Akankah Gereja Melalui Masa Tribulasi?

Kali ini kita akan membahas suatu topik yang cukup kontroversial di kalangan pengikut Kristus yang sudah mempelajari Akhir Zaman (terutama kitab Wahyu). Saya langsung tertarik dengan video dari Ps. Perry Stone yang membahas mengenai hal ini. Saya akan menerjemahkan sebaik mungkin agar saudara-saudari dalam Kristus mengerti apa yang dijelaskan oleh Ps. Perry Stone dalam video di atas.

Kita semua tahu bahwa dalam pembahasan akhir zaman diketahui adanya masa tribulasi dengan rentang waktu 7 tahun( 2 x 42 bulan) dan kita mendapati beberapa teori yang mengakibatkan munculnya beberapa kelompok/grup yang mempercayai masing-masing teori tersebut. Kelompok pertama adalah Pre-Trib, yang percaya bahwa Rapture/pengangkatan akan terjadi sebelum atau bahkan di awal (di suatu titik) 7 tahun masa tribulasi. Kelompok kedua adalah Mid-Trib, yang mempercayai Rapture/Pengangkatan berada di sekitar peristiwa Wahyu 11 (dengan kata lain masuk dalam masa tribulasi dan Rapture terjadi di sekitar akhir 42 bulan pertama). Kelompok ketiga – yang semakin hari semakin popular – Post-Trib, yang percaya bahwa Rapture/pengangkatan terjadi di akhir 7 tahun masa tribulasi.

Ps. Perry Stone akan fokus dengan kelompok yang ketiga dan akan membuktikan melalui kebenaran alkitab bahwa teori Post-Trib itu salah. Namun dari semua perbedaan pendapat yang ada, kita semua sependapat adalah bahwa Tuhan Yesus akan kembali lagi (1 Tesalonika 4:16-17), yang membedakan hanyalah ‘kapan waktu kedatangan-Nya itu?’. Kemudian tidak dipungkiri bahwa kita semua (baik pre,mid atau post) percaya bahwa ada masa-masa sukar yang akan menimpa dunia ini, yang sering kita sebut masa tribulasi yang berlangsung selama 7 tahun (Matius 24:15-21, Daniel 9:27). Lalu kita juga tahu bahwa ada masa di mana Tuhan akan memerintah di bumi selama 1000 tahun, yang adalah akhir dari masa tribulasi (Wahyu 20:6). Nah, di sini banyak juga orang yang mengatakan bahwa itulah Rapture (bisa dikatakan ini Kelompok keempat).

Ps. Perry Stone sendiri tidak bisa menerima teori Post-Trib. Mungkin ada dari kita ingin mengetahui seperti apa rincian dari teori Post-Trib itu sendiri. Berikut penjelasan Ps. Perry Stone mengenai teori Post-Trib:

Pada dasarnya 7 tahun masa tribulasi terbagi menjadi dua – 3,5 tahun yang pertama dan kedua, dan 3,5 tahun kedua lebih parah dari yang pertama (Wahyu 12:14). Menurut teori ini gereja akan sepenuhnya memasuki masa tribulasi selama 7 tahun dari awal hingga akhir. Dan ketika Yesus kembali seperti yang tertulis dalam Wahyu 19, di situlah gereja akan bertemu dengan-Nya kemudian kembali lagi ke bumi. Ps. Perry Stone menyebutnya “U-turn” (berputar balik).

Sebagaimana yang alkitab jelaskan dalam Wahyu 6:11 dan Wahyu 20:4, mereka mempercayai bahwa semua orang Kristen yang ada dalam tribulasi yang tidak menyangkal imannya akan dipenggal kepalanya. Kemudian Tuhan Yesus akan kembali dengan menunggangi kuda putih bersama dengan bala tentara sorgawi (Wahyu 19:14), kemudian seperti dalam Matius 24:31 – Dia akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya (yang menurut mereka ini adalah gereja Tuhan) dari keempat penjuru bumi. Di titik inilah mereka meyakini bahwa tubuh kita akan diubahkan dalam sekejap mata seperti tertulis dalam 1 Korintus 15:52 dan 1 Tesalonika 4:16-17 (dengan kata lain, Rapture/pengangkatan). Kemudian setelah itu kita akan kembali lagi ke bumi untuk memerintah bersama-Nya selama 1000 tahun (Wahyu20:6).

Mereka juga percaya bahwa penghakiman Takhta Kristus (yang disebut Bema/Bima) [Wahyu 11:18], di mana orang-orang kudus akan menerima upah mereka itu akan dilaksanakan di bumi, setelah masa tribulasi – selama kurun waktu tertentu.

Menurut Ps. Perry Stone, peristiwa/pasal-pasal yang tercatat dalam Kitab Wahyu semuanya berurutan, karena dalam teori Post-Trib harus ada beberapa pasal tertentu yang dipindah-pindahkan agar semua cocok dengan teori tersebut.

Kita lihat urutannya: Wahyu 1 (Yesus, sang Imam Agung), Wahyu 2 dan 3 (pesan kepada ketujuh gereja di Asia kecil), kemudian dalam Wahyu 4: 1 di awali dengan kata-kata “Kemudian dari pada itu…” dan Wahyu 4-19 adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masa tribulasi.

Apa yang dilihat nabi-nabi dalam perjanjian lama: Yoel 2:31, Yesaya 61:2, Zefanya 1:18 –  yang mereka sebut dengan hari Tuhan yang hebat, hari pembalasan Tuhan atau hari kegemasan Tuhan – itu semua sama dengan yang dilihat oleh Yohanes, yaitu 7 sangkakala, 7 cawan murka (Wahyu 8:2, Wahyu 15:7) yang akan dicurahkan/terjadi selama 7 tahun masa tribulasi.

Sekarang kalau kita lihat dalam Wahyu 6:16, ada tertulis “…murka Anak Domba” kemudian bandingkan dengan Wahyu 14:10 yang tertulis “murka Allah” maka ada perbedaan di sini, dan Wahyu 14:10 inilah yang disebut dalam perjanjian lama yaitu dalam Yesaya 13:10-13 dan Yoel 2:30-31 (mengenai mujizat-mujizat/peristiwa di langit dan amarah Tuhan-murka Allah).

Kemudian Yohanes melihat peristiwa yang terjadi di bumi dalam Wahyu 9:1-11, ia melihat ada makhluk-makhluk aneh yang keluar dari lobang jurang maut, dan setelah itu Yohanes melihat di angkasa dimana ada bulan, bintang-bintang dan matahari berada, bahkan terus melampui itu menuju ke langit ketiga (seperti kesaksian Paulus dalam 2 Korintus 12:2-4). Jadi yang dilihat oleh Yohanes adalah 4 dimensi berbeda yang dilihat bersamaan, yaitu bawah bumi, bumi, angkasa, dan sorga.

Lalu kalau kita kembali kepada pertanyaan: apakah kitab Wahyu berurutan? Maka menurut Ps. Perry Stone jawabnya adalah ya, karena beberapa kali dalam kitab Wahyu Yohanes menggunakan kata-kata seperti “kemudian dari pada itu…” “lalu…” yang mengindikasikan kelanjutan dari apa yang dilihat/dialami/peristiwa sebelumnya.

Muncul pertanyaan, kapan orang-orang kudus sampai di sorga? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan buka dalam Wahyu 5 dan 6 di mana Yesus membuka 7 materai. Ps. Perry Stone menjelaskan mengenai materai yang dimaksud dalam kitab Wahyu.

Ps. Perry Stone bercerita saat ia pergi ke suatu museum sejarah ia melihat sesuatu yang menarik yaitu gulungan kuno zaman Romawi dengan 7 materai. Perlu diingat juga bahwa semasa Yohanes masih hidup adalah masa romawi berkuasa. Bayangkan saja saudara seorang bangsawan yang kaya raya dan ingin mencatat sesuatu hal yang penting (misal seperti warisan atau apapun itu) dan ingin memateriakannya maka saudara harus memiliki semacam cincin yang memiliki lambang tertentu yang sudah diukir pada cincin tersebut. Kemudian setelah gulungan selesai, maka harus diikat dan dimateraikan menggunakan lilin serta ditekan dengan cincin tersebut sehingga lambang dari cincin itu terbentuk pada lilin yang menghasilkan sebuah materai. Namun yang perlu diperhatikan juga adalah diperlukannya saksi untuk setiap materai, apabila ada 7 materai maka harus ada 7 saksi, dan 7 orang berbeda tersebut yang memberikan materai (entah keluarga, saudara, teman atau orang yang dipercaya lainnya). Apabila gulungan akan dibuka, maka ketujuh saksi harus hadir dan sang anak harus mewarisi cincin dari sang ayah untuk membuka masing-masing materai.

Maka dari itu dalam kitab Wahyu ada 7 gereja, bukan 8, 10 ataupun 12. Karena setiap pendeta dari masing-masing gereja harus hadir sebagai saksi saat materai dibuka, sebab Yesus menujukan seluruh isi gulungan itu kepada 7 gereja tersebut. Tunggu dulu! Apabila setiap pendeta yang sudah meninggal lama sekali harus hadir sebagai saksi saat dibukanya materai, maka tebak saja kapan peristiwa kebangkitan orang-orang yang meninggal dalam Kristus terjadi? Bukan di dalam Wahyu 19 ataupun Matius 24, tetapi ada di dalam Wahyu 1:10Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala (Indikasi Rapture/Pengangkatan).

Hal ini mengarahkan kita kepada suatu nyanyian pujian Wahyu 5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Ayat ini mengindikasikan orang-orang kudus yang diangkat (Raptured).

Mari kita lanjutkan masuk ke dalam Wahyu 11 mengenai tahta penghakiman, dimana ini adalah bukti yang kuat bahwa Rapture/pengangkatan tidak berada di akhir masa tribulasi.

Ada 4 macam penghakiman dalam alkitab:
1. Penghakiman masa tribulasi (Kitab Wahyu)
2. Penghakiman atas bangsa-bangsa (Yoel 2)
3. Penghakiman Tahta putih (Wahyu 20:11-14, Terjadi di Sorga setelah 1000thn damai)
4. Penghakiman Tahta Kristus

Catatan: 4 poin di atas bukan merupakan urutan peristiwa.

Poin ke-4 inilah yang akan kita bicarakan, yang juga disebut Bema/Bima, yang mana orang-orang kudus akan menerima upah mereka sesuai dengan apa yang sudah mereka kerjakan. Hal ini ditemukan pada ayat:

Wahyu 11:18dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.

Sudah sangat jelas dituliskan dalam ayat di atas bahwa ini penghakiman pemberian upah dan mari kita lihat referensi ayat lainnnya dalam perjanjian baru:

Roma 14:9-10Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. (Dalam versi KJV/NKJV disebut the Judgement seat of Christ)

Roma 14:12Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

2 Korintus 5:9-10Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Melalui ayat-ayat di atas, khususnya Roma 14:12 dan 2 Korintus 5: 10, bisa diketahui bahwa selain berdiri di hadapan tahta pengadilan Kristus kita juga harus berdiri di hadapan Elohim Tuhan kita. Pertanyaannya adalah di mana Tuhan Elohim kita berada? Dia berada di Tahta di sorga, dalam Bait Suci Sorgawi! Berarti penghakiman Kristus terjadi dalam Bait Suci sorgawi, karena kita juga harus berdiri di hadapan Tuhan Allah/Elohim. Maka dari itu sudah jelas upah ini tidak diberikan di bumi setelah berakhirnya masa tribulasi di mana Yesus menghakimi bangsa-bangsa. Banyak orang-orang mencampur adukkan antara penghakiman tahta Kristus dengan penghakiman atas bangsa-bangsa.

Dalam Wahyu 11:18 disebutkan juga bahwa orang-orang mati akan dihakimi juga, lalu bagaimana orang-orang mati dihakimi kalau tidak di bangkitkan terlebih dahulu? Seperti yang disebutkan dalam 1 Korintus 15:53 kita akan dibangkitkan dan mengenakan tubuh yang tidak binasa dan akan menerima mahkota yang abadi (1 Korintus 9:25).

Sekarang mari kita lihat ayat berikutnya, 2 Timotius 4:8Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Mari kita teliti ayat di atas. Tersedia bagi kita mahkota kebenaran, yaitu kita yang merindukan kedatangan-Nya – lalu bagaimana kita bisa berada dalam penghakiman itu? Jelas karena Dia muncul dan berada di hadapan kita, bukan? Karena kita begitu menyukai kemunculan-Nya ini maka dari itu kita mendapatkan upah.

Seperti yang juga disebutkan dalam 1 Petrus 4:5 Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Ini berarti ada 2 macam manusia: yang mati dan yang hidup, dan ini mengindikasikan adanya suatu kebangkitan tubuh dan Paulus pun memadukan 2 kejadian dalam 1 peristiwa (1 Tesalonika 4:16-17—Kebangkitan orang mati dan Pengangkatan/Rapture).

Demikian juga dalam 1 Petrus 5:4 dikatakan: “Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

Jadi urutannya sebagai berikut: Dia muncul – kita yang sangat merindukan kedatangan-Nya berada di hadapan Tuhan dalam penghakiman Tahta Kristus, yang juga disebut Bema/Bima – lalu kita akan menerima 5 macam upah (apabila memang layak untuk mendapatkan semuanya – Wahyu 2&3), seperti salah satunya adalah batu putih yang diatasnya tertulis nama kita yang baru. Masing-masing memiliki upahnya sendiri-sendiri baik upah dari pelayan kita kepada Tuhan ataupun ketaatan kita kepada-Nya.
Lalu darimana gagasan mengenai bahwa penghakiman tahta Kristus dilaksanakan di bumi ini muncul dalam teori Post-Trib? Mereka mengambilnya dari kitab Wahyu 22:12Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.

Kalau kita mengikuti teori ini maka bisa ditafsirkan bahwa Tuhan Yesus dengan menunggangi kuda sambil membawa upah yang begitu banyak yang bahkan bisa mencapai ratusan juta banyaknya, apakah benar seperti itu? Bayangkan saja….

Sekarang mari kita teliti perkataan dalam Wahyu 22:12, dikatakan bahwa “Aku membawa upah-Ku…” dan bukan upah kita. Sangat penting bagi kita untuk meneliti setiap kata dalam Alkitab. Lalu apa yang disampaikan Paulus mengenai upahnya? Dalam 1 korintus 9:18-23 dituliskan bahwa upah Paulus adalah keselamatan orang-orang yang sudah ia injili dan buah-buah dari pekerjaannya dalam mengabarkan injil. Kemudian apabila kita padukan kedua ayat ini, lalu apakah upah Yesus yang dimaksud dalam Wahyu 22:12? Jawabannya adalah Kitalah(Gereja Tuhan) upah-Nya itu.

Mari kita lanjutkan dalam ayat berikutnya, Lukas 6:23Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Sekali lagi perhatikan ayat di atas, disebutkan bahwa “upahmu besar di sorga…” ya, di Sorga…
Ini jelas berkaitan erat dengan Wahyu 11:18 (Penghakiman tahta Kristus/Bema) yang secara spesifik menggunakan kata yang sama.

 Ini mungkin terdengar terlalu sederhana, tapi coba kita pikirkan lagi. Dalam Wahyu 11:13 disebutkan bahwa sekitar sepersepuluh bagian dari kota Yerusalem hancur karena gempa bumi dan pada saat Tuhan Yesus datang kembali (seperti yang tertulis dalam Zakharia 14:4) Bukit Zaitun terbelah menjadi dua. Lalu apabila Yesus akan melaksanakan penghakiman yang dihadiri oleh jutaan orang maka bukankah dibutuhkan bertahun-tahun untuk membenahi dan membersihkan kota Yerusalem? Bukankah masuk akal kalau perlu dibenahi dulu sebelum melaksanakan penghakiman?

Mungkin yang disampaikan Ps. Perry Stone terlalu dibuat-buat, tapi mari kita buka ayat terakhir yaitu dalam Yohanes 14:3Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Perhatikan baik-baik kata-kata yang ditebali dan digaris bawahi, dari perkataan tersebut mengindikasikan keberadaan Tuhan Yesus di sorga, karena Ia berada di sebelah kanan Elohim (Roma 8:34), Ia yang harus membuka ketujuh materai (Wahyu 6), Dia adalah Anak Domba Allah yang telah disembelih. Dengan demikian alkitab mengatakan bahwa kita harus melakukan perjalanan ke sorga dan bukan berputar balik ke bumi setelah sesaat naik bertemu dengan-Nya.

Kesimpulan: Dari penjelasan yang disampaikan oleh Ps. Perry Stone melalui kebenaran alkitab sudah dipastikan bahwa Gereja Tuhan tidak akan melalui 7 tahun masa tribulasi seperti yang diungkapkan dalam teori Post-Trib. Hanya melalui pembahasan tentang materai dan tahta Pengadilan Kristus saja kita sudah melihat bahwa kita mempelai-Nya ini sudah harus berada di sorga untuk menerima upah kita dan juga merayakan pesta kawin Anak Domba. Dalam kasus ini Ps. Perry Stone lebih fokus untuk membantah teori Post-trib. Aneh rasanya apabila kita harus naik ke awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan Yesus sebentar, kemudian berputar balik lagi untuk turun ke bumi. Silahkan direnungkan sendiri.

Diterjemahkan oleh:
SuratTuhan.com

Related posts