal ini kepadamu supaya engkau akan dapat memberitahukan kepada setiap orang yang akan segera terjadi.”

 

“Kapan ini akan terjadi, Tuhan?”

 

“Sesudah Aku membawa anak-anakKu pulang. Banyak orang tidak percaya Firman-Ku. Itulah sebabnya Aku mau engkau menulis sebuah buku yang menerangkan pengalaman-pengalaman bersama Aku. Aku ingin seluruh dunia melihat buku ini, dan Aku mau mereka sadar bahwa Aku telah siap untuk mereka.

 

“Aku mencintai anak-anakKu, tetapi Aku tak dapat membawa mereka ke dalam kerajaan-Ku jika mereka belum siap untuk Aku. Aku tidak akan pernah memaksa anak-anakKu untuk melakukan sesuatu jika mereka tidak mencintai-Ku. Sudah lama Aku merencanakan bagimu untuk mengerjakan pekerjaan ini sebab kerajaan-Ku betul-betul siap sekarang.”

 

Tuhan harus terus mengingatkan saya dan meyakinkan saya akan rencana-Nya sebab saya masih tertegun bahwa Ia memilih saya untuk tugas yang begitu pentingnya. Adalah di luar kemampuan saya untuk mengerti luar biasanya semua ini.

 

Maksud kata-kata Tuhan kepada saya sangat penting sekali. Ada bagian pada diri saya yang ingin mundur dari tugas yang sangat berat ini, tetapi janji saya untuk taat kepada Tuhan di dalam segala hal menyebabkan saya pantang mundur. Saya tahu Ia sedang mempersiapkan saya untuk satu karya akhir zaman yang hebat, dan hati saya sangat tergerak meskipun agak takut. Saya tahu Ia masih mempunyai banyak pekerjaan untuk dilakukan dalam hidup saya.

 

“Aku akan membawamu ke surga lagi.”

 

Sesampainya kami di surga, kami tidak mengambil waktu melalui cara yang biasa. Tuhan langsung membawa kami ke lubang neraka yang telah kami lihat kemarin di luar gerbang kerajaan. Kali ini kami tidak mengganti pakaian kami. Untuk sampai ke sana, kami harus berjalan di sisi gunung, melalui sebuah terowongan yang gelap dan terus sampai ke puncak gunung. Ketika kami tiba di puncak, kami melihat ke bawah ke dalam lubang neraka yang menganga begitu lebar dan dalam sehingga kelihatan seperti tak ada akhirnya.

 

Pemandangan yang menakutkan dan menggelisahkan. Tuhan berkata, “Aku ingin engkau melihat lagi.”

 

Sangat sulit untuk melihat ke dalam lubang neraka, tetapi segera perhatian saya tertuju kepada sesosok yang sedang melambai kepada saya. Melalui kabut asap, saya dapat memastikan bahwa orang itu seorang wanita. Lalu saya mendengar suaranya. Ia sedang bercakap dalam bahasa ibu saya Korea, dan ia mulai menjerit,

“Panas! Panas!”

 

Saya kenal suara itu. Asap hilang, dan saya menatap mata wanita yang tersiksa itu. Saya langsung mengenali ibu saya! Ia mengulurkan tangan kanannya dan melambaikannya kepadaku, katanya, “Sangat panas, sangat panas!” Saya ingat begitu jelas matanya dan mata saya bertemu, dan cara matanya memohon saya utuk menolongnya.

 

Ibu kandung saya sendiri sedang menjerit minta tolong dari lubang neraka yang menganga. Jantung saya berhenti. Seperti sebilah pisau yang dingin tiada pengharapan menusuk hati saya. Ibu saya di neraka! Saya merasa seakan-akan batu besar yang sedang saya duduki menindih saya. Saya berusaha dengan mati-matian untuk mencapai dan memegang tangan ibu saya supaya saya dapat mengangkat dari jilatan-jilatan lidah api yang melingkarinya. Ini adalah saat yang paling buruk dalam hidup saya.

 

Tidak ada kata-kata dalam kamus yang dapat menerangkan dengan tepat perasaan saya pada saat itu. Campuran perasaan takut, putus asa, kesakitan, kengerian, kesedihan dan tiada pengharapan. Lalu saya sadar bahwa emosi-emosi seperti inilah yang harus dialami ibu saya sampai kekal.

 

Ibu saya meninggal ketika ia berusia empat puluh tahun, tetapi wajahnya kelihatan sama seperti yang saya ingat. Ia seorang wanita yang cantik, tetapi ekspresi wajahnya mencerminkan penderitaan yang sedang dialaminya di dalam lubang. Saya ingin menyentuhnya, merangkulnya, mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik, tetapi saya tahu bahwa hal ini tidak mungkin karena pilihan-pilihannya dalam hidup. Saya tahu tidak dapat menolongnya – bahkan Tuhan tidak dapat menolongnya sebab ia tidak mengenal Dia.

 

Ia tidak tahu menahu tentang Tuhan sebab tidak ada seorangpun yang pernah mengajarnya. Tidak mengenai Tuhan-lah yang membawa seseorang ke neraka, dan inilah sebabnya mengapa saya ingin memberitakan kepada seluruh dunia tentang lubang neraka yang saya lihat dan kerajaan surga yang indah.

 

Selanjutnya saya melihat ayah saya, ibu tiri saya, dan seorang sahabat yang telah meninggal ketika ia baru berusia sembilan belas tahun. Mereka semua ada di neraka! Mereka kelihatan sama sejauh ingatan saya mengenai mereka, tetapi wajah-wajah mereka berubah akibat penderitaan hebat dari hukuman mereka. Saya merasa tidak tahan lagi, dan saya memalingkan muka saya dari pemandangan di depan saya yang mengerikan.

 

Lalu saya mendengar suara lain yang saya kenal meraung keluar dari lubang. Ia adalah seorang teman yang telah lama meninggal sepuluh tahun yang lalu. Di sebelahnya, kemenakan laki-laki saya yang meninggal ketika ia berumur dua puluh tahun. Terakhir kali saya bertemu dia, ia hanya berusia sepuluh tahun, tetapi ia kelihatan sama seperti dalam ingatan saya, hanya lebih tinggi.

 

Saya mulai menangis sedalam-dalamnya. Sebab saya telah menangis terus, meratap seperti seorang anak kecil. Begitu banyak orang yang saya sayangi dan teman-teman telah membuat pilihan yang menyebabkan mereka dilemparkan ke dalam api neraka untuk selama-lamanya! Terlalu pedih, saya tidak tahan!.

 

Beberapa dari memereka, saya yakin, telah mendengar tetang Tuhan, tetapi saya merasa pasti bahwa tak ada orang yang pernah menerangkan siapa Yesus kepada mereka. Saya pasti bahwa jikalau mereka tahu siapa Dia sebenarnya, tentu mereka tidak membuat pilihan-pilihan yang telah mereka putuskan. Bagaimana saya berharap saya dapat menceritakan kepada mereka tentang Dia yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

 

Lubang neraka jauh sekali dari kami, tetapi pada waktu itu seperti saya mempunyai sebuah lensa potret jarak jauh yang membolehkan saya melihat orang-orang ini dekat sekali. Saya tak dapat mengendalikan air mata saya, dan Tuhan dengan sayang menghapus air mataku dan membelai rambutku. Waktu itulah saya baru sadar bahwa Tuhan sesedih saya, dan saya dapat merasakan bahwa Ia sedang menangis bersama saya. Ia memecahkan kesunyian.

 

“Sebabnya Aku menunjukkan ini kepadamu, puteri-Ku, agar supaya engkau mengerti sepenuhnya bahwa bagaimanapun baiknya orang, mereka akan masuk neraka jika mereka tidak menerima Aku.”

 

Saya menganggukkan kepalaku.

 

“Saya tahu orang tua dan teman-temanmu adalah orang yang baik dalam banyak hal, tetapi mereka tidak diselamatkan. Sebab itulah ini adalah satu-satunya tempat bagi mereka. Di sinilah mereka harus menghabiskan waktu mereka selama-lamanya.”

 

“Puteri, saya tahu sangat menyakitkan hatimu melihat mereka, tetapi engkau harus memasukkan pengalaman ini ke dalam buku yang akan kau tulis untuk-Ku. Inilah sebabnya Aku menunjukkan orang tuamu dan yang lain seperti dalam ingatanmu. Engkau harus memperingatkan orang-orang di dunia tentang kenyataan mereka. Aku ingin melihat sebanyak mungkin jiwa diselamatkan sebelum Aku kembali untuk mengumpulkan gereja-Ku bagiKu.”

 

“Bapa-Ku mencintai semua anak-anakNya, tetapi Ia telah memberi mereka hukum-hukum tertentu yang Ia harapkan mereka menaatinya. Ketika Aku melihat semua orang-orang yang kaukasihi, Aku merasakan kepedihan yang lebih dalam dari pada yang engkau rasakan, tetapi Aku harus hidup menurut Firman Bapa-Ku. Sekali seseorang masuk ke neraka, tidak ada jalan lain bagi mereka untuk pernah dapat keluar lagi. Aku ingin yang belum diselamatkan mengetahui ini – kenyataan bahwa neraka adalah kekal.”

 

“Aku mencintai semua anak-anakKu, tetapi Aku tak dapat memaksa siapa pun untuk mengasihi-Ku atau menaati-Ku. Apabila mereka mau membuka hati mereka kepada-Ku, Aku dapat membantu mereka untuk mempercayai-Ku dan mencintai-Ku. Aku ingin menyelamatkan jiwa-jiwa sebanyak mungkin. Saya mau orang-orang percaya di manapun mereka berada untuk memberitakan Injil. Inilah yang paling penting bagi-Ku.”

 

Sudah cukup. Sudah cukup yang saya lihat, dan sudah cukup yang saya dengar untuk mendorong saya ke dalam satu semangat pelayanan memberitakan Injil yang tak pernah padam. Bagaimana mungkin saya dapat berdiam diri setelah semuanya yang saya lihat dan dengar?

 

Saya akan bercerita kepada semua orang, bahwa saya melihat Yesus sehingga mereka dapat menerima kehidupan kekal di surga. Tak ada sesuatupun di dunia yang lebih penting daripada ini. Orang tua saya sendiri dan begitu banyak anggota keluarga lain dan teman-teman berada di neraka. Saya tidak dapat berdiam diri dan melihat siapapun masuk ke sana. Saya sangat gembira mengetahui, bahwa buku saya akan menemukan jalan sampai ke tangan banyak orang yang harus tahu bahwa neraka itu nyata sama nyatanya dengan surga

 

Walaupun hal-hal yang saya lihat di neraka telah membuat saya sangat lemas, mereka telah menanamkan suatu keputusan di dalm roh saya, bahwa tiada sesuatupun yang akan dapat menghapuskannya. Saya memutuskan, bahwa tiada seorangpun dalam jangkauan saya akan dapat menyangkal kenyataan ke sana bersamaku. Saya tahu bahwa ini adalah keingian Tuhan juga. Ia mengatakan di dalam firman-Nya :

 

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (2 Petrus 3:9-10)

 

Hari-hari akhir sungguh sedang berlaku dalam hidup kita sekarang. Kesabaran Tuhan tiada taranya sampai sekarang, tetapi Ia sudah siap untuk datang lagi untuk menerima anak-anakNya bagi Dia. Kemudian orang-orang yang tetap tinggal di bumi akan mengalami neraka di bumi sebelum mereka berakhir dalam kebinasaan kekal nyala api yang mengerikan. Tugas saya adalah untuk memperingatkan seluruh dunia tentang kejadian-kejadian ini yang sudah sangat dekat.

 

 

 

 

BAB 7

MARANATHA !

 

“Ya, Aku datang segera!”

WAHYU 22:20

 

Setelah penglihatan yang mengerikan tentang neraka, Tuhan dan saya menuruni gunung, melalui terowongan yang gelap, dam kembali ke suatu tempat yang mulai saya panggil sebagai “gunung hewan.” Ini adalah tempat yang indah yang saya gambarkan secara singkat dalam bab sebelumnya – sebuah tempat tenteram dan riang ria di mana semua binatang hidup bersama dalam suasana yang rukun.

 

Kitab Injil menggambarkan tempat yang tenteram untuk hewan-hewan di dalam kitab Yesaya, di mana nabi menyatakan :

 

Maka sebelum mereka dipanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya. Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus, firman TUHAN. (Yesaya 65:24-25)

 

Sesudah melihat siksaan api neraka, pemandangan yang tenteram ini paling melegakan. Surga adalah tempat ketenteraman dan kegembiraan; sangat berbeda dengan kekejaman serta kesedihan neraka. ‘Gunung hewan’ Tuhan adalah satu tempat kegembiraan dan kebahagiaan yang kekal.

 

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa binatang-binatang akan hidup bersama kita di taman Firdaus. Jadi banyak orang ingin tahu apakah binatang kesayangan mereka ada di surga, dan saya gembira untuk memberitahu mereka bahwa surga adalah suatu tempat dengan bunga-bunga yang indah, binatang-binatang tidak akan pernah mengalami kesakitan, kesusahan, kematian atau penderitaan.

 

ISTANA-ISTANA EMAS

 

Setelah kunjungan singkat kami ke taman Firdaus hewan, Tuhan dan saya kembali ke bagian berair di mana kami mengunjungi rumah-rumah besar yang berkilauan dan istana-istana di atas itu, dan Tuhan membuka pintu untuk saya masuk. Perbendaharaan kata-kata saya tidak dapat dilukiskan dengan tepat bagian dalam rumah tinggal yang sangat anggun ini. Dinding-dindingnya terdiri dari permata-permata indah yang berwarna-warni serta berkilau-kilauan dan memancarkan cahaya dengan cara yang menakjubkan.

 

Saya ternganga karena terpesona untuk seketika lamanya, sebab saya tidak menyangka akan melihat keindahan yang seperti itu. Untuk seketika saya menyangka ini hanya suatu mimpi, tetapi ini adalah betul-betul sebuah istana; tidak ada keragu-raguan mengenainya.

 

Tuhan beristirahat di atas sebuah kursi ketika saya naik tangga rumah yang memutar yang lebih besar dan hebat daripada yang ditunjukkan di perkebunan Gone with the Wind-nya Tara. Saya dipenuhi rasa kagum ketika saya membayangkan kehebatan kamar-kamar di atas.

 

Pada bagian teratas tangga, saya melihat bahwa permadaninya mewah putih. Saya masuk ke ruangan berhias yang sangat besar yang seluruhnya mempunyai cermin berkilauan besar sekali. Mereka memantulkan terangnya itu dan banyak warna-warna yang teratur dengan luar biasa pada setiap dinding. Suatu tempat yang lebih hebat dari istana fantasi manapun jika pernah ada.

 

Kegembiraan dan kekaguman yang menyesakkan napas yang sedang saya alami segera berantakan oleh ingatan yang sangat menyakitkan. Gambaran ibu saya terlintas di depan saya, dan saya susah sekali lagi. Saya jatuh di atas permadani dan mulai tersedu.

 

Saya mendengar Tuhan memanggil saya dari bawah, jadi saya bangun, membereskan diri saya dan kembali turun tangga. Tuhan berdiri dan saya berjalan kepada-Nya. Ia mengulurkan tangan-Nya kepada saya dan bertanya, “Bagaimana, apa engkau suka rumah ini?”

 

“Rumah ini indah, Tuhan, tetapi saya tidak gembira sepenuhnya.” Sebelumnya, setiap saya mengunjungi surga saya penuh dengan kegembiraan dan biasanya saya menyanyi lagu-lagu rohani, tetapi kali ini tidak begitu. Tuhan mengangguk seolah-olah Ia mengerti, lalu Ia memegang tangan saya dn memimpin saya keluar dari rumah. Kami berjalan menyeberangi sebuah jembatan emas menuju gedung putih di mana kami biasanya mengganti pakaian. Di dalam bangunan putih, Tuhan memperkenalkan saya kepada seorang pria yang amat keren. “Aku mau engkau bertemu dengan Abraham,” Ia berkata.

 

SEBUAH KOTA MENANTI

 

Abraham! Pemimpin besar dari segala keimanan dan ketaatan – orang yang menentang seluruh dunia dengan memproklamirkan hanya ada satu Tuhan. Inilah pemimpin besar yang mendirikan agama Yahudi dan membuka jalan untuk Kristus. Sungguh suatu kehormatan untuk bertemu muka dengan orang yang baik ini tentang siapa penulis kitab Ibrani berkata :

 

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Tuhan. (Ibrani 11:8-10)

 

Sekarang saya tahu bahwa Bapa Abraham telah menerima anugerah yang dibenarkan oleh imannya. Ia tinggal untuk selamanya di “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Tuhan,” dan saya di sana bersama dia! Terlalu ajaib untuk dimengerti sepenuhnya.

 

Abraham adalah orang yang paling bermartabat yang berambut panjang putih dan janggut putih terjuntai. Meskipun ia kelihatan tua, matanya bercahaya seperti masih muda dan riang. Ia meletakkan tangannya pada bahu saya sambil berkata, “Puteri.”

 

Senyuman pada wajahnya membuat saya mengerti, bahwa berkahnya ada dalam hidup saya, dan saya langsung mengasihi orang yang hebat ini kepada siapa saya dan setiap orang percaya di dunia sangat banyak berhutang padanya. Mungkin lebih dari siapapun, Abrahamlah yang mengajar kita bahwa “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan. Sebab barangsiapa berpaling kepada tuhan, ia harus percaya bahwa Tuhan ada, dan bahwa Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (lihat Ibrani 11:6)

 

Ia adalah salah satu dari pemimpin-pemimpin dan nabi-nabi yang besar yang mengenainya dikatakan :

 

Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Tuhan tidak malu disebut Tuhan mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal; walaupun kepadanya telah dikatakan : “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Tuhan berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. (Ibrani

11:16-19)

 

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan saya, saya melihat banyaknya kebenaran dari ayat ini dengan jelas sekali. Tuhan telah menyediakan sebuah kota untuk Abraham dan kita semua yang percaya dan taat. Abraham, seperti halnya Tuhan, telah rela menyerahkan anaknya yang tunggal, dengan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan dapat membangkitkan dari antara orang mati, kalau perlu.

 

Dengan cara yang sama, Bapa surgawi kita memberikan Anak-Nya yang tunggal – Yesus – sebagai korban bagi dosa-dosa kita. Ia disalibkan dan dimakamkan, tetapi pada hari ketiga, Tuhan membangkitkan Yesus dari antara orang mati, dan oleh kebangkitan-Nya tiada seorangpun dari kita takut akan kematian lagi!

 

Abraham memanggil seorang malaikat untuk menemani saya. Malaikat itu membawa saya ke ruangan berhias di mana saya berganti dengan jubah surgawi dan mahkota saya yang indah. Kemudian Tuhan membawa saya kembali ke kolam.

 

Setiap kali Tuhan membawa saya ke kolam, begitu kami tiba di sana saya mulai menyanyi dan menari, tetapi kali ini saya hanya ingin menangis. Tuhan tahu betapa sedihnya saya. Ia menyuruh saya duduk di samping-Nya dan Ia mulai berbicara.

 

LEMBAH KEKELAMAN

 

Yesus merasakan kesedihan yang saya simpan di dalam hati saya atas pengenalan yang jelas tentang orang tua dan orang-orang yang saya kasihi ada di neraka.

 

“Puteri-Ku,” Ia berkata, “Aku tahu bagaimana perasaan tentang orang-orang yang kau kasihi yang engkau lihat di dalam lubang neraka. Bagaimana inginnya Aku untuk tidak perlu menunjukkan hal-hal ini padamu, tetapi Aku ingin satupun dan anak-anakKu pergi ke tempat di mana orang-orang yang kau kasihi itu berada. Aku menunjukkan perkara-perkara ini kepadamu supaya barangsiapa mendengar peringatan-peringatanKu akan diselamatkan!”

 

Tuhan lalu memegang tangan saya dan kami kembali ke tempat di mana Abraham berada. Kami mengganti pakaian kami lagi, dan Ia membawa saya ke sebuah gunung tinggi yang lain dari mana saya dapat melihat ke bawah ke suatu lembah tanpa ujung lainnya, dimana banyak sekali orang berjubah warna kelabu sedang berjalan kian kemari tak tentu arah dalam keadaan jelas sedang patah hati. Jubah mereka mengingatkan saya pakaian yang dipakai oleh pasien-pasien rumah sakit.

 

Orang-orang itu kelihatan lemah dan putus asa, dan wajah-wajah kelabu mereka cocok dengan warna jubah yang mereka pakai. Mereka memandang ke tanah di depan kaki mereka ketika mereka jalan berkeliling, tanpa tujuan dan pengharapan. Tempat ini kebanyakan kaum lelaki dengan sedikit saja wanitanya.

 

“Siapa orang-orang ini, Tuhan?”

 

“Mereka adalah orang-orang ‘Kristen’ yang berdosa.”

 

“Apa yang akan terjadi pada mereka?” saya berpikir keras.

 

“Kebanyakan mereka akan masuk ke danau api setelah hari pengadilan.”

 

Saya heran mengapa orang-orang ini di sini, kemudian saya teringat bahwa lembah mereka menuju ke lubang neraka yang menyala. Orang-orang yang dipanggil sebagai ‘orang-orang Kristen’ ini adalah mereka yang sebetulnya tidak tahu Tuhan dan terus dan mau berdosa sendiri dan tidak bertobat sebelum mereka mati atau sebelum pengangkatan terjadi akan hilang selama-lamanya.

 

Roma 1:29-32, Galatia 5:19-21 dan Wahyu 21:8 semuanya adalah contoh bagaimana cara beberapa orang-orang Kristen hidup. Suatu kali seseorang menanyakan kepada saya bagaimana orang-orang Kristen yang berdosa dapat masuk surga. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus untuk memperoleh apa yang patut kita terima sesuai dengan yang kita lakukan selama hidup di bumi, yang baik ataupun yang buruk (lihat 2 Korintus 5:10).

 

“Puteriku, inilah sebabnya Aku terus memperingatkan engkau tentang pentingnya ketaatan serta kekudusan,” Yesus berkata.

 

Lalu saya ingat – setiap kali kami pergi ke tempat-tempat yang indah dari

kerajaan surga kami menyeberangi jembatan emas, dari bangunan putih di mana kami biasa berganti pakaian. Bagaimanapun, jika Tuhan membawa saya untuk melihat tempat-tempat yang menakutkan, kami akan pergi ke jalan-jalan yang lain yang ada di luar gerbang kerajaan surga.

 

KESEDIHAN DAN KEGEMBIRAAN

 

Pengetahuan ini membantu saya mengerti beberapa persiapan-persiapan yang akan kami lalui sebelum bagian yang lain daripada kerajaan akan diperlihatkan kepada saya. Itulah sebabnya, kami tidak perlu mengganti jubah kami ketika Tuhan membawa saya ke pantai bumi. Pada kesempatan ini, kami duduk di atas pasir, dan saya membayangkan semua yang telah saya alami. Saya mulai menangis sewaktu teringat akan segala yang saya lihat di dalam lubang neraka dan lembah kekelaman. Tuhan mengambil tangan saya dan berkata, “Jangan menangis, puteri-Ku.”

 

Ini adalah perintah yang paling sukar untuk dipatuhi dari segala perintah-perintah, tetapi saya menguatkan hati terhadap ingatan-ingatan yang mengerikan itu, menahan air mata dan mulai menanyakan semua pertanyaan-pertanyaan yang membanjiri pikiran saya.

 

“Tuhan, saya tidak tahu apa-apa, dan siapa saya ini. Bagaimana Engkau dapat memakai saya?”

 

“Orang mungkin berpikir engkau bukan siapa-siapa, tetapi Aku ingin engkau mengerti bahwa engkau adalah puteri-Ku yang istimewa. Jangan khawatir tentang apapun. Aku akan menjaga segala sesuatunya untukmu.”

 

“Kapan Engkau akan datang untuk membawa kami pulang?”

 

“Engkau melihat kerajaan surga. Semuanya telah siap, dan sebab itulah Aku terburu-buru untuk setiap orang supaya siap bagi-Ku. Inilah sebabnya Aku mau engkau melakukan pekerjaan ini untuk anak-anakKu. Engkau telah diberi suatu urapan istimewa untuk mengerjakan pekerjaan ini. Jadi jangan mengatakan, bahwa engkau bukan seorang berarti. Aku akan memberkatimu lebih daripada yang penah engkau pikirkan.”

 

“Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mencintai-Mu, tetapi aku tidak dapat menghapuskan, paras ibuku ketika aku melihatnya berubah oleh api neraka. Aku tidak ingin mengingat apa yang telah aku lihat.”

 

Seketika Tuhan menyentuh mata saya, dan sejak saat itu selanjutnya saya tidak dapat mengingat wajah ibu saya. Bahkan ketika saya menuliskan kata-kata ini, saya tidak dapat melihat wajahnya. Apa yang dapat saya ingat ialah, bahwa saya melihat wajahnya sekali di dalam lubang neraka, dan itu merupakan suatu pengalaman yang mengerikan.

 

Yesus lalu berkata, “Aku tahu engkau letih. Kita akan bercakap-cakap lagi.”

 

Kami berdiri, dan Ia memeluk saya, lalu berpisah. Ketika Tuhan merangkul saya, badan saya bergoncang sangat kuat sehingga saya merasa seperti saya akan jatuh berantakan. Setiap kali Ia menyentuh badan trasformasi saya, badan jasmani saya mengalami kuasa tenaga sentuhan-Nya, dan setiap urat syaraf dan otot dalam badan saya bergoncang dan bergetar. Kemudian saat Ia pergi, badan saya berhenti bergoyang.

 

Pada pagi itu, saya pergi ke gereja, dan saya mengalami hadirat Tuhan menggoncang badan saya sepanjang kebaktian. Saya dapat melihat Dia berdiri dekat pendeta. Ketika waktu pujian, Tuhan sedang berjalan di depan gereja. Menakjubkan melihat cahaya hadirat-Nya di gereja.

 

Sepanjang kebaktian saya mengeluarkan air mata kasih dan gembira. Hati saya berdebar di dalam dada saya ketika saya merenungkan kembali kemuliaan kerajaan surgawi yang telah saya kunjungi. Urapan-Nya begitu kuat atas diri saya sehingga saya tidak dapat berdiri. Bahkan saya tidak dapat mendengar khotbah pendeta ketika badan saya meresponi hadirat Tuhan dengan panas yang hebat dan bergoncang.

 

Orang-orang di gereja saya mengerti apa yang telah terjadi pada saya, dan mereka sangat membantu. Dahulu saya berpikir memalukan dan dipermalukan oleh manifestasi jasmani demikian di depan umum, tetapi saya gembira sebab saya tahu semuanya adalah karunia Tuhan dan Ia sedang mempersiapkan saya untuk melayani Dia dengan cara yang saya pikir mustahil. Saya tidak mau manifestasi hadirat-Nya yang kuat pergi dari dalam hidup saya

 

MASA KESENGSARAAN BESAR

 

Pada tanggal 4 Maret 1996, Tuhan mengunjungi saya dari pukul 2.30 pagi sampai 5.05 pagi. Badan saya bergoncang selama dua puluh menit, kemudian Tuhan membawa saya ke pantai, dan kami berjalan naik ke sisi gunung ke atas batu besar di mana akhir-akhir ini kami telah duduk

 

Mula-mula semuanya kelihatan biasa untuk beberapa saat, tetapi tiba-tiba saya melihat, bahwa gunung-gunung di mana api telah terbakar pada hari sebelumnya, sekarang hanya sisa-sisa benda hangus, gundukan-gundukan abu yang hangus, dan reruntuhan. Seluruh tempat itu hanya sebuah lubang kehancuran yang besar dan hitam. Saya melihat bahwa pantai dimana manusia telah berlari dan jatuh pada hari sebelumnya, dinodai oleh bintik-bintik besar hitam, dan saya mengambil kesimpulan bahwa setiap bintik menunjukkan sisa-sisa manusia yang hangus yang telah mati dalam api waktu hari-hari terakhir.

 

Lautan, yang sebelumnya terisi dengan darah yang berkobar, sekarang adalah sebuah lubang bak yang sangat luas dan kosong-hangus tak dapat dikenal. Setelah beberapa saat melihat pemandangan yang penuh kesunyian, kegelapan, dan kehancuran, lautan dan daerah sekitarnya kembali menjadi normal.

 

Saya telah belajar firman Tuhan untuk melihat apa yang dikatakan tentang gejala-gejala ini. Dalam Wahyu 8:8, saya membaca kata-kata ini : “Dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari lautan itu menjadi darah.” Wahyu 16:3 menunjuk kepada lautan menjadi seperti darah : “Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawanya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.” Tuhan telah menunjukkan kepada saya hal-hal yang persis yang telah digambarkan-Nya di dalam firman-Nya.

 

“Kapan semua ini akan terjadi?” saya bertanya Tuhan dengan rasa ingin tahu sekali.

 

“Pada zaman kesengsaraan besar.”

 

“Tuhan, bilamana zaman kesengsaraan besar ini akan terjadi?”

 

“Sesudah Aku membawa anak-anakKu ke kerajaan-Ku. Barangsiapa telah membaca kitab-Ku dan percaya nabi-nabiKu harus tahu tentang hal-hal ini mengenai hari kiamat. Semua yang Aku tunjukkan padamu di pantai akan segera terjadi.”

 

Saya rasa Tuhan akan datang untuk kita dengan segera, dan sebab itulah banyak sekali kejadian-kejadian yang luar biasa sedang terjadi di dunia. Berita utama di surat kabar harian mengenai bencana alam serupa dengan penglihatan ini. Gempa bumi, bencana-bencana alam lain (termasuk angin ribut, taufan, taifun, kebakaran, banjir dan badai salju), keganasan, pelanggaran hukum, wabah penyakit, terorisme dan banyak gejala-gejala sedang terjadi dengan kekerapan lebih sering dan lebih hebat daripada sebelumnya, seperti yang diramalkan oleh Kitab Injil.

 

Yesus berkata kepada rasul-rasulNya :

 

Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

 

Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya. (Matius 24:6-14)

 

Inilah kejadian-kejadian yang telah diperlihatkan Yesus kepada saya. Betapa inginnya saya dapat memberikan kesan kenyataan dan realitasnya kepada semua orang dengan cara yang sama di mana pemandangan-pemandangan itu telah tercetak di dalam pikiran saya. Kata-kata Yesus adalah benar, dan nubuatan-nubuatanNya dengan cepat akan terpenuhi.

 

TEMPAT AIR KEHIDUPAN

 

Di dalam Kitab Wahyu, Kitab Injil berkata tentang ‘air kehidupan.’ “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari tahkta Tuhan dan tahkta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas, tiap-tiap bulan sekali” (Wahyu 22:1-2).

 

Setelah Tuhan membawa saya ke surga, kami pergi ke gedung putih, dan seorang malaikat membawa saya ke ruangan berhias di mana saya berganti pakaian. Ketika saya keluar, saya melihat Tuhan juga telah berganti dalam pakaian surgawi. Ia membawa saya ke takhta-Nya dan mengarahkan saya untuk duduk di atas sebuah kursi di sebelah Dia. Ini adalah pertama kalinya Tuhan mendudukkan saya di sebalah-Nya.

 

Di sana saya melihat banyak orang memakai pakaian dan makhkota yang indah duduk di depan kami. Kelihatannya orang-orang ini bermartabat tinggi dan penting.

 

“Tuhan, siapa orang-orang ini?”

 

“Mereka adalah orang-orang yang Aku berikan firman-Ku, dan mereka dengan setia mencatatnya di dalam kitab-Ku.”

 

Ia menunjuk ke sebuah Kitab Injil yang hitam besar di sudut ruangan dan saya melihat, halaman-halaman Kitab Injil membalik dengan sendirinya seakan-akan angin sepoi bergerak melalui halaman-halamannya. Saya heran, tetapi kemudian saya mengerti bahwa angin Roh Tuhan sedang berdesar melalui halaman-halaman Firman suci.

 

Orang-orang mulai berjalan dengan perlahan, dan seorang malaikat membawa saya kembali ke ruangan berhias supaya saya dapat ganti pakaian biasa, dan badan saya mengambil bentuk seorang gadis remaja. Saya lalu ingat, bahwa surga adalah suatu tempat di mana kamu tidak akan pernah jadi tua, dan pikiran ini menggirangkan saya dan memenuhi saya dengan ketakjuban.

 

Kami menyeberangi jembatan emas lagi dan berjalan sepanjang sisi bukit dekat sebuah lembah yang indah. Sebuah pagar emas membentuk batas berkeliling seluruh daerah, dan pagar itu mempunyai beberapa pintu gerbang yang ditempatkan berdekatan satu dengan yang lain sekeliling seluruh batas. Pohon-pohon ditanam dekat dengan gerbang, dan bunga-bunga kuning cantik memenuhi tanah sekitar pohon-pohon. Ini adalah sebuah kebun batu yang hebat yang menuju ke sebuah sungai yang jernih seperti kristal.

 

Saya melihat pohon-pohonnya sarat oleh buah-buahan berwarna ungu. Tuhan meraih dan memberikan saya sebuah untuk dimakan sedangkan Ia menikmati sebuah yang lain yang telah dipetik-Nya. Sungai itu sempit, tetapi nampaknya tidak ada habis-habisnya ketika ia melewati lembah yang subur.

Tidak ada apapun yang ada di bumi ini – termasuk pegunungan Rocky yang megah atau dataran yang berbuah – dapat dibandingkan dengan taman Firdaus yang subur di depan saya.

 

“Tempat apakah ini, Tuhan?”

 

“Ini adalah tempat air kehidupan. Maukah engkau minum?”

 

“Ya, Tuhan.”

 

Ia membungkuk dan melekukkan telapak tangan-Nya, mengisinya dengan air yang bersih dan suci. Ia minum dari tangan-Nya dan memberi tanda supaya saya meniru Nya. Saya menjangkau ke bawah dan mengisi telapak saya dengan air dan mengecap kesegarannya yang lezat. Ini adalah air yang termanis yang pernah saya rasakan.

 

“Apakah engkau suka air ini, puteri-Ku?”

 

“Sangat lezat, Tuhan.”

 

“Sekarang Aku akan membawamu ke satu tempat yang

sangat istimewa.”

 

RUMAH YANG BESAR

 

Saya ingin tahu ke mana Ia membawa saya ketika Ia memegang tangan saya dan mulai berjalan. Ia membawa saya ke istana yang telah kami kunjungi sehari sebelumnya. Hati saya menyanyi sambil terpesona. Bagaimana mungkin ada rumah yang begini indah ?

 

Jalanan emas menakjubkan saya, dan saya merasa begitu gembira sewaktu kami berjalan sepanjang tempat yang disediakan oleh Tuhan bagi milik-Nya. Jalannya kelihatan licin sebab ia sangat mengkilat, tetapi biasa saja rasanya berjalan di atasnya. Disebabkan oleh kecermelangannya, jalannya menyerupai gelanggang bermain sepatu es. Cahaya matahari, seakan-akan, menembus seluruh tempat.

 

Apabila saya berjalan dengan Tuhan, saya merasa sangat bahagia sehingga tak ada satu katapun yang dapat melukiskannya. Ini suatu perasaan senang dan gembira tercampur dengan rasa aman tiada gangguan sedikitpun.

 

Kami berjalan melalui banyak rumah-rumah besar dan istana-istana, yang satu lebih elok dari sebelumnya. Di depan salah satu rumah-rumah ini, Tuhan berhenti.

Saya tahu ia akan membawa saya masuk ke dalam, dan saya bergairah tidak keruan. Jantung saya berdegup tak teratur ketika kami naik anak tangga depan rumah.

 

Mata saya tertarik melihat tombol pintu, yang terbuat dari emas. Lalu saya melihat pelat emas pada pintu depan. Ada sebuah nama tertulis di situ, saya cepat menyadari, bahwa itu adalah nama saya. Saya hampir pingsan karena terperanjat. Tertulis dengan tulisan yang indah adalah nama ‘Choo Nam.’ Ini adalah tempat yang disediakan oleh Yesus untuk saya! Saya sangat takjub. Menakjubkan sehingga tak masuk di akal. Di sini saya, berdiri dekat pintu sebuah istana yang anggun di surga, dan nama saya ditulis dengan emas pada pintunya yang indah! Terlalu indah untuk dapat menjadi kenyataan! Kepala saya terhuyung karena sangat heran. Bagaimana ini mungkin?

 

Saya mengalirkan air mata terima kasih dan kegirangan sementara hati saya diliputi dengan cinta serta kasih yang mendalam untuk Tuhan. Saya sungguh tidak pernah menyangka menerima barang-barang yang begitu indah dari Dia. Saya selalu merasa bahwa sekalipun Ia hanya mengenal saya itu sudah cukup, tetapi sekarang Ia betul-betul melimpahkan berkat-berkatNya ke atas saya.

 

Saya telah mencicipi air kehidupan, dan saya tahu saya tak akan pernah dahaga lagi akan perkara duniawi. Saya telah merasakan buah taman Firdaus yang berwarna ungu, dan saya tak akan pernah lapar akan hal-hal duniawi lagi.

 

Saya telah bersama dengan Yesus – Tuhan dan Tuanku – dan Ia telah membawaku ke rumah yang dibuat-Nya untuk saya. Saya menangis tanpa malu waktu Tuhan menuntun saya ke dalam rumah. Ia berkata, “Jangan menangis, puteri-Ku. Aku ingin engkau bahagia.”

 

Ketika kami melangkah lewat ambang pintu rumah itu, lagu-lagu rohani memenuhi hati saya, dan saya lanjutkan dengan menangis air mata kegirangan dan syukur.

Saya kagum sekali permadani yang berwarna merah dan susu dengan pola-pola bulat. Kursi beludru merah – begitu klasik dan bermutu tinggi – seperti yang selalu saya inginkan untuk rumah saya. Tirai merahnya adalah yang paling bagus yang pernah saya lihat.

 

Tuhan mengambil tempat duduk-Nya di atas salah satu kursi-kursi beludru waktu saya jalan ke atas anak tangga yang megah, menikmati setiap saat di dalam rumah saya. Kamar tidurnya dialasi permadani putih bersih, dan saya melihat, bahwa ujung kepala tempat tidurnya dari perak dengan dihiasi batu-batu permata biru sekeliling pinggirannya.

 

Cermin pada lemari rias juga ada batu-batu permata biru menambah kecemerlangannya. Kamar mandinya mempunyai bak mandi perak yang dihiasi dengan permata indah yang warna warni.

 

Saya menyanyi ketika saya berjalan sekeliling bagian dalam rumah saya. Saya merasa seperti seorang puteri didunia peri. Tetapi saya tahu, bahwa ini bukan khayalan – ini lebih nyata dari yang pernah saya bayangkan. Saya selalu percaya akan adanya sebuah Firdaus surgawi, tetapi saya tidak pernah pasti akan keadaannya. Sekarang saya tahu, tanpa merasa ragu-ragu, bahwa surga itu nyata, dan saya ingin setiap orang di dunia mengetahuinya juga.

 

Setalah beberapa saat kegembiraan yang tak terkatakan, saya turun ke bawah anak tangga ke tempat dimana Tuhan sedang duduk. Ia berdiri dan bertanya,”Apakah engkau gembira, Choo Nam?”

Saya tahu Tuhan senang untuk memperlihatkan rumah saya kepada saya.

 

“Ya, saya senang sekali, dan sangat berterima kasih atas segala yang Engkau lakukan untukku,” saya menjawab, “tetapi saya masih merasa orang seperti saya ini tidak patut menerima berkat yang begitu hebat. Saya masih belum melakukan apa-apa pun untuk Engkau, Tuhan, tetapi saya selalu ingin melayani-Mu dan membuat-Mu gembira.”

 

“engkau telah membuat Aku gembira, puteri-Ku. Engkau adalah seorang puteri yang istimewa bagi-Ku, dan Aku ingin memberkatimu banyak sekali.”

 

“ANAK-ANAKKU BELUM SIAP UNTUKKU”

 

Waktu kami pergi dan berjalan melalui jembatan emas, kami kembali ke gedung putih, berganti pakaian, menyimpan mahkota yang cantik dan kemudian pergi ke kolam. Saya merasa begitu riang, saya bahkan sudah bernyanyi sebelum kami tiba di kolam

 

Kami duduk dan bercakap-cakap sebentar, dan saya sadar bahwa saya adalah seseorang yang paling beruntung yang pernah hidup. Tuhan memecah lamunan saya dengan nada mendesak.

 

“Choo Nam, Aku telah menyiapkan segalanya untuk anak-anakKu. Aku mempercepat semuanya sebab kerajaan-Ku telah lama sekali siap, tetapi banyak sekali anak-anakKu belum siap untuk-Ku, karena mereka terlalu mencintai dunia.”

 

“Itulah sebabnya Aku ingin engkau menulis sebuah buku bagi-Ku. Aku tahu ini akan melelahkan untukmu, tetapi pekerjaan ini harus dilakukan segera.”

 

“Tuhan, aku sangat heran dengan segala yang telah Engkau perlihatkan kepadaku. Jika aku mendengar buku yang seperti itu, aku tahu aku akan sangat ingin

membacanya karena aku sangat mencintai-Mu.”

 

“Aku tahu puteri-Ku,” Ia membalas, sambil tersenyum. “inilah sebabnya mengapa Aku dalam keadaan terburu-buru. Mengajarkan tentang Injil adalah hal yang terpenting di dunia. Aku ingin semua anak-Ku mengetahui, bahwa Aku segera datang.”

 

Pikiran saya kembali kepada beberapa kata-kata penutup dari kitab Injil, dan dengan sepenuh hati saya, aku berseru yang sama : “Kalau begitu, datanglah,

Tuhan Yesus.”

 

Maranatha! Tuhan sungguh akan segera dating

 

 

 

 

BAB 8 PERSIAPAN UNTUK IBADAH

 

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Tuhan aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai pesembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna.

ROMA 12:1-2

 

Pengalaman-pengalaman saya yang luar biasa sangat menggairahkan tetapi di samping itu juga sedikit meletihkan, dan Tuhan tahu pengaruhnya pada badan dan kesehatan saya. Goncangan-goncangan yang harus dialami adalah bagian dari persiapan saya untuk beribadah. Perwujudan jasmani dari pekerjaan Tuhan yang ajaib dalam hidup saya, begitu juga keluhan-keluhan yang dalam yang keluar dari roh saya, mempengaruhi badan saya.

 

Sesudah badan saya tergetar begitu kuat selama dua atau tiga jam, saya menjadi terhuyung-huyung. Kepala saya merasa seakan-akan berputar, dan saya menjadi sangat pusing. Kadang-kadang perasaan ini begitu kuat sehingga saya hampir tak dapat berjalan.

 

Kuasa urapan Tuhan dalam hidup saya membuat saya kurang nafsu makan selama beberapa hari setiap kali. Terjaga pada waktu-waktu tidur dan kurang makan menyebabkan saya merasa lemah dan menjadi kurus. Kenyataannya, saya telah kehilangan dua setengah kilo. Saya sering merasa hendak muntah, dan saya sering mengalami sakit di perut dan sendi-sendi saya. Walau bagaimanapun, sebelum kembali setiap hari, Tuhan menyembuhkan saya dari sakit saya.

 

Ia akan memeluk saya, dan satu sentuhan saja dari tangan-Nya akan mengangkat derita saya dan menyebabkan goncangan berhenti. Biasanya Ia akan mengucapkan kata-kata lembuh penuh perhatian dan kepedulian sehingga menolong saya mengetahui, bahwa Ia benar-benar mengerti bagaimana letihnya saya. Sangat menggembirakan sekali mengetahui bahwa Allah peduli tentang segala sesuatu yang menyangkut anak-anakNya – hasrat-hasrat kita, sakit penyakit kita, kekuatiran kita, kelelahan kita, pengharapan-pengharapan kita, serta impian-impian kita.

 

Penulis kitab Ibrani menerangkan bagaimana ini mungkin:

 

Karena kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Tuhan, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4:14-16)

 

Yesus menangis. Ia mengerti sakitnya kesepian dan penolakan. Ia menghadapi percobaan. Ia bergumul dengan kehendak Bapa. Ia mengalami rasa marah dan takut. Apapun yang kita hadapi, Ia juga pernah. Yang lebih penting, Imam Besar kita yang mulia ada di sana bersama kita. Ia berdoa untuk kita. Ia memikul beban-beban kita. Yesus sungguh-sungguh mengerti.

 

Ia tahu, bahwa banyak hal harus disembuhkan di dalam hidup saya yang paling dalam sebelum saya dapat dipakai dalam pelayanan yang saya telah dipanggil oleh-Nya secara efektif. Ia telah menerangkan kepada saya, bahwa Ia mengulangi berkali-kali sehingga saya betul-betul mengerti. Ia membawa saya ke beberapa tempat surgawi yang sama lebih dari sekali supaya saya dapat mengalami kenyataannya dengan sepenuhnya – dan mengingatnya. Ia menekankan penyebab badan saya tergoncang begitu kuat setiap kali saya berada di hadirat-Nya adalah karena Ia sedang melimpahkan kuasa-Nya atas saya.

 

Singkatnya, sebab itulah, saya sedang dipersiapkan untuk satu pelayanan mengabarkan Injil dan kesembuhan seluruh dunia yang akan mulai dengan buku yang sedang Saudara pegang di tangan Saudara.

 

KITAB INJIL HITAM YANG BESAR

 

Pada tanggal 5 Maret 1996, Tuhan membuat saya bangun dari pukul 1.50 pagi sampai 4.20 pagi. Di dalam proses, badan saya tergoncang selama duapuluh lima menit.

Kemudian Tuhan membawa saya ke pantai dalam menyiapkan perjalanan seterusnya ke surga.

 

Kami mengunjungi lagi gedung putih dan kamar berhias. Kami berdua berganti jubah surgawi dan mahkota kami. Kemudian kami pergi ke ruangan takhta di mana Tuhan duduk di atas kursi-Nya dan menyuruh saya untuk duduk di kursi sebelah-Nya. Ada beberapa orang laki-laki di depan kami yang memakai mahkota mirip kepunyaan saya.

 

“Siapakah orang-orang ini?” saya bertanya.

 

Tuhan menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menulis Firman-Ku.”

 

Saya memandang kepada setiap muka yang bercahaya dan saya mencoba menerka satu persatu. Duduk di hadapan saya adalah rasul-rasul Yohanes, Matius, Lukas, Markus, Yakobus, Petrus, dan Paulus. Para nabi ada juga di sana, laki-laki, seperti Yesaya, Yeremia, Yoel, Mikha, Maleakhi, Daniel, Obaja, Hosea dan banyak lainnya.

 

Saya memperkirakan, Musa dan Yosua pasti ada dalam kelompok ini juga: dan Nehemia, Ayub, Daud, Salomo, Yehezkiel, Nahum, Yunus, dan Zakharia. Saya berharap saya ada waktu untuk berbicara dengan mereka semua. Saya akan bertanya

Yunus bagaimana rasanya berada di dalam perut ikan paus. Saya ingin Daniel menceritakan kepada saya bagaimana rasanya berada di dalam gua singa. Saya ingin mendengar Daud menggambarkan pengalamannya dengan Goliat.

 

Lalu saya menduga: Suatu hari, dengan segera, saya akan mengambil rumah kediaman surgawi yang telah ditunjukkan Yesus kepada saya, dan saya akan dapat bergaul lama sekali dengan orang-orang kudus dari segala zaman! Kemudian saya dapat menanyai mereka. Lalu saya akan mengetahui. Lalu saya akan mengerti. Bukankah itu akan menggembirakan?

 

Paulus menulis, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samara-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Korintus 13:12). Masih di luar pengertian saya, bagaimana saya telah dipilih untuk menerima jauh lebih dahulu hari besarnya Tuhan bila kita akan tahu, meskipun waktu kita dikenal, tetapi saya betul mengerti bahwa saya telah dianugerahi suatu kasih karunia istimewa yang hebat untuk melihat banyak hal. Saya tahu, bahwa kehormatan ini adalah untuk setiap orang, sehingga sebanyak yang mau melakukan demikian akan percaya dan diselamatkan.

 

Kitab Injil hitam besar yang saya lihat pada kunjungan sebelumnya ada tepat di depan saya. Ia bercahaya dengan kuasa Roh Kudus yang berbicara kepada hati saya, “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17).

 

Saya melihat, bahwa para penulis yang diilhami untuk menulis Kitan Injil membawa buku catatan di tangan mereka, dan kemudian saya sadar, bahwa Tuhan sedang menunjukkan adegan ini kepada saya untuk kedua kalinya supaya saya akan mengerti dengan sungguh-sungguh bagaimana pentingnya Firman Tuhan di dalam hidup saya. Saya tahu Ia mau saya membaca dan belajar dan mencatat semasa saya mendalami Firman-Nya.

 

Tuhan dan Tuan saya menghendaki supaya saya “menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Tuhan, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh” (Efesus 6:17-18). Besarnya Kitab Injil di depanku menjadi peringatan bagiku bahwa Kitab Injil harus bertumbuh lebih besar di dalam hidup saya – ia harus menjadi dasar di mana pelayanan saya akan didirikan dan dilancarkan.

 

SEBUAH TUBUH YANG DIUBAH

 

Seorang malaikat menemani saya kembali ke ruangan ganti di mana saya dapat melihat bayangan saya di dalam kaca yang besar dan jernih. Saya telah berubah! Tubuh baru saya adalah seperti waktu remaja saya. Saya masih muda, cantik, dan penuh semangat. Setiap kali saya melihat perubahan ini saya sangat terkejut! Akan tetapi ini adalah suatu peringatan bahwa waktu saya naik ke surga saya akan mendapat satu tubuh yang baru.

 

Tubuh-tubuh baru surgawi kita tidak akan menjadi tua. Tubuh ini tidak akan sakit. Tidak akan ada keriput pada wajah kita. Gigi kita akan putih dan rata. Rambut putih tidak akan ditemukan di dalam rambut kita. Cahaya remaja akan bersinar dari dalam mata kita. Perawakan kita akan tegak dan lurus. Segala kekurangan yang kita alami di bumi akan hilang. Kita akan menjadi baru sama sekali, dan ia akan sangat menggembirakan!

 

AIR KEHIDUPAN YANG MENGALIR

 

Kami berganti pakaian, lalu berjalan menyeberang jembatan emas, melalui lembah yang hijau. Kami mengikuti sebuah jalan yang bagus sekali dibatasi oleh sebuah pagar emas yang mempunyai banyak pintu gerbang. Di sepanjang perjalanan saya melihat pohon-pohon buah yang pernah saya lihat dan bunga-bungaan berwarna kuning indah. Batu-batu yang bagus-bagus bertebaran di seluruh lembah dan sungai yang airnya mengalir cepat dan jernih bagai kristal di dekatnya.

 

“Air itu air kehidupan,” Tuhan menunjuk. Ini kedua kalinya saya melihat sungai yang luar biasa ini. Waktu sebelumnya, saya bahkan telah merasa airnya yang murni dan manis.

 

Saya melihat sungai kehidupan ini sempit, tetapi seakan-akan tidak ada ujungnya. Ketika kami berjalan menuju gerbang yang terdekat, Tuhan bertanya apakah saya ingin minum air dari sungai kehidupan lagi, tetapi saya menggelengkan kepala saya sebab saya tidak mau memaksakan kebaikan-Nya pada saya, lagipula saya tak sabar ingin melihat pemandangan selanjutnya, yang saya harapkan adalah rumah saya – yang telah disediakan-Nya untuk saya.

 

Kami berjalan ke arah istana saya, dan ketika kami tiba di sana, kami masuk. Tuhan duduk di atas kursi yang telah diduduki-Nya pada kunjungan sebelumnya dan seakan-akan berhasrat sekali supaya saya memeriksa rumah masa depan saya.

 

Saya pergi ke ruangan-ruangan yang saya kunjungi sebelumnya, dan saya membayangkan bagaimana rasanya hidup di sana. Kamar tidur perak dihias dengan batu permata dan kamar berhias yang indah, tirai, dan permadani yang cantik, dinding-dinding yang berkilau-kilau – semuanya mengingatkan apa yang telah Yesus lakukan untuk saya.

 

Ia menunjukkan semua ini lagi supaya pengalaman ini melekat dalam ingatan saya – supaya saya sungguh-sungguh percaya. Saya bertambah dipenuhi oleh ketakjuban dan harapan tinggi lebih daripada kunjungan sebelumnya.

 

Kami meninggalkan rumah saya dan kembali ke gedung yang putih di mana kami berganti pakaian kami sekali lagi. Kemudian kamu pergi ke kolam yang tenang di mana Tuhan mengambil tempat biasa-Nya di atas batu yang kokoh.

 

Ia duduk, tetapi saya tidak dapat menahan diri saya. Saya mulai menari dan menyanyi dengan perasaan yang luar biasa gembiranya yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Dari tempat saya di surga, saya dapat melihat tubuh jasmani saya, masih terbaring di atas tempat tidur saya, sedang bergerak dan tangan saya sedang melambai-lambai. Kelihatannya Tuhan begitu senang dengan saya, dan Ia memberi isyarat kepada saya untuk datang dan duduk di sebelah Dia.

 

PEMULIHAN DAN KESEMBUHAN

 

Saya tahu, bahwa Tuhan masih mempunyai banyak hal untuk dikerjakan di dalam hidup saya sebelum saya siap untuk memenuhi panggilan yang telah diberikan-Nya kepada saya. Hal-hal masa lampau saya menyebabkan saya merasa rendah diri dan tidak berharga. Ia kelihatannya mengutamakan membantu saya memperoleh keyakinan, pertama di dalam Dia dan kemudian di dalam diri saya sendiri.

 

“PuteriKu, Aku telah memperlihatkan kepadamu bagian-bagian yang penting dari kerajaan Tuhan, dan Aku mau engkau menceritakan setiap orang apa yang telah kau lihat. Aku tahu Aku telah menunjukkan lebih banyak hal padamu hari ini daripada yang sebelumnya. Apabila engkau melakukan pekerjaan yang engkau telah Kupanggil untuk melakukannya banyak jiwa-jiwa akan diselamatkan. Buku ini akan dibaca oleh seluruh dunia.”

 

“Tetapi, Tuhan, saya ini bukan siapa-siapa. Mengapa Engkau memilih saya? Mengapa bukan seseorang yang sudah terkenal?”

 

“Choo Nam, Aku menciptakan engkau untuk pekerjaan akhir zaman. Aku akan membuatmu terkenal. Aku tahu engkau sedang belajar apa yang Aku ajarkan padamu. Aku tahu engkau akan setia pada-Ku.”

 

“Siapa yang akan menulis buku itu?” saya bertanya. “Aku mencoba mencatat segala sesuatu yang Engkau katakan dan menggambarkan hal-hal yang Engkau perlihatkan padaku, tetapi aku tidak tahu betul bagaimana menulis sebuah buku.” (Sebenarnya, saya merasa sangat takut atas semua gagasan ini!) “Tuhan, aku tidak mempunyai cukup pengalaman untuk menulis sebuah buku.”

 

“Engkau tidak perlu tahu bagaimana menulis buku itu. Catat saja apa yang Kuperlihatkan dan ceritakan padamu, dan seorang penulis akan menulis buku itu untukmu. Puteri, jangan khawatir. Aku akan membimbing seseorang untuk menulis kembali apa yang telah engkau catat. Seorang penulis yang diurapi oleh Roh akan melakukan kerja ini untukmu.”

 

Pernyataan sedikit yang baru ini telah meringankan pikiran saya. Perlahan-lahan, dan selangkah demi selangkah, saya mulai belajar untuk bersandar kepada Tuhan daripada kepada pengertian saya sendiri. Sebuah ayat masuk ke pikiran saya : “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

 

Masalah saya bukan dalam mempercayai Tuhan. Ia telah membuktikan keyakinan-Nya pada saya dalam banyak sekali cara yang sangat luar biasa. Masalah saya adalah percaya pada diri saya sendiri. Sejak kecil saya selalu takut untuk maju ke depan, mengambil pimpinan – dan sekarang saya dipanggil untuk menulis sebuah

buku dan melancarkan suatu pelayanan ke seluruh dunia! Sebetulnya saya takut.

 

Kemudian Tuhan menambahkan satu pikiran baru dengan berkata, “Engkau akan mendapat kekayaan yang besar, dan Aku ingin engkau menggunakannya untuk membangun sebuah gereja bagi-Ku.”

 

“Tetapi aku tidak dapat berkhotbah, Tuhan.”

 

“Engkau tidak perlu berkhotbah.”

 

Rintihan yang dalam mulai timbul dalam roh saya, dan saya tahu suatu urapan istimewa ada pada saya. Kemudian sesuatu yang lebih terang daripada pemandangan alamiah muncul di depan saya.

 

Itu adalah penglihatan dari sebuah gereja – sebuah bentuk gedung gereja yang putih dengan sebuah menara yang sangat tinggi. Pintu-pintu masuknya adalah pintu-pintu berganda yang sangat bagus. Ruangan utama di mana altar berada dipenuhi oleh manusia, dan saya melihat, bahwa beberapa dari mereka masuk gereja dengan kursi-kursi roda, tetapi keluar dengan berjalan kaki. Wajah-wajah mereka memantulkan kegembiraan luar biasa karena mereka telah disembuhkan sama sekali. Hanya dengan melihat adegan ini telah membawa kesembuhan atas semua kepedihan hati maupun ketakutan saya. Seperti mereka, Tuhan ingin saya menjadi utuh, dan Ia sedang melengkapi saya untuk pelayanan yang mana saya telah di panggil.

 

“Apakah engkau suka dengan apa yang engkau lihat?” Tuhan bertanya.

 

Saya melepaskan senyuman yang berseri-seri kepada-Nya dan membalas, “Ya!” Saya lebih bergairah daripada yang pernah saya alami dalam hidup saya.

 

Kemudian Ia mengulangi sesuatu yang amat penting bagi Dia, “Sebelum Aku datang untuk orang-orangKu, separuh dari orang-orang yang tidak percaya akan diselamatkan.”

 

“Kapan Engkau akan datang untuk kami?” saya bertanya lagi, dengan harapan mendapat jawaban yang lebih tepat dan pasti.

 

“Aku telah mengatakan padamu bahwa ini akan terjadi segera. Bukankah engkau melihat bahwa segalanya telah disiapkan untuk semua orang di sini?”

 

Dengan itu saya lalu mengerti, mengapa Tuhan telah banyak kali membawa saya ke surga – supaya saya menyaksikan, bahwa Ia hampir menyelesaikan tugas-Nya. Ini adalah pesan membara yang harus diberitakan. Inilah tema buku dan kehidupan saya.

 

Yesus ingin semua orang tahu bahwa saat-saat terakhir sudah tiba. Ia telah menyediakan satu rumah abadi untuk semua orang yang percaya akan Dia. Tidak tepat lagi untuk mengatakan, bahwa Ia sedang menyiapkan suatu tempat bagi kita karena tempat itu sudah siap!

 

Bukankah menggairahkan sekali mengetahui bahwa setengah dari orang-orang yang tidak percaya di dunia akan diselamatkan sebelum Tuhan segera kembali? Berjuta-juta orang akan dihantar ke dalam gereja Yesus Kristus, dan gereja harus siap untuk menyambut mereka.

 

Saya sudah tidak sabar untuk mulai membangun gereja impian saya. Saya telah memeluk erat-erat penglihatan yang diberikan Tuhan kepada saya, dan saya mulai bergerak bersamanya. Keyakinan saya dibina, dan semua perasaan tidak aman, khawatir dan ketakutan di dalam saya sedang ditampung oleh kasih Tuhan. Saya sadar, dan pasti sekali tanpa ada keraguan sedikitpun, bahwa kasih Tuhan adalah kekal. KerajaanNya adalah nyata dan Ia akan memenuhi firman-Nya.

 

Melalui pengalaman-pengalaman yang saya alami di surga, saya belajar, bahwa Tuhan memberi kemampuan kepada mereka yang dipanggil-Nya. Ia memperlengkapi bagian-bagian yang kurang dan memberi kekuatan di dalam kelemahan kita. Seperti halnya orang-orang yang cacat yang saya saksikan dalam penglihatan saya tentang gereja, kita semua terbatas atau cacat dalam satu atau lain hal.

 

Tetapi Tuhan dapat memberi kekuatan baru kepada kaki-kaki yang lumpuh, dan sedang Ia menyembuhkan kekurangan-kekurangan kita, kita dapat berjalan di dalam pembaharuan hidup – di dalam kekuatan dan kuasa Roh Kudus-Nya. Pada pagi hari permulaan bulan Maret itu saya belajar satu kebenaran baru yang menyeluruh: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

(Filipi 4:13).

 

ISTIRAHAT YANG DIPERLUKAN

 

Selama satu setengah bulan Tuhan telah kerapkali membangunkan daya dari tidur saya pagi-pagi sekali untuk membawa saya ke surga, sehingga Ia dapat menyiapkan saya untuk pekerjaan mana saya telah dipanggil untuk melakukannya. Saya lelah, tubuh saya lemah. Menyadari keperluan saya untuk tidur lebih banyak, Tuhan berkata, “Ini adalah kali terakhir Aku membawamu ke kerajaan surga, dan Aku tidak akan membangunkanmu lagi.”

 

Saya mulai menangis. Hati saya dipenuhi kesedihan. Saya ingin bersama Tuhan selamanya. Saya memprotes, “Tuhan, aku tak ingin meninggalkan-Mu.”

 

“Aku akan bersamamu di manapun engkau berada. Engkau akan melihat Aku dan mendengar suara-Ku.”

 

Ia kemudian memegang dan merangkul saya sambil berkata, “Choo Nam, Aku tahu engkau perlu istirahat.”

 

Saya mengakui bahwa saya perlu istirahat, tetapi hasrat saya untuk bersama Dia melebihi keperluan jasmani saya. Saya melihat keperluan rohani saya teramat lebih penting daripada kebutuhan keperluan tubuh saya. Kami meninggalkan kolam dan kembali ke gedung yang putih untuk berganti jubah kami yang biasanya. Kemudian kami diangkut kembali ke pantai di mana kami duduk dan bercakap sebentar.

 

“Aku tahu bagaimana letihnya engkau sekarang ini, jadi Aku tidak akan membangunkan engkau dari tidurmu. Engkau harus istirahat sebentar.

 

Rasa patah hati menyelinap untuk menguasai saya ketika Tuhan mengatakan kata-kata yang tidak ingin saya dengar ini, tetapi kemudian Ia menjelaskan apa yang dimaksudkan-Nya, “Aku ingin membawamu ke kerajaan lagi, tetapi sekarang ini engkau perlu istirahat.”

 

Meskipun mendapat janji ini, saya tidak dapat menahan tangis saya. Benar, perasaan saya hancur oleh kenyataan bahwa Yesus akan pergi, dan bahwa Ia mungkin pergi untuk waktu yang lama. Saya begitu cinta pada-Nya, dan pikiran tentang kepergian-Nya menyebabkan saya merasa sangat kosong dan agak tidak tenteram.

 

Saya bayangkan bagaimana perasaan rasul-rasul dahulu ketika harus mengucapkan selamat tinggal kepada Tuhan dan Tuan mereka. Bagaimana perasaan ibunda-Nya, Maria, ketika ia melihat Dia disalibkan, mati dan dimakamkan. Bagaimana perasaannya ketika Ia naik ke surga? Suatu perasaan yang paling sepi di dunia.

 

Pada waktu ini setiap saat terjaga saya, hidup saya dipenuhi dengan pikiran tentang Yesus dan surga. Saya telah bersama Tuhan setiap hari selama lebih dari satu setengah bulan. Saya telah ke surga dan melihat jalanan dari emas, rumah-rumah kediaman di atas bukit, Sungai Kehidupan. Saya betul-betul telah merasakan air hidup yang manis.

 

Saya telah diiringi oleh para malaikat dan telah bergaul mesra dan saling memuji dengan para orang kudus, martir, rasul, dan nabi. Saya telah masuk ke tempat tinggal kekal yang telah disediakan oleh Yesus bagi saya. Saya tahu saya tidak akan pernah menjadi sama seperti dulu. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat dibandingkan dengan surga – rumah saya yang benar.

 

Saya telah melihat lubang neraka – api yang membara karena kekejaman, korupsi, dan dosa yang memalukan. Saya telah menyaksikan tanda-tanda akhir zaman terbuka di depan saya seperti sebuah video hidup tentang hal-hal yang akan datang. Yang terpenting, saya telah bersama Yesus – dan seluruh kehidupan telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali baru dan penuh arti.

 

Saya mempunyai satu tujuan, satu misi, satu panggilan. Saya telah melihat satu penglihatan atas beberapa hal yang telah direncanakan oleh Tuhan untuk saya. Memikirkan bahwa saya akan menggunakan waktu untuk tidur padahal sangat banyak hal yang harus dikerjakan membuat saya tidak paham sama sekali. Saya sangat kecewa.

 

Tuhan meninggalkan pantai, begitu juga dengan badan transformasi saya, dan goncangan badan saya pun berhenti. Tangisan saya berhenti ketika saya menyadari apa yang telah dikatakan-Nya. “Aku akan membawamu ke kerajaan lagi.” Itu sudah cukup. Itu pun baik.

 

Lalu timbul dalam pikiran saya, bahwa istirahat yang Dia inginkan untuk saya

lakukan adalah sebagian dari persiapan yang sedang dikerjakan-Nya dalam hidup saya. Tentu saja saya tahu saya perlu istirahat, sebab adakalanya saya merasa bingung.

 

Satu ayat indah dari Alkitab timbul dalam pikiran saya dan membuat saya tenang: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (Mazmur 23:1-3).

 

Tuhan, Gembala saya, telah mengijinkan saya berbaring di atas padang yang berumput hijau supaya jiwa saya dapat disegarkan – persiapan lebih lanjut untuk pelayanan yang akan datang!

 

“SETIAP ORANG AKAN MENGENALMU”

 

Keesokan paginya, 6 Maret, sukar sekali sebab saya bangun pada jam 02.30 pagi, setelah mengharapkan Tuhan ada di situ. Saya percaya akan apa yang dikatakan-Nya padaku, tetapi sebagian daripada saya masih mengharapkan kalau-kalau Ia akan datang. Saya menunggu Dia dari 02.30 hingga 06.30 pagi, lalu saya kembali tidur. Ketika saya terbangun lagi pada jam 09.30 pagi, saya sadar Tuhan tidak ada di sana. Saya merindukan Dia, dan saya mulai menangis.

 

Segera seluruh badan saya mulai bergoncang, disertai dengan panasnya urapan. Saya mengeluh dalam roh untuk lima belas menit lamanya. Kemudian, seperti yang telah seringkali terjadi sebelumnya, Tuhan muncul. Ia sedang duduk dekat jendela tempat tidur.

 

Ia berkata, “Puteri-Ku terkasih, Choo Nam, Aku berkata padamu Aku akan besertamu selalu. Engkau akan melihat-Ku setiap waktu engkau mau, dan engkau akan

mendengar suara-Ku. Aku mengunjungimu sekarang sebab Aku tahu engkau menantikan Aku sepanjang pagi.”

 

“Tuhan,” kata saya, “Saya ingin melakukan apapun yang Engkau perintahkan padaku. Saya masih merasa saya tidak tahu apa-apa.”

 

“Tepat sekali. Itulah sebabnya Aku memilihmu. Jangan lupa, bahwa Aku akan menjagamu. Aku memberikanmu karunia istimewa ini sebab tiada seorangpun mengenalmu. Segera, bagaimanapun juga, setiap orang akan mengenalmu.”

 

Saya merasa sangat susah menerima kata-kata itu. Setiap orang akan mengenal aku? Seolah-olah mustahil, tetapi Tuhan, dalam kemurahan serta kesabaran-Nya merasa patut untuk mengunjungi saya lagi untuk memberi jaminan janji ini kepada saya. Ia mengakhiri kunjunganNya sambil berkata, “Puteri, Aku mau engkau istirahat.” Lalu Ia pergi dan goncangan badan saya pun berhenti.

 

Selama sepuluh hari selanjutnya saya menikmati tidur yang paling lelap dan istirahat yang paling tenang yang pernah saya alami. Sekali lagi, Tuhan setia akan janji-Nya:

 

Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertim-bangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu mahlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. (Ibrani 4:9-13)

 

Tuhan ingin saya beristirahat sebab Ia sedang mempersiapkan saya untuk suatu pelayanan yang akan menghantar tak terhingga banyaknya orang yang tak percaya ke dalam kerajaan Tuhan. Tahu bahwa Ia akan kembali untuk mengiringi saya ke surga lagi telah membawa kedamaian kepada jiwa saya sehingga saya benar-benar dapat menikmati tempat perhentian-Nya.

 

Saya akhirnya mulai mengerti, bahwa buku yang akan saya tulis, gereja yang akan saya bangun, pelayanan yang akan saya mulai adalah pekerjaanNya, bukan milik saya. Ini menyegarkan jiwa saya, menghapuskan kekhawatiran saya dan membawa keyakinan mutlak di hati saya.

 

Kebenaran yang disampaikan oleh si pemazmur berabad-abad yang lalu menggema di dalam saya: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mazmur 127:1).

 

Yesus mengingatkan saya akan undangan-Nya yang mulia kepada yang letih lesu dan berbeban berat, dari Matius 11:28-30: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 9 KEKUATIRAN ADALAH DOSA

 

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

FILIPI 4:6-7

 

Sesudah sepuluh hari beristirahat dengan baik, tidur lelap setiap malam, saya tahu saya sudah siap untuk bertemu dengan Tuhan lagi dan pergi bersama-Nya ke surga. Pertengahan Maret – tepatnya 15 Maret 1996 – telah tiba, tetapi bukannya untuk menjadi tegang, memang, hari itu memberi saya saat yang sangat saya tunggu-tunggu sekali sejak Tuhan pergi hampir dua minggu yang lalu.

 

Dari jam 06.40 pagi sampai 08.40 pagi, saya menikmati kunjungan Tuhan dan perjalanan lain lagi ke surga. Seperti biasa, sebelum Ia tiba badan saya bergoncang, dan saya mengeluh selama tiga puluh menit. Kemudian Tuhan muncul di depan saya dan berkata, “Puteri-Ku, Aku perhatikan engkau cukup beristirahat sekarang. Kita masih ada banyak tugas untuk dikerjakan.”

 

Tuhan surga dan bumi prihatin terhadap saya, puteri serta pelayan-Nya. Ia memastikan saya sudah dapat mengejar kekurangan tidur saya sebelum Ia kembali untuk membawa saya beserta Dia. Ia mengerti terbatasnya badan dan jiwa saya, dan Ia betul-betul memperhatikan saya. Ia tahu apa yang baik untuk anak-anakNya, dan Ia akan menahan apa yang tidak baik bagi mereka yang mengasihi-Nya.

 

Sesudah dua kali terakhir saya pergi ke surga, badan saya merasa seolah-olah tidak dapat dikendalikan. Saya sangat letih karena goncangan, dan saya sering merasa pusing. Saya hanya tidur tiga jam satu malamnya untuk jangka waktu tiga minggu. Tidak mungkin bagi saya untuk tidur pada siang hari karena urapan Roh Kudus sangat kuat atas diriku.

 

Sedikit demi sedikit, saya belajar bagaimana mengendalikan keadaan dengan beristirahat lebih awal di sore hari untuk memastikan saya mendapat cukup tidur sebelum Tuhan tiba. Pada pagi ini, Tuhan membawa badan transformasi saya ke pantai di mana kami berjalan di pinggir laut sebentar sebelum Tuhan membawa saya ke surga. Hati saya dipenuhi keriangan dan pengharapan yang luar biasa waktu kami terbang.

 

Kami tiba ke tempat biasanya dan masuk ke gedung putih. Saat ini, saya sudah biasa dengan keadaan dan tata cara yang biasa kami ikuti. Kami berganti dengan pakaian surgawi kami, dan kemudian Tuhan memegang tangan saya ketika Ia memimpin saya turun ke sebuah jalan yang lebar yang menjurus naik ke suatu gunung yang sangat tinggi.

 

Serupa sekali dengan Pegunungan Cascade yang telah saya kunjungi di bagian barat laut Amerika Serikat, dan saya berkata surga seperti itu, dalam banyak hal,

seperti bumi – tetapi ini jauh lebih indah daripada apapun yang pernah saya lihat di planet ini.

 

Banyak pohon-pohonan berdaun rindang dan semak-semak di tepi gunung. Dari puncak saya dapat melihat sebuah pantai. Itu adalah garis pantai yang berbatu, mirip sekali dengan gambar-gambar Pelabuhan Bar, Maine, yang telah saya lihat.

Segalanya berkilau keputihan yang cemerlang menakjubkan dan murni. Kami menuruni gunung dan berjalan di atas pasir diantara batu-batuan. Ini adalah pasir yang terputih dan terbersih yang pernah saya lihat, dan pantainya betul-betul terindah yang pernah saya temui.

 

Di dekatnya ada batu-batuan yang begitu besar sehingga saya tidak dapat melihat atasnya. Ketika kami berjalan mengelilingi salah satu daripadanya saya melihat sekumpulan besar orang yang memakai jubah putih. Tiap wajah seseorang jelas berbeda dengan yang lain, dan banyak anak-anak kelihatan sedang bermain di pasir. Beberapa anak kecil memegang tangan anak yang lebih remaja, dan setiap orang sedang berjalan-jalan dalam suasana bergurau dan bahagia. Sangat menggembirakan sekali melihat suatu tempat yang begitu cerah dan riang.

 

Tuhan dan saya duduk di atas salah satu batu yang besar untuk waktu yang singkat, sambil menikmati keindahan yang menggetarkan hati di sekeliling kami. Ia menoleh kepada saya dan berkata, “Aku telah membuat banyak hal di sini serupa dengan hal-hal di bumi sehingga anak-anakKu dapat menikmatinya apabila mereka datang ke kerajaan-Ku, tetapi banyak hal-hal yang tidak sama juga dengan hal-hal di bumi. Aku mempunyai banyak kejutan yang menggetarkan hati bagi anak-anakKu.”

 

Ia kedengaran sangat gembira – seperti orang tua yang telah menyediakan sebanyak mungkin hadiah untuk dibuka pada hari Natal oleh anak-anaknya. Tuhan seakan-akan ingin anak-anakNya bergembira – seperti mereka yang sedang bermain dengan riang gembira di pasir. Itulah sebabnya mengapa Ia menciptakan surga untuk menjadi tempat yang sangat indah. Ia akan menjadi rumah anak-anakNya selama-lamanya.

 

“Sukakah engkau dengan apa yang Kutunjukkan padamu, Choo Nam?”

 

“Ya, Tuhan. Saya telah melihat banyak pantai di bumi tetapi tidak ada satupun yang dapat menandingi pantai ini.”

 

Saya dapat merasakan, bahwa jawaban saya sangat menyenangkan hati Tuan saya.

Tidak lama sesudah itu kami meninggalkan pantai dan kembali ke gedung putih. Kami berganti dengan jubah dan mahkota yang agung, dan Tuhan membawa saya ke kolam di mana biasanya kami mengakhiri setiap kunjungan ke surga. Tuhan duduk di atas batu kegemaran-Nya sementara saya menyanyi dan menari penuh riang ria dengan badan transformasi saya. Sementara itu, tangan-tangan badan duniawi saya sedang bergerak menurut irama musik surgawi.

 

“Aku masih mempunyai banyak hal untuk ditunjukkan kepadamu, puteri-Ku,” Tuhan berkata ketika saya mendekati Dia. “Engkau harus sabar.”

 

Ini berita yang baik bagi saya, sebab saya tahu yang Ia maksudkan, bahwa saya

akan sering pergi ke surga dengan Dia lagi. Hati saya membubung tinggi karena senang dan girang ketika saya menari di tempat yang mengagumkan penuh kegembiraan dekat dengan kolam yang tenang. Saya ada di hadirat Tuhan, di tempat yang disediakan-Nya untuk saya, dan saya tahu saya semestinya adalah manusia yang paling bahagia yang pernah hidup.

 

“HENTIKAN KEKUATIRAN!”

 

Air mata sangat kegirangan mengalir turun dari wajah saya ketika saya berkata,

“Terima kasih, Tuhan, karena membawaku ke surga bersama-Mu lagi.”

 

“Puteri-Ku, Aku melihat engkau kuatir tentang segala yang Aku minta engkau melakukannya. Aku telah memberitahumu banyak kali jangan kuatir, Nak, dan engkau tidak mematuhi Aku dalam hal ini.”

 

“Tuhan, maafkan aku. Sepertinya aku tidak dapat berhenti kuatir. Apa yang aku ingin kerjakan adalah pekerjaan di mana aku telah dipanggil oleh-Mu untuk melakukannya. Aku ingin melakukannya menurut cara yang Engkau perintahkan padaku, dan ini semua telah menyebabkan aku cemas.”

 

“Aku tidak mau engkau risau tentang apapun mulai sekarang dan seterusnya,” Ia memerintahkan. “Aku akan mengatur segalanya untukmu. Berhati-hatilah terhadap beberapa orang, sebab mereka akan memberimu nasihat yang salah. Karena itu, sementara engkau menulis buku, Aku tidak mau engkau keluar kota, dan Aku tidak mau siapa pun juga datang ke rumahmu, kecuali keluargamu.”

 

Perintah-perintah Tuhan lebih tegas daripada sebelumnya. Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika Ia meneruskan.

 

“Sadarkah engkau bahwa tidak ada seorangpun datang mengunjungimu sejak Aku membawamu ke surga?”

 

“Oh, ya. Rupanya setiap kali saya mengundang seseorang untuk datang atau membuat janji untuk bertemu, selalu ada sesuatu yang terjadi yang mengubah rencana mereka.” “Sekarang engkau tahu kenapa, anak-Ku. Aku mau engkau memusatkan perhatianmu kepada buku tanpa gangguan-gangguan. Buku ini sangat penting bagi-Ku, dan ia akan menjadi berkat istimewa untuk anak-anakKu. Apapun yang engkau kerjakan, Aku mau engkau perbincangkan kepada-Ku terlebih dahulu. Segala sesuatu mengenai buku ini harus seturut kehendak-Ku.”

 

Perintah Tuhan yang jelas berbunyi di hati saya, ketika kami meninggalkan kolam, kembali ke gedung putih dan berganti dengan pakaian biasa kami. Sesudah itu kami kembali ke pantai di bumi, dan Tuhan berkata, “Anak-Ku, engkau lihat pantai ini sangat berbeda dengan pantai yang engkau lihat dalam kerajaan-Ku.”

 

“Tuhan, segala yang Engkau perlihatkan kepadaku dalam kerajaan-Mu begitu indah, kecuali hal-hal yang menyedihkan.”

 

“Inilah sebabnya mengapa Aku memilih engkau untuk mengerjakan pekerjaan ini. Aku tidak mau seorang pun daripada anak-anakKu harus pergi ke lubang neraka. Terserah kepada mereka mau percaya atau memilih untuk tidak percaya. Aku akan berbicara lebih banyak mengenai ini nanti, anak-Ku.” Ia lalu mengulurkan tangan-Nya dan merangkul saya. Ketika Ia pergi, goncangan badan saya berhenti.

 

Kuasa-Nya yang dilepaskan dalam tubuh saya mulai menyembuhkan tempat-tempat yang lemah dalam karakter saya yang masih tersisa dari masa kecil saya. Saya sedang belajar bagaimana menjadi lebih yakin, bagaimana bergantung dan sungguh-sungguh percaya akan Tuhan, tetapi saya masih bergumul dengan kecemasan tertentu dan ketakutan.

 

Pada 19 Maret 1996 Tuhan meluangkan waktu selama dua jam dengan saya, dari pukul 07.00 sanpai 09.00 pagi. Saya bergoncang selama satu setengah jam dan kemudian merintih dalam Roh selama lima belas menit lagi pagi itu. Kemudian saya mendengar bunyi yang menyukakan dan menggerakkan hati yaitu suara Tuhan berkata kepada saya. Ia memegang tangan saya dan kami kembali ke pantai.

 

Badan saya diubah kepada perwujudan yang ajaib, dan saya melihat saya sedang memakai jubah putih seperti yang telah dipakai Yesus. Kemudian kami naik gunung yang megah sepanjang jalan yang sempit. Saya melihat sebuah batu yang sangat besar di mana kami duduk untuk beristirahat.

 

Lamanya waktu tubuh jasmani saya harus menahan manifestasi-manifestasi yang mendahului kunjungan-kunjungan Tuhan lebih dari biasanya, jadi saya tahu kunjungan kali ini akan menjadi suatu kunjungan yang sangat istimewa. Pikiran saya berlomba-lomba dengan pengharapan-pengharapan serta kegembiraan. Apa yang akan ditunjukkan oleh Tuhan hari ini? Kemana Ia akan membawa saya?

 

Yesus memecahkan lamunan saya dengan berkata, “Aku tahu engkau masih cemas tentang hal-hal yang Aku beritahukan dan tunjukkan padamu. Aku memberitahukanmu untuk berhenti merasa kuatir.” Nada suara-Nya mengandung marah dan tegas.

“Engkau tidak percaya akan Firman-Ku.”

 

Saya seketika mengetahui apa yang Dia maksudkan. Saya masih kuatir tentang buku itu, bahkan sesudah apa yang dinyatakan-Nya kepadaku dulu. Ia telah memberitahu saya, bahwa setiap bagian terkecilpun akan ditangani-Nya dengan teliti, tetapi saya masih merasa gentar dengan proyek yang begitu pentingnya. Saya sungguh-sungguh merasa kecil oleh besarnya tugas ini.

 

Saya mulai menangis air mata malu dan bertobat atas teguran Tuhan. Saya menyatukan jari-jari tangan daya menundukkan kepala dan mulai memohon,

“Ampunilah saya, Tuhan. Bagaimanapun kuatnya saya mencoba untuk tidak kuatir,

Tuhan, saya akhirnya masih risau tentang semuanya ini.”

 

“Mulai dari sekarang, Choo Nam, Aku ingin engkau berhenti kuatir. Aku tidak ingin engkau kuatir akan apa pun. Beberapa orang tidak akan mempercayaimu, tetapi engkau tidak perlu kuatir mengenai itu. Anak-Ku, Aku hanya memakai engkau untuk buku ini. Ini buku-Ku dan Aku yang mengurusnya.”

 

“Seperti yang telah Kukatakan dari permulaan, ia akan mengambil waktu sebentar untuk menyiapkan engkau bagi kerja ini, jadi jangan risau. Serahkan semuanya kepada-Ku. Jikalau engkau kuatir, engkau tidak membuat Aku bahagia.”

 

“Tuhan, minta maaf. Ampunilah saya.”

 

“Aku tahu engkau tidak tahu tentang banyak hal, tetapi Aku melihat, bahwa engkau berhati murni. Aku tahu engkau percaya segala sesuatu tentang Aku. Aku telah melihat ketaatanmu, dan Aku tahu engkau takut akan Firman-Ku.”

 

“Aku mau engkau memusatkan perhatianmu hanya pada pekerjaan-Ku dan tidak kepada yang lain. Aku gembira tentang segala sesuatu mengenai engkau, puteri-Ku. Setelah engkau menyelesaikan buku ini, Aku akan memberkahimu lebih dari pada apa yang pernah engkau inginkan.”

 

“Tuhan, aku memerlukan Roger untuk menolongku dengan sangat banyak-nya pekerjaan-Mu.”

 

“Suamimu akan melayani Aku melaluimu. Aku mempunyai banyak rencana untuk kalian berdua, jadi siapkan hatimu untuk melayani Aku. Semuanya akan mulai terjadi dengan segera. Sekarang Aku harus membawamu kembali.”

 

Kami berjalan turun dari gunung itu. Sewaktu kami berjalan di atas pasir saya merasa luar biasa bahagianya. Seolah-olah suatu beban yang sangat berat telah diangkat dari bahu saya. Benar Tuhan telah menunjukkan kepada saya banyak hal-hal yang baru dan penting – hal-hal yang membawa kesembuhan dan kemerdekaan pada jiwa saya yang takut-takut. Sesudah Tuhan meninggalkan saya pagi ini, saya merasa seperti seorang yang baru.

 

UTAMAKAN TUHAN DAHULU

 

Saya mulai menyelidiki di dalam Alkitab dan mencari apa yang dapat saya pelajari tentang dosa karena kuatir. Mata saya tertarik oleh kata-kata Yesus yang ditulis oleh Matius: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:33-34).

 

Isi ayat ini adalah Khotbah di bukit, di mana Yesus menyatakan rahasia-rahasia kemenangan rohani dengan murid-muridNya. Seperti saya, murid-murid itu resah tentang banyak hal. Mereka kuatir jikalau mereka tidak mempunyai makanan dan pakaian.

 

Yesus mengingatkan mereka:

 

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahan nyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Tuhan mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (Matius 6:28-30)

 

Itulah kuncinya – iman! Roh Kudus lalu membawa saya ke satu ayat yang lain dari Alkitab yang menolong saya menjelaskan ini: “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Roma 14:23). Itulah sebabnya mengapa kuatir adalah dosa – ia bukan iman. Tuhan menghendaki kita berjalan di dalam iman, dan tetap dengan kemurahan kemuliaan-Nya Ia telah menunjukkan kepada saya begitu banyak hal. Saya telah melihat kenyataan adanya surga dan saya telah berjalan bersama Tuhan! Mengapa saya mesti kuatir lagi?

 

Musim semi dimulai dengan satu kunjungan lain ke pantai bumi. Dari jam 06.30 pagi sehingga 08.15 pagi pada tanggal 22 Maret 1996, Tuhan pergi dengan saya. Ia membawa saya ke pantai lagi, dan kali ini Ia kelihatan lebih diam daripada tiga hari sebelumnya. Akhirnya, Ia duduk di atas batu di sisi gunung di mana kami seringkali duduk, Yesus berkata, “Jangan sibuk dengan kesaksian di gereja, Choo

Nam, pusatkan perhatian kepada pekerjaan-Ku.”

 

Ia tahu bahwa keinginan saya begitu meluap-luap untuk menceritakan pengalaman saya kepada semua orang yang saya jumpai. Meskipun saya seorang pemalu, saya pikir saya harus menceritakan kepada setiap orang apa yang saya lihat, dengar, dan alami. Kunjungan terakhir saya dengan Tuhan dan dilanjutkan dengan mendalami Firman telah memberi keyakinan dan keberanian kepada saya seperti yang belum pernah saya alami sebelumnya. Saya merasa sepertinya saya berani membagikan kesaksian saya pada jutaan orang!

 

Saya mengambil setiap kesempatan yang ada untuk bersaksi bagi Tuhan dan Tuan saya, dan saya menyangka Ia akan gembira sekali karenanya. Kenyataannya, hasrat saya sedemikian besar untuk bersaksi atas nama-Nya, sehingga saya telah mengulangi kesaksian saya berkali-kali dengan bantuan sebuah alat perekam.

Urapan Roh Kudus seakan-akan mendorong saya ke dalam pelayanan umum seperti ini.

 

Malahan waktu saya pergi berbelanja saya menceritakan kepada semua orang tentang surga. Beberapa orang memberi reaksi keheranan. Yang lain membalas dengan gembira dan ingin mendengar lebih banyak. Saya beritahu mereka untuk membaca bukunya apabila diterbitkan.

 

Ada orang-orang, seperti yang dapat saya lihat dari reaksi-reaksi wajah mereka, tidak mau mendengar tentang perjalanan saya ke surga, tetapi saya telah belajar, bahwa reaksi mereka yang ragu-ragu tidak penting. Saya tahu saya mempunyai sebuah kisah untuk diceritakan, dan reaksi manusia tidak akan dapat menahan saya daripada memberitakan kegairahan yang telah saya alami.

 

Saya menyadari bahwa kebanyakan orang percaya ingin mendengar lebih banyak. Banyak yang bertanya, “Kapan bukunya akan selesai?” Kebanyakan orang yang saya kenal adalah orang-orang yang percaya, termasuk anggota-anggota keluarga jauh saya yang semuanya telah memberikan sokongan mereka dengan mengatakan mereka percaya akan cerita saya. Ketika saya membagikannya dengan seorang kemenakan laki-laki, ia telah dijamah oleh Tuhan. Sekarang ia ikut belajar Injil dan ke

gereja dengan tetap serta lapar sekali akan Tuhan.

 

Tuhan bukannya tidak suka, tetapi Ia dengan tegas mengulangi, “Aku ingin engkau memusatkan perhatianmu kepada buku; dengan itu engkau akan dapat memuaskan banyak gereja-gereja dan menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan.”

 

Bunyi suara-Nya, kata-kataNya, pesan-Nya mengalirkan kegembiraan ke dalam roh saya. Saya mulai menyanyi dalam Roh, dan saya melihat Tuhan sedang memandang saya dan tersenyum. Dan saya dapat melihat wajah badan transformasi saya tersenyum kepada Tuhan selama saya menyanyi.

 

“Puteri-Ku, Aku menikmati waktu bersama kita,” Tuhan berkata sambil meletakkan tangan kanan saya ke bawah lengan-Nya. Lama Ia tidak banyak berbicara, tetapi akhirnya berkata.

 

“Aku ingin engkau menulis tentang bagaimana engkau hidup sebagai seorang percaya. Sangat penting sekali bagi orang-orang lain untuk mengetahui bagaimana engkau hidup bersama-Ku, untuk melihat bagaimana terbukanya hatimu kepada-Ku. Kejujuran serta ketaatan hidupmu sangat penting bagi-Ku, dan Aku tahu engkau selalu mengutamakan Aku di dalam hidupmu. Ketika engkau berdoa, engkau selalu berkata engkau akan mendahulukan Aku – bahwa Aku ini lebih penting bagimu daripada siapapun atau apapun di dunia.”

 

“Aku ingin engkau tahu bahwa Aku telah mendengar semua doa-doamu meskipun seakan-akan Aku belum menjawab satu persatu. Aku tahu hati semua anak-anakKu. Aku tidak dapat memberkati setiap orang yang tidak mempunyai hati yang tulus, tetapi Aku sungguh ingin anak-anakKu diberkati.”

 

Setelah Ia meninggalkan saya, kali ini saya memikirkan kata-kataNya. Ia seolah-olah sungguh suka dengan saya, dan saya bergairah sekali mendengar Dia mengatakan, bahwa Ia telah mendengar semua doa-doa saya. Ia membawa saya ke sebuah ayat penting dalam Alkitab: “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yohanes 5:14-15). Tuhan mendengar dan menjawab doa-doa yang tulus dari anak-anakNya.

 

Ia menunjukkan kepada saya banyak sekali janji-janji doa yang berarti dan berharga, dan saya tahu Ia mau saya memohonnya satu persatu:

 

Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.

(Mazmur 91:15-16)

 

TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. (Mazmur 145:18)

 

Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui. (Yeremia 33:3)

 

Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Matius 6:8)

 

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Matius 7:7-8)

 

Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dan dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya. (Matius 21:22)

 

Ini hanya beberapa daripada janji-janji doa yang berkuasa dari Firman Tuhan yang diperlihatkan oleh Roh Kudus pada saya. Pada 23 Maret 1996 saya sedang berdoa dengan khusyuknya di bawah satu urapan Roh Kudus yang kuat. Badan saya menggetar dengan hebat, dan keluhan-keluhan dari dalam roh saya keluar dengan kerasnya seperti yang belum pernah saya alami sebelumnya.

 

Tuhan datang ke kamar tidur saya dan duduk dekat jendela. Kemudian saya melihat badan transformasi saya sedang duduk di sebelah Tuhan, dan saya sangat terkejut. Tubuhnya seperti saya sedang mengalami keluar dari badan saya sama sekali – saya betul-betul roh. Suara Yesus yang lembut berkata kepadaku: “Engkau menyerahkan seluruh hidupmu untuk-Ku. Hatimu dengan tulus membuang semua perkara duniawi untuk-Ku. Sekarang Aku tahu bahwa tidak ada sesuatupun dapat membawa kepuasan kepadamu lebih daripada berada di hadirat-Ku. Sebab itu, Aku tidak mau engkau berkata bahwa engkau kurang baik untuk-Ku. Kesetianmu sangat penting bagi-Ku.”h

 

Suatu suara luar biasa, suara surgawi keluar dari roh saya. Gejala ini biasanya terjadi bersamaan dengan penglihatan-penglihatan yang diberikan Tuhan kepadaku.

 

Kemudian Tuhan menunjukkan kaki dan tangan-Nya kepada saya. Saya dapat melihat bekas luka-luka dari paku pada kaki-kaki dan tangan-tanganNya. Pada mulanya Ia duduk dengan kaki-kakiNya tersilang, tetapi kemudian Ia meluruskan kaki-kakiNya. Saya melihat, bahwa pada bagian ata kedua belah kaki-Nya ada bekas luka yang bulat dan dalam. Kemudian saya melihat ke dua belah tangan-Nya – ada bekas-bekas luka yang bulat dan putih. Sangat dekat pergelangan tangan-Nya.

 

Hati saya tersayat untuk Tuhan dan Tuan saya. Saya menyentuh tanagn-tanganNya dan kaki-kakiNya. Lalu saya membenamkan wajah saya ke dalam tangan-tangan dan kaki-kakiNya dan mulai menangis tersedu-sedu. Saya menangis seperti seorang bayi ketika saya sadar akan semua yang telah dialaminya. Saya bertanya dalam hati, apakah seluruh rumah dapat mendengar tangisan saya. Saya dapat melihat badan transformasi saya dengan mukanya dalam tangan dan kaki Tuhan, membelainya dengan lembut dan saya tahu saya sedang menangis dalam badan transformasi saya. Tuhan mulai berbicara.

 

“Ketika Aku masih di bumi Aku hidup untuk Firman Bapa-Ku, dan Aku tahu apa yang harus Aku hadapi, tetapi Aku hidup untuk Firman Bapa-Ku. Itulah sebabnya mengapa seluruh surga dan bumi adalah milik-Ku sekarang.”

 

“Sangat banyak anak-anakKu yang tahu apa yang Aku inginkan mereka berbuat, tetapi mereka masih lebih cinta akan perkara dunia ini daripada firman-Ku. Anak-anak yang hidup dalam Firman-Ku, sesuai dengan Firman-Ku, adalah mereka yang hatinya kudus. Mereka adalah satu-satunya yang akan masuk rumah-rumah yang telah Kusediakan bagi mereka, seperti yang engkau lihat dengan namamu pada pintu. Tak seorangpun dapat melihat keduanya: kerajaan dunia ini dan kerajaan-Ku. Jikalau seseorang mencintai dunia lebih daripada mencintai-Ku, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan-Ku.”

 

Ini adalah pesan Tuhan yang paling tegas yang pernah diberikan kepada saya selama ini. Saya tahu, bahwa saya harus mencatatnya dengan teliti dan cermat supaya dunia tahu bahwa Ia mau menjadi yang Pertama di dalam segala segi kehidupan kita. Ia menciptakan kita dan mati untuk kita supaya kita tidak binasa dalam neraka. Ia melanjutkan.

 

“Ketika Aku masih di dunia ini, Aku menderita sehingga akhir. Aku serahkan hidup-Ku untuk anak-anakKu. Aku ingin mereka hidup dengan Firman-Ku sehingga mereka mendapat kehidupan yang kekal bersama-Ku. Kehidupan duniawi ini tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan kerajaan-Ku.”

 

Ketika Ia mengucapkan kata-kata ini nadanya sedih dan pedih.

 

Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata itu – dan saya tahu kata-kata itu sangat benar. Dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan kerajaan Tuhan. Saya telah melihatnya, dan saya tahu kerajaan-Nya disediakan untuk kita.

 

 

BAB10 YERUSALEM TELAH TERSEDIA

 

Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. Barangsiapa menang. Ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allh-Ku, dam ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun

dari surga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru

WAHYU 3:11-12

 

Musim semi – musim di mana bunga-bungaan sangat indah, angina sepoi hangat dan pohon-pohon bertunas. Di Negara bagian Washington, dimana saya tinggal, inilah waktu yang paling mengagumkan setiap tahun. Di surga, seolah-olah tak habis-habisnya musim semi – kehangatan, keindahan, kedamaian, dan kegembiraan dimana-mana. Di dalam hati saya, saya telah merayakan musim semi sepanjang penghabisan musim dingin disebabkan oleh kunjungan-kunjungan saya dengan Tuhan. Dan perjalanan-perjalanan saya yang penuh gairah ke surga.

 

Pada 24 Maret 1996, Roger dan saya mengikuti kebaktian gereja. Pendeta kami berkhotbah tentang penderitaan Yesus sebelum disalibkan. Masa menjelang perayaan Paskah – waktu orang-orang Kristen mempersiapkan penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus. Waktu pendeta menggambarkan penderitaan Tuhan dan membaca ayat suci yang berhubungan dengan penderitaan-Nya, saya mulai menangis. Tidak mengherankan bagi saya bergoncang waktu penyembahan kami, tetapi kali ini badan saya bergoncang begitu kuat sehingga hampir membuat saya terjatuh dari kursi saya. Urapan Roh Kudus sangat melimpah ke atas saya.

 

TANGAN-TANGAN DAN KAKI-KAKI YANG BERBEKAS LUKA

 

“Puteri-Ku, Aku ingin engkau melihat tangan-tanganKu lagi,” dan Ia menunjuk kepada bekas luka-luka di kedua tangan dan kaki-Nya. Suara aneh yang biasa saya suarakan ketika penglihatan-penglihatan rohani datang kepada saya kali ini tidak keluar. Saya duduk di hadirat Tuhan, sama sekali diam waktu Ia meneruskan berkata kepada saya.

 

“Aku ingin engkau terus menulis apa yang Aku tunjukkan padaku,” Ia berpesan.

 

Saya mengangguk tanda setuju.

 

Tak terhingga gembiranya dapat mengunjungi secara pribadi dengan Tuhan selama ibadah kebaktian umum kami. Saya ingin berdiri dan memberitahu setiap orang bahwa saya baru saja melihat Tuhan dan bahwa Ia memperlihatkanku bekas-bekas luka-Nya, tetapi Roh di dalam diri saya mencegah saya untuk berbuat demikian, jadi saya duduk dengan sabar sampai kebaktian selesai. Saya percaya ini adalah

‘suara kecil, tenang’ Roh Kudus Tuhan yang meminta saya untuk tidak berbicara.

 

Sejak itu saya telah belajar bahwa seperti yag ditulis oleh Salomo, ada waktu untuk berbicara dan ada waktu untuk diam (lihat Pengkhotbah 3:7). Yesus sedang melatih saya untuk menjadi peka atas bimbingan Roh di dalam hidup saya, dan saya tahu, bahwa sampai Ia menyuruh saya, sebaliknya saya terus menerima bukan memberi.

 

Selama kebaktian saya menangis di bawah urapan Roh Kudus yang indah. Goncangan mereka ketika Tuhan pergi, tetapi air mata tidak. Saya mendengar kata-kata pendeta, tetapi pikiran dan roh saya berpusat kepada sesuatu yang lain – bekas luka-luka Tuhan yang sampai sekarang telah dua kali diperlihatkan pada saya.

 

Saya mulai mendalami beberapa ayat Alkitab yang saya ingat dari pelajaran saya dan kebaktian gereja lainnya : “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpa kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5). “Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya : Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi” (Matius 27:33-35).

 

Saya dapat melihat Tuhan dan Tuan saya yang saya kasihi tergantung pada kayu salib dari Kalvari, di atas bukit Golgota. Paku-paku yang tajam merobek daging kedua telapak tangan dan pergelangan kaki-Nya ketika Ia tergantung di sana sangat lemah dan letih lesu. Tombak serdadu Romawi membuat luka yang menganga pada lambung-Nya, dan aliran darah dari mahkota duri yang ditekan masuk kepala-Nya turun melalui wajah-Nya

 

Ada satu genangan darah pada kaki kayu salib, dan orang-orang menginjak darah-Nya ketika mereka memanjat, mencoba mengambil jubah-Nya tak ada jahitan tepinya. Langit di atas berwarna kelabu suram, dan kilat memancar dari jauh.

 

Orang-orang menghina Dia, meludahi Dia, dan menyumpahi Dia. Mereka sedang merayakan pesta jahanam atas pengorbanan Tuan saya. Kemudian, terbayangkan oleh saya, ibu-Nya, Maria, tertunduk dekat kayu salib, badanya gemetar dan air mata mengalir deras dari wajahnya.

 

Oh, bagaimana saya mengerti perasaan pada hari jumat Suci yang pertama – ia harus memandang puteranya yang telanjang, orang yang sangat disayanginya, disiksa dan dibunuh di depannya – dan tidak ada apa yang dapat diperbuatnya untuk menghentikan itu. Yesus dapat memanggil selaksa malaikat untuk datang menolong-Nya, tetapi ia bahkan memilih mati disalibkan dengan kejam dan memalukan supaya kita dapat menemukan jalan kehidupan.

 

Saya bersyukur kepada Tuhan untuk penglihatan-penglihatan yang diberikan-Nya kepada saya, sebab sekarang saya benar-benar mengerti segala yang dialami oleh Yesus untuk orang-orang yang sangat dicintai-Nya. Ia digantung di atas kayu salib yang kejam, di antara surga dan bumi, supaya kita akan memperoleh hidup yang kekal. Ia tidak pernah berdosa, akan tetapi Ia dengan rela menanggung sendiri semua dosa kita. Alangkah mulianya Juruselamat kita!

 

Bekas luka-luka pada tangan dan kaki-Nya nyata. Saya telah melihatnya. Itu adalah tanda penderitaan yang hebat – kesakitan yang dialami-Nya untuk Saudara dan saya.

 

IKAN DI SURGA ?

 

Pada 25 Maret 1996 Yesus mengunjungi saya dari jam 06.35 pagi sampai 08.50 pagi. Kami berjalan dan bercakap bersama seperti biasa – di pantai, diatas jembatan emas, sepanjang jalan yang berliku. Sesudah berjalan di jalan yang biasa sebentar, Tuhan mengiringi saya ke jalan yang lain, sepanjang sebuah jalan yang lebar dan putih. Kelihatannya seperti sebuah jalan raya di Amerika yang dibarisi oleh pohon-pohon pada kedua sisinya.

 

Pohon-pohon ini sangat tinggi dan daun-daunnya paling menarik yang pernah saya lihat. Ketika kami berjalan, saya melihat, bahwa pohon-pohon itu mulai berubah warnanya. Seperti berjalan sepanjang deretan pelangi – susunan warna-warnanya luar biasa!

 

Jalan ini menuju ke sebuah bukit yang lebih kecil dari jangkauan yang biasa kami daki. Dari puncaknya lambat laun saya melihat sebuah sungai perak berkilauan oleh cahaya matahari surga. Deretan gunung-gunung dipenuhi pemandangan yang keindahannya hanya dapat dihasilkan oleh surga. Gunung-gunung kelihatan seperti berhutankan pohon-pohonan yang selalu menghijau.

 

Kami menuruni sisi bukit dan berjalan menuju ke air di mana kami melihat segala macam ikan berenang di sungai yang berbatu dasarnya. Sangat mengagumkan, saya melihat ikan di surga, dan saya mulai tertawa. Saya sangat menikmati saat ini sehingga saya melangkah dan mulai berjalan di dalam air.

 

Saya mengulurkan tangan saya ke bawah dan menangkap seekor ikan berbelang merah dan mengangkatnya keluar dari air. Saya tak dapat menahan tertawa saya, jadi ikan itu meloncat keluar dari tangan saya dan berenang ke tempat yang aman. Memperhatikan tangkapan saya berenang pergi ke dalam kebebasan mutlak, melompat-lompat dengan ikan-ikan lainnya, menyebabkan saya tertawa geli sampai keluar air mata. Saya menangkap seekor ikan yang lain – yang ini warnanya berbeda – dan ia melompat keluar dari tangan saya juga. Ini adalah waktu yang penuh dengan riang ria, dan Tuhan mulai tertawa bersama saya.

 

Ia mulai ikut serta dalam perbuatan saya, mengulurkan tangan dan menangkap seekor ikan yang sangat besar berwarna seperti ‘lapisan berwarna-warni’. Ia melihat kepada ikan itu dengan kagum dan kemudian melemparkannya kembali ke dalam sungai, masih dengan tertawa. Sungguh menyenangkan sekali melihat Tuhan menikmati waktu bersama saya.

 

Saya terus tertawa – bebas, tertawa terbahak-bahak – dan rasanya begitu bahagia. Semakin saya mendengar tertawa Tuhan, semakin kuat saya tertawa. Akhirnya, saya dipenuhi oleh tawa, tetapi merasa sangat tenteram.

 

Yesus berkata, “Anakku, engkau tentunya sangat menikmati ini. Sukakah engkau memancing ikan?”

 

“Aku hanya menikmati keadaan di sini, Tuhan.”

 

“Aku mempunyai lebih banyak ikan untuk ditunjukkan padamu nanti. Apakah engkau mau menangkap lebih banyak ikan?”

 

“Aku terlalu sibuk tertawa untuk dapat menangkap seekor ikan pun, Tuhan,” kata saya ditengah-tengah gelombang tawa.

 

“Lebih baik kita kembali sekarang, puteri-Ku. Aku harus membawamu ke suatu tempat yang lain.”

 

“Kami meninggalkan sungai, dan saya merasa sangat dibersihkan oleh saat-saat tawa yang menggembirakan sebelumnya. Ikan-ikan sangat menyenangkan, dan saya ingat, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22). Saya merasa saya telah minum obat kegembiraan yang tidak akan habis selamanya!

 

Alangkah bahagianya melihat Tuhan saya jelas sekali merasa senang dengan kegirangan dan kebahagiaan saya. Pengalaman ini menolong saya mengerti ayat : “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11).

 

Saya telah menjalani jalan kehidupan di surga, dan saya telah minum dari sungai sukacita-Nya seperti yang digambarkan oleh si pemazmur : “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang” (Mazmur 36:8-9).

 

Kegembiraan saya meluap-luap seperti air mancur dan melimpah ruah seperti air terjun.

 

TERBANG MELINTASI SURGA

 

Kami kembali ke jalan sama yang telah kami lalui untuk sampai ke sisi gunung. Lalu Tuhan membawa saya ke sebuah gunung yang tinggi melalui sebuah jalan yang sangat yang dibatasi oleh pohon-pohon yang tinggi besar dan semak-semak. Kami berjalan sepanjang jalan ini beberapa waktu lamanya. Ini menyebabkan saya ingin tahu kemana kami pergi. Saya juga ingin tahu mengapa jalan ini sangat sempit.

 

Akhirnya kami sampai ke ujung jalan di mana saya melihat melalui bukit dan melihat sebuah pagar putih mengeliling banyak bangunan-bangunan putih. Bangunan-bangunan itu berkilauan oleh warna putih yang terputih – suatu putih yang lebih cemerlang daripada putihnya salju yang baru jatuh. Saya ingin lebih dekat dengan pemandangan di depan saya, tetapi seperti biasanya seringkali Yesus menunjukkan adegan ini kepada saya dari jauh. Saya tidak mengerti mengapa.

 

Ia berkata kepada saya, “Puteri-Ku, Aku ingin engkau melihatnya dengan jelas, jadi kita harus turun ke sana.” Ia menjangkau, memegang tangan saya, dan kami mulai terbang. Suatu pengalaman yang mendebarkan hati, dan keluhan yang keras keluar dari badan jasmani saya.

 

Ketika kami mendarat di lembah yang subur, Yesus membawa saya ke jalan yang putih murni ini. Lalu saya nampak bahwa ada rumah-rumah putih yang indah di kedua sisinya. Jalannya putih dan bercahaya seperti kaca. Kesemuanya serba putih disana. Pagarnya kelihatan seolah-olah lebih tinggi daripada rumah-rumah yang saya nampak dari puncak bukit.

 

Rasanya tidak mungkin, pada waktu ini, untuk saya menerangkan, atau bahkan mengusulkan, mengapa Tuhan menunjukkan kepada saya beberapa hal yang dimiliki-Nya. Seringkali Ia menunjukkan hal-hal yang sama pada dua kesempatan yang berlainan. Kami biasanya tidak menghabiskan banyak waktu pada setiap tempat, dan Ia memberikan sedikit penjelasan tentang artinya, tetapi bagi saya tak mengapa sebab saya tahu waktunya akan tiba saat saya akan mengenal dengan sempurna, seperti saya sendiri dikenal (lihat 1 Korintus 13:12).

 

Tuhan mengatakan, bahwa Ia harus menunjukkan ini kepada saya ini, jadi kami mendekati salah satu rumah-rumah itu. Ia mempunyai dua belah pintu dengan bingkai emas. Pintunya dihias dengan kaca berwarna. Saya terutama sekali melihat tombol pintu dari emas murni!

 

Ketika kami masuk rumah itu, saya melihat, bahwa semua jendelanya terbuat dari kaca berwarna. Permadaninya berwarna-warni – suatu campuran warna-warna yang lembut dan memberi kesan bagian dalam rumah sangat klasik. Batu permata yang menghiasi dinding-dinding bercahaya dan bersinar. Saya merasa seperti sedang melangkah ke dalam sebuah lukisan dan bukan sebuah rumah. Saya berjalan menaiki anak tangga emas yang mempunyai pola sketsa yang berbelit-belit di permukaannya. Pada bagian atas anak tangga, saya berjalan ke dalam sebuah kamar tidur di mana sebuah tempat tidurnya berdiri lebih hebat dan lebih besar daripada tempat tidur ukuran raja manapun di bumi. Saya mengelilinginya dan masuk ke kamar hias. Semuanya dipenuhi dengan emas dan batu permata berharga pada dindingnya kecuali satu. Dinding itu mempunyai kaca ukuran satu badan untuk memantulkan keindahan yang luar biasa dari suasana sekeliling secara langsung.

 

Saya memperhatikan, bahwa semua ruangan dalam rumah itu besar sekali, termasuk kamar berhiasnya. Kenyataan, setiap rumah yang Tuhan perlihatkan pada saya mempunyai kamar-kamar yang luas dan indah sekali diluar perkiraan.

 

Saya mulai bernyanyi dengan gembira sewaktu saya berjalan sepanjang gang, masuk setiap kamar dan menikmati tempat tinggal yang begitu menyenangkan. Sesudah pesiar saya diatas selesai, saya turun ke bawah, di mana Tuhan sedang berjalan mengelilingi sebuah ruangan yang sangat menyerupai kamar tamu. Ia mendengar saya, menoleh, memandang saya, dan berkata, “Sukakah engkau akan tempat ini?”

 

“Ya, Tuhanku. Rumah ini cantik. Siapakah yang akan tinggal dalam rumah-rumah yang Engkau tunjukkan padaku ini?”

 

“Semua anak-anakKu akan tinggal dalam rumah-rumah ini. Aku telah menyediakan untuk mereka. Mereka akan tinggal di sini lebih cepat dari apa yang mereka duga.”

 

KOTA KUDUS

 

Tuhan memegang tangan saya dan kami meninggalkan lembah yang cantik itu. Selanjutnya, kami berjalan atas sebuah jalan yang terpisah yang sama warnanya seperti jalan berbata kuning di film The Wizard of Oz. ada rumah-rumah berwarna putih pada kedua sisi jalanan itu. Pulau di tengah-tengah jalan itu dihiasi dengan pohon-pohon buah-buahan yang telah diletakkan teratur sepanjang sebuah aliran yang jernih dan berwarna biru yang tak terkatakan panjangnya. Ada banyak batu-batu cantik pada ke dua sisi aliran air.

 

Kemudian Tuhan memegang tangan saya dan berkata, “Kita naik ke atas, puteri-Ku.” Kami terangkat dari atas tanah lurus ke atas, seperti sebuah helikopter, dan kemudian kami mulai terbang. Ia membawa saya ke gunung yang sama di mana kami memulai perjalan khusus ini.

 

Ketika kami sedang terbang, badan duniawi saya, terbaring di atas tempat tidur, menjerit karena panik. Dalam badan transformasi saya bagaimanapun juga, saya mulai biasa dengan hal-hal luar biasa yang saya alami di surga. Kami berjalan kembali ke jalanan yang sempit dan pergi ke bangunan putih dimana kami selalu berganti pakaian kami. Seterusnya, kami pergi ke kolam yang tenang.

 

Saat kami tiba di kolam saya mulai menyanyi dan menari. Hati saya masih melayang dengan gembira. Tuhan berkata, “Mari, Choo Nam, duduk dekat-Ku.”

 

Saya menurut dan mengambil tempat di atas batu di sebelah-Nya smabil memegang tangan-Nya.

 

“Anak-Ku, Aku menunjukkan sungai dan Yerusalem Baru kepadamu. Rumah-rumah itu ada di Yerusalem – Kota Kudus. Kita semua akan tinggal di Yerusalem ketika Aku membawa pulang anak-anakKu. Aku ingin semua anak-anakKu mengetahui bahwa Yerusalem sudah tersedia bagi mereka.

 

“Engkau melihat tidak ada jalan untuk masuk ke dalam Yerusalem. Karena itu, kita harus terbang untuk ke sana. Kita semua akan segera terbang ke sana – itulah sebabnya pekerjaanmu sangat penting.”

 

“Aku tak ingin engkau tertinggal apapun yang telah Aku tunjukkan atau ceritakan padamu,” Tuhan meneruskan. “Aku tahu beberapa orang tidak akan percaya banyak hal yang Kautunjukkan padamu – yang ragu-ragu dan mereka yang tidak mengenal

Firman-Ku – tetapi Aku tahu betapa kerasnya engkau berusaha menyenangkan Aku.”

 

“Setelah engkau menyelesaikan kerja ini, hidupmu akan menjadi gembira selalu – lebih indah daripada yang telah engkau alami. Engkau akan diberkati. Barangsiapa percaya padamu dan menolong akan diberkati juga.”

 

“Engkau akan menjadi suatu keajaiban kepada semua gereja, suatu kegembiraan bagi mereka yang siap dan menantikan-Ku, dan suatu berita buruk bagi mereka yang mencintai dunia lebih daripada mencintai Aku. Buku ini akan membantu melepaskan banyak orang yang sedang dalam kegelapan rohani.”

 

“Anak-Ku, engkau tak usah peduli dengan apa yang akan orang pikir atau katakana; tulis saja apa yang Kuperlihatkan dan kuceritakan padamu. Aku percaya sepenuhnya akan ketaatanmu. Engkau selalu takut dan percaya Firman-Ku sejak engkau mengenal-Ku. Aku melihat, bahwa engkau tidak pernah dengan sengaja tidak taat sejak engkau memberikan hatimu kepada-Ku, dan engkau selalu mengutamakan Aku di dalam hidupmu. Karena itulah Aku memilihmu sebagai puteri dan teman-Ku yang istimewa.”

 

Kata-kataNya begitu rendah hati dan meyakinkan. Menyebabkan saya merasa girang.

Atu hal yang saya tahu dengan pasti – sejak saya menjadi seorang percaya saya selalu berusaha untuk menyenangkan Tuhan saya, meletakkan Dia sebagai yang pertama dalam setiap keadaan dan keputusan. Ia memberkati ketaatan saya.

 

“Akan mengambil waktu yang lama menyiapkanmu untuk pekerjaan ini,” Ia berkata. “Sekarang engkau tahu bagaimana istimewanya engkau untuk-Ku. Engkau berkata bahwa engkau telah memberikan hidupmu pada-Ku, dan Aku tahu hatimu. Jangan sekali-kali menyimpang dari tanggung jawab ini, Choo Nam.”

 

“Apapun yang harus engkau korbankan, atau lepaskan, di dalam kehidupan duniamu akan dipulihkan kepadamu di surga. Di surga, engkau akan bersama-Ku selamanya.”

 

Bagi saya, itu adalah kata-kata yang terpenting dari segalanya. Janji inilah yang membuat saya berjalan terus, sebab saya tahu bagaimana tak terperikan indahnya bersama dengan Dia. Menggairahkan mengetahui, bahwa saya akan di hadirat-Nya selama-lamanya adalah pikiran yang paling terberkati dari semuanya.

 

“Tuhan, aku tidak begitu pandai,” saya menangis. “Hanya karena aku mencintai-Mu lebih daripada hidupku sendiri. Aku tidak bahagia dengan siapapun atau apapun kecuali ada Engkau. Aku merasakan sangat gembira.”

 

“Barang siapa mengijinkan Aku mengatur hidupnya akan diberkati. Mereka adalah anak-anakKu yang taat. Engkau adalah anak-Ku yang istimewa.”

 

Ketika kunjungan selesai saya merenungkan hal-hal yang telah diberitahukan Yesus kepada saya. Yerusalem Baru datang dari Surga. Ia sudah siap sekarang. Tuhan ingin anak-anakNya menikmati kemuliaan kekal bersama Dia. Ia telah memilih saya untuk membagikan semuanya ini dengan siapa saja yang mau mendengar.

 

Sepanjang hari saya mempelajari apa yang dikatakan Alkitab tentang Yerusalem Baru. Ketika saya membaca pasal ke dua puluh satu dari Wahyu, saya sadar bahwa rasul Yohanes telah mengalami peristiwa yang sama dengan Tuhan yang mana baru saja saya nikmati.

 

Lalu di dalam roh Ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan Ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu. Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Tuhan dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

(Wahyu 21:10-11)

 

Saya sangat terpikat oleh penggambarannya tentang kota sorgawi, karena saya telah melihat sangat banyak hal-hal yang ditulisnya.

 

Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya : sebab Allah Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan

Anak Domba itu adalah lampunya. (Wahyu 21:22-23)

 

Saya telah berjalan dalam gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. Tetapi tidak akan masuk kedalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dosa, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Wahyu 21:25-27)

 

Inilah yang telah diberitahukan Yesus kepada saya – surga disediakan untuk mereka yang patuh. Hanya yang hatinya tahir akan dapat masuk dan hidup disana.

 

Saya meneruskan bacaan saya, ke pasal 22, dan saya betul-betul tercengang oleh penegasan tentang kenyataan surga yang telah saya alami ini.

 

Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. (Wahyu 22:1-2)

 

Saya telah mengecap air sungai itu, dan saya telah berjalan di jalan-jalannya. Saya telah melihat pohon-pohonnya dan bahkan telah merasakan buahnya dari beberapa pohon.

 

Pesan yang diberikan Yesus kepada Yohanes adalah sama dengan yang diberikan-Nya kepada saya. Inilah pesan yang Tuhan ingin saya beritahukan setiap orang yang mau mendengarkan: “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini” (Wahyu 22:7).

 

Tuhan adil, dan Ia ingin semua orang tahu : “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 22:12-13).

 

 

 

 

BAB11 MAKANAN SURGAWI KENIKMATAN SURGAWI

 

Berbahagialah mereka yang diundang ke Perjamuan kawin Anak Domba

WAHYU 19:9 (TEKANAN DITAMBAHKAN)

 

Seluruh badan saya bergetar dengan kuat selama tiga puluh menit sebelum kedatangan Tuhan pada tanggal 27 Maret. Saya dapat bersama-Nya dari jam 06.30 pagi sampai 08.45 pagi. Setelah bergoncang setengah jam, Tuhan datang dan memegang tangan saya.

 

Di dalam badan transformasi saya, saya berjalan dengan Tuhan di pantai dan kemudian Ia mengiringi saya ke surga. Kami berjalan melalui gerbang-gerbang mutiara dan pergi ke gedung putih untuk mengganti pakaian kami. Setelah berganti, kami berjalan menyeberang jembatan emas.

 

Semuanya menjadi begitu biasa untuk saya. Setiap orang percaya, saya yakin, akan mengalami prosedur yang sama waktu ia pergi ke surga. Saya berbagi kesempatan yang istimewa mengunjungi surga sebelum mati. Rasul Paulus menulis mengenai salah satu daripada jiwa-jiwa yang beruntung di pasal ke dua belas dari 2 Korintus.

 

Aku tahu tentang seorang Korintus; empat belas yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Tuhan yang mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, – entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Tuhan yang mengetahuinya – ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus, dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tak boleh diucapkan manusia. (2

Korintus 12:2-4)

 

Saya tahu dengan tepat apa yang dialami rasul itu, sebab banyak hal yang saya lihat dan dengar di surga, dilarang untuk saya beritahukan kepada orang lain.

 

KUNJUNGAN-KUNJUNGAN KE SURGA SESUAI ALKITAB

 

Rasul Yohanes, seperti yang telah ditulis di dalam kitab Wahyu, juga pergi ke surga. Kunjungannya di dahului oleh kunjungan pribadi Tuhan Yesus, yang mengatakan,”Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Seperti Yohanes, kunjungan-kunjungan saya ke surga selalu di dahului dengan kunjungan Tuhan.

 

Nabi Elia pergi ke surga juga. Bagian yang mencatat tentang pertemuan surgawinya mengatakan : “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angina badai” (2 Raja-raja 2:11). Elia terbang ke surga dengan jalan melalui angin badai, dan saya percaya penerbangan-penerbangan saya ke surga dapat digambarkan dengan cara yang sama.

 

Tuhan telah bermurah hati kepada banyak yang lain sebelum saya – orang-orang yang diangkat-Nya ke surga sebelum mati. Dalam setiap kejadian, ada maksud tertentu yang berhubungan dengan waktu itu untuk kunjungan-kunjungan ke surga. Selalu, Tuhan prihatin mengenai menyadarkan orang-orangNya, bahwa Ia mau mereka hidup bersama Dia selama-lamanya.

 

Betapa istimewanya saya ada di antara sedikit orang-orang yang terpilih yang mendapat kehormatan dengan cara ini. Semakin saya memikirkan mengenainya, ini bukan karena saya sangat istimewa tetapi hanya karena saya mau mengikuti dan melayani Tuhan saja selama-lamanya. Hati saya berdebar ingin memberitahukan orang lain untuk mengetahui tentang kunjungan-kunjungan saya ke surga.

 

MAKANAN UNTUK KERAJAAN

 

Tuhan dan saya berjalan sepanjang jalan lama sekali, kemudian kami membelok ke kanan, berjalan ke sisi bukit turun ke tangga dari batu. Saya melihat sebuah danau yang kelihatan seperti sebuah sungai yang sempit dan sangat panjang.

 

“Apa yang akan Aku perlihatkan padamu, puteri-Ku, akan menjadi sangat berharga bagi anak-anakKu.”

 

Ada pohon buah-buahan yang bagus sekali pada kedua tepi sungai. Pada satu tepi, pohon-pohonnya menghasilkan buah berwarna ungu; pada tepi yang lain, pohon-pohonnya sarat dengan buah berwarna merah indah. Buah-buahan ini begitu menarik, dan saya ingin sekali mencobanya. Buah yang merah berbentuk seperti titik-titik air mata yang besar.

 

Tuhan tentu tahu keinginan saya untuk mencoba buah-buahan ini, jadi Ia mengulurkan tangahn, memetik satu dan memberikannya kepada saya untuk dimakan. Ini tidak seperti buah yang pernah saya makan. Sedemikian lezatnya sehingga dari mulut badan jasmani saya keluar air liur turun ke sisi wajah saya.

 

“Mengapa Engkau tidak makan, Tuhan?”

 

“Aku tidak lapar, tetapi aku girang melihat engkau menikmatinya.”

 

Kami berjalan lama sekali, kemudian saya elihat sebuah jembatan yang sangat indah berbuat dari kayu merah. Ketika kami melaluinya, saya melihat ke bawah dan kelihatan airnya dipenuhi dengan banyak sekali jenis ikan yang berlainan.

 

“Apa gunanya ikan-ikan ini?” saya bertanya

 

“Inilah makanan untuk kerajaan,” Tuhan menjawab.

 

Saya girang mengetahui, bahwa kita akan makan buah dan ikan di surga. Kenyataan, bahwa ini adalah makanan utama kerajaan memberi kesan, bahwa kita harus memakannya lebih banyak di bumi. Saya selalu berpendapat, bahwa ikan dan buah adalah makanan sehat yang sangat berkhasiat, dan kunjungan ke surga menguatkan pendapat saya.

 

Melihat ikan berenang dengan leluasanya di dalam air selalu membuat saya tertawa. Saya mulai tertawa kecil dan kemudian saya bertanya, “Tuhan, dimana kita dapat memasaknya?” Sebelum Ia menjawab saya teringat akan suara yang mengiringi penglihatan-penglihatan ajaib saya timbul. Sebab itu saya tahu Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu kepada saya.

 

Saya melihat ke sebelah kanan air, dan saya melihat dinding batu yang besar dan tinggi sekali terbentang sangat jauh sehingga tak kelihatan oleh saya ujungnya.

Begitu tingginya saya tidak dapat melihat puncaknya. Saya dapat melihat pasir putih murni terbentang dari jalan sampai jauh ke dinding batu. Tidak ada pohon di sekitar tempat yang khusus ini, tetapi pasirnya begitu putih dan bersih. Pemandangan yang diberikan kepada saya melalui penglihatan ajaib ini sangat cantik.

 

Segera Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan masuk ke dalam air dan menangkap seekor ikan yang berwarna putih besar dan datar. Ukurannya sebesar kedua belah tangan saya. Saya senang melihat Tuhan melakukan ini untuk saya, dan saya merasa adegan ini sangat menggirangkan. Saya mulai ketawa kecil sambil mengamati-Nya.

 

Selanjutnya, saya berjalan dengan-Nya melampaui batu-batu, dimana saya melihat banyak tempat-tempat untuk memasak yang mempunyai kompor-kompor berwarna perak di pasang pada batu. Diatas kompor adalah tempat memanggang dengan piring-piring berbentuk bujur telur dan garpu-garpu perak. Tuhan hanya menekan sebuah tombol pada sisi salah satu kompor dan api mulai menyala.

 

Ia kemudian mengambil peranan sebagai seorang tukang masak, tepat di depan saya. Ia memanggang ikan itu sehingga kedua sisinya berwarna coklat. Ia kelihatan sangat gembira mengerjakan ini untuk saya.

 

Entah mengapa, saya ingin makan bagian ekor ikan itu, jadi saya menunjuk padanya dan Tuhan memberikan saya setengah dari ikan itu. Ia makan yang setengahnya lagi sambil saya melahap habis bagian yang diberikan-Nya pada saya. Ia sangat lezat. Sesungguhnya, saya tidak pernah mengecap ikan yang begitu empuk dan lezat sebelumnya. Tuhan mengawasi ketika saya menikmati makanan surgawi saya.

 

Ketika kami habis makan, Ia mengambil piring dan garpu saya dan menyimpannya ke dalam sebuah wadah perak. Lalu Ia berkata, “Puteri-Ku, seperti yang dapat engkau lihat, Aku telah menyediakan segalanya untuk anak-anakKu.”

 

Saya tersenyum dengan girang sekali.

 

Kemudian kami kembali ke jalan dan ke gedung putih dimana kami selalu berganti. Seorang malaikat mengiringi saya ke kamar rias, dan sesudah saya memakai jubah dan mahkota yang indah, Tuhan sedang menanti saya.

 

Ia memegang tangan saya, dan kami keluar ke kolam. Di sana, saya istimewa sekali, dipenuhi kerendahan hati mengenai apa yang telah dilakukan oleh Tuhan ke atas saya; jauh lebih daripada hari-hari lainnya sejak Ia mulai membawa saya ke surga.

 

Tapi ini bukan karena saya makan itu; ini adalah karena Tuhan dan Juru Selamatku memasak ikan itu dan kami memakannya bersama. Ia menunjukkan kasih sayang-Nya seperti yang dilakukan-Nya kepada rasul-rasulNya sebelum Ia naik ke surga. Semua pikiran ini timbul ketika saya sedang menari.

 

Kemudian Tuhan memanggil saya untuk duduk di sebelah Nya. Saya menyisipkan

tangan saya di bawah lengan Nya, dan wajah saya di atas bahu-Nya, lalu saya mulai menangis. “Biarlah aku tinggal di sini bersama-Mu, Tuhan. Aku tidak mau meninggalkan-Mu. Ini adalah saat yang terbahagia dalam hidupku.”

 

“Puteri, engkau harus melakukan pekerjaan ini untuk-Ku. Aku tidak mau engkau kehilangan sedikitpun apa yang telah Kutunjukkan atau beritahukan padamu. Aku tahu engkau tidak mempunyai waktu untuk dirimu sendiri, tetapi setelah semuanya selesai, engkau akan diberkati.”

 

“Tuhan, hanya Roger yang dapat membantuku menulis, dan ia telah berbuat banyak untukku.”

 

“Beritahu dia, bahwa Aku mencintainya. Aku akan memberkati dia lebih dari apa yang diharapkannya. Beritahu dia juga untuk meluangkan waktu lebih banyak bersama-Mu. Setiap orang yang mencintai-Ku harus meluangkan banyak waktu bersama-Ku.”

 

Saat-saat yang indah berhubungan dengan Tuhan secara intim. Ketika percakapan kami selesai, kami kembali ke gedung putih dan berganti dengan jubah putih kami, lalu kami kembali ke bumi dan berjalan sepanjang pantai. Kami duduk di tepi laut, dan saya meletakkan lengan saya di bawah lengan-Nya dan berkata, “Aku mencintai-Mu, Tuhan.”

 

“Aku mencintaimu, anak-Ku sayang,” Ia membalas dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. “Beritahu setiap orang, bahwa ada banyak sekali makanan di kerajaan-Ku. Apapun yang ada di sini akan terasa lebih lezat sangat lebih baik daripada makanan duniawi. Sukakah engkau akan ikan itu?”

 

Saya mengangguk tanda menyetujui. Waktu kami berdiri, Tuha merangkul saya lalu berangkat.

 

Tuhan lebih ramah dan mengasihi setiap kali saya bertemu Dia. Saya ingat pertama kali, Ia tidak memeluk atau memanggil saya puteri-Nya atau menggunakan kata-kata manis yang lain. Sekarang Ia memanggil saya dengan banyak nama-nama yang manis. Saya pikir Ia sangat akrab dengan saya.

 

SEBUAH TEMPAT KENIKMATAN

 

Alkitab mengatakan: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11). Kunjungan saya ke surga telah menunjukkan kepada saya kebenaran ayat ini. Surga adalah suatu tempat kenikmatan abadi. Tuhan suka menyenangkan anak-anakNya. Ia ingin kita gembira.

 

Pada 29 Maret 1996 saya bersama Tuhan dari jam 06.40 pagi sampai 08.45 pagi. Badan saya bergetar selama dua puluh lima menit pada pagi itu, kemudian saya mendengar suara Tuhan dan melihat kehadiran-Nya. Ia memegang tangan saya, dan saya melihat badan transformasi saya sedang berjalan sepanjang pantai bersama Dia. Kami berjalan sepanjang tepi laut untuk beberapa menit lamanya dan kemudian kami pergi ke surga.

 

Kami mengganti pakaian kami di dalam bangunan putih seperti biasa. Kemudian kami berjalan di jalan jembatan emas, sepanjang sebuah jalan yang lebar yang belum kami lalui sebelumnya. Jalan ini menuju ke sebuah tempat yang sangat tandus di mana tidak ada rumput, pohon maupun gunung-gunung. Seluruh pemandangan putih, seperti kami masuk ke gurun Kutub Utara. Kami terus berjalan sehingga kami smapai ke ujung jalan.

 

Sebuah sungai yang luas sekali muncul di depan kami, dan saya melihat gunung-gunung pada kedua sisi airnya. Satu gunung yang ada di sebalah kanan sangat tinggi sekali. Kami berjalan sangat dekat dengan sungai yang tanahnya seperti kerikil. Batu kerikil kecil-kecil berbunyi klik di bawah kaki kami ketika kami berjalan.

 

Sungainya dipenuhi oleh perahu-perahu kecil. Saya telah melihat pemandangan yang hampir serupa di bumi – danau-danau dimana orang-orang pergi memancing, berenang, berski air, atau hanya untuk menikmati naik perahu.

 

“Maukah engkau naik salah satu perahu-perahu itu?” Tuhan bertanya.

 

“Ya,” saya cepat-cepat menjawab, “Saya mau.”

 

Kami naik ke dalam salah satu perahu kecil, dan Tuhan mendayung dengan tangan-Nya. Ia membawa kami dengan cekatan. Ketika saya menengok melalui pinggir perahu, saya melihat sekelompok besar ikan berlainan warnanya sedang bermain-main dalam air.

 

Pandangan saya tertumpu pada air yang luar biasa beningnya. Saya dapat melihat kedalamnya dengan jelas sekali. Seperti kristal yang terbening yang pernah saya lihat. Ikannya, seperti biasa, menyebabkan saya ketawa.

 

Mereka adalah ikan-ikan yang cemerlang menakjubkan dan indah. Mereka menyerupai ikan-ikan hias yang besar yang digunakan untuk menghias kolam belakang halan orang-orang di bumi.

 

“Ikan-ikan ini, puteri-Ku, adalah untuk kenikmatan. Seperti engkau, Aku suka mengawasi ikan-ikan berenang kian-kemari dalam air.”

 

Begitu damai dan tenteram di atas air yang tenang. Ketika saya memperhatikan sekeliling, saya merasa seperti kami sedang duduk di atas sebuah kaca raksasa. Kami meninggalkan perahu dan berjalan sepanjang jalan yang sama yang telah kami lalui untuk sampai ke gunung yang kecil dan sempit. Pemandangan yang bagus sekali di ujung jalan kecil menampakkan sebuah lembah yang rendah dan subur dipenuhi oleh rumput-rumput yang tinggi. Sebuah aliran air kecil meliuk-liuk melalui padang rumput yang terbuka luas.

 

Saya melihat sesuatu sedang bergerak melalui seperti ladang gandum itu. Kemudian saya memperhatikan gerakan-gerakan lain di seluruh ladangnya. Lembah itu dipenuhi oleh ternak yang kelihatan sangat menyerupai sapi-sapi di bumi.

 

“Catat ini, Choo Nam. Aku ingin semua anak-anakKu mengetahui apa yang sedang menanti mereka di surga. Aku tahu banyak anak-anakKu mempunyai pertanyaan tentang surga. Ada yang ingin tahu apakah akan ada makanan untuk dimakan di surga.”

 

Saya tahu jawaban atas pertanyaan itu, dan satu perasaan yang sangat menyenangkan memenuhi saya ketika memandang jauh pemandangan yang sangat bagus didepanku. Saya hampir tak dapat menahan semuanya itu.

 

Bagaimanapun, kami tidak dapat tinggal lama di sana. Segera Tuhan membawa saya kembali ke gedung yang putih di mana kami berganti pakaian kami kemudian pergi ke kolam. Saya mulai menyanyi karena girang. Lalu saya duduk di sebalah Tuhan.

 

“Apakah engkau menikmati pesiar dengan perahu, puteriKu?” Ia bertanya.

 

“Oh, ya, Tuhan.”

 

“Ketika Aku membawa anak-anakKu kemari, Aku ingin mereka mendapat kesenangan. Mereka dapat melakukan banyak hal yang sama yang mereka lakukan di bumi. Aku ingin mereka bahagia. Engkau mesti ingat segala hal yang Kuperlihatkan dan

Kuberitahu padamu.”

 

“Aku tak mau engkau menjadi bingung mengenai apa pun. Inilah sebabnya Aku memberitahu sangat banyak hal-hal yang penting berulang kali dan memperlihatkan hal yang sama lebih dari sekalipun kepadamu.”

 

Kami kembali ke gedung putih, berganti baju dan kembali ke pantai di bumi. Tuhan kelihatannya tergesa-gesa, jadi kami tidak duduk dan bercakap kali ini. Ia hanya memeluk saya dan pergi. Seperti biasanya, badan saya berhenti bergoncang sesegera Ia berangkat.

 

AIR UNTUK BUMI

 

Ketika permainya bulan April diawali, Tuhan muncul di kamar tidur saya pada 1 April 1996 pagi, pukul 06.20. Saya bersama-Nya sampai pukul 08.35 pagi. Badan saya bergoncang selama tiga puluh menit, lalu Ia datang dan bercakap pada saya. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan saya melihat badan surgawi saya sudah di pantai, kemudian Ia membawa saya ke surga.

 

Setelah mengganti pakaian kami, kami berjalan menyeberangi jembatan emas. Perjalanan kami membawa kami sepanjang sebuah jalan yang lebar dengan batu-batu sangat besar pada kedua sisinya. Perjalanan ini lebih lama daripada biasanya, dan membawa kami ke ujung jalan dimana sebuah batu gunung yang tinggi berdiri. Sangat tinggi sehingga saya tidak dapat melihat puncaknya, tetapi saya melihat ada batu-batu hitam yang besar sekali menonjol keluar dari dasarnya. Di antara batu-batu, ombak-ombak besar mengalir naik turun dalam keadaan hampei seperti badai. Airnya kelihatan sangat dalam.

 

Tidak ada jalan turun ke air, jadi kami hanya memandangnya dari sisi gunung. Danau air itu kelihatan seperti mengisi sebuah lubang yang besar sekali. Tuhan menerangkan, “Air ini adalah untuk bumi.”

 

Seperti yang sering sekali terjadi, Tuhan tidak menerangkan selengkapnya arti kata-kataNya. Sering, Ia hanya memberitahu saya apa itu dan apa gunanya. Walaupun, apabila saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada-Nya, Ia biasanya akan memberi saya jawaban.

 

Seringkali, bagaimanapun, saya tidak ingin bertanya pada-Nya apa yang diperlihatkan-Nya kepada saya, sebab saya tahu sekarang hanyalah menjadi juru tulis yang menulis apa yang ditunjukkan-Nya kepada saya dan apa yang di beritahukan-Nya kepada saya, dan saya tahu Ia akan memberikan penjelasan sepenuhnya apabila Ia menganggapnya perlu.

 

Kami berpaling dari adegan ini dan berjalan lagi di atas jalanan yang panjang. Ketika kami sampai di sebuah persimpangan, kami mengambil sebuah sisi jalan yang berbelok-belok sangat dekat dengan jembatan emas yang menuju ke sebuah pantai. Ketika kami menyusuri jalanan ini, saya memperhatikan banyak rumah-rumah sekeliling air.

 

Di belakang rumah-rumah itu ada banyak jenis pohon buah-buahan. Sebuah kebun buah-buahan yang sangat teratur rapi. Deretan pertama terdiri dari pohon-pohon berwarna hijau pucat yang penuh dengan buah-buahan berwarna ungu. Kelompok selanjutnya adalah pohon-pohon yang lebih bsar berdaun merah. Warna-warnanya beraneka ragam dan berpadu cocok sekali dalam cara yang sangat mengagumkan. Susunan warnanya begitu luar biasa sehingga saya tidak dapat bernapas.

 

Tidak ada satu gunungpun di daerah yang khusus ini di surga – hanya air, pasir, rumah-rumah dan pohon-pohonan. Begitu luasnya daerah ini sehingga saya tidak dapat melihat di mana ujungnya berakhir.

 

Tuhan membawa saya ke salah satu rumahnya. Rumah ini sangat berlainan dari rumah-rumah besar dan istana-istana yang telah kami kunjungi sebelumnya. Bagian dalamnya sederhana saja, dan warna-warnanya kelihatan tidak begitu terang.

 

“Ini adalah rumah-rumah tepi pantai untuk anak-anakKu,” Tuhan menegaskan.

 

Menakjubkan sekali! Kita akan memilih rumah untuk belibur di surga! Sungguh, Tuhan betul-betul ingin anak-anakNya bersuka cita dan menikmati kesenangan-kesenanganNya selama-lamanya.

 

Setelah kunjungan yang menggirangkan ini, Tuhan dan saya mengganti jubah kami dan kembali ke kolam yang tenang dimana saya menyanyi dan menari di depan-Nya. Saya tahu Tuhan sedang tersenyum dengan gembira sekali meskipun saya tidak dapat melihat wajah-Nya dengan jelas.

 

Ia memanggil saya untuk duduk di dekat-Nya, dan sekali lagi saya mulai menangis, sebab saya tahu kunjungan kami sudah hampir habis. Apabila saya bersama-Nya, saya tidak mau pulang. Hadirat-Nya penuh dengan suka cita.

 

Saya duduk di sebelah-Nya, dan Ia berkata, “Aku telah menyiapkan banyak hal dalam kerajaan-Ku yang dinikmati oleh anak-anakKu di bumi. Banyak kegiatan. Aku memastikan, bahwa tidak ada yang merasa bosan. Setiap orang akan mendapat tugas yang berlainan.”

 

“Mengapa engkau pikir Aku memilih nabi-nabi untuk bekerja bagi-Ku di bumi? Seperti engkau, Aku telah mengirim mereka untuk melakukan pekerjaan-Ku. Tanpa nabi-nabiKu, Aku tidak ada jalan untuk menyampaikan keinginan-keinginanKu kepada anak-anakKu.”

 

“Karena itu, anak-Ku, jangan ada yang luput dalam menulis tentang segala hal yang Aku tunjukkan dan Aku beritahukan padamu. Ceritakan semuanya. Sebab engkau adalah puteri yang sangat taat sehingga Aku dapat memakaimu.”

 

“Kita harus kembali sekarang.”

 

Ia memegang tangan saya, dan kami berganti dan kembali ke pantai di bumi. Lalu, kami tidak duduk dan bercakap-cakap. Tuhan hanya memeluk saya dan pergi. Kembali badan jasmani saya berhenti bergoncang segera setelah Ia pergi.

 

 

 

 

BAB12

 

NIKMATILAH KERAJAAN SURGA

 

Maksud semuanya ini ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

1 PETRUS 1:7-9

 

Selama berabad-abad, burung merpati yang cantik telah menjadi lambing akan dua hal: perdamaian dan Roh Kudus. Ketika Yohanes Pembaptis membaptis Yesus di sungai Yordan, Roh Tuhan turun dalam bentuk rupa seperti seekor burung merpati atas Dia, dan terdengarlah suara dari langit yang berkata, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22). Burung merpati itulah yang memberitahu Nuh bahwa air bah telah surut. Tidak mengherankan, karena itu, saya bertemu burung-burung merpati pada kunjungan saya selanjutnya ke surga.

 

Pada 3 April 1996 pagi hari, Tuhan bersama saya dari pukul 06.00 sampai pukul 08.30 pagi. Setelah bergoncang dan merintih selama tiga puluh menit, saya mendengar suara Tuhan dan Ia memegang tangan saya. Tidak lama sesudah itu, saya melihat badan transformasi saya berjalan di pantai dengan Tuhan.

 

Kami pergi ke surga, dimana kami berganti jubah lain. Kami menyeberangi jembatan emas dan berjalan di sebelah kanan sebuah jalan. Jalan itu sangat lebar dan atasnya ditutupi oleh langit-langit dari daun-daunan berasal dari pohon-pohon yang besar sekali yang tumbuh di kedua sisi jalan. Ini adalah sebuah jalan yang lain daripada yang telah kami lalui sebelumnya.

 

Kami berjalan agak jauh dan kemudian mengambil sebuah jalan ke kanan. Kami juga berjalan agak lama di jalan ini. Jalan itu mengelilingi dasar sebuah gunung batu yang besar. Di sebelah kiri ada sebuah, kami berdiri dan mengamati merpati-merpati dari surga. Kami tinggal di situ lama sekali, dan saya amat sangat tergerak oleh apa yang sedang saya lihat.

 

LAUTAN LUAS TAK BERUJUNG

 

Kami turun dari tembok dan meneruskan perjalanan kami. Lalu segera kami sampai sebuah jalan yang sempit di sebelah kiri di mana kami membelok dan terus berjalan. Di sebuah tikungan kecil di jalan saya nampak sebuah lautan yang luas sekali dan sangat luasnya sehingga kelihatan seakan-akan tidak ada ujungnya. Ketika kami hampir ke tepi lautan, saya melihat sebuah tembok yang tinggi yang beranak tangga ke bawah ke garis pantai. Kami naik tembok itu dan menuruni anak tangganya.

 

Pinggir laut dipenuhi oleh perahu-perahu, besar, dan kecil. Sebuah pangkalan perahu di surga, dan setiap perahu dirantai pada sebuah batang yang tebal. Semua badan kapal berwarna putih. Waktu saya lebih dekat, saya memperhatikan setiap kapal mempunyai sebuah kamar yang dilengkapi dengan cantiknya dan jendela-jendelanya dari kaca warna. Mereka menyerupai gereja-gereja kecil di atas air.

 

“Maukah engkau naik ke salah satu perahu-perahu ini, puteri-Ku?” Tuhan bertanya.

 

“Tentu!” saya berseru gembira.

 

Ia membimbing saya ke salah satu dari perahu-perahu itu, dan kami naik. Bagian dalam kamar perahu bersih dan rapi, tetapi perahu itu hanya cukup untuk dua orang. Ada dua tempat duduk di depan dan dua kemudi.

 

Saya mulai teringat bagaimana Tuhan telah menghubungkan laut, alam dan memancing dalam pelayanan-Nya di bumi. Petrus, Yakobus dan Yohanes – tiga dari murid-muridNya – adalah para nelayan. Ia sering berkhotbah di tepi laut Galilea,

dan Ia sering memakai ikan sebagai obyek pelajaran. Cerita mengenai Yesus menenangkan ombak yang mengamuk muncul dalam pikiran saya.

 

Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya : “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka : “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Matius 8:24-27)

 

Yesus menyukai laut! Ia menyukai alam dunia yang diciptakan-Nya. Dan Ia ingin kita menikmatinya juga. Memang, ketika penciptaan terjadi, manusia diciptakan untuk hidup di Firdaus tempat yang lebih indah daripada yang dapat kita bayangkan – Taman Eden – sebuah tempat murni, tanpa cela, musim semi abadi, kelimpahan, ketenteraman dan kebahagiaan. Tetapi disebabkan manusia berdosa, kita telah dilarang ke taman Firdaus duniawi itu.

 

Tuhan, dalam kasih-Nya yang begitu dalam, bagaimama pun juga, membuat jalan bagi kita untuk memperoleh kembali Firdaus di surga. Ia mengirim Anak-Nya untuk mati bagi kita: “Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Firdaus yang hilang telah ditemukan melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya.

 

Semakin saya belajar kitab Kejadian, semakin saya mengerti bahwa Taman Eden adalah suatu surga tiruan di bumi. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh Tuhan untuk dapat dinikmati oleh anak-anak-Nya. Tidak ada kematian, kesakitan, penderitaan, kegelapan, atau penyakit, dan tentu saja tidak akan ada di rumah surgawi kita!

 

Alangkah ajaibnya tempat itu, dan keindahan surga bahkan melampaui gambaran Eden itu :

 

Selanjutnya TUHAN membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon-pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kejadian 2:8-10)

 

Saya mulai sadar, bahwa tidak mengherankan kalau rumah surgawi kita akan serupa dengan tempat-tempat yang paling luar biasa di dunia – lautan-lautan, hutan-hutan, ladang-ladang, pohon-pohon, bunga-bunga, burung-burung, hewan-hewan, buah-buahan dan sungai-sungai ada di sana untuk dinikmati oleh kita tepat seperti Tuhan telah menciptakannya untuk kita di Eden. Karena dosa, kita kehilangan hak kita untuk menikmati Firdaus dunia, tetapi melalui iman di dalam Yesus Kristus satu hari nanti Firdaus akan dipulihkan kepada setiap kita!

Bukankah itu menakjubkan?

 

Pikiran saya lalu melayang ke ayat tentang Yesus ketika Ia berjalan di atas air

:

 

Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung.

(Markus 6:47-51)

 

Ya, Yesus mencintai laut, dan Ia mencintai segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Itulah sebabnya saya yakin surga adalah bentuk asal dari segala yang indah di bumi. Tuhan dan Tuan saya ingin kita menikmati kerajaan surga!

 

Jelas sekali Yesus mau saya menikmati pengalaman naik perahu surgawi. Ia menekan sebuah tombol dan perahu kecil ini mulai bergerak, perlahan mulanya dan kemudian kami bertambah laju. Saya menyukai angin sepoi membelai wajah saya dan kabut dingin yang terasa begitu bersih dan menyegarkan.

 

Saya mulai ketawa ketika kami melaju di atas permukaan laut yang tenang dan kemudian saya mulai menyanyi. Saya sangat gembira. Sangat berbeda dari naik perahu apapun yang pernah saya alami di bumi, di mana saya biasanya mabuk laut atau mau muntah. Kali ini tidak. Saya menikmati setiap saat pengalaman kami yang menggetarkan ini.

 

Dalam perjalanan kembali Tuhan membiarkan saya mengemudi. Saya melakukannya dengan kegairahan yang sangat istimewa yang menyebabkan saya tertawa dan menyanyi. Saya dapat mendengar Yesus tertawa bersama saya. Saya tahu Ia memperhatikan saya seperti orang tua mengawasi anaknya.

 

Meskipun kadang-kadang saya tertawa dengan terbahak-bahak, saya dapat mengemudi sampai kembali masuk ke dok. Kami keluar dari perahu dan Tuhan menambatnya ke dermaga. Ia kemudian berkata, “Choo Nam, engkau lihat kerajaan mempunyai banyak hal yang engkau kenal di bumi. Jika semua anak-anak-Ku datang ke kerajaan-Ku,

Aku ingin mereka menikmati hal-hal yang telah Kusediakan bagi mereka.”

 

Saya tersenyum, sebab saya mengerti sedikit apa yang Dia maksudkan.

 

“Anak-anakKu akan bahagia,” Tuhan meneruskan, “dan itulah sebabnya Aku telah memberitahu mereka untuk melepaskan hal-hal duniawi untuk menggembirakan Aku. Mereka dapat memiliki apapun yang mereka perlukan sementara mereka berada di bumi jikalau mereka taat kepada-Ku. Aku ingin mereka mengutamakan Aku dahulu, dan Aku ingin mereka hidup dalam kekudusan sebab Aku mengasihi mereka semua dan ingin membawa mereka kemari.”

 

CARA BERPIKIR YANG BERBEDA

 

Tuhan berkata kepada kita di dalam Yesaya, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Sangat benar, dan Tuhan memberi firasat pada pagi bulan April itu mengenai apa arti ayat ini.

 

Setelah kunjungan ke laut surgawi, kami berganti pakaian kami dan pergi ke kolam yang terpencil di mana kami sering duduk dan bercakap. Tuhan mengambil tempat biasa-Nya di atas batu, dan saya mulai menyanyi dan menari. Kemudian, seperti yang sering dilakukan-Nya, Ia memanggil saya datang duduk disebelah-Nya.

 

Ia mulai memberitahu beberapa hal yang penting dengan saya.

 

“Puteri, engkau istimewa bagi-Ku. Ketika Larry Radolph bernubuat tentangmu dan memberitahu betapa berharganya engkau bagi-Ku, engkau tidak mempercayainya.”

 

“Saya tidak percaya padanya, Tuhan, karena saya pikir bagaimana orang seperti saya dapat menjadi istimewa bagi-Mu. Saya sungguh heran kalau berpikir bahwa Engkau telah memperhatikan saya. Saya percaya Engkau menjawab banyak sekali doa-doa saya, tetapi saya tidak pernah mengira Engkau akan ingat saya.”

 

Saya mulai menangis sambil terus berkata.

 

“Ketika Pastor Larry bernubuat dan memberitahuku, bahwa aku adalah sahabat-Mu, aku sangat terperanjat, dan sukar bagi aku untuk percaya, tetapi sekarang aku mendengarkan rekamannya setiap hari. Setiap kali aku mendengarnya berkata tentangku, badanku mulai bergoncang. Urapan turun, dan kemudian aku mempercayai bahwa Engkau akan memakaiku dengan cara yang istimewa. Aku selalu menunggu-Mu untuk bercakap padaku setiap malam.”

 

Tuhan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kemudian membalas :

 

“Aku memilih anak-anak-Ku yang suci dan taat – mereka yang mendahulukan Aku di dalam kehidupan mereka. Engkau mencoba sedaya upayamu untuk menyenangkan Aku, tetapi engkau harus ingat, Aku hanya melihat anak-anak-Ku. Engkau berpikir seperti manusia. Cara berpikir-Ku berbeda dengan cara berpikirmu.”

 

“Aku tahu hal ini melelahkan pada waktu ini, tetapi engkau harus sabar.”

 

“Puteri-Ku, Aku tidak mau engkau kuatir akan apapun. Serahkan saja segalanya pada-Ku. Seperti yang telah Kuberitahu padamu, ini buku-Ku, dan buku ini akan dilaksanakan sesuai dengan kehendak-Ku.”

 

Saya menyukai waktu-waktu seperti ini bergaul akrab dengan Tuhan. Saya sangat merasa seperti Maria yang dengan rela duduk dekat kaki Tuhan untuk belajar kehendak-Nya. Sebaliknya, Marta, selalu berusaha keras menyenangkan Dia, dan dia dipenuhi cemas, iri dan geram. Saya memutuskan bahwa saya mau menjadi seperti Maria terus sejak saat itu.

 

Marta, begitu khawatir dan cerewet, telah menegur : “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (Lukas 10:40). Tuhan menjawab : “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya” (Lukas 10:41-42).

 

Betul, saya memutuskan saya akan menjadi seperti Maria bukannya Marta. Saya telah memilih ‘bagian yang terbaik’ yang tidak pernah akan diambil daripada saya, yaitu suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Tidak ada apapun di dunia yang lebih penting daripada itu!

 

Saya ingin pikiran saya diperbarui sehingga saya dapat melihat hal-hal secara surgawi bukan secara pamandangan duniawi. Tuhan sedang menolong saya mencapai tujuan ini. Saya teringat apa yang telah dikatakan oleh rasul Paulus di dalam kitab Roma :

 

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. (Roma 8:5-8)

 

Untuk hidup menurut Roh benar-benar adalah hidup dan damai sejahtera, dan setiap kali saya pergi ke surga dengan Tuhan saya tahu apa artinya ini. Saya memutuskan untuk membawa kembali pandangan surgawi bersama saya ke dunia, untuk terus membangun hubungan saya dengan Tuhan dan memberiarkan Dia memperbarui pikiran saya.

 

Kembali ke bumi pagi ini, kami duduk di pantai sebentar, dan Tuhan berkata,

“Engkau melihat banyak hal di surga.”

 

“Ya, Tuhan, dan kunjungan-kunjungan ini begitu menggembirakan sehingga hanya peristiwa ini yang memenuhi pikiran saya. Pikiran saya tetap di surga, bukan di bumi.”

 

“Aku tahu, puteri-Ku.”

 

“Aku tidak memiliki kehidupan sendiri lagi, Tuhan. Sejak saat pertama aku berada di hadirat-Mu, aku telah berubah. Aku tahu pasti jikalau suamiku bukan seorang percaya, ia telah lama meninggalkan aku.”

 

“Aku hidup bagi-Mu sebelum aku melihat hadirat-Mu dan sebelum aku pergi ke surga, tetapi sekarang – bahkan waktu aku tidur – setiap kali aku bangun aku merasakan hadirat-Mu bersamaku. Satu-satunya hal yang dapat aku pikirkan sekarang adalah buku yang Engkau mau aku tuliskan. Aku merasa terhormat melakukan ini bagi-Mu, Tuhan. Terima kasih karena mempercayakanku dengan tanggung jawab yang begitu penting. Aku selalu ingin melakukannya dengan sebaik mungkin untuk membuat Engkau bahagia.”

 

“Aku tahu, puteri-Ku. Sabarlah, dan ingatlah bahwa Aku mengasihimu.”

 

Ia berdiri untuk pergi, memeluk saya dan hilang. Goncangan ajaib di badan saya pun berhenti.

 

SURGA, TEMPAT BERIBADAH

 

Dua hari kemudian, saya mendapat kunjungan yang mengubah hidup saya lagi dari Tuhan. Kejadian ini berlangsung dari pukul 05.50 pagi sampai pukul 08.00 pagi pada 5 April 1996. Setelah hampir tiga puluh menit bergoncang, saya mendengar suara Tuhan. Ia sedang mendekati saya dan membawa saya dengan memegang tangan saya. Saya melihat badan transformasi saya sedang berjalan bersama-Nya sepanjang pantai. Kami pergi ke surga, berganti pakaian kami dan berjalan menyeberang jembatan emas. Kemudian kami sampai ke sebuah jalan yang putih bersinar yang dihiasi dengan bunga-bunga cantik pada kedua sisinya.

 

Saya tidak dapat mengerti ada bunga-bunga yang begitu indah permai dan hebat seperti ini. Bagaimana bisa ada bunga-bunga yang seindah ini – saya ingin tahu.

 

“Maukah engkau sekuntum bunga, puteri-Ku?” Tuhan bertanya

 

“Ya, saya selalu menyukai bunga-bunga.”

 

Ia memetik sekuntum kuning yang berbentuk sangat indah dan meletakkannya di tangan saya. Saya memegang terus selama kunjungan ke surga ini.

 

Setelah perjalanan yang sangat lama, kami tiba pada sebuah rumah yang besar dan cantik. Bangunan seperti istana ini terletak di ujung jalan, di kawasan di mana tanahnya putih dan bersinar, dan sangat banyak bunga-bungaan terlihat di mana-mana.

 

Kami pergi ke belakang rumah itu, dan saya melihat bunga-bunga di mana-mana, sejauh mata saya memandang. Pemandangan yang mempesonakan tak terkatakan. Kemudian Tuhan mengiringi saya kembali ke bagian depan bangunan.

 

Kami berjalan melalui pintu ke dalam gang yang lebar. Tiba-tiba, bagian dalam rumah menjadi gelap. Tuhan menghilang. Saya merasa seorang diri saja dan agak ketakutan. Saya mulai menangis.

 

Secepat suasana menjadi gelap, rungan itu dipenuhi dengan cahaya-cahaya yang paling terang yang pernah saya lihat. Rungan itu dilengkapi menarik sekali, teratur, dan dihiasi, dan saya sangat terpesona oleh kecermelangan dan keindahannya.

 

Kemudian saya melihat anak tangga menuju ke podium di mana Tuhan sedang duduk.

Ia berpakaian emas murni. Mahkota emas-Nya bergemerlapan di bawah cahaya, dan jubah emas-Nya berkilauan dan bersinar. Paras-Nya sangat terang, dan saya tidak dapat menceritakan bagaimana rupa-Nya.

 

Kemudian ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang yang memakai pakaian putih dan bermahkota perak. Mereka membungkuk ke hadirat Tuhan, dan saya berbuat yang sama. Seolaholah ruangan itu mulai mengembang untuk menampung bertambahnya bilangan orang dari segala warna dan jenis. Itu adalah waktu ibadah kudus dan menyembah di hadapan Tuhan.

 

Lalu mereka semua menghilang seakan-akan mereka ada di video, dan Tuhan mendekati saya, memakai pakaian putih biasa-Nya.

 

“Puteri,lihatlah ke sekeliling,” Ia berkata.

 

Saya berbuat demikian, melihat apa saja yang dapat saya tangkap dengan kedua mata saya. Ini adalah ruangan terbesar yang pernah ada – seperti sebuah ruangan dansa yang luar biasa besarnya yang dapat menampung tak terhitung banyaknya orang. Dinding-dindingnya bergemerlapan dengan perhiasan dan permata, dan lantainya terbuat dari batu marmer yang putih bersih.

 

“Mereka menyembah-Ku. Mereka tak putusnya menyembah-Ku,” Tuhan berkata, menerangkan mengapa orang-orang itu disana.

 

Saya langsung memikirkan satu ayat khusus dalam Alkitab yang berhubungan dengan menyembah :

 

Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban, Engkau sendiri saja Allah. (Mazmur 86:9-10)

 

“Bolehkah aku menyembah-Mu bersama mereka kalau aku kembali ke surga untuk bersama-Mu selama-lamanya?” saya bertanya.

 

Tuhan tertawa kecil dan berkata, “Tentu saja, Puteri-Ku.”

 

Hanya itu saya yang dikatakan-Nya. Saya harus mengakui saya merasa agak segan oleh kemunculan-Nya ketika Ia duduk di atas takhta dalam seluruh kecemerlangan mulia-Nya. Dan ketika kami berjalan bersama, saya merasa agak tidak enak bersama-Nya sebab pandangan tentang Dia duduk di atas tahkta-Nya menyebabkan saya merasa takut.

 

Jikalau Ia bersama saya, Ia kelihatan lain sama sekali. Ketika Ia bersama saya, Ia adalah seorang pria biasa, kecuali hanya saya tidak dapat melihat paras-Nya dengan mata saya, tetapi pikiran saya tahu bagaimana raut muka-Nya. Ia penuh kasih dan baik, lembut dan penuh dengan pengertian.

 

Perasaan canggung berganti dengan saat-saat menyenangkan waktu kami berganti dan pergi ke kolam. Saya mulai menyanyi dan menari, seperti biasa, dan Tuhan mengambil tempat biasa-Nya di atas batu. Gambaran-gambaran dari hadirat Tuhan yang begitu agung di atas takhta akan kadang-kadang merampas kegembiraan saya, tetapi saya berusaha keras untuk terus menari dengan riangnya.

 

“Kemarilah, puteri-Ku,” Ia memanggil.

 

Saya mulai menangis sebab saya tahu kunjungan ini akan segera berakhir. “Aku tidak mau meninggalkan Engkau, Tuhan.”

 

“Tempat yang Aku tunjukkan padamu, Choo Nam, adalah di mana orang-orang-Ku akan berkumpul untuk menyembah Aku. Aku tak akan membiarkan seorang pun di bumi menyakiti engkau. Jikalau engkau bukan puteri-Ku yang begitu istimewa, Aku tidak dapat membawa ke surga untuk menunjukkan segala hal yang telah engkau lihat.”

 

Pesan yang sangat meyakinkan yang perlu saya dengar. Cinta tuhan bagi saya telah membubarkan semua ketakutan saya. Kecanggungan yang saya rasakan sebelumnya hilang, tetapi saya menjawab pesan Tuhan yang membesarkan hati dengan cara yang biasa.

 

“Aku ini bukan siapa-siapa, Tuhan.”

 

Ia menegur saya.

 

“Janganlah sekali-kali berkata begitu lagi. Engkau sangat istimewa bagi-Ku. Engkau harus percaya ini. Aku harus memilih anak yang tepat untuk pekerjaan yang penting ini, dan engkaulah pilihan-Ku. Aku ingin engkau mendapat kehidupan yang terbaik di bumi sehingga hari terakhir tiba. Aku tidak akan meninggalkanmu dan

Aku akan selalu menjagamu, puteri-Ku, Aku mencintaimu.”

 

Kata-kata cinta-Nya yang lembut dan menghibur menusuk hati saya. Saya menangis tersedu-sedu. Ini adalah saat pembersihan, penyembuhan, dan menyucian, dan saya merasa diperbarui sepenuhnya.

 

Sekarang saya tahu bahwa surga adalah suatu tempat penuh sukacita. Surga dibuat untuk dinikmati oleh kita. Itulah tujuannya. Seperti yang dikatakan oleh

Westminster Catechism, tujuan terakhir manusia adalah : untuk dekat dengan Yesus di bumi ini, semakin saya dapat menikmati hidup saya. Cinta-Nya mengalahkan semua ketakutan.

 

Ya, surga itu sangat nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB13 MALAIKAT-MALAIKAT DI SURGA DAN DI BUMI

 

“Aku akan menjadi bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku.” “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.” Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata : “Yang membuat malaikat-malaikatNya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”

IBRANI 1:5-7

 

Pengalaman-pengalaman ajaib saya dengan Yesus dan rumah surgawi tempat mana semua orang percaya akan menikmati suatu hari nanti, membuka mata saya pada beberapa kebenaran rohani. Saya mulai mengerti, bahwa dengan cara yang sama Tuhan telah menciptakan kita serupa dengan Dia. Ia telah menciptakan bumi serupa dengan surga. Ini menggetarkan hati saya – untuk mengetahui bahwa hal-hal yang paling indah yang kita nikmati di bumi akan menjadi bagian daripada kehidupan kekal kita.

 

Berfirmanlah Tuhan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26). Tuhan memberi kita sebuah bumi yang indah, diisi dengan ikan, burung-burung maupun ternak, dan Ia ingin kita menguasainya. Di surga, seperti yang telah saya sebutkan, ada ikan, burung-burung maupun ternak. Ciptaan-Nya bagus sekali dalam segala seginya – suatu tempat untuk kita nikmati selama-lamanya.

 

Tetapi setan datang, dan, dalam kesombongan dan kecemburuannya, ia mencobai orang-orang pertama untuk menentang Tuhan. Setan kehilangan haknya atas kemulian kekal di surga karena dosanya. Dengan cara yang sama, Adam dan Hawa dibuang dari Firdaus duniawi mereka untuk selamanya, dan mereka yang tidak mentaati Tuhan dalam kehidupan ini akan dilarang masuk ke Firdaus surgawi. Tuhan menegaskan hal ini berulang-ulang kali.

 

Saya sering bertanya siapa Kita yang disebut dalam kitab Kejadian 1:26, dan sekarang saya mengerti artinya yaitu Tritunggal Mahakudus. Banyak orang, seperti saya, akan mengalami pengalaman-pengalaman yang menggugah hati dengan malaikat-malaikat pada akhir-akhir ini. Malaikat-malaikat mengunjungi kita dengan cara yang sama mereka lakukan pada zaman dahulu. Mereka akan menyakinkan manusia akan kasih Tuhan, dan mereka mengingatkan mereka tentang hal-hal yang akan segera datang. Seperti sering kali Yesus memberitahu saya, kita ini benar-benar hidup pada hari-hari terakhir.

 

Malaikat-malaikat adalah pembawa-pembawa berita-Nya. Saya telah bertemu salah satu daripada mereka, dan mereka adalah makhluk-makhluk yang indah yang memancarkan kasih dan kemuliaan Tuhan. Mereka suka menyembah Bapa di surga, dan mereka taat pada-Nya dengan memberitahukan pesan-Nya kepada kita di bumi.

 

Saya menyayangi malaikat-malaikat kudus Tuhan, dan saya percaya mereka bersama saya bahkan waktu saya menulis. Tuhan memberitahu saya, bahwa saya mempunyai malaikat-malaikat pribadi di sekeliling saya. Kita tidak pernah boleh melupakan janji Tuhan tentang malaikat-Nya : “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.” (Mazmur 91:11-12).

 

DI ATAS AWAN-AWAN

 

Pagi 8 April 1996 membawa lagi sebuah pertemuan yang manis dengan Tuhan Ia mengunjungi saya dari pukul 06.00 pagi sampai 09.00 pagi. Badan saya bergoncang selama empat puluh menit sebelum saya mendengar suara-Nya yang tegas memanggil saya. Ia memegang tangan saya, dan didalam badan transformasi saya, kami pergi ke pantai dimana kami berjalan lebih lama dari biasanya. Kemudian kami terbang naik kesurga.

 

Setelah berganti, kami berjalan menyeberangi jembatan emas dan menuju ke jalan yang biasa kami ambil akhirnya kami membelok ke kiri dan mulai berjalan sepanjang sebuah jalan yang putih dan lebar yang dibatasi dengan pohon-pohon yang sangat besar dan rimbun daunnya.

 

Daun-daunan itu berwarna jingga tua yang terang.

 

Kami berjalan agak jauh dan kemudian membelok menuju sebuah jalan berbatu-batu yang berliku-liku dan membelok melalui batu-batu yang tinggi. Jalan itu menuju ke sebuah jembatan yang tinggi yang terbentang di antara dua gunung. Sesudah menyeberangi jembatan ini, kami mendaki sebuah gunung dan melihat pemandangan di depan kami.

 

Kami berada di atas awan. Sesungguhnya, kemanapun saya memandang adalah awan. Tuhan berkata, “Kita ada di atas awan-awan.”

 

Awan mempunyai arti penting bagi Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa pada waktu Ia kembali “mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (1 Tesalonika 4:16-18).

 

Kitab Wahyu yang menyebut tentang awan-awan : “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia” (Wahyu 1:7; 14:14).

 

Ini adalah satu lagi waktu yang mempesonakan di surga. Saya gembira mengetahui, bahwa akan ada awan-awan di surga sebab saya selalu mendapati mereka begitu tenang dan cantik. Saya ingat, sebagai seorang gadis kecil, berpikir bagaimana rasanya naik mengatasi awan-awan, dan sekarang saya tahu. Suatu pemandangan yang luar biasa yang Tuhan dan saya sedang nikmati.

 

Saya ingin tahu apakah kami akan terbang di atas awan-awan yang lembut dan mengalun yang kelihatannya begitu jauh dari tempat kami berdiri. Saya tidak mengerti dengan jelas mengapa Ia menunjukkan saya awan-awan itu. Banyak sekali orang bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan menunjukkannya kepadamu?” Saya biasanya tidak tahu jawaban atas pertanyaan mereka.

 

Yang saya ketahui ialah, bahwa Ia kelihatan senang sekali menunjukkan kerajaan surga kepada saya. Saya menduga Ia ingin kita tahu bahwa surga adalah sangat menyerupai bumi, hanya amat sangat lebih bagus.

 

Satu hal yang pasti – Ia adalah Tuhan yang Mahakuasa, dan saya tahu bahwa segala sesuatu yang ditunjukkan-Nya kepadaku sangat penting bagi-Nya. Kenyataan bahwa Ia meluangkan waktu untuk secara pribadi mengiringi saya keliling kerajaan sangat membahagiakan saya, tetapi pengalaman-pengalaman dan pesan-pesan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman itu lebih berarti bagi saya daripada hidup ini.

 

Saya sama sekali berkobar oleh semangat rohani ini untuk menceritakan pengalaman-pengalaman dengan orang lain yang perlu mengetahui dan mengerti, dan dengan menjadi seorang wakil umat manusia saya dapat menjadi tempat Bapa menyalurkan curahan kasih karunia-Nya kepada orang-orang-Nya. Kita ini angkatan yang sangat mujur. Tuhan sudah berada diambang pergerakan yang luar biasa. Tuhan akan kembali dengan cepat.

 

PERCAYALAH AKAN SURGA

 

Seseorang telah menulis kata-kata yang sangat benar ini: “Surga adalah sebuah tempat yang disediakan untuk orang-orang yang bersedia.” Tuhan telah memberi saya pengalaman-pengalaman ini sehingga saya akan siap menerima tempat yang telah disediakan-Nya untuk saya, dan supaya saya dapat membantu orang lain bersedia.

 

Inti daripada kata-kata ini adalah : “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:12). Pengharapan akan surga adalah sukacita bumi.

 

Sesudah kunjungan kami ke puncak gunung, diatas awan-awan kemuliaan, Tuhan kembali membawa saya ke gedung putih, dimana kami biasa berganti baju. Abraham ada di sana menyambut kami, dan ia bercakap-cakap dengan Tuhan untuk beberapa menit sementara saya dan berdiri diam dan membayangkan kembali pemandangan diatas awan-awan.

 

Kemudian Tuhan pergi ganti baju, dan Abraham mendatangi saya. Ia meletakan tangannya ke punggung saya dan berkata, “Tuhan telah menunjukkan banyak mengenai kerajaan.” Abraham adalah seorang yang sangat tinggi dan berjanggut panjang.

Saya mengangguk, dan seorang malaikat yang elok datang mengiringi saya kedalam ruangan ganti. Dengan mengenakan mahkota dan jubah surgawi saya, Tuhan dan saya berjalan menuju kolam. Tiba-tiba saya menyanyi.

 

Tuhan mengambil tempat-Nya di atas batu, dan saya mulai menari, tetapi saya tidak dapat melanjutkannya. Kesedihan yang dalam menyelubungi saya, dan saya mulai menangis. Saya mendapat firasat, bahwa Tuhan tidak akan membawa saya ke kolam setelah kunjungan ini, dan ini menyebabkan saya bertambah sedih sekali.

 

Saat ini, saya menangis tersedu-sedu. Tuhan, saya mengetahui semua pikiran dan perasaan kita, memanggil saya untuk datang kesebelah-Nya. Saya tidak mau ikut perintah-Nya, sebab saya menyangka saya tahu apa yang akan dikatakan-Nya kepada saya – bahwa kami tidak akan kembali ke kolam.

 

Ia memanggil saya lagi, dan saya dengan enggan menuruti-Nya. Saya duduk disebelah-Nya , memegang tangan-Nya dan meneruskan menangis.

 

“Tuhan,” saya berkata,”Aku merasa Engkau tak akan membawaku kemari lagi. Jangan meninggalkan aku, sebab aku sangat rindu pada-Mu.” Saya meremas lengan-Nya dan memegang-Nya erat-erat.

 

“Puteri-Ku sayang, engkau benar. Aku tidak membawamu kesini sampai hari terakhir. Engkau tahu bahwa ia akan terjadi segera, jadi sabarlah sehingga sampai waktunya. Aku telah cukup menunjukkan tentang surga untuk diceritakan kepada dunia, tetapi Aku masih ada hal-hal untuk ditunjukkan padamu di bumi.

 

“Aku akan membawamu kepantai dan bercakap-cakap denganmu disana, jadi aku ingin engkau tidak menangis lagi. Aku akan bersamamu di mana saja. Setiap kali engkau ingin berjumpa-Ku, Aku akan disana dan engkau akan melihat-Ku. Aku akan melindungimu daripada segala kejahatan di bumi.”

 

“Puteri, Aku tahu di dalam hatimu engkau selalu ingin membantu mereka yang miskin. Aku akan memberkatimu dengan melimpah sehingga engkau dapat membantu siapa saja yang ingin kau bantu.”

 

“Terima kasih, Tuhan. Aku sangat mengingininya. Sungguh aku ingin membantu mereka yang miskin.”

 

“Itulah salah satu sebabnya Aku sangat menyayangimu, puteri-Ku. Apabila engkau kembali ke kerajaan untuk hidup disini selama-lamanya, Aku kan membawamu ke kolam ini. Engkau selalu menjadi puteri-Ku yang istimewa. Aku tak ingin engkau menangis untuk-Ku lagi. Aku mau engkau bergembira setiap hari selama engkau di bumi.”

 

“Terima kasih karena bersabar dan mengerjakan semua pekerjaan ini bagi-Ku. Aku ingin engkau dan suamimu melayani-Ku sehingga hari-hari akhir. Buku ini yang sedang engkau tulis untuk-Ku – selesaikanlah, dan engkau akan diberi petunjuk.

Jangan kuatir akan apa pun.”

“Aku ingin anak-anak-Ku membaca buku ini, sebab banyak sekali dari mereka mempunyai keragu-raguan tentang surga. Aku ingin mereka percaya bahwa surga itu ada dan menjalani hidup yang kudus dan taat supaya mereka dapat masuk ke dalam kerajaan-Ku. ”

 

“Buku ini mengenai segala firman-Ku dan kerajaan yang Aku sediakan untuk siapa saja yang ingin datang. Segala sesuatu telah tersedia.”

 

“Buku ini harus ditulis oleh seorang yang penuh urapan Roh. Puteri-Ku, jikalau engkau tidak di bawah kuasa istimewa Roh Kudusku. Aku tidak akan dapat memakaimu

untuk pekerjaan ini. Seperti yang telah Kukatakan sebelumnya, Aku telah menyiapkanmu lama sekali untuk perjalanan ini, sebab Aku tahu Aku akan segera datang dan Aku ingin anak-anak-Ku tahu bahwa segera Aku akan datang untuk mereka. Puteri-Ku sayang, Aku selalu ingin engkau ingat akan kolam ini.”

 

Kata-kata-Nya sangat menggerakkan hati saya. Hati saya sungguh diliputi cinta akan Tuhan. Ia berdiri, dan saya tahu tiba waktunya bagi kami untuk pergi. Saya meneruskan menangis, tetapi hati saya diyakinkan dengan pengetahuan akan bersama dengan Tuhan selamanya dan bahwa Ia akan selalu bersama saya di bumi.

 

Di kamar ganti, seorang malaikat Tuhan memeluk saya. Suasana sangat menggirangkan hati di tempat di mana selalu ada banyak sekali cinta, kasih sayang, dan pengertian. Waktu saya berganti pakaian saya, saya menduga bahwa Abraham maupun malaikat itu tahu ini adalah kunjungan terakhir saya ke surga. Ketika saya keluar dari ruangan ganti pakaian, malaikat itu memeluk saya sekali lagi.

 

Malaikat itu berambut pirang, berjubah putih melambai dan berparas lembut dan hangat. Malaikat itu tersenyum kepada saya ketika saya berjalan ke arah Tuhan.

 

Kami kembali ke bumi di mana kami duduk ditepi laut, dan Tuhan mengingatkan saya akan hal-hal yang dikataka-Nya di kolam surgawi. Ia memberitahu saya Ia tidak akan meninggalkan atau mengabaikan saya. Ia berkata kami akan bertemu di pantai. Ia mengingatkan saya untuk mencatat semua yang ditunjukkan dan diceritakan-Nya kepada saya.

 

Ketika Ia pergi, kesedihan saya lenyap. Saya percaya kata-kata-Nya. Saya memegang janji-janji-Nya. Sebuah ayat Alkitab berkata ke dalam hati saya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman” (Matius 28:19-20).

 

Saya mengerti bagaimana perasaan murid-murid ketika mereka mengetahui bahwa Yesus akan meninggalkan mereka dan pergi ke surga. Ia menyakinkan mereka dengan kata-kata yang sama yang diucapkan-Nya kepada saya. Saya tahu Ia akan selalu bersama saya dan malaikat-malaikat-Nya akan menjaga saya sementara saya berusaha keras membantu memenuhi firman tentang Tugas Besar-Nya.

Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mazmur 23:4-6)

 

Saya sungguh percaya firman dari Mazmur 23

 

KENANG-KENANGAN INDAH

 

Walaupun sedih, karena saya sadar saya tidak akan kembali ke surga untuk waktu ini, saya juga tahu saya tidak akan menukar sesaatpun dari pengalaman-pengalaman surgawi saya dengan apapun juga yang dapat diberikan oleh bumi ini. Sungguh, tiada apapun dapat dibandingkan dengan kemuliaan surga.

 

Saya menghabiskan waktu pagi dan siang pada 8 April 1996 menyanyikan lagu-lagu surgawi, mendalami firman, dan mencoba lebih dari biasanya sebab saya tidak tahu kapan saya akan dapat bertemu dengan Tuhan lagi. Saya melakukan setiap pagi, tetapi pagi itu saya menghabiskan berjam-jam dalam terus berdoa, memuji dan mendalami Firman Tuhan. Sejak saya menjadi orang percaya, berdoa menjadi kebiasaan saya. Dengan cara inilah Tuhan hadir di dalam hidup saya setiap waktu.

 

Khususnya pagi itu saat yang sangat menyusahkan bagi saya, karena saya memikirkan tidak dapat ke surga dengan Tuhan lagi sehingga hari terakhir. Kira-kira pukul 1 siang itu saya mulai merasa sangat sedih lagi. Saya mengingat-ingat bahwa saya tidak akan bersama dengan Tuhan ke surga lagi. Bersama dengan Tuhan adalah pengalaman yang paling bahagia seumur hidup saya. Tiada kata-kata yang dapat menerangkan dengan sempurna kegembiraan yang saya alami sawaktu kunjungan-kunjungan ke surga itu. Meskipun saya merasa sangat letih selama bulan-bulan itu, saya telah disegarkan secara rohani.

 

Saya mulai menangis. Suara Tuhan yang tegas dan kuat menarik perhatian saya. Ia berkata, “Puteri-Ku, Aku berkata kepadamu jangan menangis untuk-Ku lagi.”

 

Saya mencoba membendung air mata saya tetapi tidak dapat.

 

“Tuhan, maafkan aku. Aku hanya berharap Engkau membawa ke surga bersama-Mu.”

 

Saya ingin Ia membawa saya seketika itu juga, sebab saya sudah tidak peduli mengenai hal-hal apa saja di dunia ini lagi. Pikiran bersama dengan Yesus di surga mememnuhi seluruh pikiran saya. Saya dengan tidak malu-malu menyatakan ini kepada Tuhan.

 

“Aku tidak mau menunggu,” saya berkata.

 

Teguran-Nya menusuk hati saya, “Puteriku sayang, Aku telah memberitahumu, bahwa

Aku memerlukanmu untuk melakukan pekerjaan-Ku di bumi. Sabarlah.”

 

Nada suara-Nya memantulkan kemarahan. Ia meneruskan, “Saya akan datang lebih cepat daripada yang dipikir oleh setiap orang. Hanya ingat bahwa Aku tidak akan meninggalkanmu. Engkau perlu istirahat.”

 

Dengan itu, Ia pergi. Beban saya telah diambil dari saya, meskipun saya masih ingin bersama dengan Tuhan di surga. Semua ketakutan akan kematian telah dihapuskan daripada saya, sebab saya tahu, bahwa kematian berarti permulaan hidup yang kekal di surga. Kadang-kadang bahkan saya berharap untuk mati, tetapi saya mengulangi janji untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Yesus kepada saya.

 

Sementara itu, saya mempunyai banyak knangan-kenangan yang berharga untuk dingat dan dihidupkan lagi. Pikiran saya ingat segala ssuatu yang saya lihat di surga – setiap jalan yang kami susuri, bangunan-bangunan yang kami masuki, gunung-gunung yang kami daki, malaikat-malaikat, Abraham, awan-awan, sungai-sungai, hewan-hewan, bunga-bunga, pohon-pohon, burung-burung, batu-batu, lautan, danau, kolam-kolam, orang-orang, ketenteraman, dan kegembiraan yang sangat dari semuanya itu.

 

Saya tidak akan seperti dulu lagi ketika saya berpikir saya ingin menikmati bumi ini sebanyak tahun mungkin – hidup sampai tua dan melancong ke sana-sini. Saya hanya ingin bersama Tuhan lebih dari apa pun juga. Saya tahu surga itu sangat nyata, dan jarang yang lebih penting, saya tahu Yesus selalu ada di sana. Saya mencintai-Nya lebih daripada hidup saya, dan saya ingin setiap orang percaya pada-Nya dan dia tahu ada surga yang telah disediakan bagi mereka.

 

Saya setuju dengan pemazmur, yang menulis :

 

Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tangaku demi nama-Mu – Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, – sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. (Mazmur 63:4-9)

 

Saya biasanya ingin tahu akan hal-hal ini, dan kadang-kadang saya bergelut untuk percaya, tetapi sekarang saya tahu, sebab saya tahu saya sudah tahu. Ada surga, dan itulah rumah kita yang sebenarnya. Tuhan sangat sering menunjukkan kepada saya kumpulan-kumpulan air di surga, dan Ia berkata pada saya, “Hati siapapun yang tidak semurni air dan tidak hidup sesuai dengan Firman-Ku dan tidak akan masuk ke kerajaan-Ku.”

 

Ia mengulangi sekali ini dan sekali lagi, jadi saya tahu ini penting. Ia juga berkata, “Banyak yang tidak akan ke kerajaan surga sebab mereka tidak hidup sesuai dengan Firman-Ku. Sebab itulah Aku menunjukkan kepadamu orang-orang yang memakai jubah berwarna coklat pasir dan kelabu.”

 

Saya tahu bahwa saya tidak mengetahui apa-apa tentang menulis buku, dan saya hanya tahu sedikit tentang Firman Tuhan, kecuali betapa pentingnya taat dan takut akan Tuhan, tetapi Ia memberitahu saya untuk tidak kuatir. Akhirnya saya belajar bagaimana menyerahkan segala kekuatiran saya kepada-Nya, sebab saya tahu, Ia peduli saya. Saya ingin melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Tuhan selalu.

 

SURGA ITU SUNGGUH ADA

 

Delapan hari setelah kunjungan terakhir saya ke surga, Tuhan mengunjungi saya hampir dua jam lamanya. Pada pagi hari 16 April 1996. Badan saya bergoncang selama dua puluh menit, dan saya mengeluh dan berkeringat dalam persiapan menyambut kunjungan Tuhan. Ia berkata, “Puteri-Ku, Aku harus bercakap denganmu.”

 

Dengan cara biasanya, Ia memegang tangan saya, dan saya melihat badan transformasi saya berjalan dengan Dia di pantai. Kami menuju ke arah batu di mana kami sering duduk.

 

Sambil kami berjalan, saya berkata, “Aku rindu untuk bersama-Mu Tuhan. Sekarang sudah delapan hari sejak Engkau terakhir membawaku ke surga.”

 

Ia mendengarkan, dan saya tahu Ia mengerti, tetapi Ia diam sejenak. Kami meneruskan berjalan, dan kemudian kami duduk di atas batu. Tuhan berkata, “Aku merindukanmu juga.”

 

Saya mulai menyanyi dalam roh. Nyanyian-nyanyian keluar, dan saya tidak dapat mengendalikannya apalagi saya bersama Tuhan. Ini membuat saya sadar, bahwa Tuhan suka akan lagu dan tarian. Ketika saya menyanyi, Ia melihat wajah saya dan Ia kelihatan gembira. Tetapi kali ini Ia memotong, “Puteri, Aku harus berbicara denganmu.”

 

Saya masih terus menyanyi, jadi Ia mengulangi, “Aku harus berbicara denganmu.”

 

“Maafkan saya, Tuhan.”

 

“Aku lihat buku-Ku berjalan dengan lancar. Apakah engkau menulis judul dari buku yang Kuberikan padamu?”

 

“Ya, Tuhan.”

 

“Aku telah berkata kepadamu Aku akan mengatur segalanya.”

 

Berusaha mendapatkan judul yang sesuai untuk buku itu bukan satu tugas yang mudah. Seolah-olah judul yang tepat susah lahir. Kemudian, ketika waktu doa minggu sebelumnya, saya minta Tuhan akan sebuah judul. Sewaktu saya berdoa dalam Roh, kata-kata surga itu nyata berulang-ulang keluar dari Roh saya.

Sesungguhnya, saya tidak dapat berhenti mengucapkannya.

 

Perasaan sangat damai datang kepada saya ketika saya sadar, bahwa ia adalah judul dari Tuhan untuk buku-Nya – Heaven is so Real! – dan apa judul yang lebih baik lagi? Inilah artinya yang tepat, temanya, isi buku ini. Inilah yang dikehendaki Yesus untuk diketahui oleh semua orang.

 

“Barangsiapa yang ingin datang ke kerajaan-Ku harus percaya dan bersiap untuk kedatangan-Ku.” Tuhan melanjutkan. “Ini akan sangat lebih cepat dari yang mereka kira.”

 

“Bahkan orang-orang percaya yang setia tidak yakin, bahwa sungguh ada kerajaan surga. Aku mau semua anak-anak-Ku yang ragu-ragu menjadi percaya bahwa, kerajaan-Ku itu nyata. Ini akan memimpin mereka untuk berhati lebih setia, taat dan kudus sehingga mereka dapat masuk kerajaan-Ku.”

 

TIDAK ADA JALAN MUDAH KE SURGA

 

Tuhan ingin semua orang percaya. Penulis Ibrani menekankan pentingnya untuk percaya dengan mengatakan bahwa kita sesungguhnya tidak dapat menyenangkan Tuhan tanpa iman.

 

Tetapi tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

 

Iman datangnya dari mendengar firman Tuhan, seperti yang dijelaskan oleh Paulus: “Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Tuhan ingin kita percaya firman-Nya, dan firman-Nya menunjukkan kita ke surga.

 

Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Firman Tuhan menanamkan iman ke dalam hati kita sehingga kita dapat menjangkau dengan iman ketika kita berdoa, dan karena itu menerima jawaban-jawaban atas doa-doa kita.

 

Inilah yang terjadi ketika saya minta Tuhan judul dari buku-Nya. Ia men-dengar doa saya dan menjawabnya. Ia adalah Tuhan yang sangat besar dan mulia, dan surga-Nya sungguh nyata!

 

Tuhan meneruskan: “Aku akan membawa semua orang yang hidup dalam firmanKu ke dalam kerajaan-Ku, tetapi jalan ke kerajaan surga bukan jalan yang mudah.”

 

“Puteri, engkau terus bertanya mengapa Aku memilihmu untuk pekerjaan ini. Aku memberitahumu lagi. Engkau adalah puteri yang tepat untuk buku ini. Aku tahu engkau akan berbuat apa saja yang Kuperintahkan untuk engkau lakukan, walau bagaimana pun sulitnya untukmu.”

 

 

“Engkau akan membuat banyak orang sangat heran, sebab Aku memilih seorang puteri dan bukannya seorang putera untuk pekerjaan akhir zaman. Aku tahu banyak puteri-puteri lebih tahir hatinya daripada putera-putera dan mereka sangat menyenangkan hati-Ku. Melaluimu banyak puteri-puteri akan bahagia. Aku bermaksud untuk memberikan urapan istimewa kepada banyak puteri-puteri untuk pekerjaan akhir zaman, dan mereka harus bersedia untuk menerimanya.”

 

“Aku ingin engkau menulis tepat seperti apa yang Kutunjukkan dan beritahukan kepadamu. Tidak lebih dan tidak kurang. Setelah ini selesai, engkau akan menerima karunia-karunia istimewa untuk melayani-Ku, dan engkau akan menjadi berkat bagi orang-orang-Ku. Aku akan memberikatimu juga lebih daripada yang engkau harapkan.”

 

“Tuhan, berkat satu-satunya yang kuinginkan adalah untuk membahagiakan-Mu. Saya tidak memerlukan apapun, sebab Engkau telah memberikan semua yang kuperlukan atau inginkan di bumi ini. Sekarang, jikalau saya dapat melayani-Mu dengan sepenuhnya, itulah yang akan membuatku lebih bahagia dari apapun juga, dan saya ingin seluruh keluargaku melayani-Mu dan bersedia memberikan hidup mereka bagi-Mu.”

 

“Itulah sebabnya Aku sangat mengasihimu, puteri,” Ia berkata, dan menambahkan, “Jangan lupa memakai kata-kata nubuatan Pendeta Randolph di dalam buku ini. Dan ingat, Aku akan membawamu kemari lagi.”

 

Kami berdiri, berjalan di atas pasir, dan memandang Lautan Pasifik. Sebelum naik, Ia berkata, “Tuliskan semua yang Kukatakan kepadamu.”

 

Saya memegang-Nya dengan kuat ketika kami berpelukan. Saya tidak mau Ia pergi, tetapi saya tahu ini perlu. Saya tahu surga itu sungguh ada dan bahwa saya tidak perlu kuatir apa pun. Selama-lamanya saya akan bersama Dia.

 

 

 

 

BAB14 HIDUP DALAM FIRMAN

 

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

YOHANES 15:7-9

 

Sementara meluangkan waktu pagi dengan berdoa dan merenungkan firman Tuhan pada 18 April 1996, Tuhan memberi saya suatu urapan yang sangat istimewa. Ini adalah tanda, bahwa Ia akan segera datang, dan, seperti yang saya harapkan, setelah

kira-kira lima belas menit saya melihat Dia duduk dekat jendela kamar tidur saya di mana Ia selalu duduk. Saya juga melihat badan transformasi saya duduk di sebelah-Nya. Lagu-lagu rohani dari dalam roh saya membalas kehadiran-Nya.

 

Sedang saya menyanyi, saya memegang tangan Tuan saya, dan saya mulai mencari bekas luka-luka di telapak tangan-Nya dengan mencoba membalikkan tangan-Nya, tetapi Ia mencegah saya melakukan ini. Ia kelihatan sangat gembira atas pertemuan ini, dan Ia mengingatkan saya, “Aku tidak ingin melihat engkau menangis lagi.”

 

Tuhan memberitahu saya beberapa hal yang penting hari itu.

 

“Puteri-Ku, Aku tidak mau engkau risau tentang apa pun berkenaan dengan pekerjaan ini,” Ia mulai. “Aku akan mengatur segalanya. Engkau hanya perlu bergembira untuk-Ku, puteri-Ku. Aku ingin engkau meletakkan gambarmu pada sampul buku.”

 

“Tuhan, Engkau selalu mengejutkanku. Engkau selalu membuatku merasa begitu gembira.”

 

“Aku tahu semua keperluanmu sebelum engkau memintanya kepada-Ku, tetapi Aku tidak mau anak-anak-Ku berhenti meminta jika mereka memerlukan sesuatu.”

 

Kata-kata-Nya mengingatkan saya akan sesuatu yang telah saya baca di dalam Alkitab pagi itu juga: “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Matius 6:7-8).

 

Di dalam ayat Alkitab ini, melalui contoh doa-Nya yang terkenal sebagai Doa Bapa kami, Yesus terus mengajar kita bagaimana berdoa. Garis besar yang berkesan untuk semua doa syafaat dan doa pribadi, dan saya menggunakan prinsip-prinsipnya kalau saya datang ke hadirat-Nya dalam penyembuhan, syafaat, dan permohonan. Saya selalu mengklaim janji-janji Tuhan, seperti yang terdapat dalam Filipi 4:19 : “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Dan pada pagi musim semi yang khusus ini Tuhan mengingatkan saya kebenaran-kebenaran yang bernilai sekali.

 

Sesudah menyampaikan pesan tentang doa ini, Tuhan berdiri dan badan transformasi saya berdiri dengan Dia. Saya mengawasi Tuhan menyentuh kepala dari badan transformasi saya. Ia berangkat, badan transformasi saya hilang, dan goncangan badan duniawi saya berhenti.

 

SUATU PENGLIHATAN TENTANG BUKU-BUKU YANG BANYAK

 

Empat hari kemudian, pada 22 April 1996, saya bersama Tuhan dari pukul 6.35 pagi sampai 08.18 pagi. Badan saya bergoncang selama dua puluh lima menit, kemudian saya mendengar suara Tuhan. Ia mengambil tangan saya, dan saya melihat badan transformasi saya berjalan di pantai bersama Dia. Tuhan berkata, “Aku mencintaimu, puteri-Ku.”

 

“Aku mencintai-Mu juga, Tuhan.”

 

Kami naik ke batu, di mana kami biasa duduk sedang kami memandang Lautan Pasifik yang luas. Ketika kami duduk, saya mulai menyanyi. Kemudian saya menangis karena gembira. Saya memegang lengan Tuhan, dan dengan tangan kanan-Nya Ia menepuk tangan saya dengan lembut.

 

“Puteri-Ku, Aku harus menunjukkan sesuatu kepadamu.”

 

Suara lain menyertai ketika penglihatan-penglihatan ajaib yang diberikan oleh Tuhan kepada saya keluar. Kemudian saya melihat sebuah toko buku yang besar dipenuhi oleh buku-buku, dan saya bertanya dalam hati mengapa ada begitu banyak buku di sana. Mata saya tertarik oleh sebuah buku yang istimewa. Sampul latar belakang kuning emas dengan sebuah istana di atasnya – sebuah istana yang bagus sekali seperti yang saya lihat di surga. Judulnya ada di tengah-tengah halaman ‘Heaven is so Real!’ dalam huruf-huruf yang tebal, jelas. Di bagian bawah sampul ada awan, mengalun lembut seperti yang saya lihat dari gunung surga.

 

Saya terperanjat oleh penglihatan tentang buku itu. Bertambah heran lagi, saya mulai melihat banyak sekali buku-buku terbang di udara, dan orang-orang di bawah sedang mengulurkan tangan dan melompat-lompat berusaha menangkapnya.

 

Penglihatan ini lalu berangsur-angsur hilang, dan saya mulai merenungkan kepentingannya. Tuhan menjelaskan, “Aku berkata padamu Aku akan mengatur segalanya untukmu, puteri. Jangan kuatir lagi mengenai apapun.”

 

Ia telah menunjukkan kepada saya hasil jadi buku itu yang mengisi begitu banyak waktu dan perhatian saya. Buku itu indah, dan sampulnya sangat memikat. Yang lebih penting, Ia telah menunjukkan kepada saya betapa inginnya orang banyak untuk mengetahui kebenaran tentang surga, dan saya betul menyadari, bahwa buku saya akan menjadi jalan di mana mereka sungguh-sungguh dapat mengetahui.

 

“Tuhan, saya percaya segala sesuatu yang Engkau katakan kepadaku,” saya berkata, “tetapi saya tak habis-habisnya berpikir tentang ini.”

 

“Puteri-Ku, buku ini harus dikerjakan menurut waktu-Ku dan oleh kehendak-Ku. Aku mau engkau tenang saja mengenainya. Aku tahu engkau sesungguhnya tidak mempunyai kehidupanmu sendiri sekarang sebab engkau sangat sibuk dengan buku, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat dibuat dengan terburu-buru. Mereka harus diselesaikan pada waktu yang sesuai. Aku mau engkau belajar menjadi sabar. Aku ingin semua anak-anak-Ku menjadi bahagia di bumi ini.”

 

“Tuhan, bagaimanapun beratnya, aku menikmati setiap menit waktuku yang aku curahkan untuk buku-Mu. Tidak sukar menulis kata-kata-Mu yang indah. Roh Kudus memimpin aku untuk setiap kata yang kutulis; aku tak akan pernah dapat menulisnya sendiri.”

 

Bagian yang sukar, saya harus mengakui, adalah waktu menunggu. Tetapi Tuhan setia akan setiap kata yang dikatakan-Nya kepada saya. Firman-Nya benar mutlak. Seperti yang diberi kesaksian oleh Yesaya: “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yesaya 55:11). Dan saya tahu, bahwa hal yang sama akan berlaku sebagai kebenaran untuk buku yang saya telah diminta-Nya untuk menulis. Buku ini tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia. Buku ini akan berhasil, dan akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya untuk dilaksanakan.

 

Hadiratnya, suara-Nya, sentuhan-Nya, kata-kata-Nya semua begitu meyakinkan saya dan memberi saya kedamaian yang luar biasa. Saya tahu ini buku-Nya, bukan punya saya, dan Ia akan menjaga setiap seginya, dari tulisan sampai pola sampulnya sampai percetakan, pemasaran dan pengedarannya. Ini akan menjadi suatu karya indah yang akan menarik orang dalam penggambarannya tentang kemuliaan surga.

 

Tuhan berdiri, berjalan ke pinggir lautan di mana kami mulai, dan berkata, “Aku mengasihimu, puteri-Ku sayang.”

 

Ia tidak memeluk saya kali ini. Lalu Ia berpaling dan pergi.

 

“SEGALANYA TELAH SIAP!”

 

Pagi hari 25 April 1996 Tuhan bercakap-cakap dengan saya dari pukul 07.40 pagi sampai 09.13 pagi. Badan saya bergoyang kuat sekali, dan keluhan-keluhan saya terdengar di seluruh rumah. Lalu Tuhan berkata.

 

“Aku Tuhanmu, puteri-Ku sayang, dan Aku harus bercakap-cakap denganmu,” Ia berkata.

 

Ketika Ia memegang tangan saya, badan duniawi saya bergetar dan bergoncang seperti suatu aliran listrik disalurkan ke dalam sistem tubuh saya. Kemudian saya melihat badan transformasi saya berjalan dengan Tuhan di pantai. Kami mengambil tempat kami biasanya di atas batu, tetapi kali ini saya tidak menyanyi.

 

Sebaliknya, perhatian saya khusus tertuju kepada pakaian yang kami pakai. Sementara saya mengamatinya, Tuhan berkata, “Puteri-Ku, Aku sungguh senang bersamamu.”

 

“Tuhan, aku mencintai-Mu dan aku ingin bersama-Mu selalu.”

 

“Akan segera terjadi, puteri-Ku. Sudahkah engkau melihat kakimu?”

 

Saya tidak pernah melihat dengan jelas sebelumnya, tetapi hanya saya sedang memakai sandal yang sama saja. Ia sedang memakai warna coklat abu-abu dengan pinggiran emas. Saya meletakkan kaki kanan saya di sebelah kaki-Nya dan nampak bagaimana kecilnya kaki saya dibandingkan dengan kaki-Nya. Kami berdua mulai tertawa.

 

Selanjutnya saya meraba bahan jubah saya. Sangat lembut dan mengkilap.

 

Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh rambut saya.

 

“Engkau memiliki rambut yang cantik,” Ia berkata.

 

Rambut badan transformasi saya seperti kepunyaan seorang gadis yang muda. Panjang, lurus, lembut, dan berkilau.

 

Itu seperti rambut yang saya miliki ketika aku masih gadis remaja. Tuhan lalu melihat wajah saya dan berkata, “Engkau cantik, puteri-Ku.”

 

Kata-kata itulah yang sungguh-sungguh ingin saya dengar, sebab saya tidak pernah merasa mempunyai penilaian yang bagus sekali, baik mengenai paras maupun kemampuan saya, tetapi untuk mendengar Tuhan saya dari surga memberitahu saya tentang kecantikan saya mengubah segala yang ada di dunia. Saya mulai menangis karena gembira.

 

“Jangan malu, puteri-Ku,” Tuhan menghibur saya.

 

Kemudian Ia mengangkat wajah saya. Saya dapat melihat roman wajah transformasi saya dan kilauan rambut saya yang hitam. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, aku merasa betul-betul cantik, kemudian saya teringat akan kata-kata pemazmur:

 

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. (Mazmur 139:14-16)

 

Saya dapat melihat bahwa Tuhan telah menciptakan saya. Ia membentuk saya untuk menjadi seorang yang sangat istimewa, dan inilah yang dicoba untuk diperlihatkan-Nya kepada saya hari ini. Ia sedang mengagumi ciptaan-Nya, dan Ia ingin saya pun berbuat yang sama.

 

Biasanya Tuhan tidak banyak bercakap waktu Ia mengunjungi saya, kecuali jikalau Ia ingin memberitahuku hal-hal yang penting mengenai kehidupan serta pelayanan saya. Seringkali Ia mengulangi pesan-pesan yang penting ini.

 

Contohnya, Ia memberitahu saya berulang-ulang, bahwa Ia akan datang segera. Ia seringkali mengulangi kenyataan, bahwa kerajaan-Nya sudah disediakan bagi anak-anak-Nya. Ia seringkali memberitahu saya supaya tidak kuatir, sabar, dan percaya pada-Nya.

 

Ia terus-menerus berkata kepada saya, bahwa buku ini penting sebab akan meyakinkan banyak orang yang ragu-ragu bahwa surga itu betul-betul ada. Semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa inilah salah satu hal yang paling penting untuk dapat diketahui oleh siapapun – pengetahuan tentang surga adalah rumah kita membuat perjalanan hidup ini sangat jauh lebih berarti.

 

Itulah yang sebenarnya yang tengah saya rasakan. Sekarang setelah saya telah banyak ke surga, saya tidak sabar lagi menunggu untuk pergi ke sana selama-lamanya. Seorang pernah berkata, “Di bumi, kamu hanya dapat memperoleh satu hal yang kekal – surga.”

 

Sungguh suatu kehormatan, sebab itu, bagi saya mendapat bagian di dalam buku ini. Saya tahu Tuhan akan menggunakannya untuk membawa banyak jiwa-jiwa ke dalam kerajaan-Nya. Itulah yang Ia kehendaki, dan itulah yang saya kehendaki juga.

 

Pada pagi yang khusus, 25 April 1996, Tuhan kelihatan lebih riang dan lebih banyak bicara daripada biasanya. Kata-kata dan tindak-tanduk-Nya membuat saya sering ketawa, dan Ia juga tertawa. Sungguh waktu yang menyenangkan sekali.

Dalam banyak hal Ia seolah-olah hampir mirip seperti manusia biasa daripada Tuhan yang mahakuasa. Ia tentu sedang menikmati saat-saat ini bersama saya.

 

Setelah beberapa saat, bagaimanapun, suasana pertemuan kami menjadi lebih serius.

 

“Puteri, terima kasih karena menyempatkan dirimu untuk melakukan pekerjaan ini,” Ia berkata. “Hal yang paling penting bagi-Ku adalah bahwa engkau membuat buku ini persis seperti apa yang telah Kuberitahukan kepadamu untuk mengerjakannya. Jangan sekali-kali mengubahnya. Aku telah membimbingmu langkah demi langkah, seperti yang telah Kujanjikan padamu. Aku tahu engkau akan taat di dalam pekerjaan ini, dan itulah sebabnya Aku memilihmu.”

 

“Aku berkata kepadamu lagi bahwa segala sesuatu di kerajaan-Ku telah siap untuk anak-anak-Ku. Aku mau setiap orang percaya yang ragu-ragu dan tidak percaya menyadari bahwa ada surga yang nyata. Aku ingin membawa semua anak-anak-Ku ke kerajaan, tetapi barangsiapa tidak hidup sesuai dengan firman-Ku tidak akan masuk. Buku ini akan menolong orang-orang yang tidak percaya.”

 

“Aku tahu engkau berdoa untuk banyak orang, tetapi Aku tidak dapat menjawab semua doamu sebab ada orang yang mengetahui firman-Ku masih mementingkan diri sendiri dan mereka hidup untuk dunia. Barangsiapa hidup tidak jujur dan tidak menghormati firman-Ku adalah orang-orang yang tidak akan Aku berkati, meskipun mereka adalah orang-orang yang engkau sayangi.”

 

“Puteri, Aku mau engkau mengingat tentang mereka yang telah kaudoakan, mereka yang kaukenal, dan Aku mau engkau mengingat doa-doa yang telah Kukabulkan. Ada orang yang tidak akan pernah mengubah hati mereka menjadi kudus, dan mereka tidak akan pernah diberkati.”

 

“Banyak orang percaya miskin dan mempunyai banyak persoalan dalam hidup mereka sebab hati mereka tidak benar terhadap-Ku dan mereka tidak memberi persepuluhan. Setiap orang percaya yang tidak memberikan persepuluhan tidak akan diberkati

sebab mereka mencintai uang lebih daripada Firman-Ku. Mereka yang mencintai uang lebih daripada Firman-Ku tidak akan pernah melihat kerajaan-Ku. Engkau sudah tahu ke mana mereka akan berada akhirnya.”

 

“Apabila setiap orang datang kepada-Ku dengan hati yang terbuka dan mencoba untuk hidup dengan Firman-Ku, mereka akan langsung diberkati, dan mereka akan mendapat damai dan kegembiraan selalu. Barangsiapa mencintai Aku dan ingin Aku memberkati mereka harus memiliki hati yang benar terhadap-Ku dan mengutamakan Aku dalam segala hal di dalam kehidupan mereka dan mempunyai hati yang baik terhadap orang lain.”

 

“Sayang, Aku ingin engkau gembira setiap hari dalam hidupmu di bumi. Engkau adalah puteri-Ku yang istimewa selamanya. Tidak akan henti-hentinya berkat-Ku untukmu selama engkau di bumi ini.”

 

“Aku akan melindungimu daripada apa saja yang tidak Kusukai di bumi ini, dan Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Engkau akan selalu mendapat kejutan-kejutan yang tidak kau sangka-sangka daripada-Ku.”

 

“Tuhan, Engkau telah mengherankan aku dengan banyak sekali perkara-perkara. Saya tidak tahu apa yang akan Engkau lakukan selanjutnya.”

 

Saya dapat merasakan bahwa Ia tersenyum atas jawaban saya. Kemudian Ia berkata, “Sudah waktunya kembali.” kami berdiri dan mulai berjalan ke arah air.

 

Kami saling berpelukan, dan Ia berkata, “Aku mengasihi-Mu, puteri-Ku.”

 

“Aku mengasihi-Mu, Tuhan.”

 

MAHAKUASA DAN MAHAHADIR

 

Kunjungan selanjutnya bersama Tuhan terjadi pada 29 April 1996. Saya bersama Dia dari pukul 06.05 pagi sampai hampir pukul 08.00 pagi itu. Badan saya bergoncang selama setengah jam, lalu Tuhan berkata, “Puteri-Ku, Choo Nam. Aku harus bercakap dan menunjukkan beberapa hal kepadamu.”

 

Ketika Ia memegang tangan saya saya dapat melihat badan transformasi saya sedang berjalan bersama Dia di pantai. Segera setelah kami duduk di atas batu, saya berterima kasih kepada Tuhan karena membawa saya ke tempat yang khusus ini untuk bersama dengan-Nya.

 

Dengan lembut Ia mengingatkan saya, “Aku mengasihimu, puteri.”

 

“Aku mengasihi-Mu, Tuhan.” Setelah kami bercakap, saya menyanyi bagi Dia.

 

Suara luar biasa yang menyertai penglihatan-penglihatan yang diberi-kan-Nya kepada saya keluar, dan saya melihat sampul ‘Heaven is so Real!’ lagi. Kemudian, buku itu mulai terbang melalui udara, dan orang-orang di bagian bumi yang tandus melompat-lompat dan mengulurkan tangan mereka untuk menggapainya.

 

Lalu sebuah buku terbang ke arah kami, dan Tuhan menangkapnya. Ia memberikannya kepada saya. Mula-mula, saya memegangnya dengan erat di dalam kedua tangan saya, dan saya mendekapnya dalam dada saya sebagai sesuatu yang amat berharga. Air mata sukacita terus mengalir turun ke pipi saya.

 

Penglihatan yang luar biasa kemudian memperlihatkan saya sebuah ruangan utama gereja di mana Tuhan sedang berdiri di belakang mimbar. Ia mengangkat buku ini dengan kedua tangan-Nya. Orang-orang berlarian maju menghampiri-Nya. Sungguh menakjubkan, sungguh menggetarkan hati, melihat begitu banyak orang datang kepada Tuhan – kemudian saya mengerti bahwa Ia memakai buku ini untuk menarik orang kepada-Nya.

 

Penglihatan ini membukakan banyak penglihatan-penglihatan lain sekaligus. Saya dapat melihat Tuhan di dalam banyak gereja-gereja yang berlainan di seluruh dunia, dengan orang-orang dari setiap bangsa hadir di dalam berbagai-bagai gereja. Di dalam setiap rumah ibadah orang-orang sedang berlarian menghampiri-Nya. Tuhan saya yang mahakuasa dan mahahadir dapat berada di manapun juga – di dalam beberapa gereja yang berlainan pada waktu yang sama.

 

Saya teringat akan sebuah ayat dari kitab Wahyu: “Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Maha-kuasa, telah menjadi raja.” (Wahyu 19:6). Ini adalah penglihatan tentang surga yang diterima oleh rasul Yohanes di pulau Patmos di mana ia sedang dipen-jarakan. Inilah apa yang dilakukan oleh orang-orang dalam penglihatan saya – mereka sedang berlari kepada Tuhan untuk menyembah Dia sebab mereka tahu Tuhan adalah Tuhan yang Mahakuasa!

 

Inilah jawaban dari kebenaran yang diberitahukan oleh Yohanes di dalam Wahyu: “Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: ‘Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!'” (Wahyu 19:5). Ketika orang-orang kudus melakukan ini, mereka dipenuhi oleh sukacita dan berseru: “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Wahyu 19:7-9).

 

Seperti Yohanes, saya telah dipanggil untuk menulis, dan tugas saya adalah sama seperti dia – supaya orang tahu bahwa perjamuan kawin Anak Domba sudah disiapkan, dan diberkatilah mereka yang diundang hadir ke perjamuan itu pada hari terakhir. Undangan diberikan kepada semua orang, tetapi hanya mereka yang dengan hati terbuka memilih untuk berjalan di dalam firman Tuhan yang dapat hadir. Penting sekali bagi kita untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, untuk berdoa sesuai dengan ajaran-Nya dan untuk percaya akan semua janji-janji-Nya. Kita adalah mempelai wanita Tuhan, dan Ia menghendaki supaya kita kudus, bersih dan benar di hadapan-Nya. Hari perkawinan yang luar biasa hebatnya menanti!

 

Penglihatan berakhir dan Tuhan bertanya, “Puteri-Ku, apakah engkau telah melihat segalanya?”

 

“Ya, Tuhan. Bagaimana Engkau dapat hadir di mana-mana?”

 

“Aku dapat berada di mana saja dalam sekejap mata.”

 

“Tuhan, saya tahu ada orang percaya yang sangat setia, tetapi mereka masih mempunyai kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Mengapa Engkau tak dapat mengubah mereka?”

 

“Barangsiapa mau berubah akan menerima pertolongan-Ku. Apabila mereka minta kepada-Ku apapun yang mereka kehendaki Aku akan memberikannya kepada mereka jika Aku tahu mereka ikhlas dan jika mereka betul-betul bertekad, Aku akan menjawab doa-doa mereka.”

 

“Banyak anak-anak-Ku, bagaimanapun juga, tidak berdoa dengan jujur atau dengan tekun. Apabila mereka tidak mempunyai kesabaran, mereka tidak dapat menerima berkat.”

 

“Puteri-Ku, engkau begitu gigih. Engkau tidak pernah menyerah. Engkau terus minta pada-Ku apa yang engkau inginkan dalam doa. Aku mendengar setiap doamu.”

 

“Ya, Tuhan, aku tidak akan berhenti sampai aku menerimanya sebab aku tahu Engkau memiliki semua jawabanku. Salah seorang guru Alkitabku memberitahuku supaya ‘jangan berhenti berdoa untuk sesuatu yang engkau inginkan.’ Itulah sebabnya aku sangat tekun dalam doa-doaku, Tuhan.”

 

“Aku tahu Engkau mempunyai jawaban-jawaban yang kuperlukan, terutama dalam doa-doa pribadiku. Engkau menjawab doa-doaku lebih daripada yang telah aku harapkan. Terima kasih, Tuhan.”

 

“Aku mencintai anak-anak yang tekun. Ketekunan manusia membuktikan kesetiaan mereka, dan dengan ini Aku tahu bahwa mereka percaya Aku memegang jawaban-jawaban atas semua doa-doa mereka. Aku juga ingin anak-anak-Ku mengetahui, bahwa meskipun Aku menjawab doa-doa, Aku mungkin juga membatalkan jawaban-jawaban jikalau mereka tidak setia.”

 

“Apakah kiranya yang dilakukan oleh seseorang sehingga menyebabkan Engkau membatalkan berkat dalam kehidupannya?”

 

“Puteri, waktu beberapa anak-anak-Ku memerlukan sesuatu, mereka berdoa siang dan malam dan meluangkan waktu bersama-Ku. Mereka berusaha dengan gigih untuk taat dan hidup sesuai dengan Firman-Ku. Lalu, pada saat Aku memberkati mereka, mereka berubah, menjauhkan diri daripada-Ku dan kembali kepada cara hidupnya yang lama. Mereka terus melakukan hal-hal yang tidak Kusukai. Itulah sebabnya Aku kadang-kadang menghentikan berkat-Ku.”

 

Kunjungan-Nya, hadirat-Nya, penglihatan-Nya telah pergi, dan saya ditinggalkan dengan pengertian yang lebih jelas tentang jalan Tuhan. “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.” (Mazmur 18:31).

 

 

 

BAB15 BERKAT-BERKAT YANG MELIMPAH

 

Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

LUKAS 3:5-6

 

2 Mei 1996 pagi merupakan waktu berdoa yang sangat berarti sekali. Urapan Tuhan lebih kuat ke atas saya daripada biasanya, dan goncangan badan saya lebih hebat daripada sebelumnya, ketika saya mengakhiri waktu doa saya. Seakan-akan goncangan-goncangan ini tidak akan berhenti. Keluhan-keluhan roh saya seperti ledakan-ledakan dari tempat yang dalam sekali. Suhu badan saya naik, dan aku basah berkeringat.

 

Begitu melimpahnya, sehingga saya lupa untuk melihat jam. Setelah beberapa waktu lamanya, Tuhan masuk jendela tempat tidur dan duduk di tempat biasa-Nya. suara-Nya telah menenangkan manifestasi-manifestasi jasmani tubuh saya.

 

“Puteri-Ku sayang, Aku datang untuk memberitahu dan menunjukkanmu beberapa hal. Engkau mempunyai banyak hal untuk dikerjakan bagi-Ku sebelum Aku datang untuk umat-Ku. Engkau harus sabar bersama-Ku. Banyak umat-Ku belum siap menerima kedatangan-Ku. kerajaan-Ku sudah siap sekali untuk siapa pun yang mau memasukinya.”

 

“Setiap orang percaya harus berdiri di hadapan-Ku pada akhirnya, dan banyak dari mereka yang tidak hidup menurut Firman-Ku akan sangat kecewa.”

 

“Aku ingin semua anak-anak-Ku datang ke kerajaan-Ku. Siapapun yang membaca buku ini, Aku ingin mereka percaya dan sadar bagaimana mereka harus hidup di dunia supaya dapat masuk ke kerajaan surga.”

 

“Puteri, Aku akan memberkatimu sehingga engkau tak dapat menampungnya. Aku akan memberkatimu lebih daripada yang pernah engkau harapkan atau minta.”

 

“Tuhan, satu hal yang saya inginkan untuk menjadi berkat adalah dapat

melayani-Mu dan membuat-Mu gembira.”

 

“Puteri, engkau telah membuat-Ku sungguh gembira. Karena itulah Aku memilih engkau untuk pekerjaan ini. Engkau dan suamimu akan banyak melayani-Ku sehingga hari terakhir. Beritahu suamimu Aku senang dengan kerja yang sedang ia kerjakan berkenaan dengan buku ini.”

 

“Setelah semuanya selesai, Aku ingin engkau membangun gereja-Ku.”

 

Pernyataan ini membangkitkan suara yang selalu menyertai penglihatan-penglihatan luar biasa yang Tuhan berikan kepada saya, dan saya mulai melihat gereja yang sama yang telah diperlihatkan kepadaku sebelumnya. Sesudah saya melihat bagian dalam dan luar bangunan gereja, saya merasa tenang sekali. Saya tidak dapat melihat Tuhan ataupun merasakan kehadiran-Nya.

 

Khususnya pada pagi ini, dan pagi seterusnya, kunjungan-kunjungan Tuhan bersama saya tak dapat diramalkan sama sekali, dan tidak seperti lazimnya. Pada saat-saat ini, saya tidak tahu apa yang dapat diharapkan dari kunjungan-kunjungan-Nya sebab setiap kunjungan sangat berlainan.

 

Satu hal menjadi sangat jelas pada saya – Ia tidak pernah muncul jikalau saya telah pagi-pagi membuat rencana untuk hari yang tertentu. Pada hari-hari dimana saya tidak mempunyai rencana, bagaimanapun, Ia paling sering datang untuk membawa saya ke pantai di bumi. Pada hari-hari lain, Tuhanku yang luar biasa iseng-iseng duduk di jendela dan berbicara kepada saya ketika saya sedang berdoa. Ia adalah Tuhan yang sungguh memperhatikan dan penuh kasih sayang. Kasih saya kepada-Nya tidak dapat diungkapkan sepenuhnya.

 

Saya masih takjub mengetahui bagaimana Ia tahu tentang saya. Ia tahu pikiran saya, perasaan saya, rencana saya, dan alasan saya. Doa saya tak putus-putusnya adalah dari Mazmur 139:23-24: “Selidiki aku, ya Tuhan, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah aku jalan serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

 

SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

 

Iman saya terus berkembang ketika saya bertumbuh di dalam hubungan saya dengan Tuhan. Saya sungguh percaya, bahwa saya tak akan pernah mempunyai keraguan lagi, saya sudah pernah bersama Tuhan, dan Ia telah membawa saya ke surga sangat kering. Saya percaya Firman-Nya, dan saya tahu bahwa surga itu sungguh ada.

 

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka,”

Yesus berkata, “sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan

Tuhan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Tuhan seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Markus 10:14-15).

 

Tuhan mau kita menjadi seperti kanak-kanak sehingga kita dapat menikmati berkat kerajaan surga selamanya. Sifat-sifat masa kanak-kanak adalah mungkin bagi orang dewasa yang menyerahkan hidup mereka sepenuhnya dan terbuka kepada Yesus Kristus. Tidak bersalah, percaya, kemurnian hati, terpesona, rasa heran, yakin, keriangan, kebahagiaan, berpikiran sederhana – semua ini adalah beberapa sifat-sifat ajaib masa kanak-kanak yang Tuhan inginkan kita tunjukkan untuk sampai ke surga.

 

Perhatikan yang dikatakan Tuan, “barangsiapa tidak menyambut kerajaan Tuhan seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Markus 10:15). Jelas sekali Ia ingin kita percaya akan surga – menerimanya sebagai seorang anak kecil. Inilah kunci yang membuka pintu surga untuk kita semua yang ingin masuk.

 

Walau bagaimanapun, karena begitu banyak hal yang menghalangi kita sementara kita menjadi dewasa, kita cepat kehilangan ketidakbersalahan kita, iman, percaya, dan kemurnian. Semua ini dipulihkan apabila kita datang, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Suatu transformasi yang indah: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).

 

Tuhan adalah Bapa kita; kita adalah anak-anak-Nya. Ia mau kita menjadi anak-anak yang mempercayai, mencintai, dan mematuhi Bapa mereka. Yesus berkata, “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku .. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:33,35).

 

Tuhan ingin semua anak-anak-Nya bersama dengan Dia di surga untuk selama-lamanya. Untuk sampai ke sana – untuk hidup di bagian atas gunung tertinggi surga – kita perlu menjadi seperti kanak-kanak. Perubahan kekristenan yang sungguh-sungguh adalah bahwa orang dewasa menjadi seperti kanak-kanak – berjalan penuh takjub, percaya, patuh dan kasih.

 

Yesus membuatnya sangat jelas bagi saya, bahwa inilah yang Ia kehendaki dari kita semuanya – untuk memiliki iman seperti seorang anak kecil. Ia mau kita hidup sesuai dengan Firman-Nya, untuk percaya kepada-Nya sepenuhnya dan menanti dengan harapan akan surga yang nyata. Mereka yang tidak mau, Ia menegaskan kepada saya beberapa kali, akan berada di batas surga tetapi tidak akan pernah dapat masuk sukacita Tuhan.

 

SEBUAH RUMAH BAGUS DAN MOBIL

 

Dari pukul 06.17 pagi sampai pukul 08.14 pagi 6 Mei 1996, saya bersama Tuhan. Badan saya bergoncang selama dua puluh menit, dan saya berkeringat di bawah urapan yang sangat melimpah. Keluhan-keluhan dari kedalaman roh saya mencurah keluar. Lalu saya merasakan kehadiran Tuhan di dalam kamar.

 

“Mari, puteri-Ku Choo Nam, Aku harus membawamu ke pantai,” Ia berkata.

 

Saya melihat tangan-Nya menggapai saya. Selanjutnya hal yang saya lihat adalah badan transformasi saya sedang berjalan dengan Tuhan sepanjang pantai. Alangkah gembiranya saya waktu itu. Saya tersenyum kepada Tuhan seperti seorang anak kecil yang sedang menikmati saat-saat istimewa bersama orangtuanya. Seluruh badan saya merasa girang, dan saya tahu, bahwa Tuhan juga gembira.

 

“Tuhan, aku rindu pada-Mu. Aku sungguh mencintai-Mu.”

 

“Aku mengasihimu, puteri dan itulah sebabnya Aku membawamu kemari.”

 

Kami pergi ke batu biasanya yang menjadi tempat istirahat kami dalam perjalanan-perjalanan ke pantai. Saya selalu duduk di sebelah kiri-Nya dan kalu tidak memegang tangan-Nya maka saya meletakkan tangan saya di bawah lengan-Nya.

Saya menyanyi dengan sukacita sebentar sebelum Tuhan berkata kepadaku:

“Puteri-Ku, Aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Aku ingin engkau bahagia.”

 

Suara – penglihatan keluar dari roh saya. Seakan-akan menguasai saya untuk waktu yang lama.

 

Penglihatan muncul, dan saya melihat sebuah sungai yang sangat besar yang luar biasa lebarnya. Banyak rumah-rumah terletak berdekatan dengan sungai itu, tetapi mereka didirikan tinggi di atas air, pada batu-batu yang sangat besar.

 

Perhatian saya tertarik kepada sebuah rumah yang khusus – berbingkai putih, rumah bertingkat dua dengan pagar putih pekat sekelilingnya. Tidak ada rumput di depan rumah, dan, bukannya halaman rumput, tetapi tanahnya disusun dalam bentuk sebuah kebun batu yang sangat indah. Bunga-bunga dan pohon-pohon tumbuh subur di sekitar rumah itu.

 

Pintu masuk ke pekarangannya adalah sebuah gerbang yang sangat besar. Sebuah mobil merah yang cerah dan mengkilap di parkir di sebelah kiri garasi. Mobil itu sangat mewah. Bagian depan rumah ada beberapa anak tangga menuju pintu berganda yang cantik.

 

Penglihatan terus berlangsung. Di dalam rumah ada permadani berwarna putih susu, perabot rumah yang bagus buatannya didandan dengan susunan warna-warna. Ruangan tamunya sangat luas, dan sebuah kamar tidur utama berada di ruangan bawah, berdekatan. Kamar tidurnya besar sekali – mempunyai tempat tidur berukuran raja dan tempat berhias berwarna ceri, meja-meja dan lemari-lemari pakaian. Penutup tempat tidurnya berwarna emas dan cocok dengan gordennya.

 

Saya sempat melihat ke dalam dapur di mana saya melihat lemari kaca terbuat dari kayu ceri. Di tengah-tengah dapur ada sebuah tempat memanggang, dan peralatan modern ada di mana-mana.

 

Di luar dapur ada sebuah teras halaman belakang dengan deretan pohon-pohonan yang membuat pagar yang menarik. Sungguh-sungguh merupakan sebuah rumah kediaman, dan saya berpikir: Begitu cantiknya rumah ini, tetapi mengapa Tuhan menunjukkannya kepadaku? Kami telah mempunyai sebuah mobil dan rumah yang bagus yang Tuhan telah sediakan untuk kami. Saya tidak begitu tertarik akan hal-halyang bersifat material lagi.

 

Penglihatan buyar dan Tuhan berkata kepada saya, “Sukakah engkau akan apa yang kau lihat?”

 

“Itu sangat cantik, Tuhan.”

 

“Ia akan menjadi milikmu.”

 

Saya menangis. Semuanya begitu menakjubkan. Ini adalah kasih karunia yang melebihi semua pengharapan – kasih karunia yang tidak sepatutnya kuterima. Saya terus bertanya sendiri, “Mengapa saya?” Orang sering bertanya pertanyaan ini sewaktu peristiwa buruk terjadi pada mereka, tetapi saya menanyakannya sebab berkat-berkatnya – bahwa Tuhan sudah menghujani saya dengan berkat-berkat yang melimpah.

 

Sungguh berkat-berkat ini melebihi daripada yang dapat kutampung. Sepertinya nubuatan Maleakhi menjadi kenyataan di dalam hidupku – di sini dan sekarang, di bumi ini:

 

“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku,” firman TUHAN semesta alam, “apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai kelimpahan.”

 

Maleakhi 3:10

 

Sudah lama Roger dan saya memberikan persepuluhan dari pendapatan kami dan memberikan persembahan-persembahan untuk berbagai pelayanan. Kalau saya bisa, saya akan membantu pelayanan, tetapi saya tidak pernah menduga hasilnya seperti itu akibat dari ketaatan kami. Tuhan sungguh menakjubkan. Sungguh, saya tidak dapat menampung berkat-berkat-Nya yang dicurahkan ke atas kami. Ia telah membuka tingkap-tingkap surga, dan Ia sedang menyiapkan lebih dari itu untuk kita!

 

“Tetapi, Tuhan,” saya berkata, “aku tidak memerlukan apa-apa. Aku telah mempunyai segala yang aku inginkan.”

 

“Jangan menangis, puteri-Ku,” Ia menasihati.

 

Selalunya seperti menyusahkan Tuhan jikalau saya menangis. Saya yakin itu adalah karena Ia ingin saya menjadi gembira. Namun, saya menangis lebih keras sebab penglihatan ini sebenarnya membingungkan saya. Saya berpikir apakah ini berarti Ia tidak akan kembali untuk anak-anak-Nya secepat yang saya harapkan. Jika Ia akan segera datang untuk kita, mengapa Ia ingin memberi saya sebuah rumah yang begitu besar dan mobil yang mahal?

 

Seperti biasa, Ia tahu pikiran saya.

 

“Puteri, apakah engkau kuatir Aku tidak akan segera datang – sebab Aku memberi engkau rumah dan mobil ini?”

 

Pertanyaan-Nya menggugah emosi saya yang terdalam, dan saya mulai menangis lebih keras. Tuhan mengangkat wajah saya dan menghapus air mata saya. Kemudian, dengan nada yang sangat menenangkan, Ia berkata, “Puteri-Ku sayang, Aku akan datang seperti yang telah Kujanjikan, tetapi sebelum itu Aku ingin engkau memiliki yang terbaik.”

 

“Tuhan, Engkau telah memberiku sebuah rumah dan mobil yang bagus. Saya tidak perlu atau ingin apapun lagi. Satu-satunya hal yang saya inginkan adalah untuk menyenangkan hati-Mu dan melayani orang lain sampai Engkau kembali untuk kami.

Engkau berkata jikalau kami mengasihi-Mu kami harus baik terhadap orang lain. Itulah sebabnya saya ingin membawa sebanyak dan sedapat mungkin orang kepada-Mu, sebab saya tahu itulah yang Engkau kehendaki.”

 

“Aku tidak mau engkau kuatir tentang apapun lagi. Engkau hanya ingin menyenangkan-Ku, dan engkau tidak mengharapkan apa-apa. Itulah sebabnya Aku mau memberimu lebih daripada yang telah engkau miliki sekarang. Jangan berkata apa-apa lagi; bergembiralah.”

 

Kata-kata-Nya menghibur saya dan memenuhi saya dengan sukacita dan pengharapan. Ia akan segera kembali, dan saya tidak perlu kuatir tentang apapun. Pikiran saya tertarik kepada sebuah ayat yang telah saya dengar di gereja; pengkhotbah berkata bahwa orang percaya yang benar akan menjadi kepala, dan bukan ekor (lihat Ulangan 28:13). Inilah berkat yang datang kepada semua orang yang melayani Tuhan “dengan sukacita dan kegembiraan, kelimpahan atas segala sesuatu” (lihat Ulangan 28:8).

 

Tuhan berkata, “Kita harus kembali sekarang,” kemudian Ia berdiri. Kami berjalan kembali ke tempat di mana kami biasa mulai dan mengakhiri kunjungan-kunjungan kami ke pantai. Selagi kami berjalan, Tuhan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia mengangkat saya dan membuat saya berputar sama seperti seorang ayah yang kadang-kadang melakukannya kepada anaknya yang masih kecil. Saya mulai tertawa keras sekali, dan saya nampak badan duniawi saya hampir terangkat dari tempat tidur. Kuasa Tuhan sangat kuat atas saya.

 

Saat-saat yang sungguh indah dengan sukacita yang tak terlukiskan dan yang menyebabkan saya mengerti sepenuhnya ayat yang mengatakan:

 

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. (1 Petrus 1:7-9)

 

Sukacita yang tidak terkatakan dan penuh kemuliaan! Iman saya telah diperkuat oleh pengungkapan pribadi Yesus Kristus. Saya sangat mengasihi-Nya. Bahkan saya telah melihat Dia! Sungguh mulia, dan saya terus menikmati sukacita yang tidak terkatakan yang penuh kemuliaan.

 

TERBANG SEPERTI BURUNG

 

Suatu peristiwa yang ajaib akan segera terjadi. Meskipun Alkitab tidak pernah memakai kata pengangkatan, rasul Paulus menggambarkan peristiwa hebat di mana Tuhan Yesus akan datang kembali dari surga dengan orang-orang kudus-Nya untuk “mengangkat” gereja-Nya. Peristiwa ini akan menjadi pengalaman terakhir bagi mereka yang mengenal Yesus.

 

Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. (1 Tesalonika 4:15-18)

 

Tetapi mereka yang tidak mengenal Tuhan akan menghadap di depan kursi pengadilan Kristus di mana mereka akan mendengar keputusan hukuman yang layak karena kurang percaya mereka – “sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Bagaimanapun juga, bagi mereka yang mengenal Yesus, akan menerima kasih karunia Tuhan dengan cuma-cuma – “karunia Tuhan ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23).

 

Kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya adalah pokok kunjungan saya selanjutnya bersama Tuhan, yang terjadi pada 13 Mei 1996. Saya bersama-Nya dari pukul 06.20 pagi sampai pukul 09:pagi. Saya terbangun pukul 06.20, bergoncang kuat sekali. Badan saya bergoncang lebih dari setengah jam, kemudian urapan yang membara dan keluhan-keluhan mulai terjadi. Tuhan menghampiri saya dan berkata, “Puteri-Ku,

Aku Tuhanmu. Aku harus berbicara denganmu dan menunjukkan sesuatu kepadamu.”

 

Kali ini, sambil berjalan dengan Tuhan di dalam badan transformasi saya, saya tersenyum kepada-Nya dan berkata, “Aku mengasihi-Mu, Tuhan.”

 

Saya tahu Ia sedang tersenyum kepadaku, walaupun saya tidak dapat melihat wajah-Nya dengan jelas. “Aku mengasihimu, puteri-Ku sayang,” Ia membalas.

 

Kami duduk di atas batu dan Tuhan berkata, “Aku melihat suamimu mengambil waktu libur dari pekerjaannya untuk dapat membantu membuat buku itu. Kalian berdua bekerja dengan sangat baik.”

 

“Puteri-Ku, Aku harus memberitahumu ini. Aku tahu Aku memberitahumu untuk menuliskan persis seperti apa yang Kuperlihatkan dan beritahukan kepadamu. Aku melihat bahwa engkau tidak menjelaskan dengan lengkap apa yang Kuperlihatkan kepadamu.”

 

“Tuhan, maafkan aku. Aku akan mengulanginya lagi.”

 

Tuhan telah memberitahu saya berulang kali untuk menuliskan segalanya setelah kunjungan-kunjungan-Nya, walau bagaimana lelahnya saya. Kadang-kadang, pikiran saya buntu, tetapi begitu saya mengambil pena dan kertas, kata-kata mengalir dengan cepat melalui pikiran saya. Saya tahu bahwa itu adalah kerja Roh Kudus yang membimbing saya. Itulah tepat yang sedang Ia kerjakan dengan saya, dan sekarang saya tahu Ia akan mencari penulis yang lain yang akan membantu saya melahirkan pengajaran yang Ia inginkan untuk mendampingi pengalaman-pengalaman saya.

 

Beberapa, saya tahu, akan merasa susah untuk mengerti bagaimana seseorang itu dapat memiliki pengalaman-pengalaman di mana sayalah yang mendapat hak istimewa untuk menikmatinya. Mereka akan berkata, “Yidak ada di dalam Alkitab!”

 

Kenyataannya, bagaimanapun, bahwa kebanyakan hal-hal yang ditunjukkan Tuhan kepada saya tercatat dalam Alkitab. Saya yakin Ia hanya menginginkan buku ini untuk menegaskan lagi kebenaran-kebenaran Firman tentang surga kepada orang-orang percaya di manapun juga.

 

Ia telah memilih saya sebagai alat, dan buku ini sebagai sarana untuk mengulangi kebenaran-kebenaran Firman kepada gereja-Nya. Saya juga yakin Tuhan kita ingin orang-orangNya mengetahui ada banyak hal yang indah-indah tentang surga yang tidak dicatat di dalam Alkitab.

 

Ia meneruskan, “Jangan lupa bagaimana berharganya engkau untuk-Ku, puteri-Ku. Hanya dengan cara ini Aku dapat memakai engkau. Akau akan datang untuk anak-anak-Ku lebih cepat dari yang disangka oleh kebanyakan orang.”

 

“Apakah semua orang percaya akan tinggal di rumah-rumah seperti yang ada namaku di pintunya, kapan mereka sampai ke surga?”

 

“Aku akan membawa banyak anak-anak-Ku ke kerajaan, tetapi tidak setiap orang akan tinggal di rumah seperti yang ada namamu di pintunya. Rumah-rumah ini untuk anak-anak-Ku yang sangat istimewa.”

 

“Apakah semua orang percaya akan pergi bersama-Mu, ketika Engkau datang kepada kami?”

 

“Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu,” Tuhan langsung menjawab. “Aku mau engkau mengingat segala yang engkau lihat. Aku ingin seluruh dunia tahu apa yang akan segera terjadi. Aku tahu banyak orang Kristen tidak percaya apa yang dikatakan oleh nabi-nabi-Ku. Itulah sebabnya Aku menunjukkan engkau ini.”

 

Suara yang menyertai penglihatan saya keluar seperti biasanya dalam persiapan untuk suatu penglihatan yang ajaib dari Tuhan. Seolah-olah itu adalah cara yang digunakan-Nya untuk menyiapkan saya untuk hal-hal yang ingin diperlihatkan-Nya kepada saya. Kali ini suara itu berlangsung lama. Sesudah lebih dari setengah jam menyanyi di dalam Roh dengan suara yang menyertai penglihatan saya, saya mulai melihat hal-hal yang Tuhan ingin tunjukkan kepada saya.

 

Bagian pertama dari penglihatan itu lebih menyerupai suatu kesan daripada suatu pengalaman visual. Kelihatan seakan-akan seluruh dunia bergairah. Keadaan bumi sangat ramai dan sibuk. Kemudian saya mulai melihat apa sebenarnya semua kesibukan itu.

 

Udara dipenuhi dengan benda-benda putih yang bergerak. Waktu penglihatan menjadi jelas, saya melihat orang-orang memakai jubah putih terbang di seluruh udara. Orang-orang bermunculan dari mana-mana di bumi dan terbang ke udara. Langit hampir dipenuhi dengan orang-orang yang terbang, seperti burung-burung sedang berpindah tempat.

 

Sungguh luar biasa sungguh mengejutkan. Pada saat ini saya menyanyi dengan kuat, dan tangan-tangan saya bergerak kian kemari seperti kepalan tangan mengayun pada sebuah karung pasir untuk ditinju. Saya belum pernah merasa begitu bergairah seperti ini selama hidup saya. Badan saya meloncat ke atas dan ke bawah disebabkan oleh urapan dan goncangan. Saya merasa seperti saya sedang terbang dengan orang-orang yang berjubah putih yang saya lihat. Gerakan-gerakan bergairah badanku dan suara yang menyertai penglihatan saya sungguh keras sehingga saya yakin seluruh rumah dapat mendengar saya.

 

Saya telah mendengar pengangkatan digambarkan sebelumnya, tetapi saya tidak pernah membayangkan akan menjadi suatu pertunjukan yang menakjubkan. Saya ingin tahu apa yang akan dipikirkan oleh mereka yang tidak mengenal Yesus, ketika mereka melihat adegan seperti ini. Saya sendiri sangat terkejut dan bergairah, tetapi saya yakin mereka akan ketakutan.

 

Ini adalah kejutan yang terbesar yang pernah ditunjukkan Tuhan kepada saya. Ini adalah peristiwa yang paling mempesonakan yang pernah saya lihat –

manusia-manusia terbang di udara seperti burung-burung. Mereka membubung ke atas dengan kecepatan sebuah roket. Ada yang seakan-akan sedang membumbung seperti layang-layang – menembus angin pada hari yang cerah dan indah.

 

Saya melihat cucu perempuan saya yang berusia setahun. Ia memakai jubah putih, dan rambutnya telah bertumbuh sampai ke bahu. Ia kelihatan sudah remaja. Mulanya saya melihat dia di rumahnya berpakaian biasa. Kemudian tiba-tiba ia sedang memakai sebuah jubah putih dan terbang di udara. Saya ternganga oleh penglihatan itu. Kelihatannya seperti menguatkan kenyataan bahwa Tuhan akan kembali dengan cepat.

 

Kemudian saya melihat cucu perempuan saya dari anak perempuan saya yang berusia sepuluh bulan. Ia tidak mempunyai banyak rambut sekarang ini, tetapi di dalam penglihatan rambutnya jatuh sampai ke bahunya, dan seperti cucu perempuan saya lainnya, ia sedang terbang di udara.

 

Saya mulai menangis dan menjerit. Bunyi keras di tempat tidur tentu mengherankan sekali. Untung Roger sedang bekerja, kalau tidak tentu ia ketakutan sekali dan kuatir oleh bunyi seperti itu.

 

Pertama, saya tidak tahu apakah tangisan saya berasal dari sukacita atau kesedihan. Cucu perempuan saya yang terkecil pun kelihatannya telah tumbuh jadi remaja. Saya merasa Tuhan mempunyai alasan yang baik untuk memperlihatkan anak-anak kepada saya. Ia ingin saya tahu bahwa mereka akan bersama saya di surga untuk menikmati selama-lamanya bersama Yesus. Kedua, saya tahu Ia menghendaki saya melihat berapa umur mereka jikalau Ia kembali nanti. Ia lebih cepat daripada sangkaan banyak orang.

 

Penglihatan yang penuh kegembiraan berubah. Saya melihat orang-orang yang tidak naik bersama-sama yang lainnya. Tempat-tempat di bumi dikacaukan-balaukan, beberapa telah berubah sama sekali. Di mana-mana bising, dan orang-orang jelas sekali dalam keadaan panik. Ketakutan terlukis pada setiap muka.

 

Orang-orang berlarian simpang siur. Kekacauan total merajalela. Kelihatannya seperti setiap orang sedang mencari seseorang atau sesuatu yang tidak dapat mereka temukan. Saya mulai menangis seperti seorang anak kecil memandang orang-orang berlari-lari di jalanan. Mereka menjerit-jerit dan berteriak-teriak. Beberapa mencoba melempar sedikit barang-barang yang mereka miliki ke dalam kendaraan-kendaraan seperti mobil dan perahu. Beribu-ribu perahu ada di lautan. Manusia sedang mencoba untuk melarikan diri.

 

Banyak orang dengan pakaian seragam memecah rumah-rumah, merampok mereka dan mengambil harta milik yang mereka temui. Saya melihat satu keluarga yang terdiri dari empat atau lima orang tergeletak di atas lantai rumah. Kebanyakan mereka tertelungkup, dan satu genangan darah menutupi lantai. Beratus-ratus orang sedang melarikan diri dengan berjalan kaki ke gunung-gunung. Sedang mereka berjalan, pegawal-pengawal berseragam melepaskan tembakan ke arah mereka, dan beberapa jatuh. Mereka yang paling dekat dengan pengawal-pengawal itu dipukuli dengan pentung dan tongkat kayu.

 

Saya melihat orang-orang memusnahkan gereja-gereja. Seorang laki-laki melemparkan batu ke jendela kaca warna yang cantik yang memperlihatkan Yesus dengan domba-domba-Nya. Jendela itu hancur dan kacanya pecah bertebaran di mana-mana. Saya menjerit lebih keras lagi.

 

Seorang wanita yang kelihatannya sedang mencari anak yang hilang, berlarian di seluruh rumah, berteriak dalam kepanikan dan ketakutan. Ia terus memanggil nama anaknya sambil naik turun dalam frustasi total dan keputusasaan. Saya ingin menolongnya, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa.

 

Saya menangis dan terus menangis untuk dia dan untuk semua yang lain.

 

Kemudian saya melihat sebuah keluarga yang saya sendiri kenal. Sang ayah berlari masuk ke dalam rumahnya, dan terburu-buru dari kamar ke kamar, memanggil nama-nama isteri dan anak-anaknya. Ia menemukan seorang anggota keluarganya dan mereka duduk berdempet di pojok sebuah kamar. Mereka saling berpegangan erat dan menangis. Saya tahu siapa mereka, tetapi saya tidak boleh menyebut nama mereka di dalam buku ini.

 

Penglihatan itu berangsur-angsur hilang, dan saya terus menangis. Tuhan menghapus air mata saya.

 

“Puteri,” Ia berkata, “Aku harus memperlihatkan kejadian-kejadian ini supaya engkau dapat memberitahu seluruh dunia apa yang akan terjadi. Aku mengasihi semua anak-anak-Ku, dan Aku ingin mereka menyadari, bahwa Aku akan segera datang untuk mereka, tetapi Aku tidak dapat membawa mereka yang tidak hidup menurut firman-Ku, sebab mereka tidak bersedia untuk Aku.”

 

“Banyak orang Kristen akan terperanjat waktu Akhir Zaman tiba. Apa yang baru engkau lihat hanya sebagian kecil daripada apa yang akan cepat sekali terjadi. Itu akan sungguh-sungguh lebih buruk daripada yang dapat engkau bayangkan – untuk mereka yang tidak mengenal Aku. Sebab itulah Aku ingin semua anak-anak-Ku dapat datang bersamaKu ke kerajaan-Ku.”

 

“Puteri, Aku telah menunjukkan bagian dari kerajaan dan hal-hal yang akan terjadi di dunia ini sebab waktunya sudah singkat. Aku akan kembali segera. Karena itulah buku ini sangat penting sekali bagi-Ku. Ini adalah untuk anak-anak-Ku. Engkau telah melihat apa yang akan terjadi di dunia dalam waktu yang sangat dekat.”

 

“Aku siap untuk anak-anak-Ku, tetapi sangat banyak dari anak-anak-Ku tidak sungguh-sungguh percaya dan mereka hidup untuk hal-hal duniawi. Aku mengasihi mereka semua dan mau membawa mereka semua ke surga bersama-Ku, tetapi Aku tidak dapat membawa mereka yang tidak siap untuk Aku. Mereka yang datang ke kerajaan-Ku harus berhati suci dan taat.”

 

Hatiku merasa sangat kasihan kepada mereka yang tidak mengenal Tuhan, dan saya mulai berdoa untuk keselamatan mereka. saya menyebut setiap nama yang saya kenal, dan saya memohon kepada Tuhan untuk campur tangan di dalam kehidupan mereka, untuk mendapatkan perhatian mereka. Kemudian saya berdoa bagi orang-orang Kristen yang tidak hidup untuk Yesus. Saya meminta-Nya untuk meraih mereka kembali kepada-Nya.

 

Saya memutuskan saya akan menyelesaikan buku ini secepat mungkin, dan saya berjanji kepada Tuhan saya akan pergi ke mana saja Ia mengutus saya. Saya merasa mendapat kehormatan sekali untuk menjadi pelayan Akhir Zaman bekerja di lading tuaian Tuhan. Saya ingat sebuah ayat dari Alkitab yang menunjukkan persis apa yang Yesus rasakan saat ini:

 

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:36-38.)

 

Surga itu sungguh ada! Paulus menggambarkannya dengan cara ini: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Tuhan untuk mereka yang mengasihi Dia.” Cara kita menunjukkan cinta kita kepada Tuhan adalah melalui ketaatan seperti kata Yesus: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

 

BAB16 KASIH TUHAN YANG BESAR

 

Di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna didalam kasih. Kita mengasihi, karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita.

1 YOHANES 4: 18-19

 

Pengalaman-pengalaman saya di surga, dengan Tuhan, menolong saya untuk mengerti apa yang dimaksudkan-Nya. Tuhan adalah kasih, dan surga adalah sebuah tempat di mana kasih adalah lingkungan-Nya – yaitu cahaya dan kehidupan surga.

 

Peristiwa-peristiwa yang mendahului pengangkatan gereja, walau bagaimanapun, akan mengerikan dan menakutkan. Meskipun Tuhan telah menghapuskan ingatan tentang melihat ibu saya di neraka, saya masih mempunyai ingatan yang samar-samar mengenai dia di sana dan saya merasa pilu sekali di dalam hati saya mengenai nasib yang kekal dari orangtua saya.

 

Sesudah saya menjadi seorang Kristen, saya berdoa berkali-kali bagi orangtua saya. Saya memohon dengan sangat kepada Tuhan, minta agar Dia tidak membuang mereka ke neraka, dan saya mengingatkan Dia bagaimana baiknya mereka. Saya menangis dan berdoa sangat banyak kali untuk mereka sehingga saya merasa agak yakin, bahwa Tuhan tidak akan memasukkan mereka ke dalam lubang neraka. Malahan saya memohon Tuhan dengan sangat supaya saya dapat menyenangkan Dia seumur hidup saya untuk mengimbangi apa yang telah salah dilakukan oleh orangtua saya.

 

Ibuku memang seorang yang baik. Ia kelihatan sangat suci dan tidak bersalah dalam banyak hal. Saya selalu berpikir, bahwa ibu saya tidak pernah tahu yang tidak baik. Ia sakit hampir seumur hidupnya, dan ia meninggal ketika ia berusia empat puluh. Kerisauannya yang terakhir ketika ia hampir meninggal adalah memikirkan saya.

 

Ketika ibu saya meninggal, saya merasa saya ingin mati juga. Ia adalah semua kasih yang saya ketahui pada waktu itu. Sebenarnya saya benci akan ayah saya sebab saya tahu ia bersama perempuan-perempuan lain pada saat ibu saya sakit.

 

Meskipun adalah kebiasaan beberapa orang laki-laki di Timur untuk mencari perempuan lain apabila isteri mereka sakit, saya tetap kecewa sekali oleh kelakuan ayah saya. Saya tahu ia telah mengkhianati isterinya, dan saya ikut merasakan kesedihannya.

 

Saya membawa rasa benci kepada ayah saya untuk waktu yang lama, tetapi ketika saya menjadi seorang Kristen, saya dapat mengampuninya, sebab saya menyadari bahwa ia tidak mengenal Tuhan. Hanya kasih karunia Tuhan, saya harus mengingatkan diri saya, yang dapat melindungi kita semua dari dosa.

 

Saya sering ingin tahu apakah saya akan melihat ibu saya sesudah saya meninggal kelak. Pikiran ini seringkali muncul sesudah ia meninggal, sewaktu saya masih berusia empat belas tahun.

 

SURGA ADALAH KASIH

 

Tuhanlah yang menutup jurang antara kasih yang sepatutnya saya terima dari orantua saya dan kasih yang benar-benarlah yang saya terima. Bagiku, Dia adalah kasih sejati. Ia berkata kepadaku, “Puteri-Ku, engkau telah hidup bagiku lama sekali sekarang, dan engkau setia sekali kepada-Ku khususnya beberapa bulan terakhir ini. Ini harus dikerjakan segera. Engkau memerlukan istirahat.”

 

“Aku tidak akan gembira dengan apa yang ada di bumi ini, Tuhan, jikalau Engkau tidak berada di dalamnya.”

 

Sesudah ibu saya meninggal, saya merasa seperti tidak ada seorangpun yang sungguh-sungguh mencintai saya. Memang tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan kasih ibu saya yang diberikan kepada saya. Saya perlu dicintai, tetapi untuk waktu yang lama sekali seakan-akan tidak ada cinta dalam dunia saya. Setelah saya menikah dan mempunyai anak, saya betul-betul menikmati kasih keluarga kami bersama, tetapi sebesar apapun kasih mereka kepada saya, kasih yang saya terima dari ibu saya masih hilang. Rasanya seperti ada ruangan kosong di dalam saya yang perlu diisi.

 

Kekosongan itu diisi oleh kasih Tuhan yang dahsyat. Setelah saya memberikan hati saya kepada Yesus, saya merasa sangat aman di dalam kasih-Nya dan mudah bagi saya untuk mempercayai kasih-Nya. Saya mengerti kebenaran nyanyian pujian yang berbunyi. “Tidak seorangpun yang dapat pedulikan saya seperti Yesus – tiada seorangpun yang dapat pedulikan saya seperti Dia.”

 

Jikalau saya terjatuh dan terluka pada waktu masih kecil, ibu saya akan menggendong saya, menyayangi saya, dan merawat luka saya. Dengan cara yang sama, ketika saya tersandung pada waktu masih baru menjadi orang Kristen, Yesus akan mengangkat saya dan membawa kesembuhan pada semua kesakitan saya.

 

Alkitab menggambarkan urapan yang diterima oleh Yesus: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

 

Yesus telah membawa kabar baik bagi saya. Ia menyembuhkan patah hati saya. Ia membebaskan saya dari ketakutan, pandangan akan diri saya sendiri yang negatif, rasa tidak aman yang menguasai saya. Ia telah membuka mata rohani saya, dan Ia telah melepaskan setiap belenggu saya. Sekarang Ia menyatakan ‘tahun rahmat Tuhan telah datang’ atas saya. ‘Tahun rahmat’ itu sudah di balik sudut jalan.

 

Meskupun pada waktu oang mencoba menjatuhkan saya atau memfitnah saya, saya merasa aman di dalam kasih Yesus. Ia adalah tempat keselamatan saya, menara pengungsian bagi saya, Batu perlindunganku. Jikalau seseorang melukai hati saya, dengan sengaja atau tidak sengaja, saya dapat pergi kepada Tuhan dalam doa, dan kedamaian serta ketenteraman-Nya kembali kepada saya. Saya tahu, bahwa Tuhan mengasihi saya. Ia tidak akan pernah mengecewakan atau meninggalkan saya.

 

Saya suka sekali merenungkan janji-janji firman Tuhan. Salah satu kesukaan saya ditemukan dalam Mazmur: “Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita: Tuhan adalah keselamatan kita” (Mazmur 68:20). Cinta-Nya bagi kita adalah untuk selama-lamanya: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu kepadamu” (Yeremia 31:3).

 

Saya tahu bahwa tidak ada suatupun yang dapat memisahkan aku dari cinta Tuhan dan Raja-ku yang mengagumkan. “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang diatas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39).

 

Ketenteraman sempurna-Nya selalu bersama saya. “Yang hatinya teguh Kau jagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yesaya 26:3). Firman-Nya adalah peti harta karun yang dipenuhi oleh karunia-karunia berharga ini akan menjadi porsi makanan sehari-hari kita di surga.

 

Perhatikan apa yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Efesus:

 

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-NYa. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semua oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. (Efesus 1:3-6)

 

Allah telah memberkati kita dengan setiap berkat rohani di dalam Kristus. Malahan di dalam kehidupan ini kita dapat menikmati “tempat-tempat surgawi di dalam Kristus.” Nyatanya, Paulus menambahkan di bab selanjutnya dalam suratnya kepada jemaat di Efesus :

 

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama Dia di sorga. (Efesus : 2:4-6) Kita telah dibangkitkan secara rohani, untuk duduk bersama-sama ditempat-tempat surgawi bersama-sama Yesus Kristus. Jikalau tubuh Kristus benar-benar mengerti kenyataan ini, segalanya akan berubah. Dunia mengatakan, “Melihat dulu baru percaya,” tetapi orang percaya mengatakan, “Percaya dulu baru melihat.” Kenyataan yang benar adalah secara rohani, bukan sementara saja. Kebanyakan orang berpikir satu-satunya kenyataan ditentukan oleh apa yang dapat kita lihat, dengar, kecap, endus, dan rasakan. Tetapi kenyataan yang terakhir adalah dunia rohani.

 

Ada empat macam kasih agape (kasih Tuhan), storge (kasih keluarga), phileo (kasih persaudaraan) dan eros (kasih seksual).

 

Sayangnya, dunia mencari eros dahulu dan sedikit yang menemukan kasih agape. Sistem dunia berkerja terbalik dalam keutamaannya daripada sistem Tuhan. Tuhan menciptakan kita menurut gambar-Nya – Ia adalah Tritunggal (Bapa, Putera dan Roh Kudus) – dan kita terdiri dari tiga bagian juga (badan, jiwa dan roh).

 

Kata Yunani pneuma adalah kata yang telah diterjemahkan “roh,” dan ini adalah sungguh bagian kita – inilah napas kehidupan, jantungnya hati, tempat dimana Roh Tuhan mencari tempat tinggal. Kata Yunani untuk jiwa adalah psuche, dan ini adalah bagian kita tempat di mana kecerdasan kita, emosi, dan kehendak tinggal. Di sinilah banyak masalah kita timbul.

 

Akhirnya, kata soma bagian jasmani kita – organ-organ dan sistem tubuh kita. Kembali di sini, dunia telah membalikkan susunannya. Sedangkan Tuhan ingin kita meletakkan roh kita dahulu, terlalu banyak orang memberikan perhatian pertama kepada tubuh mereka dahulu, perasaan mereka yang kedua, dan jikalau ada ruangan yang tersisa, baru roh mereka. Kita lupa, bahwa kita ini lebih daripada manusia yang sedang melakukan perjalanan rohani; tetapi nyatanya kita adalah makhluk-makhluk rohani dalam perjalanan manusiawi.

 

Tuhan telah memberkati kita dengan semua kerohanian, berkat surgawi di dalam Yesus Kristus, karena Ia mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Ketika saya mulai menyadari kebenaran-kebenaran ini, saya merasa saya ingin membuang setiap hal duniawi supaya hanya dapat menyenangkan Tuhan selama sisa hidup saya di dunia.

 

Sejak waktu itu saya telah mengutamakan Dia dahulu di dalam hidup saya, jauh dia tas orang atau hal yang lain. Inilah yang diharapkan-Nya dari kita semua.

firman-Nya menjanjikan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

 

Tuhan, di dalam kemurahan kasih-Nya yang besar, telah mengizinkan saya menemukan kerajaan-Nya dan ia menjaga semua keperluan saya. Sehingga saya dapat mentaati firman-Nya yang mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri” (Matius 6:34).

 

Kekuatiran, yang biasanya menjadi kawan tetap saya, telah digantikan oleh ketenteraman, kedamaian, keyakinan, dan kasih. Saya tidak peduli apa yang orang katakan mengenai saya, dan saya tidak takut apa yang akan terjadi pada saya.

Kegembiraan saya yang terbesar ditemukan dalam melayani dan menyenangkan Tuhan. Hanya dengan mengasihi Dia memberi saya kegembiraan yang luar biasa.

 

Ia mengasihi saya baik saya benar atau salah. Ia telah seringkali memberitahu saya, “Aku ingin engkau gembira, puteri-Ku.” Pada hari yang istimewa ini – 13 Mei 1996 – saya merasa gembira sekali dan tenteram walaupun sambil memperhatikan skenario cerita yang berkaitan dengan Akhir Zaman terungkap di depan mata rohani saya di dalam bentuk suatu penglihatan yang ajaib. Tuhan mengingatkan saya, “Ada banyak berkat istimewa datang kepadamu.”

 

Saya tak dapat membayangkan bagaimana mungkin ada berkat yang lebih banyak daripada yang telah saya alami. Saya tahu kebenaran Firman yang menyatakan, “Sebab kerajaan Tuhan bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17). Apalagi yang diinginkan? Berkat-berkat ini – dan sangat banyak lagi – sudah saya miliki, disini – dan – sekarang, dan saya tahu mereka akan terus kekal lagi di surga.

 

Tuhan berkata, “Aku tahu engkau lelah, puteri-Ku. Aku akan membawamu kembali sekarang.”

 

Pagi ini sangat membangkitkan semangatku. Aku telah bersama Tuhan selama dua setengah jam, kemudian aku berdoa untuk satu setengah jam lagi. Saya merasa seperti saya sudah berada di surga di mana kasih Tuhan adalah udara yang kita hirup.

 

MENGURUNG DIRI BERSAMA TUHAN

 

Sejak 19 Pebruari 1996, saya menghabiskan seluruh waktu bangun saya bersama Tuhan. Kehidupan sosial saya terbatas pada kebaktian ibadah dan belanja bahan makanan pokok untuk keluarga saya. Seluruh sisa waktu adalah untuk Tuhan. Famili yang mengunjungi kami hanyalah anggota keluarga kami sendiri. Tuhan telah menjelaskan kepada saya, bahwa beginilah caranya. Ia menghendaki saya menghabiskan waktu saya – memusatkan perhatian pada-Nya, firman-Nya, dan kehendak-Nya. Ia sedang menyiapkan saya untuk tahap pelayanan selanjutnya.

 

Meskipun kelihatannya seperti saya “mengurung diri,” kenyataannya adalah bahwa ‘doa lemari tertutup’ saya telah menjadi pintu masuk ke kerajaan surga. Alih-alih dikurung, saya telah diluncurkan ke dalam dimensi kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang pernah saya alami.

 

Seringkali, apabila orang menelpon dan membuat rencana untuk berkunjung, mereka akan menelpon kembali dan mengatakan ada sesuatu hal yang timbul yang mencegah mereka untuk datang berkunjung. Saya percaya ini terjadi karena Tuhan mau saya menghabiskan waktu ini sendiri bersama Dia supaya Ia dapat meneruskan pekerjaan persiapan-Nya di dalam hidup saya. Dari permulaan, Ia memberitahu saya untuk tidak pergi kemana-mana untuk sementara waktu, terutama keluar kota, sehingga buku ini diselesaikan. Sungguh, meskipun jikalau saya ingin pergi ke suatu

tempat, saya tidak dapat, sebab urapan sangat melimpah. Urapan Tuhan menyebabkan saya berlutut terus di hadirat-Nya.

 

Sebelum Hari Paskah 1995 saya telah merasa urapan-NYa, tetapi sejak waktu itu, badan saya mulai bergoncang setiap kali urapan atas kehadiran Tuhan datang di atas saya. Sejak bulan Januari 1996 urapan itu menjadi begitu kuat sehingga saya tidak dapat mengendalikan goncangan dan manifestasi jasmani lainnya.

 

Contohnya, mulai dengan menulis ini, saya bahkan tidak dapat masuk ke dalam ruangan di mana Roger bekerja dengan komputernya sebab kehadiran Roh Kudus sungguh kuat disitu. Roger sedang melakukan perbaikan-perbaikan dalam naskah untuk buku ini. Ia mengambil libur selama seminggu untuk maksud ini, dan saya sangat menghargai bantuannya.

 

Apabila saya pergi ke dekat ruangan komputer badan saya mulai melompat karena kegirangan. Ini adalah reaksi jasmani yang datangnya dari Tuhan, dan saya tidak mempunyai kuasa atasnya. Ini bukan sesuatu yang saya buat-buat sendiri. Sebenarnya, ini lebih menyerupai reaksi rohani daripada reaksi emosi.

 

Tuhan yang Mahakuasa, Bapa saya, dan Tuhan saya, telah menghabiskan begitu banyak waktu-Nya bersama saya, dan inilah suatu kehormatan dengan mengembalikan sedikit waktu kepada-Nya. Saya menikmati setiap saat daripada kerja saya untuk Dia. Tidak sukar bagi saya untuk melakukan kerja bagi Dia sebab saya mengasihi Dia lebih daripada hidup saya sendiri. Saya percaya kata-kata pemazmur: “Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup.” (Mazmur 63:3)

 

PRIHATIN ADALAH KUATIR

 

Sepanjang hidup saya, seperti yang telah saya sebutkan beberapa kali, saya cenderung untuk kuatir. Saya kira Saudara boleh menamakan saya seorang yang pesimis. Kemungkinan ini berasal dari hidup morat-marit yang saya alami sewaktu masa kecil saya. Apapun alasannya, bagaimanapun, saya sering bergelut dengan kekuatiran, ketakutan, dan kecemasan. Saya tahu ini bukan kehendak Tuhan bagi saya. Sesungguhnya, Tuhan telah memberitahu saya beberapa kali, “Jangan kuatir, puteri-Ku.”

 

Saya mulai melihat kekuatiran saya agak lain, menamakannya prihatin daripada kuatir. Entah bagaimana, mengatakan bahwa saya “prihatin” daripada “kuatir” membuatnya seakan-akan tidak apa-apa. Pada 20 Mei 1996 saya bersama Tuhan dari jam 05.40 pagi sehingga 07.50 pagi. Badan saya bergoncang dari jam 05.40 pagi sehingga 06.10 pagi, dan keluhan-keluhan rohani saya berlangsung selama setengah jam. Tuhan berjalan menghampiri saya dan berkata, “Puteri-Ku sayang, Choo Nam,

Aku harus berbicara denganmu.”

 

Tangan-Nya meraih saya, dan seketika itu juga saya melihat badan transformasi saya sedang berjalan dengan Dia di pantai. Ia kelihatan sangat gembira, dan saya sangat menikmati kehadiran-Nya. Ketika kami berjalan-jalan sepanjang pantai saya berkata, “Tuhan aku mengasihi-Mu dan rindu pada-Mu.”

 

Ia membalas tanpa ragu-ragu, “Aku mengasihimu, puteri-Ku.”

 

Kegembiraan waktu itu telah membuat saya mempercepat langkah saya, dan memang saya berjalan mendahului Dia. Ia mulai tertawa, begitu juga dengan saya. Kami mengambil tempat duduk kami seperti biasa.

 

“Aku melihat engkau mengerjakan buku-Ku tanpa henti-hentinya.”

 

“Ya, Tuhan. Roger sedang giat mengerjakannya. Bahasa Inggrisku tidak begitu bagus, jadi ia memperbaiki banyak ejaan yang salah dan masalah tata-bahasanya.”

 

“Aku tahu engkau berdua sedang bekerja keras.”

 

Saya tahu Tuhan mengetahui semua pikiran, perasaan dan tindakan saya. Saya tahu saya tidak dapat menyembunyikan apapun juga dari-Nya, dan saya tidak mau menutup apa saja. Ia tahu bahwa saya prihatin mengenai buku. Saya bertanya-tanya dalam hati bagaimana nanti hasilnya, siapa yang akan menulisnya dan siapa yang akan menerbitkannya.

 

Tuhan tahu semua ini, jadi Ia berkata, “Choo Nam, engkau kuatir tentang buku ini lagi meskipun Aku memberitahumu jangan kuatir.”

 

“Aku tidak kuatir, hanya prihatin,” saya menjawab sambil menundukkan kepala saya dengan malu.

 

Tuhan mengangkat wajah saya dan berkata, “Puteri, engkau malu.”

 

Saya mengakui kebenaran pengamatan-Nya dengan tersenyum yang berubah menjadi tertawa kecil. Ia mulai membalas dengan tertawa, lalu berkata, “Puteri, prihatin adalah kuatir. Mulai dari sekarang, Aku tidak mau engkau kuatir sama sekali. Ini adalah buku-Ku; Aku yang akan mengurusnya. Bukankah Aku telah berbuat demikian sampai saat ini?”

 

“Oh ya, Tuhan. Maafkan aku. Ampuniku karena tidak menurut perintah-Mu.”

 

Ia membalas dengan girang. Kelihatannya Ia sangat gembira akan kejujuran saya dan kerendahan hati saya.

 

Saya tahu ia telah mengampuni saya. Rasa damai sejahtera meliputi jiwa saya, dan saya merasa bebas dari rasa kuatir yang mulanya saya tolak sambil menipu diri sendiri dengan mengatakan itu hanya prihatin.

 

Hari ini saya belajar satu pelajaran dari Tuhan – Ia ingin kita jujur sepenuhnya dengan Dia, orang lain dan diri kita sendiri. Kita tidak dapat memakai cara pemikiran dunia untuk membenarkan, merasionalisasikan, atau menutupi dosa-dosa kita. Saya tahu, bahwa kuatir adalah dosa, dan saya mencoba dengan pura-pura, bahwa kuatir tidak ada.

 

Walaupun kelihatannya ini adalah sesuatu hal yang kecil untuk sebagian orang,

saya tahu ia sangat penting bagi Tuan saya. Ia tidak mau saya kuatir.

Sebetulnya, Ia mengundang kita semua: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30).

 

Cara manusia adalah dengan kuatir. Cara Tuhan adalah dengan percaya. “Tuhan menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu

ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:5-7). Mengapa kita memilih untuk kuatir jikalau Bapa kita berjanji banyak kali kepada kita?

 

Tuhan kelihatannya mau menghapuskan rasa kuatir saya dengan memperlihatkan lagi beberapa hal yang telah disediakan-Nya untuk saya. Ia berkata, “Aku ingin engkau melihat ini lagi.”

 

Suara – penglihatan keluar dan setelah waktu yang lama, pemandangan rumah yang telah ditunjukkan-Nya kepada saya dulu muncul kembali. Tuhan tidak menunjukkan tingkat atas kediaman yang terakhir kali ditunjukkan-Nya kepada saya, tetapi kali ini saya melihat empat kamar tamu dan satu kamar untuk berdoa pada lantai ke dua. Saya terutama sekali memperhatikan sebuah gambar yang tergantung pada sebuah dinding kamar doa – ini adalah foto Tuhan sendiri. Meskipun saya tidak dapat melihat Dia dengan jelas, saya merasa ada sesuatu yang khususnya menarik perhatian dan indah mengenai potret-Nya.

 

Penglihatan membawa saya ke dalam setiap ruangan rumah itu – rumah yang dijanjikan untuk diberikan-Nya kepada saya dan keluarga saya. Tuhan bertanya,

“Sukakah engkau akan rumah ini?”

 

“Ya, terima kasih, Tuhan. Tetapi sebenarnya aku tidak memerlukan sebuah rumah lain. Apa yang kuingin lakukan adalah menyenangkan hati-Mu, melakukan pekerjaan-Mu, dan melihat keluargaku menjadi lebih beriman pada-Mu.”

 

“Semua hal yang Engkau perlihatkan kepadaku sangat cantik, tetapi mereka adalah barang-barang duniawi, dan itu semua tidak menarik hatiku lagi. Perasaan Roger juga sama, Tuhan.”

 

“Puteri-Ku, biarlah Aku menentukan apa yang engkau inginkan dan perlukan. Aku mengasihi hatimu berdua. Kita harus pergi sekarang.”

 

Sesudah sembilan kali yang pertama kami mengunjungi surga, Tuhan memberitahu saya Ia tidak akan membangunkan saya lagi, dan Ia memenuhi janji-Nya. Saya bangun beberapa menit sebelum atau sesudah pukul 06 – setelah saya tidur semalam penuh.

 

Waktu yang sungguh-sungguh kudus dan bahagia. Tidak ada kekuatiran atau prihatin. Tuhan memeluk saya, lalu berkata, “Aku akan bercakap-cakap denganmu nanti.” Saya merasa lebih santai sepenuhnya daripada sebelum ini.

 

SURGA ATAU NERAKA?

 

Sejak kunjungan bulan Mei itu saya telah berdoa bagi pembaca-pembaca yang akan datang dari buku ini. Saya berdoa untuk Saudara, pembaca yang terhormat. Saya ingin Tuhan menyiapkan hati Saudara untuk menerima kebenaran mengenai semua hal yang telah saya alami dan tulis. Surga itu sungguh ada, dan saya ingin Saudara lebih mempercayainya daripada yang mungkin pernah Saudara impikan. Inilah yan dikehendaki Tuhan bagi Saudara, sebab Ia mengasihi Saudara dengan kasih yang kekal.

 

Tuhan membawa saya ke surga pada banyak waktu yang berlainan sehingga saya dapat menceritakan kepada Saudara bagaimana indahnya bagi kita semua yang mengasihi Dia dan hidup bagi-Nya sepenuh mungkin. Ia dan saya berdua ingin Saudara dapat pergi ke rumah besar yang indah yang telah disediakan-Nya bagi Saudara. Hal-hal yang diperlihatkan dan diberitahukan-Nya kepada saya adalah benar. Mereka seluruhnya berhubungan dengan Alkitab. Meraka adalah kenyataan yang jauh melebihi pengalaman duniawi kita. Saya tahun mereka lebih nyata daripada hal-hal dunia ini, dan saya ingin Saudara mengetahui kenyataan ini.

 

Sebelum Tuhan memberkati saya dengan sangat banyaknya penglihatan-penglihatan tentang kebenaran surgawi, saya kadang-kadang mempunyai kesangsian tentang adanya surga, meskipun saya mengasihi-Nya dan mempercayai-Nya dengan sepenuh hati saya. Saya tidak mengerti sepenuhnya tentang surga, dan saya tahu banyak orang percaya yang seperti ini. Sekarang saya tahu itu semua benar. Ini sudah bukan soal kepercayaan bagi saya sekarang; inilah pengetahuan yang sebenarnya – jenis pengetahuan yang tidak dapat dirampas oleh siapapun. Pengetahuan yang murni.

 

Dulu biasanya saya takut mati dan prihatin akan banyak hal di dalam hidup saya setelah mati nanti; tetapi setelah pengalaman saya di surga, tidak ada sesuatu pun di dunia ini atau hidup saya yang berarti lagi. Saya tahu kemana saya akan pergi sesudah kehidupan ini berakhir. Saya akan bersama Yesus selamanya di Firdaus-Nya. Tiada kata-kata yang dapat menerangkan bagaimana sempurnanya surga itu. Apa yang dapat saya rasakan adalah ada kegembiraan yang sempurna.

 

Setelah perjalanan-perjalanan ke surga saya memohon kepada Tuhan agar membawa saya pulang, tetapi suara-Nya yang kecewa mengatakan, “Aku tidak menunjukkan kerajaan dan lubang neraka kepadamu untuk membawamu pulang sekarang. Aku memperlihatkan kepadamu semua itu supaya engkau menolong menyelamatkan orang-orang yang sesat dan memberitahu setiap orang apa yang perlu untuk masuk kerajaan surga.”

 

Sesudah Ia mengatakan ini, saya merasa malu karena begitu mementingkan diri sendiri, dan saya minta ampun. Sekarang satu-satunya hal yang dapat saya pikirkan adalah melayani Dia sampai hari terakhir. Tidak peduli apa caranya, saya akan menyenangkan-Nya..

 

Sebagai salah satu anak perempuan-Nya yang istimewa, mengapa Ia menyakiti hati saya dengan memakai Ibu saya di dalam buku ini sekiranya hal ini tidak penting bagi orang-orang-Nya untuk mengerti bahwa hanya dengan hidup baik saja tanpa mengenal siapa Yesus tidak akan menyelamatkan mereka. Seseorang berkata kepadaku. “Jika Ia mengasihimu, mengapa Ia sampai hati memakai ibumu untuk menyakiti hatimu sedemikian?” Saya sangat terperanjat oleh pertanyaan yang tidak beriman ini.

 

Walaupun ini adalah kenangan yang sangat memilukan bagiku melihat ibu saya dan yang lain di dalam lubang neraka, saya harus menerima kenyataan bahwa tiada apapun yang dapat membawa mereka keluar dari sana, jadi saya menerima kenyataan bahwa mereka akan berada di sana untuk selama-lamanya hanya karena mereka tidak mengenal Tuhan Yesus.

 

Tuhan saya mempunyai alasan yang sangat khusus dengan memakai ibu saya di dalam buku ini. Jikalau, melalui dia, walaupun hanya seorang ibu, yang lain dapat diselamatkan, saya merasa sangat terhormat.

 

Tidak peduli bagaimana mungkin susahnya nanti hidup saya, saya tidak akan pernah dapat marah kepada Tuhan. Jikalau ada sesiapa yang kukasihi mati untuk Tuhanku, saya akan sangat sukacita untuk meraka. Dengan demikian saya akan tahu pasti bahwa kehidupan kekal mereka akan mereka habiskan bersama Tuhan Yesus. Seperti Yesus berkata:

 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

 

Saya percaya bahwa kedatangan-Nya yang kedua sudah sangat dekat supaya orang-orang-Nya dapat mengetahui bagaimana besarnya Ia mengasihi mereka dan bahwa Ia mau gereja-Nya bersedia untuk Dia.

 

Tuhan mengasihi Saudara, dan ini adalah kebenaran yang terbesar di seluruh dunia. Itulah sebabnya Ia telah menyediakan kerajaan-Nya bagimu. Walaupun Ia mengasihi anak-anak-Nya, Ia marah terhadap mereka yang tidak percaya. Karena itulah Ia menugaskan saya untuk menulis buku ini. Ia telah banyak kali memberitahuku bahwa keselamatan jiwa-jiwa adalah sangat penting sekali bagi-Nya. Ia gelisah memikirkan beberapa anak-anak-Nya lebih memilih neraka untuk menjadi tempat kekal mereka daripada kemuliaan indah yang telah disediakan-Nya bagi mereka.

 

Akhirnya, surga adalah satu pilihan. Tuhan tidak mau siapapun berakhir di dalam lubang neraka. Jika Saudara percaya, Saudara akan mendapat hidup yang kekal dengan Tuhan:

 

“Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan: sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa

Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karana Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” (Roma 10:8-11)

 

Jikalau Saudara tidak percaya, Saudara akan menemukan diri Saudara di tempat siksaan di mana orangtua saya dan tak terhitung banyaknya orang lain yang harus menahan penderitaan selama-lamanya. Ini adalah pilihan pribadi. Ini cara Tuhan melawan cara setan. Ini kerajaan surga melawan kerajaan kegelapan. Ini hidup lawan mati. Ini surga lawan neraka. Yang mana akan menang dalam hidup Saudara? Pilihan ada di tangan Saudara.

 

Setiap kata di dalam buku ini adalah benar. Kata-kata Yesus telah ditafsirkan tepat seperti yang diucapkan-Nya kepada saya. Tuhan memilih saya untuk perkerjaan ini, dan saya telah berusaha sedapat mungkin untuk tepat dalam setiap kata dan pengalaman. Dengan pertolongan Tuhan, dan bantuan Roger dan penulis, saya telah berusaha untuk memberikan gambaran-gambaran yang tepat dari setiap pengalaman yang telah saya peroleh.

 

Akhirnya, walau bagaimana pun, saya sadar bahwa pilihan ada pada Saudara sendiri. Yang dapat saya lakukan hanya memberitahukan kepada Saudara. Sekarang setelah Saudara membaca halaman-halaman ini, Saudara bertanggung jawab atas kebenaran yang telah ditanamkan. Apa yang akan Saudara lakukan dengan kebenaran yang telah saya bagikan kepada Saudara?

 

Sebelum saya pergi ke surga, saya ingin menyelamatkan jiwa-jiwa untuk kerajaan, tetapi sekarang saya menyadari saya harus berusaha sedapat mungkin untuk menyelamatkan yang sedang binasa. Saya tidak akan pernah melupakan ingatan tentang tubuh-tubuh telanjang yang berlarian kian ke mari di dalam api dan menjerit-jerit dalam kesengsaraan mereka. Ia akan berakhir segera bagi kita semua, sedangkan itu sudah akan terlambat untuk membuat keputusan kita bagi Yesus dan surga.

 

Saya mempunyai hasrat yang membara untuk melihat yang sesat diselamatkan, untuk mencegah mereka daripada pergi ke tempat yang mengerikan yang telah diperlihatkan oleh Tuhan kepada saya. Hasrat terdalam saya adalah untuk setiap orang menemukan namanya pada sebuah pintu rumah di surga.

 

Kitab Wahyu menggambarkan dua jenis orang. Saya telah melihat hal-hal yang sama yang dilihat oleh Rasul Yohanes.

 

Yohanes menggambarkan nasib kekal dari jenis yang pertama, kumpulan yang nasibnya sial seperi berikut: “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa” (Wahyu 14:11). Kumpulan jenis yang kedua, sebaliknya, digambarkan seperti ini:

“Yang penting disini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah

Tuhan dan iman kepada Yesus. Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka” (Wahyu 14:12-13).

 

Apakah nama Saudara tertulis di dalam Buku Kehidupan Anak Domba?

 

 

 

PNS Meksiko Ditanami Chip

————————-

 

TAMU dan pegawai di kantor kehakiman, kejaksaan dan kepolisian Meksiko tidak bisa lagi seenaknya nyelonong ke setiap ruangan. Salah-salah sirene berbunyi dan ditangkap petugas keamanan.

 

Sejak November lalu, pemerintah Meksiko menggunakan teknologi canggih untuk mencegah penyusupan. Sebanyak 160 pegawainya, termasuk jaksa agung dan penyelidik federal, dipasangi alat pengenal berupa chip yang ditanam di lengan.

 

Penggunaan chip sebesar biji beras yang menggunakan teknologi RFID (radio frequency identification) pada manusia merupakan hal baru. Umumnya teknologi ini digunakan pada ternak dan barang-barang ritel.

 

Selain mencegah penyusupan, teknologi ini dapat memantau personel yang mengakses dokumen-dokumen penting.

Menurut Antonio Aceves, direktur Solusat, perusahaan yang mendistribusikan chip tersebut, jumlah pegawai yang diimplantasi akan bertambah dalam beberapa bulan ke depan. “Anggota penting di militer Meksiko, polisi dan pegawai dari kantor kepresidenan mungkin menjadi yang berikutnya,” Aceves memaparkan kepada AP.

 

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Meksiko untuk mengkonfirmasi pernyataan Aceves, namun Jaksa agung Rafael Macedo de la Concha terang-terangan mengakui adanya implantasi itu. “Hanya untuk akses, untuk keamanan,” ujar Rafael.

 

Chip yang ditanamkan merupakan produksi VeriChip, anak perusahaan Applied Digital Solution dari Amerika Serikat. Chip memiliki nomer identifikasi yang sulit ditiru.

 

Tidak seperti perangkat keamanan lain, chip yang digunakan Meksiko tidak dilengkapi dengan teknologi penyandian (enkripsi). Keamanan chip ini mengandalkan kemampuannya pemindai khusus yang juga keluaran VeriChip.

 

Chip juga tidak mudah dicabut. Ini disebabkan kapsul kaca yang membungkusnya akan pecah dan tidak bisa digunakan lagi jika chip itu dicabut.

 

Saat ini Aceves mengembangkan chip yang mampu melacak keberadaan seseorang. Bila ini terealisasi dan diterapkan di Indonesia, pegawai yang biasa keluyuran pada jam kerja tentunya akan tekun di kantor. dtc

 

—————————-

Senin, 19 Juli 2004 02:19:23

Banjarmasin Post

 

 

* * * * * * * * * *

 

Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam. (Wahyu 13:16-18)

 

 

Bio Chips Mulai Diperkenalkan Ke Umum

————————————-

 

Berita di Harian Umum Kompas, Rabu, 1 Oktober 2003, halaman 8, terdapat sebuah foto yang menampilkan sebuah keluarga, Chris Inglis. Ia tampil bersama dua anaknya, Jerusha dan Kasey serta seekor kucing berbulu hitam bernama Ted.

 

Bila memperhatikan foto itu tidak ada yang istimewa dalam foto yang dikeluarkan oleh Associated Press tersebut. Hanya foto sebuah keluarga dengan binatang kesayangannya. Tapi bila membaca beritanya, barulah kita menyadari apa yang ingin disampaikan dalam foto itu.

 

Berikut kutipan caption dari foto tersebut:

 

Kembali Berkat Chip. Kucing bernama Ted akhirnya kembali ke pemiliknya setelah 10 tahun menghilang. Berkat chip di tubuh Ted, organisasi yang mengurusi binatang terlantar, Peninsula Humane Society’s bisa menelusiri asal-usul Ted dan mengembalikannya kepada keluarga Chris Inglis (tenag, dalam foto tanggal 24 September) bersama kedua putrinya, Jerusha (kiri) dan Kasey, di San Carlos, California. Ted yang menghilang sejak 1993 ditemukan 21 kilometer dari rumah.

 

Bio Chips

 

Bio chips adalah sebuah chips atau sebuah perangkat elektronik kecil yang

terdiri dari peralatan chips komputer yang ditanam ke dalam bawah kulit tubuh manusia atau hewan. Tujuannya adalah sebagai alat indentifikasi dan semacam positioning (keberadaan) dari manusia atau hewan berada.

 

Alat ini salah satu fungsinya bisa dikatakan sebagai pengontrol dan pengendali. Nah, siapa yang akan mengontrol dan mengendalikan ? Mungkin ada dibawah sebuah lembaga tertentu. (Nantinya, atau di masa depan)

 

Banyak yang menyangsikan akan perkembangan Bio Chips. Tekhnologi ini masih terlalu maju atau susah untuk dikembangkan. Kemungkinan masih memerlukan waktu 10 tahun untuk bisa digunakan di manusia dan hewan. Tapi asumsi ini musnah dengan adanya berita di atas.

 

Pada berita tersebut diungkapkan kalau Ted telah 10 tahun di dalam tubuhnya di tanam Bio Chips. Selama ini kita beranggapan tekhnologi bio chips belumlah sedemikian maju. Sehingga tidak mungkin bisa ditanam ke dalam tubuh manusia atau hewan. Tekhnologi seperti ini baru bisa diharapkan keberadaannya mungkin dalam waktu 10 tahun ke depan.

 

Dengan adanya berita ini, semakin mempertegas bahwa asumsi di atas salah.

Tekhnologi bio chips ternyata sudah demikian majunya, bahkan sejak tahun 1993 telah diadakan penanaman ke dalam tubuh hewan. Tinggal menunggu waktu untuk ditanam dalam tubuh manusia.

 

Apa yang menjadi masalah bagi umat Kristen ?

 

Umat Kristen tentunya mengenal nubutan tentang akhir jaman di mana munculnya Antikris, 666 dan Maranatha. Antikris akan muncul saat dunia dilanda kekacauan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Antikris akan tampil untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan tersebut.

 

Ia akan mengendalikan perekonomian dunia secara tangan besi dan kekerasan. Setiap manusia di dunia yang akan melakukan transaksi ekonomi harus memakai tanda 666 di dahi atau di tangannya. Banyak yang percaya tanda 666 merupakan sebuah tanda yang biasa digunakan dalam bar code (batang tanda).

 

Bar code bisa kita temui disetiap kali akan melakukan transaksi belanja di hyper market, super market, departemen store dan lainnya. Saat ini bar code ada dalam bentuk kertas tempel bermagnet dimana di dalam berisi kode angka khusus.

 

Nah, bar code ini bisa di implam (ditanam) dalam tubuh manusia. Caranya adalah melalui bio chips. Setiap manusia akan mempunyai nomor kode tertentu yang ada di dalam bio chips. Bio chips inilah yang akan ditanam di bawah kulit manusia, bisa di tangan atau di dahi. Manusia yang mempunyai tanda inilah yang boleh melakukan transaksi ekonomi.

 

Bila tidak maka dirinya akan diburu oleh pengikut Antikris untuk dibunuh.

 

Tanda-Tanda Akhir Jaman ?

 

Dengan keluarnya pernyataan resmi mengenai Bio Chips ini. Apakah ini merupakan sebuah tanda tanda awal akan penggenapan nubuatan Tuhan akan akhir zaman ?

 

Wartawan Miami Menerima Implantasi ‘Chip’ –

Perusahaan Implantasi-ID Membawa Produknya Kepada Penulis Ilmiah

—————————————————————-

 

Applied Digital Solutions (ADS), pembuat dari chip identifikasi yang dapat diimplantasi ke tubuh manusia, membuat promosi dengan menanam Chip pada seorang wartawan dan meluncurkan microchip dengan pemindai temperatur yang baru (New Temperature-sensing microchip.)

 

Applied Digital Solutions (NASDAQ: ADSX) di West Palm Beach, Florida, pembuat dari ‘implantable VeriChip’, mengumumkan bahwa ‘penanaman chip’ adalah bagian dari kampanye marketing dengan jangkauan seluruh dunia. Puncaknya di bulan Mei tahun lalu adalah saat 8 orang menerima implantasi VeriChip.

 

VeriChip adalah sebuah “chip identifikasi dengan frekuensi radio” yang bisa diimplantasikan dengan cara injeksi ke tubuh manusia. Chip itu berisi nomer identifikasi yang unik dengan data-data yang lain, dan bisa diiisikan data (write-able) secara wireless.

 

Perusahaan itu mengundang Angela Swafford, seorang wartawan Miami, untuk diimplantasi chip saat dia mengerjakan reportase tentang VeriChip untuk pemberitaan utama.

 

Swafford adalah seorang penulis ilmiah yang bekerja untuk majalah New Scientist, majalah Astronomy, dan harian ABC. Tulisannya diharapkan bisa dipublikasikan sebentar lagi.

 

“Saat mulai menulis berita, saya suka untuk sebisa mungkin melibatkan diri di pengetahuan di belakangnya,” kata Swafford. “Saya sudah memakai tubuh saya untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan, dari terlibat dalam uji hyper-gravitasi di NASA sampai scanning otak saya menggunakan teknik image terbaru di MIT oleh ahli neurologi. Semua itu atas nama penjelajahan batas-batas baru … Dan untuk sebuah berita yang bagus.”

 

———————————– Posted: April 29, 2003

1:00 a.m. EasternBy Sherrie Gossett

@2003 WorldNetDaily.com

 

 

* * * * * *

 

 

Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

(Wahyu 13:16-18)

Related posts